Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Bukti dari Sevket


__ADS_3

Di sisi lain, Gendis dibantu Jumi, sedang mencari sesuatu yang mereka sendiri juga tidak tahu pasti berupa apa. Setelah Gendis bercerita semuanya pada Jumi, wanita tersebut menyanggupi untuk ikut mencari bukti yang bisa menekan Julles. Keduanya membiarkan Ayumi tetap terkurung di ruangan sendirian.


Setiap tempat yang diduga sebagai tempat persembunyian barang, sudah ditelusuri. Hanya menyisakan satu sudut lagi yang belum diperiksa. Sudut satu-satunya yang menjadi harapan terakhir dari keberadaan benda apapun yang dicari.


"Semoga bukti itu ada di sini, Non." Jumi mengangkat sebuah patung kepala singa yang sepertinya cukup berat. Setelah patung itu berpindah tempat, sebuah dinding bergeser terbuka. Perlahan, Gendis masuk ke dalamnya.


Pertama kali melangkahkan kaki ke sana, yang dirasakan Gendis adalah bulu kuduk yang meremang. Seperti ada aura-aura magis yang kental di sana. Samurai panjang berbungkus kain merah menempel di sisi kiri dan kanan dinding.


"Saya pun pertama masuk ke sini, Non. Karena ini adalah ruangan terlarang bagi siapa pun. Tapi, saya melihat Tuan memasukinya sebelum kematiannya. Karena saat itu, kebetulan saya sedang membersihkan ruangan lain."


Gendis hanya mengangguk, tangannya tidak berani menyentuh apa pun, namun bola matanya terus bergerak lincah kesana kemari untuk mencari bukti yang dimaksud.


"Bu Jumi, apa samurai yang ini bisa Bu Jumi ambil?" Gendis yang takut, meminta tolong pada Jumi.


Entah mengapa perasaan Gendis kuat mengatakan, jika ada sesuatu dibalik samurai tersebut. Posisinya yang sedikit tidak presisi, dan kain penutupnya yang tidak rapi seperti samurai di sisi lain, menimbulkan sebuah kecurigaan. Sepertinya, Sevket buru-buru saat mengembalikannya.


Tangan Jumi terulur perlahan menurunkan samurai yang dimaksud Gendis. Jantung wanita itu berdegup sangat cepat. Dia sendiri sebenarnya juga cemas. Meskipun Sevket mempercayakan ruangan bawah tanah padanya, namun Jumi sama sekali tidak pernah lancang menyentuh sudut atau benda-benda yang diperintahkan Sevket agar jangan sampai tersentuh.


Setelah menarik napas lega karena tidak terjadi apa-apa setelah menyentuh samurai tersebut, Jumi menyerahkan benda itu pada Gendis. Perlahan, istri Eser itu membuka kain yang membalut samurai itu.

__ADS_1


Sebuah anak kunci berukuran kecil terjatuh begitu Gendis sudah berhasil membuka balutan kain itu dengan sempurna. "Kunci apa ini, Bu?"


Jumi melihat dengan seksama. Matanya kembali berkeliling ruangan, mencari-cari kiranya ada benda tertutup yang cocok dibuka dengan anak kunci yang baru saja ditemukan. Pandangannya jatuh lebih lama pada bagian di tembok di mana samurai tadi menempel. Wanita itu mendekati sisi itu. Mengetuk-etuk bagian tembok, dan berhenti di bagian yang mengeluarkan sisi berbeda dan mempunyai celah garis yang secara sederhana bisa dianggap sebagai cat tembok yang mengelupas.


"Mana kuncinya, Non?"


Gendis menyerahkan apa yang diminta Jumi dengan segera. Raut wajahnya menyiratkan sebuah harapan sekaligus juga kecemasan. Satu bukti saja yang dibutuhkan, lalu dia akan mengejar dan mencari Eser, di mana pun suaminya itu berada.


Setelah kunci itu berhasil masuk ke lubangnya, perlahan, ada celah yang menganga di dinding. Ternyata sisi itu memang bukan dinding sepenuhnya. Dua puluh sentimeter persegi dari bagian dinding adalah pintu almari yang terbuat dari papan barecore pilihan.


Jumi membuka lebar pintu tersebut, hanya sekeping benda cakram liuk berbentuk kotak berwarna hitam. Gendis meraih benda tersebut. Dia membolak balik. Meski terlahir di era yang lebih modern, Gendis tahu pasti, benda tersebut adalah disket---ebuah alat penyimpanan data komputer sebelum ditemukannya tekhnologi flashdisk atau usb.


"Non, ini sudah larut, hampir berganti hari, Non istirahat dulu. Besok kita lanjut lagi," Saran Jumi.


"Enggak, Bi. Semakin cepat kita tahu apa isinya, kita akan cepat tidur dengan pulas. Siapa tahu ini yang kita cari." Gendis mengatakannya dengan penuh semangat. Beda waktu Indonesia dengan tempat di mana Eser berada hanyalah empat jam.


Jumi dan Gendis menuju ruangan di sebelah ruangan Ayumi berada. Tidak ingin membuang waktu, Gendis segera menyalakan PC dan monitor komputer secara hampir bersamaan. Dengan tidak sabar, Gendis memasukkan disket tersebut ke tempat khusus disket yang ada di PC.


Menunggu loading membaca file terasa begitu lama. Gendis rasanya ingin segera mengetahui apa isi dari disket tersebut. Data yang ditampilkan padahal tidak banyak. Kapasitas penyimpanan disket memang jauh lebih kecil dibanding dengan flashdisk.

__ADS_1


Suara teriakan yang mencekam bercampur dengan tangisan, mengagetkan Gendis yang sedang memalingkan wajah dari layar monitor. Jumi pun merapatkan diri di samping Gendis. Wanita itu seketika berteriak dan menutup kedua matanya begitu melihat video yang ditampilkan layar monitor. Gendis pun melakukan hal yang sama. Bahkan dia langsung berlari ke wastafel. Rasa mual langsung menghinggapi istri Eser tersebut. Video berdurasi tidak lebih dari 132 detik, tapi cukup membuatnya merasakan kepedihan dan mencekamnya suasana kala itu.


***


Sementara itu, Eser masih terombang ambing di dalam kontainer bersama anggota unit yang lain. Perjalanan laut sudah dilalui lebih dari satu jam. Namun belum juga menunjukkan tanda-tanda akan adanya pergerakan.


Berkali-kali Eser melirik jam di pergelangan tangannya. Hidup atau mati, tidak sabar rasanya dia ingin segera mengakhiri semua drama yang sudah membuat kehidupan rumah tangganya terbengkalai.


"Apa Pak Eser yakin, bagaimana pun, Julles adalah ayah kandung Pak Eser. Jujur, kami khawatir, nantinya akan ada gejolak batin. Kami tidak memberikan penawaran untuk bernegosiasi secara baik-baik. Julles dan komplotannya tergolong licin, negosiasi hanya akan melemahkan kita." Seorang anggota unit mengajak Eser berbicara dari hati ke hati.


"Apa artinya seorang ayah kandung, jika hanya darah saja yang sama. Kami bahkan hanya bertemu sekali. Jangankan ikatan batin, sedikit rasa yang lain pun tidak ada. Kami bertemu dalam keadaan yang tidak baik. Jika tahu ayah kandung saya seperti ini, saya akan menghabisi Julles di hari pertama kami bertemu."


Seseorang tadi menepuk bahu Eser. "Kita tidak bisa memilih terlahir dari orangtua seperti apa. Tapi saat sudah dewasa dan mengerti berbagai hal, kita bisa menentukan jalan hidup kita sendiri. Semangat, Pak. Ada istri dan calon anak Bapak menunggu Bapak di rumah."


Tatapan mata Eser seketika menerawang. Jalan yang harus dilaluinya masih panjang. Entah Gendis akan menerimanya lagi atau tidak. Istrinya bukan sosok yang lemah. Sudah lama berpisah, bahkan mungkin Gendis sudah terbiasa tanpa dirinya.


Lamunan Eser seketika buyar, suara Kontainer yang dipukul dengan benda keras dari luar, cukup menimbulkan suara gaduh. Semua pun berdiri dengan sigap dan mengambil posisi siaga.


Waktu pertempuran sebenarnya sudah tiba. Eser tidak sabar melihat reaksi Julles ketika tahu, yang di dalam kontainer bukanlah anak-anak yang diharapkannya bisa menjadi sumber uang. Melainkan orang-orang yang bersiap menjemput kehancurannya.

__ADS_1


Pintu kontainer pun mulai ada tanda-tanda akan dibuka.


__ADS_2