
"Ibu ingin berbicara dengan Gendis, sebentar saja. Setelah tahu kebenaran, bukankah seharusnya kalian berpisah? Pernikahan kalian tidak bisa diteruskan lagi." Dahlia menatap Eser dengan tatapan menyelidik.
"Gendis sedang tidak ada di rumah. Dia sedang ingin berlibur sendirian." Eser memilih kata-kata yang lebih terkesan baik agar kedua orang yang belum dia ijinkan masuk itu tidak berpikiran buruk.
"Apa kami tidak bisa masuk sebentar? Sepertinya tidak sopan kalau kita bicara di luar begini." Vivian melongokkan kepalanya ke dalam ruangan, dia memang masih tidak percaya kalau Gendis tidak ada di sana.
Eser dengan terpaksa membuka daun pintu lebih lebar. Serpihan kaca lemari pajangan yang terkena tangannya tadi masih berserakan. Pemandangan itu langsung menyita perhatian Vivian dan Dahlia. Kedua perempuan itu saling memandang, di benak mereka terbesit pemikiran yang sama. Ya, mereka mengira telah terjadi pertengkaran hebat antara Eser dan Gendis.
"Di mana Gendis?" Kini pertanyaan Dahlia lebih tajam tertuju pada pria di depannya.
"Sudah saya katakan, Gendis sedang ingin berlibur sejenak. Melupakan kenyataan sampah yang kalian berikan. Menjadi anak Anda atau pun anak seorang Sevket sama sekali tidak membuat Gendis bahagia." Eser membalas tatapan tajam Dahlia.
"Katakan di mana Gendis berada, Es? Hubungan pernikahan kalian, jelas bisa dibatalkan dan tidak bisa diteruskan lagi. Sekarang, Gendis harus ikut kami. Dia masih memiliki Ibu Dahlia sebagai ibu kandungnya."
Eser tersenyum sinis mendengar ucapan Vivian. "Jangan bicara sebuah keharusan pada Gendis seolah kalian pernah ada di kehidupan Gendis sebelumnya. Apa yang sudah dia lalui tidak Mudah. Dia menjadi perempuan luar biasa seperti sekarang, bukan karena Ibu Dahlia. Gendis tidak tumbuh di pangkuan seorang Ibu seperti kamu. Tapi dia, sangat luar biasa. Tanpa kalian atau pun aku, Gendis bisa hidup sendiri."
"Benarkah?" Tanya Vivian seolah meremehkan.
"Jika tujuan kalian ke mari hanya untuk mengajak Gendis pergi bersama kalian, sepertinya kalian terlalu percaya diri. Bahkan dalam kesedihan dan doanya sepanjang hari ini, tidak ada sekali pun nama Ibu disebut." Eser kembali menatap Dahlia dengan sinis.
__ADS_1
"Kamu boleh menyembunyikan Gendis, tapi pasti aku akan menemukan dia. Saat itu terjadi, aku pastikan Gendis dengan kerelaan akan memutuskan ikatan pernikahan kalian. Berpikirlah realistis, Es. Gendis bukan jodohmu. Masih banyak perempuan lain yang bisa kamu cintai dan juga mencintaimu. Gendis adalah adikmu, itu kenyataan yang harus kamu terima." Vivian seperti sedang berusaha membuat Eser melihatnya kembali sebagai sosok perempuan yang pernah meneguk kenikmatan dunia bersama.
"Aku tidak akan menggantikan Gendis dengan kamu. Dia berlipat-lipat lebih luar biasa. Jika kamu sesukses ini, bukan hal yang aneh. Kamu terlahir sempurna di tengah keluarga yang berada. Tapi Gendis bisa di titik ini, itu karena usahanya sendiri. Dia tidak mendengar suara ibunya, ditinggalkan dengan pria pemabuk dan pejudi yang bahkan bukan ayahnya. Nyatanya, dia tumbuh luar biasa dalam kasih Tuhan." Kali ini Eser memberikan tatapan sinisnya pada Vivian.
Mendengar ucapan Eser, Vivian terdiam. Dia merasa tertampar. Apa yang diucapkan Eser sepenuhnya benar. Sampai detik ini, tidak ada sedikit pun Dahlia mengambil bagian dalam perjalanan hidup Gendis.
"Kita pulang saja, Vi," ajak Dahlia.
"Tapi, Ma. Kita harus tahu di mana Gendis. Mama harus segera melakukan ...." Vivian tidak melanjutkan ucapannya karena Dahlia dengan cepat memberikan signal pada anak tirinya itu untuk diam.
"Sekali saja kalian memaksa Gendis untuk mendonorkan ginjalnya, aku tidak akan tinggal diam," Ancam Eser sembari membuka daun pintu lebih lebar dan merentangkan satu tangannya ke arah luar. Ya, pria itu dengan sengaja mengusir kedua tamunya dengan tidak hormat.
Sementara itu, Gendis mengarahkan mobilnya ke arah luar kota. Sebenarnya dia tidak tahu ingin ke mana, tapi dia memang ingin mendapatkan tempat dengan suasana baru, jauh dari kota dan terutama tidak terjangkau oleh siapa pun.
Ketika sudah mulai lelah, Gendis menepikan mobilnya tidak jauh dari warung tenda yang menjual nasi dan bakmie goreng. Setelah memesan seporsi mie goreng dan teh manis hangat, Gendis duduk di bangku plastik tidak jauh dari sang penjual yang sedang memasak pesanan Gendis dan dua orang pembeli yang lain.
"Bang, di sekitar sini, ada kontrakan tidak ya?" Tanya Gendis dengan ramah.
Istri si pedagang yang ada di samping suaminya persis untuk membantu sang suami reflek menoleh pada Gendis. "Neng mahasiswi atau pekerja?"
__ADS_1
"Saya masih mencari kerjaan. Saya baru saja lulus kuliah." Gendis menjawab tidak sepenuhnya berbohong.
"Oh, ada Neng. Di jalan raya ini juga, tempatnya bagus dan bersih. Tapi agak mahal, orang bilangnya sih kos atau kontrakan exclusive. Neng lurus saja ikuti jalan, nanti ada palang namanya. Pemiliknya tidak ada di sana, tapi selalu ada penjaganya," jelas istri abang penjual dengan sangat ramah.
Gendis tersenyum sembari mengucapkan terima kasih. Badannya sudah lumayan lelah, karena tidak terasa, dia sudah mengendarai mobilnya lebih dari tiga jam.
Setelah menghabiskan separuh makanan yang dipesannya dan meneguk teh manis hangat hingga tandas, Gendis segera membayar, lalu segera meneruskan perjalanan ke tempat yang dimaksud oleh istri penjual tadi.
Tidak sampai 10 menit, Gendis sudah sampai di lokasi kontrakan yang lebih tepat disebut kos exclusive. Sebuah pagar setinggi tiga meter yang sangat rapat membuat Gendis tidak bisa melihat isi di dalamnya dengan leluasa. Tapi bangunan di dalamnya yang tinggi, terlihat dari luar sebagian.
Gendis turun dari mobilnya dan berbicara sebentar dengan satpam penunggu tempat itu. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, satpam bernama Marno itu membukakan gerbangnya lebih lebar agar mobil Gendis bisa langsung masuk ke dalam.
Selesai berbicara beberapa saat dengan penjaga kos, Gendis lalu melakukan pembayaran dengan menggunakan kartu debit miliknya. Sungguh kost yang benar-benar exclusive, karena pembayarannya saja sampai disediakan mesin EDC dari beberapa bank ternama.
Gendis langsung menuju kamarnya begitu sudah mendapatkan kunci dan menurunkan koper dari mobil. Perempuan itu langsung merebahkan diri di atas ranjang. Meski badannya lelah, tapi pikiran masih saja tidak mau berhenti berkelana.
Sementara itu, Eser terus berusaha menghubungi Gendis. Tapi ponsel itu tidak aktif. Di tengah kebingungan dan kekhawatiran ponsel Eser berdering. Nama Damar muncul di layar benda pipih berwarna hitam itu.
Eser buru-buru menerima panggilan telepon dari laki-laki yang biasanya disebut adik ipar itu. Baru beberapa menit dia mendengarkan suara Damar, tangannya menjadi gemetar. Wajahnya terlihat semakin kebingungan.
__ADS_1