
Eser hendak membalas melayangkan pukulan pada Ozge, namun Gendis menghalangi niat suaminya itu. Dengan sekuat tenaga, perempuan itu mencekal tangan Eser.
"Cukup! Sudah, bukan waktunya kalian berkelahi." Gendis mengucapkan dengan tegas meski dengan suara pelan. Lalu dia menoleh dan menatap tajam pada Ozge. "Setelah aku melihat keadaan papi, aku akan membuat perhitungan denganmu, Oz. Tidak seharusnya kamu memukul suamiku seenaknya. Apa yang terjadi sama papi, jelas bukan salah suamiku."
Ozge merapatkan gigi dan mengepalkan tangannya karena menahan emosi. Gendis begitu berani mengancamnya hanya karena membela Eser. Jelas membuat Ozge semakin kesal dengan pria yang sekarang sudah diketahui pasti bukan saudara tirinya.
Gendis bergegas mengajak Eser berjalan mendekati ruangan di mana Sevket berada. Namun sayang, dari perawat yang baru saja keluar dari ruangan dengan kontruksi dinding separuh kaca itu mengatakan jika Sevket masih belum bisa ditemui. Dokter masih harus melakukan observasi secara intensif.
Dari kaca yang tembus pandang, Eser dan Gendis bisa melihat Sevket berbaring tidak berdaya di atas brankar dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya dan terhubung ke layar monitor di atas sebuah meja. Kepala Sevket yang tadi pagi masih memiliki mahkota, kini sudah plontos tak berambut.
"Ini semua karena kamu, Es. Entah apa yang kalian bicarakan terakhir kali. Papimu sepertinya merasa sangat terpukul. Dia menjadi tidak fokus, hingga tidak menyadari anak tangga yang ditapakinya masih separuh jalan. Papimu terpeleset, dan berguling sampai ke bawah dengan posisi kepala membentur kaki meja pajangan," jelas mutia yang tiba-tiba berada di samping Eser. Perempuan itu mengucapkannya dengan suara yang lirih namun jelas terdengar ketus.
"Oh, jadi kalian menyalahkan Eser hanya karena Eserlah yang terakhir kali berbicara dengan Papi? Bukankah yang menimpa papi murni kecelakaan? Buat apa kalian repot-repot mencari orang yang pantas disalahkan? Jika dengan menyalahkan Eser kondisi papi bisa membaik, wajar itu kalian lakukan. Nyatanya tidak merubah apa pun bukan?" Gendis bergeser mendekati Mutia dengan melewati sang suami.
Eser tersenyum tipis, hari ini, Gendis menunjukkan keberpihakan padanya sebanyak dua kali. Dan itu di depan dua orang yang tidak pernah diterimanya dengan tulus. Dua orang itu tentu saja Ozge dan Mutia.
__ADS_1
Mendengar ucapan Gendis, perempuan yang dinikahi Sevket tidak secara gereja itu hanya terdiam. Kini Mutia mulai berpikir dua kali jika ingin menyerang Gendis. Entah apa yang membuatnya berubah sedratis itu.
"Aku ingin bicara denganmu, beg. Berdua saja. Ini tentang papi." Ozge menatap Gendis dengan tajam. Lalu ekor matanya melirik Eser yang nampak tidak menyukai permintaannya pada Gendis.
Eser tidak mengatakan apa pun. Genggaman kuat di pergelangan tangan Gendis cukup menjelaskan bahwa dia tidak mengijinkan sang istri untuk berbicara dengan Ozge.
"Bicara saja di sini, Oz. Bukankah Bu Mutia dan Eser juga berhak tahu segalanya tentang papi?" Gendis membalas tatapan Ozge dengan berani.
Ozge menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Ini lain, Beg. Please, kali ini dengarkan aku. Lagi pula, aku ini kakakmu. Aku tidak mungkin melakukan hal yang macam-macam denganmu. Mungkin aku memang belum bisa menerimamu sebagai adik sesungguhnya, tapi aku janji, aku tidak akan melangkahi batas kali ini. Please, Beg, ini sangat penting," pinta Ozge, suara dan tatapannya kini sama-sama lembut. Pria itu sedang memohon dengan sangat.
Gendis menoleh pada Eser yang malah fokus memperhatikan Sevket. Sedikit berjinjit, perempuan itu mengajak suaminya itu untuk menjauh dari Ozge dan Mutia.
"Ozge sama liciknya dengan papi, Mhi. Sangat tidak aman jika kamu berbicara dengan kedua orang itu tanpa aku." Eser begitu dingin saat mengucapkannya.
"Phi, dua orang yang kamu katakan licik itu mempunyai darah yang sama denganku. Kalau kamu membenci mereka, kalau kamu kecewa sama papi, tolong jangan ajak aku melakukan hal yang sama. Jika Ozge dan papi licik, aku pun bisa melakukan hal yang sama. Jangan remehkan aku, Phi. Jika menghadapi kamu saja aku mampu, tentu tidak sulit bagiku menghadapi mereka," tegas Gendis.
__ADS_1
"Maksudmu aku lebih licik dari mereka?" Eser seperti tidak terima.
"Jelas. Kamu memanfaatkan Oz yang sedang berada dalam ketidak berdayaan. Kamu menikahiku dengan ancaman, lalu kamu berhasil membuatku jatuh cinta padamu. Semua itu dengan cara yang licik bukan? Aku sudah hidup, tidur, dan berbagi apapun denganmu. Ludah dan keringat kita bahkan seringkali bertukar tempat. Apa lagi yang harus aku khawatirkan dalam menghadapi hidup ini? Seorang yang sangat licik pernah menangis dan kehilangan arah karena aku yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Dan kamu masih mengkhawatirkanku menghadapi kejamnya dunia?" Tanya Gendis, terdengar sinis.
Eser seperti kehabisan kata-kata. Yang dikatakan Gendis benar adanya. Perjalanan hidup istrinya itu luar biasa berat. Sangat wajar jika pengalaman hidup menjadikan Gendis sosok perempuan yang tidak mudah menyerah pada keadaan begitu saja.
"Pergilah! Kalau pun aku melarangmu, pasti kamu tetap akan memaksa pergi. Bicaralah dengan kakakmu itu sepuasmu. Aku tidak akan mengganggu dan aku sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan kalian. Aku pulang, ada Ayumi di parkiran. Jika kamu sudah selesai dan ingin pulang, hubungi Ayumi. Tadi aku sempat beranggapan kejadian ini serius, tapi entah mengapa, setelah kita tiba di sini, aku malah merasa semua ini hanya drama."
Ucapan Eser membuat Gendis mengelus dada. Sungguh kenyataan membuat Eser lebih sensitif. Satu sisi pada diri Gendis sangat memahami kondisi tersebut. Eser yang dari dulu memang mengalami gangguan psikologis dalam pengendalian emosi, sepertinya sudah membutuhkan terapi lagi. Hal itu terlihat dari cepatnya perubahan mood Eser dalam dua hari terakhir ini. Akan tetapi satu sisi lain dalam hati Gendis ingin menentang suaminya itu agar segera sadar akan kekeliruan sikapnya.
Melihat Eser berjalan menjauhinya, Gendis tidak rergerak sedikit pun untuk membuka mulut memanggil atau menghalangi suaminya agar tidak meninggalkan rumah sakit.
Mendapati Gendis yang berdiri terpaku karena ditinggalkan Eser, Ozge bergegas menghampiri perempuan yang mau tidak mau harus dianggapnya adik itu.
"Aku hanya ingin menyampaikan pesan papi padamu. Buka dan simpan ini di tempat yang Eser tidak akan mendengar atau sampai mengetahuinya." Ozge memberikan sebuah telepon pintar pada Gendis.
__ADS_1
"Oz, katakan padaku, sebenarnya bagaimana kejadian yang sesungguhnya? Apa yang terjadi pada papi? Kenapa papi sempat menitipkan ponsel ini jika kejadiannya seperti yang diceritakan mamimu? Katakan padaku, Oz! Aku berhak tahu. Jika papi benar, sampai ke mana pun aku akan membela papi." Gendis mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.
"Sayangnya ini bukan tentang papi, Beg. Semua ini tentang Eser." Ozge menyandarkan badannya di tembok dengan keangkuhan yang ditanggalkan jauh-jauh.