
"Kita pulang, Mhi. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Jika pernikahan kita dianggap dosa, itu bukan sepenuhnya salah kita. Bukan kita yang harus menanggung penderitaannya." Eser menatap Gendis dengan tatapan mata yang teduh.
"Papi mohon, ijinkan Papi berbicara sebentar denganmu." Sevket kembali mengiba. Pria itu sama sekali tidak memedulikan ucapan Eser.
Gendis tidak langsung memberikan jawaban. Dia menatap Eser dan Sevket bergantian. Dua wajah penuh harap dengan keinginan yang berbeda tentunya. Jika Eser menginginkan Gendis untuk pulang, maka Sevket tentu sebaliknya. Jelas pria itu menginginkan Gendis untuk tetap berada di rumahnya.
Perempuan itu mengedipkan matanya dan tersenyum lembut pada Eser, tangan pria itu perlahan dilepaskan dari pergelangan tangannya. "Beri aku waktu untuk berbicara dengan papi."
"Terserah." Dengan kecewa Eser meninggalkan Gendis. Laki-laki itu melangkahkan kaki ke taman di samping kediaman Eser yang bisa di lihat dari kaca besar yang ada di belakang sofa ruang tamu.
Alshad dan Emran saling menatap pandang, lalu Alshad menepuk pundak putranya itu dengan menyunggingkan sebuah senyuman dan gelengan kepala kecil. Seolah sedang menyuruh Emran untuk tidak memberikan reaksi apa pun pada kejadian yang tampak di depan mata.
"Oz benar-benar kecewa sama Papi. Sekali pun, Oz menginginkan Eser dan Gendis berpisah, tapi tidak seperti ini caranya." Ozge meninggalkan ruang tamu dengan penuh kemarahan. Mutia mengejar anak semata wayangnya itu dengan rasa cemas. Dia takut kemarahan itu akan dilampiaskan pada Jia seperti biasanya.
Sevket menghampiri Alshad, keduanya berbicara dengan suara yang sangat pelan. Setelah itu, Sevket menuntun tangan Gendis dan mengajak anaknya itu ke ruang keluarga yang berada agak jauh dari ruangan mereka berada sebelumnya.
Eser duduk bersandar di bangku taman, matanya terpejam dengan kedua telapak tangan menyatu seperti posisi sedang melakukan doa. Dia sedang berusaha meredam emosinya sendiri. Ingin sekali saja Eser berteriak lepas dan memaki keadaan yang terus tidak berpihak padanya. Namun sisi baiknya masih mengingatkan kalau semua hanya cobaan.
__ADS_1
Tuhan tidak memanjakan hidup hambanya dengan sebuah perjalanan hidup yang selalu mulus. Sedikit badai masalah, seharusnya mampu meneguhkan iman seorang hamba yang berpikir. Tuhan bukan ingin membuat hati hambanya terluka karena masalah yang diberikan, namun Tuhan ingin hambanya menyadari, siapa dia dan untuk apa seorang hamba diciptakan.
Masalah memang sering kali datang bertubi-tubi saat seseorang hendak berada di titik tertinggi kehidupannya. Mungkin itulah yang terjadi pada diri Eser sekarang. "Kunikmati ujianMu, Tuhan, dan kutunggu janji bahagiaMu berlaku kepadaku." Eser perlahan meraup wajah sembari membuka kedua matanya. Sedikit tidak bisa menutupi keterkejutannya, begitu dia melihat sosok laki-laki berdiri memunggungi dirinya beberapa langkah dari tempat dia duduk.
Eser seketika berdiri dan menghampiri laki-laki itu, dari belakang jelas dia tidak bisa mengenali siapa sosok tersebut. Tetapi ketika lelaki itu berbalik badan, langkah Eser seketika berhenti.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu mau dijodohkan dengan Gendis?" Tanya Eser, tentu saja dengan raut wajah dan nada bicara yang sangat sinis.
Emran menarik satu ujung bibirnya ke atas, tangannya yang tadinya sembunyi di balik kantong celana. kini dilipat di depan dada dengan angkuh. Emran mengayunkan kaki mendekati Eser yang tengah berdiri bergeming menatap lurus ke depan.
Sementara itu, di waktu yang sama, Sevket dan Gendis duduk saling berhadapan pada satu sofa. Sevket masih belum memulai pembicaraan. Sengaja mengambil jeda untuk memilah kata, agar apa yang terucap bisa diterima dan tidak merenggangkan hubungan anak bapak yang baru saja terjalin.
Gendis membalas tatapan mata sang papi, meski garis-garis keriput sudah nampak jelas di wajah pria itu, namun sisa ketampanan dan wibawa di masa muda masih terpancar sempurna. Pantas saja banyak perempuan yang singgah di hidup Sevket. Dengan ketampanan, kedudukan dan tentunya harta, tentu tidak sulit baginya untuk bermain-main wanita.
"Maaf kalau Papi terkesan gila, terburu-buru, dan mengatur kehidupanmu. Tapi Papi bisa apa? Ozge yang bahkan sudah mempunyai istri, masih mengharapkan bisa bersama kamu. Apalagi Eser, adanya calon anak kalian, membuatnya begitu terikat denganmu. Papi tidak mungkin menjodohkan Eser dengan perempuan lain, dia bisa menggila. Papi tidak ingin ada Jia-Jia lain yang tersiksa karena anak Papi. Hanya kamu harapan Papi satu-satunya." Sevket membelai rambut Gendis dengan lembut.
Perempuan itu tidak menjawab, dia masih mencerna semua yang dikatakan oleh Sevket. Dalam hati, dia sedikit memaklumi tindakan sang papi. Namun melihat kondisinya saat ini, jelas apa yang dilakukan Sevket belum saatnya dilakukan. Kenyataan yang datang mendadak, tentu tidak mudah untuk diterima. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk membolak balik perasaan. Bahkan ada yang membutuhkan waktu seumur hidup agar bisa melupakan seseorang.
__ADS_1
"Tolong Papi, Ndis. Papi rela bersimpuh di kakimu. Bantu Papi agar tidak perlu mengubah keadaan. Papi tidak mau menyakiti Eser, begini lebih baik." Mata Sevket mulai berkaca-kaca. Ucapan maaf kepada Tuhan, Eser dan Gendis berkali-kali diucap dalam hati. Mungkin terasa sangat sakit sekarang, seiring berjalannya waktu, semua pasti akan menerima. Sevket tidak sanggup jika sampai Eser mengetahui kebenaran lebih jauh.
"Harusnya, Papi bicarakan dulu sama Gendis. Bukan begini caranya, Pi. Gendis masih hamil, dan pernikahan kami masih sah. Rasanya apa yang Papi lakukan ini tidak hanya tidak pantas, tapi juga salah," tutur Gendis dengan lembut.
"Menurutmu, Papi harus bagaimana? Papi tidak ingin kehilangan Eser, Ndis. Eser adalah kebanggaan Papi. Apa pun akan Papi lakukan untuk itu."
"Maksud Papi?" Gendis bertanya dengan heran.
Sevket mendadak salah tingkah. Merasa kata-katanya sedikit salah. "Maksud Papi ... Papi tidak ingin melihat Eser menderita karena perasaannya. Cara terbaik membuatnya bisa menerima keadaan adalah jika kamu sudah bersama orang lain. Masalah perceraian, Papi yang akan mengurusnya langsung. Minggu depan, Papi akan ke itali, untuk menemui teman yang bisa membantu pengajuan cerai ke vatikan."
Tangan kanan Gendis mereemas dadanya, setiap mendengar kata cerai, hatinya merasakan sakit yang luar biasa. Berat dan sulit sekali untuk ikhlas.
"Bagaimana, Ndis? Papi tidak memintamu cepat-cepat menerima Emran menjadi suami. Kalian berkenalan dulu. Pak Alshad teman lama Papi, dia sangat baik. Jauh lebih baik dari Papi. Alshad yang meminta Papi agar perkenalan kalian diikat, meski dia tahu persis situasi yang kita hadapi sekarang, mereka mau membantu kita. Apa kamu bersedia?"
******
Hai kakak-kakak readers ....
__ADS_1
Sambil nungguin Up Gendis, intip-intip karya temenku di bawah ini. Kali saja berkenan terus membaca. Ceritanya bikin gemes-gemes greget.