Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Rahasia Eser


__ADS_3

"Aku tidak bisa menceritakan kepada kamu, cari jawaban sendiri dari yang diberikan Papi padamu. Satu hal yang pasti, kondisi Papi saat ini bukan main-main. Nyawa papi sedang di ujung tanduk. Dokter mengatakan kalau pun Papi bisa melewati masa kritis, kemungkinannya satu. Papi akan lumpuh seumur hidup."


Gendis menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya. Apa yang menimpa Sevket sungguh di luar dugaan dan terjadi begitu cepat.


"Pulanglah, kalau ada apa-apa dengan papi aku akan menghubungimu. Aku masih tidak ingin dekat-dekat denganmu. Lihat mataku, Beg, aku masih memandangmu dengan cara yang sama seperti dulu saat aku mengucapkan cinta padamu."


Gendis memberanikan diri beradu pandang dengan Ozge. Lalu buru-buru menundukkan kepalanya kembali. Apa yang disampaikan pria di depannya itu benar adanya. Tatapan itu masih sama seperti dulu.


"Ingat, Beg! Hati-hati menyimpan ponsel itu. Hanya kita bertiga yang tahu isinya. Apa yang ada di dalamnya sangat berarti untuk Papi. Aku menunggu sikap yang akan kamu ambil setelah kamu melihatnya. Jangan terlalu lama, jika papi tidak selamat, setidaknya kita bisa melakukan sesuatu yang memang papi harapkan."


"Iya, akan usahakan secepatnya." Gendis mengangguk lalu meninggalkan Ozge yang terus mengawasi langkah kakinya.


Belum sampai Gendis menghubungi Ayumi, orang kepercayaan Eser itu sudah berada di depannya. Padahal, sesungguhnya Gendis mempunyai rencana lain agar bisa membuka ponsel untuk menjawab rasa keingintahuannya. Lepas dari Ayumi tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi disituasi seperti sekarang, Eser pasti memerintahkan pengawasan dan pengamanan yang lebih ketat.


Sepanjang perjalanan Gendis mencoba memikirkan cara agar bisa mengecoh Ayumi sebentar. Namun karena teringat dengan mood Eser yang sedang tidak stabil, akhirnya Gendis memutuskan untuk mewurungkan niat untuk berbuat nekat. Perempuan itu memilih langsung kembali ke rumah.


Sembari mengendarai mobil, Ayumi terus memperhatikan gerak gerik Gendis yang tidak setenang biasanya. Ayumi tidak ingin melewatkan hal sekecil apa pun yang mencurigakan. Dia tidak ingin kehilangan bonus besar dari Eser.


Menyadari sedang benar-benar diawasi, Gendis mencoba untuk menghilangkan keresahannya. Dia kembali bersikap setenang mungkin. "Apa suamiku ada di rumah?" Tanyanya, sedikit basa basi.

__ADS_1


"Ada, Bu." Ayumi menjawab singkat.


Gendis pura-pura memejamkan matanya. Padahal pikiran wanita itu sedang bekerja luar biasa. Perasaan Gendis juga semakin tidak enak. Begitu mobil mulai memasuki gerbang utama dengan lambat, ada kebimbangan yang melanda Gendis secara tiba-tiba.


Setelah mobil berhenti tepat di beranda pintu masuk rumah Gendis, dia pun bergegas turun dan masuk ke dalam sana. Karena barang pribadinya masih ada di lantai lima, Gendis pun langsung memencet lift menuju lantai tersebut.


Sesampainya di sana, Gendis di buat kaget dengan keberadaan Eser yang sedang memasukkan beberapa helai pakaiannya ke dalam koper. Gendis pun segera menghampiri suaminya itu.


"Kenapa dimasukkan ke dalam koper, Phi? Mau dikasihkan siapa?" Tanya Gendis dengan raut wajah kebingungan.


"Tidak dikasihkan siapa-siapa. Besok kamu ikut aku. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini. Aku sama sekali tidak percaya denganmu. Ucapanmu tadi ada benarnya. Kamu adalah keturunan Sevket, keberanianmu jelas menurun dari dia. Bisa jadi kelicikannya pun mengalir di darahmu."


"Papi sedang sakit, Phi. Tidak bisakah kamu menunda pencarian sampai ada kejelasan tentang kondisi papi. Di mana hati nuranimu? Tidak kah kamu sedikit saja mengingat kebaikan papi? Terlalu cepat kebencian dan kekecewaan kamu hadirkan. Pria yang sedang berbaring tidak berdaya itu adalah pria yang membesarkanmu, menyayangi dan mendidikmu. Jika kamu berpikir yang terjadi hanya sebuah drama, kamu salah, Phi. Aku kecewa sama kamu. Sangat kecewa." Gendis mengambil baju ganti lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Eser menghampiri pintu itu dengan rahang yang mengeras, dia mengetuk daun pintu kamar mandi dengan telapak tangannya. Awalnya biasa saja, lama kelamaan, ketukan itu berubah menjadi pukulan dan tendangan karena tidak terdengar suara sahutan dari dalam sana.


"Buka pintunya, Mhi. Jangan berani menentangku! Aku ini suamimu." Eser berteriak benar-benar suara lantang.


Gendis membuka pintu kamar mandi dengan sorot mata tajam yang siap menghujam suaminya. "Suami? Apa seperti ini cara suami memperlakukan istri dan keluarganya? Aku bisa memahami kekecewaan dan sakit hatimu, Phi. Tapi tolong, jangan bersikap seperti ini. Jika kamu tidak percaya padaku, silahkan. Jika kamu ingin membalas kasih sayang papi dengan rasa benci, aku tidak bisa melarang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi jangan membohongi perasaanmu sendiri." Gendis menjeda sesaat ucapannya. sejenak ingin mengetahui reaksi sang suami.

__ADS_1


"Berdoalah jika hatimu sedang mengalami pergumulan, Phi. Jangan turuti napsu jahatmu. Menurutku, saat ini kamu membutuhkan seorang psikiater lagi," ucap Gendis dengan hati-hati, tangannya mengulur pelan menyentuh pundak sang suami.


Eser berbalik badan hingga posisinya membelakangi Gendis. Tanpa ada sepatah kata pun terucap, pria itu perlahan mengayunkan kakinya mendekati lemari kaca di depannya. Dari bahasa tubuh yang ditampilkan, Gendis kurang lebih tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Dengan gerakan cepat, perempuan itu segera melangkah lebar dan memeluk pria itu dari belakang dengan erat.


"Apakah kehadiranku tidak cukup membuatmu bahagia? Apakah keberadaanku tidak lebih berarti dari kekecewaanmu? Aku sedang hamil, Phi. Tidak bisakah kehamilanku ini berjalan senormal perempuan lain? Kenapa harus begini? Mana janjimu, Phi, mana? Katamu, kamu ingin menukar penderitaan di awal pernikahan dengan cinta dan kebahagiaan melimpah, mana buktinya?"


Eser meneteskan air mata. Dia berusaha melepas pelukan Gendis, namun sekuat tenaga istrinya itu mempertahankannya. "Aku memang tidak pantas untuk kamu, Mhi. Aku selalu bisa menyakitimu dengan mudah. Dan sekarang aku takut, goresan luka itu tidak akan pernah berujung. Aku ragu pada hubungan kita." Pria menggigit bibir bawahnya sendiri. Perih dan sakit di dada kini semakin menghimpit.


Gendis melepas pelukannya, memundurkan badannya selangkah. "Setelah kita berhasil saling mencintai, saat aku sudah hamil, dan saat kita sudah jelas mengetahui kalau kita bukan saudara, kenapa kamu malah mengatakan hal memalukan seperti itu, Phi? Kamu pikir aku apa?"


Eser bergeming, matanya memerah dan basah. Pria itu memencet hidungnya untuk menahan suara tangis. Pundaknya mulai terguncang naik turun. Dalam hati, mengakui bahwa saat ini dia kembali membutuhkan seorang psikiater. Apa yang dihadapinya sangat berat. Tidak sederhana, dan bukan hanya sekedar kekecewaan. Eser takut akan nasib hubungannya dengan Gendis ke depan. Haruskah diakhiri demi sebuah ketenangan? Ataukah tetap diteruskan dengan perjuangan yang bisa jadi sampai berdarah-darah?


Gendis memutar tubuh Eser dengan paksa. "Lihat aku, Phi? Kenapa kamu diam? Apa salahku? Kenapa kamu mempermainkan aku? Aku menyesal mencintai kamu. Sungguh aku menyesal. Aku berharap, seumur hidup tidak ada cinta lagi tumbuh di sini." Gendis menepuk dadanya dengan keras. Lalu menyambar telepon selularnya dan meninggalkan Eser sendiri di sana. Perempuan itu lupa membawa tas berisi ponsel dari Ozge.


Mendengar suara pintu tertutup, Eser langsung berteriak dengan kencang. "Ini tidak adil, Tuhan. Selama ini aku berusaha percaya pada-Mu. Tapi apa yang kamu berikan? Hanya Kehancuran dan masa depan yang berantakan. Mana Janji-Mu? Takdir macam apa yang Kau berikan ini? Aku menyerah. Bunuh saja aku sekalian."


Tangis Eser meledak, ponselnya kembali berdering. Sebuah panggilan dari orang yang sama dengan orang yang menghubunginya saat Gendis masih di rumah sakit tadi.


"Kalian ternyata lebih breengsek dari Sevket! Aku menyesal mencari kalian!" Eser membanting ponselnya hingga layarnya hancur.

__ADS_1


__ADS_2