Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Kepergian Darto


__ADS_3

Meski sedikit gemetar, Eser masih berpikiran jernih. Karena menghubungi Gendis tidak bisa, dia akhirnya memutuskan untuk menyuruh orang kepercayaan untuk mencari sosok perempuan yang sangat dicintainya itu.


Setelah memastikan orang suruhannya langsung bekerja. Eser segera meninggalkan apartemennya untuk menuju apartemen lama Gendis di mana Damar dan Darto selama ini berada.


Sampai di apartemen, hati Eser seketika tersentuh. Perasaan yang sedang remuk, rasanya semakin hancur berkeping-keping. Apalagi saat melihat Damar duduk dengan pandangan mata yang nanar menatap tubuh Darto yang sudah terbujur kaku tidak bernyawa dengan wajah yang sangat pucat.


Eser menepuk pundak Damar, seolah ingin memberikan dukungan semangat pada laki-laki yang dulu disebutnya adik ipar.


"Kita tunggu orang-orangku, mereka akan membantu membawa bapakmu ke tempat persemayaman. Semoga Gendis bisa segera dihubungi." Eser mengatakannya dengan lirih.


"Ke mana Mbak Gendis? Apa yang terjadi?" Damar terlihat terkejut begitu tahu Gendis tidak sedang dalam jangkauan Eser.


"Kita urus bapakmu dulu. Nanti kita bicarakan lagi." Eser mengambil ponsel di kantong celananya. Lalu menghubungi entah siapa, raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketenangan.


Saat petugas dari rumah persemayaman jenazah datang bersama beberapa orang kepercayaan Eser. Damar baru mengeluarkan air matanya. Adik kesayangan Gendis itu, berkali-kali terlihat menengadahkan wajah agar bisa menghentikan bulir bening yang terus membasahi pipinya tanpa permisi.


Eser mengajak Damar mengikuti jenazah Darto. Keduanya naik di ambulance di mana Jenazah Darto berada. Meski seorang pejudi, akhir-akhir ini, pria yang selama ini dianggap Gendis bapak kandungnya itu sudah tidak lagi berbuat yang aneh-aneh. Bahkan Darto lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berdoa.

__ADS_1


"Mar, kenapa bisa seperti ini? Kalau bapak butuh ke dokter, kenapa kamu tidak menghubungi Mas?"


"Tadi Damar sedang melihat pengumuman seleksi masuk perguruan tinggi negeri bareng teman-teman, Mas. Masih baru lihat nama Damar lolos, perawat menghubungi Damar. Mengabarkan kalau bapak sudah tidak terdeteksi denyut nadinya. Perawat menghubungi dokter yang datangnya bersamaan sama Damar. Ternyata, bapak memang sudah meninggal. Menurut perhitungan dokter, sudah sekitar dua jam dari waktu ditemukan perawat," jelas Damar dengan suara bergetar.


"Kenapa bisa sampai tidak ketahuan?" Selidik Eser.


"Karena bapak tidak mau diganggu, pamitnya mau doa. Karena kangen Mbak Gendis, pengen doa khusus buat mbak Gendis. Makanya perawat membiarkan bapak sendirian. Mereka baru curiga karena ketika mau memberikan obat, Pintu diketuk-ketuk lama tapi tidak ada sahutan bapak seperti biasa. Perawat langsung masuk, posisi bapak sama kayak tadi, Mas. Seperti orang tidur. Tidak terlihat kesakitan juga." Damar menjelaskan secara gamblang pada Eser.


Pria itu kembali mengeluarkan ponselnya. Belum ada kabar apapun dari orang yang disuruhnya mencari Gendis. Sungguh kepintaran dan kecerdasan Gendis kadang merugikan dirinya sendiri. Keinginannya untuk menyendiri, menjauh dan tidak diketahui keberadaannya oleh siapa pun, mungkin akan menjadi penyesalan baginya.


Gendis yang tahu persis kemampuan dan kekuasaan Eser, sengaja mengganti plat mobilnya agar tidak bisa dilacak. Karena sebelumnya sudah sangat percaya, Eser tidak meletakkan alat pelacak apapun pada mobil atau barang Gendis yang lain.


Eser merangkul pundak Damar. "Kamu adik Mas, Mar. Sampai kapan pun, kamu akan bersama dan menjadi tanggung jawab Mas. Kita berdoa, semoga Mbak Gendis bisa segera bisa dihubungi. Kita makamkan bapak besok saja ya. Nunggu kabar mbak Gendis."


Damar menyandarkan kepalanya pada pundak Eser. Bagaimana pun Darto semasa hidupnya, bagi Damar, pria itu tetaplah bapaknya. Sedih karena kehilangan sudah pasti, tapi mengetahui Gendis bukanlah saudara sebapaknya, lebih sakit dari apapun.


"Kamu harus kuat, Mar. Mbak Gendis tidak suka laki-laki cengeng. Buat Mbak Gendis bangga sama kamu. Tidak akan ada yang berubah. Bagi Mbak Gendis, kamu tetap segalanya." Eser memeluk Damar dengan erat.

__ADS_1


Eser berusaha setenang mungkin agar bisa membuat Damar tidak lebih berat bebannya. Padahal, dalam hati dan pikirannya. Kesedihan, kecemasan, dan ketakutan teraduk menjadi satu.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah persemayaman jenazah. Damar dan Eser menyerahkan semua pada petugas. Tapi keduanya sepakat tidak akan menutup peti jenazah hingga besok. Mereka masih berharap Gendis bisa datang dan menyaksikan wajah Darto untuk terakhir kalinya.


Eser dan Damar menunggu di ruangan khusus yang mereka sewa untuk tempat peristirahatan terakhir Darto sebelum dimakamkan. Keduanya menunggu proses pemandian jenazah dan mengenakan jenazah dengan pakaian pengantin pria yang rapi.


Detik berganti menit, hingga jarum jam pun terus bergeser. Darto juga sudah terlihat tampan di dalam peti dengan menggunakan tuxedo setelan putih salju. Pria itu seperti orang yang sedang tidur. Pada raut wajahnya tersungging senyuman yang sangat tipis.


Hingga batas waktu keberadaan keluarga di dalam ruangan persemayaman berakhir, Eser belum mendapatkan kabar yang melegakan tentang Gendis. Pria yang tadinya masih bisa tenang itu, kini sudah terlihat panik. Untung saja Damar ingat pesan Gendis, jika melihat Eser mengarah pada emosi tinggi, dia harus mengajak pria itu berdoa.


"Mas, kita pulang saja yuk. Kita tidak boleh putus berdoa dan berharap. Mbak Gendis pasti baik-baik saja. Itu yang terpenting. Jika Tuhan memang tidak memperkenankan Mbak Gendis datang bertemu bapak, setidaknya, Tuhan jaga Mbak Gendis dalam kasihnya." Damar menghibur dirinya sendiri dan juga Eser.


Keduanya lalu terdiam sesaat. Baru kemudian Eser mengangguk setuju untuk pulang kembali ke Apartemen terlebih dahulu. Masih belum ada yang diberi tahu tentang kematian Darto. Damar tidak terpikirkan sama sekali untuk memberitahu tetangga-tetangganya. Sedangkan keluarga, jelas dia tahu kalau selama ini bapaknya tidak pernah mempunyai keluarga lain selain Damar dan Gendis.


Eser hanya mengirim pesan pada Sevket, bagaimana pun papinya itu berhutang budi pada seorang Darto. Karena seburuk-buruknya perilaku pria itu, setidaknya dia tidak meninggalkan Gendis dan Damar sewaktu keduanya masih bayi.


Sampai di apartemen, Damar yang melihat serpihan kaca berserakan segera berinisiatif membersihkannya. Eser sendiri langsung menjatuhkan dirinya di atas karpet di ruang tengah.

__ADS_1


Ketegarannya langsung hilang begitu memasuki rumah. Ketidakberadaan Gendis sungguh membuat hatinya luluh lantah. Kekuatan dan semangat hidup seketika menghilang. Eser menangis sesenggukan, tengah malam sudah lewat, tapi orang suruhannya sama sekali tidak menemukan petunjuk tentang Gendis.


"Mhi, kamu di mana? Kamu bilang cuma sebentar. Kenapa kamu harus menghilang? Kembali, Mhi. Aku bisa gila kalau begini," lirih Eser sembari meringkuk memeluk lututnya.


__ADS_2