
Sesekali Eser melirik Gendis yang terus menutup telinga dan memejamkan mata di sampingnya. Dia sendiri beberapa kali harus menarik napas berat. Dia ingin mempercepat video, tapi takut ada sesuatu yang diselipkan di sana.
Meski sudah tahu kalau Gendis memang sudah melakukan bersama Ozge, nyatanya melihat langsung permainan adik tiri dan istrinya sungguh membuat dada Eser sesak.
Meski kejadian itu sudah berlalu, hatinya tetap tidak bisa berbohong. Kata cemburu saja tidak cukup untuk menggambarkan perasaannya saat ini.
Akhirnya video itu pun selesai di putar. Eser menarik napas lega, tidak ada hal lain yang diselipkan di sana. Waktu 58 : 10, hanya berisi dua kali pergulatan Gendis dan Ozge.
"Sudah selesai." Eser menurunkan tangan Gendis yang menutup telinganya sendiri.
Gendis menarik napas lega. "Apakah aku perlu minta maaf, Phi?"
"Tidak! Aku lebih kotor dari kamu. Jika kamu melakukan dengan Oz karena cinta. Aku melakukan dengan banyak perempuan karena napsu." Eser berusaha terlihat biasa saja.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Gendis, terlihat sangat cemas.
"Aku akan menghilangkan bukti ini tanpa jejak. Hubungi Ayumi, suruh dia mempersiapkan video pernikahan kita. Malam ini, aku akan mengumumkan pernikahan kita secada resmi ke seluruh dunia."
Gendis langsung mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu orang kepercayaan suaminya itu.
Setelah berbicara kurang lebih sepuluh menit, Gendis menyudahi pembicaraannya. "Sudah beres."
"Terimakasih." Eser memajukan kursi rodanya, lalu membungkukkan badan menghapus semua jejak video di flashdisk atau pun di laptop.
Lalu perlahan dia berdiri. membanting benda kecil itu dengan kuat lalu mencoba menginjaknya dengan kaki semaksimal yang dia bisa. Hingga seluruh otot diwajah dan lehernya terlihat jelas. Antara sakit dan juga agar bisa meremukkan benda itu dengan sempurna.
Setelah hancur, Eser mencoba membungkuk dan memungut benda itu tapi dia tidak bisa. Gendis buru-buru mengambil flashdisk yang kini sudah menjadi beberapa serpihan itu.
"Buang dikloset, Mhi. Siram dengan air sebanyak mungkin. Itu tempat yang tepat untuk Ozge." Eser mengucapkannya dengan penuh tekanan emosi.
__ADS_1
Gendis melakukan apa yang diperintahkan oleh Eser. Dia bahkan mengalirkan air dengan kekuatan dan tekanan tinggi di sana selama lima menit.
Setelah sepuluh menit di kamar mandi, Gendis pun keluar. Gaunnya basah di bagian dada ke bawah. Eser berdiri, berjalan hati-hati dan perlahan mendekati sang istri yang berusaha mengeringkan bajunya.
Gendis berpikir kalau Eser pasti akan kembali mengajaknya ke bawah. Karena acara masih 30 menit lagi akan berakhir. Tapi dugaan Gendis ternyata salah.
Eser menarik resleting gaunnya ke bawah. Membiarkan gaun itu luruh melewati tubuh Gendis hingga terjatuh di lantai.
"Di mana Erick menyentuhmu?" bisik Eser, masih saja mengungkit soal kesepakatan Gendis dengan Erick.
"Tidak ada, Phi. Aku hanya memberikannya uang."
Jemari tangan Eser menyusuri pipi Gendis dan mengakhirinya di bibir merah merekah sang istri. Dia memainkan jemarinya itu di sana, beberapa saat, lalu turun ke leher hingga terus berjalan ke bawah melewati dua bukit kembar sampai pada tepian celanaa dalam Gendis.
"Kamu milikku, Mhi. Melihatmu bersama Ozge membuatku panas. Tolong berikan ketenangan padaku, lakukan bersamaku sekarang, dan tatap aku penuh cinta. Jangan memejamkan matamu selama kita melakukannya. Sekali matamu terpejam, aku akan meminta mengulanginya lagi dan lagi."
Dengan santai, Eser memutar badan Gendis hingga membelakangi tubuhnya. Dia menuntun tangan Gendis untuk menggenggam si Teser. Istrinya itu pun sudah paham betul apa yang harus dilakukannya.
Eser sendiri menggerakkan seluruh tangan dan juga mulutnya. Dia sedikit memiringkan badan Gendis agar bisa menyesap pucuk kecoklatan layaknya bayi yang kehausan. Satu tangan sudah menjelajah liar ke bagian inti sang istri.
Setelah puas bermain-main, keduanya melakukan penyatuan. Siang ini, Eser sama sekali tidak memberi Gendis ampun. Setiap lenguhan yang keluar dari mulut sang istri, membuatnya semakin menggila.
Berbagai gaya dan posisi aman untuk ibu hamil, dipraktekkan oleh Eser dan Gendis. "Lupakan sentuhan Ozge, Mhi. Ingatlah sekarang, rasakan tangan, mulut dan Teser. Ketiganya bisa membuatmu lebih melayang."
Bisikan Eser membuat Gendis semakin mengeliat dan mendesaah. Dia mencengkeram seprei dengan lebih kuat. Suara bel pintu yang berbunyi beberapa kali, tidak dipedulikan. Eser terus menghujam bagian inti Gendis hingga Teser menyemburkan lahar putih hangat di dalam area sensitif Gendis.
Keduanya kini mengatur napasnya. Eser langsung menghempaskan tubuhnya di samping Gendis.
"Ada orang di luar, Phi. Pasti Ayumi." Napas Gendis masih sedikit tersengal.
__ADS_1
"Biarkan saja dulu. Kalau itu benar dia, pasti akan sabar menunggu." Eser memiringkan badan, jemarinya kembali memutari pucuk kecoklatan favoritnya. Pucuk itu berukuran lumayan besar, membuat Eser selalu tidak tahan untuk tidak memainkannya.
"Phi, sudahlah. Ada yang harus kita selesaikan." Gendis menyingkirkan tangan Eser dari dadanya. Lalu segera bangkit berdiri ke kamar mandi, Eser mengambil ponsel dan menghubungi Ayumi untuk datang 20 menit lagi.
Pria itu menyusul Gendis ke kamar mandi dan ikut menceburkan diri ke dalam bathup. Mandi yang hanya bisa diselesaikan dalam waktu 10 menit akhirnya bertambah durasi. Muntahan lahar kedua kembali terjadi di dalam bathup berisikan air hangat itu.
Eser tersenyum puas, setelah hatinya dilanda kepanasan, kini menjadi segar dan dingin kembali. Tapi permainan belum selesai. Bahkan baru akan dimulai. Pembalasan mereka pada Jia, Gia, papanya kembar gila itu, dan juga Arya, masih baru akan dimulai.
Gendis terlihat bersungut-sungut keluar dari kamar mandi, anting-antingnya sampai hilang. Bukan masalah nilainya, tapi benda berharga di telinganya itu adalah hasil jerih payahnya dulu saat masih menjadi pengamen jalanan di bawah lampu merah saat sekolah menengah.
Dengan seenaknya, tadi Eser memainkan telinganya hingga anting itu terlepas dan ikut hanyut ke dalam lubang pembuangan air di ujung bathup.
"Aku akan membelikan baru lagi, bahkan kamu bisa membeli sekalian dengan tokonya," Eser sedikit terkekeh saat mengatakannya.
Gendis menghentakkan kaki, seperti bocah yang kehilangan mainannya. "Enggak, pokoknya aku mau ngamen biar dapat uang buat beli anting-anting lagi."
Eser menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Jangan aneh-aneh, Mhi. Kenapa memilih mempersulit diri, jika ada yang lebih enak."
Eser ingin mendebat lebih lama, tapi bel pintu yang sudah entah keberapa kali kembali menyala. Setelah menunda 20 menit, nyatanya dia tak kunjung membuka pintu ketika Ayumi kembali datang.
Gendis berjalan masih menghentakkan kakinya, mendekati pintu. Dia membuka pintu dengan bibir manyun lima senti. Tapi alangkah terkejutnya Gendis, begitu menyadari yang datang kali ini, bukan Ayumi, melainkan mertuanya.
"Ada satu masalah lagi, Es, Ndis." Sevket langsung masuk setelah pintu terbuka.
Gendis buru-buru mengunci pintu itu dengan rapat, lalu dia menyambar baju ganti yang belum sempat dipakainya. Sama-sama masih menggunakan bathrobe dengan rambut yang basah, membuat Gendis semakin tidak enak pada sang mertua.
"Masalah apa, Pi?" Eser mengajak Sevket duduk di tepian ranjang.
Bukannya menjawab, perhatian Sevket malah tertuju pada segitiga dan kacamata berenda milik Gendis serta boxer milik Eser yang belum sempat dibereskan.
__ADS_1