
Di tengah perjalanan, Gendis siuman. Tapi badannya masih sangat lemah. Matanya terbuka perlahan, meski agak sayu. Rasa mual tiba-tiba naik berlipat-lipat. Hingga dia terpaksa mengeluarkan isi perutnya ke dalam kantong plastik.
Saat tiba di rumah sakit, Gendis lagi-lagi diperlakukan istimewa. Penjagaan yang dilakukan tidak ketat, ruangan rawat pun ruangan VVIP. Sekalipun Gendis sebelumnya tidak pernah ditahan. Tapi dia merasa perlakuan polisi-polisi wanita itu terlalu istimewa baginya.
Andai tadi, dia tidak berada di lembaga pemasyarakatan khusus wanita, pasti Gendis akan berpikir kalau penahanan atas dirinya hanyalah rekayasa belaka.
Gendis kini menunggu hasil cek darah. Karena dirasa lebih akurat dan sekalian bisa mendeteksi penyakit lain.
Beberapa saat kemudian seorang Dokter dan perawat datang. Tidak ada Polwan yang menemani. Cairan infus dan beberapa obat yang disuntikkan membuat kondisi Gendis membaik dengan cepat. Setidaknya mual dan sakit kepala sudah tidak lagi menderanya.
"Selamat ya, Bu Gendis, Ibu positif hamil. Untuk usia pasti kehamilan. Kita akan melakukan USG dulu."
Penjelasan Dokter seketika membuat Gendis ternganga. "Hamil," lirihnya.
Gendis mengusap perutnya yang rata dengan pelan. "Kini, bukan hanya janji suci pernikahan yang membuatku harua berusaha menjadikan pernikahanku benar. Tapi kehadiran buah hati kami. Apakah kamu akan bahagia, Phiu? Atau kamu malah menolak anak ini," gumam Gendis, sangat pelan.
Dua orang perawat masuk mendorong peralatan USG, setelah menghubungkan dengan stop kontak dan siap digunakan, dua perawat itu kembali meninggalkan ruangan.
Satu perawat yang datang bersama Dokter tadi menyingkap atasan yang di kenakan Gendis hingga membuat perutnya terpampang nyata. Lalu menurunkan sedikit celananya hingga di bawah pinggul.
Gel dingin langsung terasa di atas perut Gendis, Dokter pun menggerakkan alat yang digenggamnya dengan lincah di sekitaran perut pasiennya itu.
"Kondisi janinnya sehat. Melihat dari ukuran, kurang lebih usia kehamilan 5-6 minggu." Dokter menyudahi pemeriksaannya, membiarkan perawat membersihkan gel di atas perut Gendis dengan menggunakan tisu.
__ADS_1
"Terimakasih, Dok." Hanya kata-kata itu yang sanggup Gendis katakan. Dia sendiri tidak tahu apa yang dirasakan. Entah bahagia atau kah sedih. Bahkan ekspresinya terlalu datar untuk seseorang yang mengetahui hamil untuk pertama kalinya. Tidak ada wajah antusias sama sekali.
"Mual muntah dan kepala pusing pada awal kehamilan sangat wajar. Tapi jika dirasa kondisi sudah berlebihan. Di mana tidak ada makanan yang bisa dicerna sempurna, maka bisa dikatakan ibu hamil mengalami HG, Hyperemesis gravidarum, yaitu kondisi mual muntah berlebihan, sehingga menyebabkan kekurangan nutrisi pada ibu dan juga janin. Setiap apa yang dimakan, tidak sampai ditelan, tapi langsung dimuntahkan," jelas Dokter.
"Apa kondisi ini berlangsung lama, Dok?" tanya Gendis dengan tatapan menerawang.
"Tidak tentu, Bu. Ada yang tri semester pertama sudah hilang, ada pula yang sampai melahirkan, masih berlanjut. Tapi biasanya semakin lama akan semakin berkurang dan bersifat selektif. Artinya, hanya akan sensitif pada makanan, bebauan dan hal-hal tertu saja." Dokter menjelaskan dengan sabar dan telaten.
Karena dirasa penjelasan sudah cukup dan Gendis pun sudah mengerti, Doker juga perawat meninggalkan Gendis. Bersamaan dengan itu, Arya masuk, bersama seorang perempuan yang dikenali Gendis sebagai Jia.
"Benar dugaanku, pasti semua ulah kalian," ketus Gendis.
Arya tersenyum tipis begitu pun dengan Jia. "Kadang kita harus kejam dan sedikit menentang hati nurani kita untuk mencapai tujuan kita, Ndis." Arya mencoba mengusap rambut Gendis. Tapi dengan cepat Gendis menepis tangan itu.
Arya mencebikkan bibirnya. Dia paham betul Gendis sedang menyindir dirinya. "Aku tidak sejahat itu, Ndis. Aku tidak memanfaatkan siapapun. Jia akan mendapatkan hal yang setimpal karena membantuku membuat Eser tersiksa sementara."
"Lakukan apapun yang menurutmu bisa membuat Eser tersiksa. Tapi dia tidak selemah itu. Ada kasih Tuhan yang selalu menemani dan memberinya kekuatan," tukas Gendis dengan ketus.
Arya memperhatikan layar monitor yang masih menyala dan menunjukkan ada kantong rahim berisi janin di dalamnya. Dia pun tersenyum sinis. "Rupanya ada Eser junior di dalam sini," ucapnya sembari menunjuk perut Gendis.
Gendis mencoba merubah posisinya. Dia bersandar di sandaran brankar. Untung saja infus benar-benar membantunya tidak terlalu lemah.
"Kamu bisa membeli dan membayar polisi-polisi itu, Ya. Tapi kamu tidak akan sanggup membeli kebenaran dan kedamaian. Sampai kapan pun, hati kecilmu tahu, apa yang kamu lakukan padaku adalah bentuk ketidak mampuanmu menghadapi Eser dengan kemampuanmu sendiri. Sehingga kamu perlu memanfaatkan banyak orang untuk terlibat dalam dendammu." Gendis menatap Arya dengan tajam.
__ADS_1
Arya memalingkan wajahnya, dia tidak nyaman beradu ketajaman mata dengan Gendis. Jia hanya berdiri di samping brankar Gendis dengan tatapan datar. Dalam hati dia salut dengan keberanian Gendis. Andai dia punya sedikit saja keberanian itu dari dulu, mungkin dia tidak perlu sampai membuat orang seperti Gendis jadi terlibat dalam urusannya.
"Kamu sudah memberitahu Ozge, kalau kita menunggunya di sini bukan?" tanya Arya pada Jia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sudah. Sebentar lagi dia akan sampai," jawab Jia. Wajah dan nada suaranya sama-sama datar.
Gendis menelan ludahnya kasar, entah permainan apalagi yang akan dipertontonkan Arya di depannya nanti.
Benar apa yang dikatakan Jia, tidak sampai sepuluh menit. Ozge datang. Adik tiri Eser Sevket itu nampak kaget ketika melihat ada Gendis yang ada di atas brankar. Tadinya dia mengira, Jia dan Arya mengajak bertemu di rumah sakit hanya untuk menyamarkan lokasi mereka yang sebenarnya. Dia sama sekali tidak menduga, kalau Gendis yang malah terbaring menggunakan selang infus di sana.
"Tepat waktu juga kamu, Oz." Arya menepuk bahu Ozge dengan keras.
Jia tertegun melihat Ozge. Bertahun-tahun tidak bertemu langsung, tidak banyak hal yang berubah dari laki-laki yang masih dan sangat dicintainya itu.
Ingin rasanya dia berlari dan mendekati Ozge dan memeluknya erat. Kerinduan jelas terlihat dari mata Jia.
"Aku sudah di sini. Apa mau kalian?" Ozge melirik Gendis, muncul perasaan bersalah yang teramat besar dibenaknya.
"Ji, katakan apa maumu. Yang ini urusanmu. Bukan urusanku." Arya mendudukkan bokongnya dengan santai di atas sofa hijau. Memberikan kesempatan pada Jia untuk menyampaikan keinginannya.
Jia mendekati Ozge, lalu menatap mata laki-laki yang sudah memberinya anak kembar itu dengan tatapan cinta yang dalam.
"Aku akan mencabut tuntutanku pada Gendis, tapi ada syarat yang harus kamu lakukan." Jia berbicara dengan lembut. Ozge menelan ludahnya kasar. Dia sudah bisa menduga, syarat apa yang akan diberikan oleh Jia.
__ADS_1