
Percakapan Gendis dan Jia yang terjeda karena kehadiran Sevket secara tiba-tiba, memberikan dampak yang panjang pada Gendis. Pria itu tidak membiarkan Gendis berbicara dengan siapa pun seharian. Sevket selalu setia mendampingi Gendis. Mengajak anak perempuannya itu berbicara banyak hal, tentang nilai-nilai kuliah Gendis yang sempurna sampai Sevket yang menanyakan hadiah yang diinginkan Gendis saat wisuda bulan depan.
Hingga saat malam tiba, Eser pun tidak boleh menemui Gendis. Padahal, tadi sebelum pulang, Gendis sempat menghubungi Eser untuk meminta dibelikan kelapa muda. Karena sedang tidak ingin berdebat yang akan berujung merugikan dirinya sendiri, Eser terpaksa mengalah. Membiarkan asisten rumah tangga, menyiapkan dan mengantar kelapa muda ke kamar Gendis.
Pesan dan juga video call dari Eser, tidak diterima oleh Gendis. Bukan karena apa-apa, melainkan karena perempuan itu memang ternyata sudah tertidur pulas.
Keesokan harinya, setelah Eser dan Ozge berangkat bekerja, Sevket mengajak Gendis mendatangi sebuah butik. Di sana, pegawai butik langsung nenunjukkan koleksi dres-dres terbaru.
"Pi, buat apa? Gendis tidak perlu," bisik Gendis pada Sevket.
"Kamu akan memerlukannya, coba lihat dirimu sekarang, kamu sudah sedikit gendut daripada saat pertama dulu Papi bertemu kamu. Semakin lama, pasti berat badanmu akan semakin bertambah, bajumu tidak akan muat."
Mendengar jawaban Sevket, Gendis hanya bisa pasrah. Sevket memang benar, nyatanya, baju yang ada di almari kebanyakan sudah sesak di badan.
Di saat Gendis sedang mencoba beberapa dres, di tempat lain, tepatnya di kantor Eser yang bukan merupakan bagian dari SVK Corp, pria itu nampak terlihat begitu kesal. Hasil DNA yang diharapkan bisa keluar lebih cepat, ternyata tidak bisa. Waktu tersingkat yang diberikan adalah sekitar lima hari lagi. Dokter Anthoni tidak mau diburu-buru karena tidak ingin terjadi kesalahan yang bisa berdampak besar pada posisinya.
"Permisi, Pak. Maaf saya langsung masuk, sebelumnya saya sudah menghubungi saluran telepon internal, tapi tidak bapak terima." Rebecca--sekretaris baru Eser di kantor yang dirintisnya sendiri, masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Tidak mengapa. Ada sesuatu yang penting?" Tanya Eser dengan wajah dan suara yang sama-sama datar.
__ADS_1
"Ada tamu untuk Bapak, resepsionis masih menahan mereka di lobby. Mereka bukan termasuk orang yang sudah membuat jadwal pertemuan dengan bapak." Rebecca menjelaskan dengan suaranya yang tegas.
"Mereka? Siapa?" Eser menjadi penasaran.
"Vivian dan Dahlia. Kata mereka, ada urusan yang sangat penting dan mendesak."
Eser berpikir sejenak sembari menautkan kedua alisnya yang tebal. Malas menerima, namun jika urusannya tentang Gendis, tentu tidak bisa Eser mengabaikan begitu saja. Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya dia mengijinkan Vivian dan Dahlia untuk bertemu dengannya. Eser meminta Rebecca membawa mereka ke ruangan meeting saja.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini Vivian, Dahlia, dan Eser sudah berada di ruangan yang sama. Pria itu tidak terlalu ramah menyambut tamunya. Hanya wajah datar dan dingin yang ditampilkan.
"Langsung saja, apa maksud kalian datang kemari?" Tanya Eser tanpa basa-basi.
"Saya mau titip ini untuk Gendis, undangan syukuran kecil-kecilan. Saya harap, saya bisa memberikan undangan ini secara langsung pada Gendis. Tapi karena dia sedang berada di rumah Sevket, saya tidak mungkin ke sana. Jadi tolong sampaikan, saya sangat berharap dia mau datang ke acara itu."
Eser menerima amplop berisi undangan itu tanpa melihatnya dan langsung meletakkan undangan itu ke atas meja. "Apa urusan kalian sudah selesai?"
"Untuk sementara selesai. Tapi kalau Gendis tidak datang, urusan akan lebih panjang. Apa kata dunia, kalau keluarga Sevket yang terhormat, menyimpan scandal besar dengan rapat. Anak perempuan Sevket, menjalin hubungan hingga bercinta dengan kedua kakaknya." Vivian mengamit lengan Dahlia, mengajak perempuan itu untuk keluar dari ruangan.
"Jangan lupa buka undangannya, Es." Vivian mengatakannya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan. Dahlia melirik anak tirinya itu sekilas. Ada banyak rasa yang dia tahan dan tidak bisa diungkapkan. Merasa Vivian terlalu egois, tetapi dia belum punya keberanian untuk menentang. Bukan takut, lebih pada tidak sanggup kalau sampai Vivian semakin menggila.
__ADS_1
Eser membuka amplop undangan dengan kasar, melihat isinya yang berisi empat lempar kertas berukuran postcard. Satu lembar memang bertuliskan undangan, sedangkan ketiga yang lain hanyalah foto-foto yang membuat Eser langsung merobek-robek kertas itu dengan kasar.
Menjelang sore, Gendis dan Sevket baru sampai kembali di rumah. Keduanya berpindah dari butik, ke toko sepatu brand ternama, toko perhiasan, dan Berbeda dengan Sevket yang nampak lega dan puas dengan pemandangan yang nyata ada di depan matanya, Gendis terheran-heran, dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dan juga tanya yang terlintas dibenaknya.
Salah satu sisi dinding ruang tamu yang tadinya polos dan hanya dihiasa sebuah lukisan, kini sudah didekor dengan backdrop yang begitu manis. Kelambu putih, dengan bunga berwarna soft pink berpadu putih lengkap dengan dedaunannya di beberapa bagian, menambah kesan hangat di sana.
"Bersiaplah, Papi ada acara kecil malam ini. Pakailah dres putih yang Papi pilihkan tadi. Kamu sangat cantik saat memakainya." Sevket menyuruh Gendis masuk ke dalam kamar, sementara dia sendiri langsung mengambil ponsel dari kantong celananya untuk menghubungi entah siapa.
Mutia hanya bisa melihat dari kejauhan, hanya bisa mencebikkan bibir dengan dada yang bergemuruh benci. Sejak tahu Gendis adalah anaknya, Sevket benar-benar lebih fokus memikirkan perempuan yang sangat dibencinya itu ketimbang siapa pun. Perempuan itu lalu melangkahkan kaki masuk ke kamar Jia.
Tanpa sepengetahuan Gendis yang sudah berada di kamar, vendor yang mengurus backdrop, kembali memberikan sentuhan tambahan di sisi kosong yang ada di sana. Sentuhan yang akan membuat siapa pun yang melihat akan langsung bisa mengira-ngira acara yang akan dilakukan oleh Sevket.
Mendekati pukul tujuh, Ozge dan Eser datang hampir secara bersamaan. Saat memasuki ruang tamu, keduanya tidak lagi melanjutkan langkah kakinya, apa yang mereka lihat tentu saja menimbulkan tanya yang sanggup membuat mereka terpaku diam di tempat.
Sevket menghampiri dua orang yang masih sibuk menerka-nerka itu dengan wajah yang sangat sumringah. "Kalian bersiaplah, tidak perlu terlalu formal. Yang penting rapi dan jangan memakai kaos."
Ozge langsung menoleh tajam. "Acara untuk siapa ini, Pi? Kenapa Papi tidak membicarakan pada kami sebelumnya?"
Eser bergeming, masih mencoba menjawab pertanyaan dibenaknya dengan logika sendiri. Ozge melirik Eser, dia ingin melihat reaksi saudaranya itu. Hanya wajah dingin yang dia lihat, tidak ada reaksi lain selain itu.
__ADS_1
"Sudah! Jangan berdebat lagi! Nanti kalian juga tahu, dan jangan berani-berani mengacaukan acara Papi. Karena bukan hanya kalian yang akan berada di sini," hardik Sevket.