Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Kedatangan Giano dan Salsa


__ADS_3

"Kenapa datang tidak tepat waktu sama sekali," Dengus Eser dengan sangat kesal, tangannya terulur mengambil celana dan memakainya kembali.


Gendis yang tidak kalah kesalnya, beringsut ke kamar mandi. Baru saja ingin melepas rindu, ada saja yang mengganggu. Mengira Ozge pasti sengaja, membuat Gendis terus mengumpati kakaknya itu di dalam hati.


Pintu kamar Eser terbuka dengan kasar. Seketika tatapan dua pria tersebut saling beradu ketajaman. Mulut Ozge berdecih begitu melihat Eser tidak mengenakan kaos, cemburu dan kesal kini beraduk menjadi satu. Namun dia berusaha meredam rasa itu, mengingatkan diri, Gendis dan dirinya mempunyai hubungan yang tidak kalah istimewa.


"Ada yang mencarimu," Ozge berkata dengan ketus.


Eser terlihat berpikir dan heran. Sepagi ini, bahkan matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Sudah ada saja orang yang ingib bertemu dengannya.


"Cepatlah! Aku kira kamu pulang karena permasalahanmu telah selesai. Tapi ternyata, kamu membawa masalahmu juga sampai ke sini. Masih kurang kamu menyeret Gendis dalam masalahmu?"


Pertanyaan Ozge membuat Eser tersadar. Dia sudah menduga sebelumnya, tetapi tidak secepat ini. Bahkan dia belum berbicara apa pun pada Gendis. Kini kekhawatiran menghinggapi Eser.


"Cepat, turun! Selesaikan masalahmu. Aku tidak akan ikut campur selama Gendis tidak terluka. Ingat, Es. Aku sekarang adalah kakak iparmu, sedikit saja kamu mengecewakan adikku. Aku tidak segan-segan untuk memisahkan kalian," ancam Ozge sembari berbalik badan dan berjalan meninggalkan Eser.


Dengan cepat, Eser menutup kembali daun pintunya rapat-rapat. Dia meraup wajahnya dengan kasar. Melihat Gendis sudah segar setelah membasuh muka, membuat nyalinya malah semakin menciut. Belum apa-apa, ujian sudah kembali di depan mata.


"Ada apa, Phi?" Gendis memeluk Eser dari belakang.


"Ada tamu di bawah, Mhi. Tamu untukku." Eser menjawab lirih, matanya mengatup perlahan sembari mengusap punggung tangan Gendis.

__ADS_1


"Kenapa tidak segera ditemui, Phi?"


Eser membalikkan badannya hingga membuat posisinya saling berhadapan dengan Gendis. Tangannya terulur menyentuh wajah mulus sang istri. Perlahan, jemari itu mulai membelai pipi kesayangannya.


"Seharusnya aku menceritakan semua padamu lebih awal, tapi mereka keburu datang. Satu hal yang harus kamu ketahui, Mhi. Aku mencintaimu, hanya mencintaimu. Apa yang mungkin akan kamu dengar, semua adalah bagian dari usahaku agar bisa sampai didekatmu lagi seperti sekarang. Aku ingin kamu menemaniku menemui mereka. Satu hal yang aku minta, Jangan sedikit pun meragukan cintaku. Karena hanya itu yang bisa menolong kita terlepas dari permasalahan ini." Eser mendaratkan kecupan hangat dikening Gendis, membiarkan Gendis merasakan basah bibirnya lebih lama.


Sebenarnya, Gendis ingin bertanya-tanya lebih jauh, tapi begitu Eser melepaskan diri darinya, dan memakai kaos kembali dengan terburu-buru dan berlari ke kamar mandi, dia mewurungkan niatnya. Dalam hati, dia hanya melantunkan doa agar kiranya Tuhan menguatkan hatinya dan juga hati Eser pada setiap cobaan yang menerpa.


Gendis membuka almari, mengambil jaket untuk menutupi daster rumahan tanpa lengan yang dikenakannya.


"Ayo, Mhi." Eser menggenggam jemari Gendis dengan posesif.


Keduanya lalu berjalan menyusuri anak tangga menuju ruang tamu di lantai satu. Ternyata memang benar dugaan Eser. Dari jarak lima anak tangga, dia bisa melihat sosok Salsa dan juga Giano di sana.


Gendis seketika menarik tangannya dari tangan Eser. Dan dengan cekatan pula, Eser mendorong tubuh Salsa agar menjauhi tubuhnya.


"Kenalkan, ini Gendis, istriku." Eser langsung memperkenalkan Gendis pada Salsa. Perempuan itu hanya tersenyum sinis, sedangkan Gendis tetap mengulurkan tangan disertai senyuman manis dan raut wajah yang tampak tenang. Bahkan setelah uluran tangannya ditolak oleh Salsa, Gendis masih santai menghampiri Giano yang juga sudah berdiri menyambut kemunculan Eser bersama Gendis.


Semua sudah kembali duduk menempati posisinya masing-masing. Eser berusaha menggenggam kembali jemari Gendis. Namun, istrinya itu menolak dengan bahasa tubuh yang sangat elegan. Eser pun tidak bisa berbuat apa-apa, selain berusaha tampil setenang mungkin.


"Jadi begini, tentu Eser tahu pasti apa maksud kedatangan kami ke sini. Karena sebelumnya, kami memang sudah ada pembicaraan mengenai hal ini. Janji sudah saya tunaikan, Es. Aku membantumu mengurus Julles dengan akhir yang luar biasa. Sekarang, janjimulah yang aku tunggu." Giano memulai pembicaraan tanpa basa basi.

__ADS_1


Gendis menoleh pada Eser, melemparkan sebuah senyum dan tatapan yang sulit untuk diartikan. Membuat Eser, menelan ludahnya dengan kasar. Jakunnya naik turun menegaskan bahwa pria tersebut mulai gelisah.


"Seperti janji saya sebelumnya. Saya akan menikahi Salsa, jika istri saya mengijinkan." Eser menjawab dengan suara yang tidak stabil.


Gendis mulai menelisik pandang pada sosok Salsa. Bahkan dengan sengaja, dia menantang perempuan tersebut untuk beradu pandang dengannya.


"Jadi bagaimana, Nona? Apa Anda mengijinkan suami Anda menikah dengan Salsa?" Nada bicara dan wajah Giano seperti sedang ingin memberikan tekanan pada Gendis.


Masih dengan senyuman yang menyungging dan ketenangannya, Gendis kembali melempar tatapan matanya pada Eser, Giano, dan Salsa bergantian. Dia memutuskan untuk menjatuhkan pandangan itu lebih lama pada Giano.


"Maaf sebelumnya. Saya tidak tahu apa yang terjadi hingga ada kesepakatan seperti ini. Tapi karena kalian sudah melibatkan saya, maka saya tidak akan sungkan lagi untuk menyampaikan pendapat." Gendis memajukan duduknya. Lagi-lagi menatap satu per satu orang yang ada di sana.


"Aku sangat menyukai Eser. Sepertinya, dia juga sangat tertarik denganku. Kami sudah melewati banyak kesenangan bersama. Malam-malam yang cukup mengesankan dan tidak akan terlupakan. Aku tidak keberatan jika kamu mau mundur. Tapi aku akan sangat berterima kasih sekali jika kamu mau mengalah. Separuh hartaku bisa kamu miliki. Dengan harta melimpah, laki-laki mana pun pasti mengejarmu." Salsa mencoba mempengaruhi pikiran Gendis.


"Benarkah?" Gendis langsung menoleh dengan gerakan refleks yang cukup cepat. Sorot matanya tajam penuh selidik. Eser semakin belingsatan.


"Tentu saja. Seperempatnya saja sudah banyak. Ini aku memberimu separuhnya. Hanya dengan memberikian suamimu padaku. Aku masih baik, karena aku tidak ingin melakukan dibelakangmu. Bagaimana? Tertarik bukan? Mana ada perempuan bisa menolak kemewahan," tekan Salsa, gayanya sangat angkuh dan arogan.


Eser lagi-lagi berusaha meraih jemari Gendis. Tapi perempuan itu menepisnya dengan lembut. Perasaan Eser benar-benar tidak enak. Jantungnya berdebar-debar. Ingin rasanya dia bersembunyi saja di balik daster Gendis. Menyembunyikan kekhawatiran dan ketakutan yang bergelayut nyata.


"Jika dengan separuh harta saja bisa mendapatkan laki-laki mana pun, kenapa kamu perlu sampai membuang uangmu padaku hanya demi seorang Eser? Tidak adakah laki-laki lain yang mengejar dan menarik hatimu? Kenapa harus Eser? Asal kamu tahu, aku mendapatkan Eser tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Aku tidak membelinya, dan dia tidak membeliku." Suara tegas Gendis terdengar menggema di seluruh ruangan.

__ADS_1


🌼🌼🌼🌼🌼


Dear readers, karena ada bab yang diulur, maka masih tersisa dua bab lagi. Stay tune.


__ADS_2