
Giano dan Eser langsung menuju markas pihak berwenang wilayah setempat. Di sana, mereka menerima arahan dari kepala satuan yang akan memimpin operasi besar kali ini. Pembekalan untuk keselamatan diri pun diberikan. Mengingat Julles bukanlah target yang biasa, tentu penangkapan tidak mungkin berlangsung mudah. Di tambah lagi, lokasi yang menjadi tempat transaksi kali ini tergolong ruang publik. Kesulitan terbesar adalah ketika tersangka dan korban berbaur dengan masyarakat sipil.
Beberapa rencana cadangan disiapkan secara matang. Improvisasi atau tindakan yang berbeda dari rencana boleh dijalankan, selama masih mengedepankan standart keselamatan. Kesuksesan sebuah operasi bukan hanya tentang berhasil tidaknya menangkap tersangka, namun lebih pada seberapa banyak target korban diselamatkan, serta meminimalisir adanya kerugian dari orang-orang yang seharusnya tidak terlibat.
Setelah menunjukkan surat ijin memiliki dan menggunakan senjata api gengam yang berlaku secara internasional, salah seorang polisi wilayah memberikan pistol berlaras pendek berjenis revolver. Lama tidak bermain-main dengan benda tersebut, nyatanya membuat Eser sedikit canggung saat menggenggamnya.
Briefing atau pengarahan yang dilakukan hampir lebih dari dua jam itu, akhirnya selesai juga. Mereka dibagi menjadi beberapa unit. Masing-masing unit terdiri dari delapan orang. Giano dan Eser berada di unit yang berbeda.
Bukan tanpa alasan Eser dan Giano yang notabene masyarakat sipil bisa ikut serta ke dalam operasi penting kali ini. Keduanya merupakan pelapor sekaligus informan yang membawa bukti dan petunjuk yang sangat detail dalam kasus yang selama ini menjadi isu hangat di negara tersebut.
"Tuntun langkah kakiku, Tuhan. Bawalah ia pada kebahagiaan yang sudah lama aku rindukan. Usaikan cobaan kami sampai di sini. Jika aku memang tidak pantas bahagia, setidaknya Engkau tahu, betapa Gendis dan Esju lebih dari sekedar layak untuk merasakan kebahagiaan.
Eser memanfaatkan waktu jeda untuk memanjatkan doa. Usaha yang dia lakukan, akan membuahkan hasil yang sempurna jika Eser selalu membawa campur tangan Tuhan. Cukup sudah kebodohan yang dia lakukan sebelumnya. Di mana saat emosi yang di kedepankan, yang ada berikutnya hanyalah penyesalan.
****
Sampai di kediaman Sevket. Perasaan Gendis menjadi lebih tenang. Setidaknya, kini dia tahu di mana dia berada. Tidak seperti kemarin-kemarin. Meskipun dia yakin masih berada di bumi Indonesia, tapi kondisi yang serba tertutup dan gerbang tinggi yang dengan angkuh mengungkungnya, membuat Gendis serasa ada di belahan bumi lain yang jauh dari peradaban.
"Kenapa sepi? Di mana yang lain?" Gendis bertanya pada salah satu asisten rumah tangga yang lumayan familiar dengannya.
Perempuan bernama Tumi itu tidak berani menjawab. Dia tidak mau sampai dipecat jika sampai jawabannya dinilai lancang. Satu-satunya tugas yang harus dia lakukan hanyalah mengantar Gendis ke ruang bawah tanah dan menemani di sana selama dua puluh empat jam bersama Ayumi. Selebihnya, jika ada pertanyaan-pertanyaan, biarlah yang lain yang menjawab.
__ADS_1
"Si kembar kemana? Jia? Bu Mutia? Ozge?" Gendis mengulangi pertanyaannya karena rasa penasaran.
"Nanti biar dijelaskan yang lain, Non. Sekarang saya antar Non Gendis ke tempat Non sementara." Menghindari perbincangan panjang, Tumi memutuskan langsung saja membawa Gendis ke ruang bawah tanah. Ayumi yang sedari tadi hanya diam, kini pasrah mengikuti langkah Gendis dan Tumi di belakang.
Gendis tak hentinya menahan keheranan sekaligus kekaguman di dalam hati. Entah berapa kali, Tumi membuka pintu yang bagi dirinya dan orang lain terlihat seperti almari, tembok, atau lukisan biasa. Nyatanya semua itu adalah jalan masuk menuju ke suatu tempat. Sentuhan Tumi yang sangat acak, hingga pintu demi pintu yang mereka lalui tadi terbuka. Membuat Gendis yakin, dia atau pun Ayumi, tidak akan bisa keluar lagi tanpa Tumi.
Sampai di suatu ruangan, bayangan akan ruang bawah tanah yang pengap dan gelap, lenyap seketika. Ruangan itu begitu luas dan nyaman. Beratus-ratus lebih nyaman dari rumah yang ditempati Gendis bersama Darto dan Damar dulu.
"Apakah ini tempat favorit papi?" Gendis bertanya sembari mengedarkan pandang ke seluruh ruangan. Dia bahkan mungkin tidak akan berani menyentuh apa pun yang ada di sana. Gendis takut, salah pegang sedikit, bisa membuatnya tersesat ke ruangan lain.
Tumi membalas tatapan Gendis, kali ini, seharusnya dia menjawab pertanyaan majikannya itu. Namun keberadaan Ayumi, membuatnya ragu. Tumi melirik ke satu arah, lalu tersenyum tipis.
"Ayumi, bisakah kamu membantuku?" tanya Tumi.
"Tinggalkan kami sebentar," pinta Tumi.
Ayumi mengernyitkan keningnya. "Saya harus ke mana, Bu? Saya bisa tersesat ," ucap Ayumi dengan jujur.
"Sini, ikut aku!" Tumi berjalan lebih dahulu, lalu diikuti oleh Ayumi.
Tumi mengegser letak patung Bunda Maria ke sisi kanan yang ada di sebuah almari pajangan, dan terbukalah sebuah pintu yang menghubungkan ke ruangan yang dipenuhi buku-buku.
__ADS_1
"Kamu istirahatlah di sini dulu, kalau aku sudah selesai. Nanti aku bukakan lagi."
Begitu Ayumi sudah berada di ruangan tersebut, Tumi mengembalikan patung Bunda Maria ke posisi semula. Dan kembali tertutup rapatlah ruangan di mana Ayumi berada.
"Non Gendis sambil baringan saja. Biar saya pijit kakinya."
"Jangan, Bu. Tidak sopan," tolak Gendis.
" Di mana letak tidak sopannya, Non? Saya ini sudah ikut Tuan Sevket sejak saya usia delapan belas tahun. Sudah tiga puluh tahun lebih saya di sini. Sejak Den Eser dan Ozge masih belum sekolah. Saya banyak hutang budi pada Tuan Sevket. Memijat Non Gendis, tidak sedikit pun membuat saya terlihat membalas kebaikan Tuan Sevket."
Tumi menuntun Gendis agar naik ke atas ranjang. Setelah Gendis duduk berselonjor dengan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang, tangan Tumi mulai memijat kaki Gendis dengan tekanan yang tidak terlalu keras.
"Tempat ini, tidak pernah menjadi tempat favorit Tuan Sevket. Bahkan, seharusnya menjadi tempat yang paling tidak disukai. Tempat ini hanya digunakan setiap kali ada masalah. Selain saya, tidak ada lagi yang bisa masuk ke dalam ruangan ini. Den Ozge dan Den Eser sekali pun, tanpa saya, mereka tidak bisa masuk. Sebelum meninggal, Tuan sempat kemari."
Gendis memperhatikan sekeliling, dia menemukan background di mana saat Sevket membuat pesan video.
"Bukti ... ya, bukti itu berarti harusnya benar-benar ada. Dan pasti di sini." Gendis seperti orang yang baru mendapatkan ide cemerlang. Bola matanya seketika bersinar terang.
Sementara Gendis merasa memiliki harapan baru, mobil yang ditumpangi Eser dan teman satu unitnya, baru saja memasuki sebuah dermaga atau pelabuhan yang nampak sibuk dengan bongkar muat kontainer atau peti kemas berukuran besar.
"Di sini titik yang menjadi fokus kita. Tetap bersikap normal. Kita akan menyebar, tapi usahakan saling menjaga komunikasi. Ingat! kontainer yang harus kita masuki sudah diberi signal khusus. Jaga arah pandangan mata, jangan sampai ada yang curiga karena gerak gerik kita. Dari jarak sepuluh meter, kontainer itu sudah akan menunjukkan signal. Mengerti?" Kapten di unit Eser memberi pengarahan terakhir.
__ADS_1
"Siap, Kapt!" Tujuh anggota, termasuk Eser, kompak menjawab sang kapten.