Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Ada yang menyerah


__ADS_3

Gia tidak bisa menyembunyikan kecemasan sekaligus kemarahannya. Setelah tahu Agam dan Aglair di bawa Gendis, dia merasa kehilangan aset berharga miliknya. Di tambah lagi, Jia juga menghilang tanpa jejak, begitu saja.


Meski tahu keberadaan si kembar, sangat tidak mungkin dia bisa langsung mengambil anak-anak itu. Karena memasuki kediaman Sevket, jelas bukan perkara yang mudah. Lapor ke pihak berwajib? Jelas akan seperti bunuh diri. Dengan identitas dan sidik jarinya saja, polisi akan mengetahui kalau dirinya adalah buronan polisi internasional.


Sampai detik ini, Gia masih belum bisa menebak, apalagi mengetahui siapa yang membantu Jia keluar tempat rehabilitasi dengan mulus. Juga siapa dibalik kesuksesan Gendis mengambil Agam dan Aglair dari ibu pengasuh semudah itu.


"Hanya tinggal satu kartu yang kita miliki, itu pun hanya sanggup menyerang Sevket. Tapi nengeluarkan kebejatan Sevket sama saja dengan bunuh diri. Sangat berbahaya dan beresiko. Akan lebih baik, kalau kita berdiam diri sejenak. Sementara kita harus kembali diam sampai kita tahu di mana Jia berada," ucap Gia pada papanya.


"Ini semua gara-gara kamu. Kalau saja kamu tidak terlalu asik dengan kesenanganmu sendiri, tentu kita akan tahu siapa yang ikut bermain dan memanfaatkan situasi ini. Sekarang kita tidak ada petunjuk apapun. Seperti memulai dari nol. Lagi pula, kalau Sevket dan anak-anaknya menanggapi serius masalah ini. Kita sudah pasti hancur," timpal papanya Gia.


"Apa Papa akan menyerah begitu saja? Tidak, Pa! Kita pergunakan apapun yang kita punya. Kalau kita hancur, tidak masalah, asal semua juga hancur. Tidak ada yang boleh bahagia. kalau kita tidak mendapatkan apa-apa, mereka pun juga harus sama." Gia seperti sedang sangat putus asa. Kini, dia tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Kita fokus mencari Jia. Abaikan semua hal tentang Eser, Ozge dan Sevket terlebih dahulu. Siapa pun yang membantu Jia, pasti orang yang memiliki kekuasaan tinggi. Tempat rehabilitasi itu sangat patuh dan loyal pada Papa. Karena pemiliknya adalah seorang mafia yang patut diperhitungkan. Jia bisa ke luar dari sana tanpa meninggalkan jejeak, jelas bukan main-main kuasanya," tegas pria tua seumuran Sevket itu.


"Tidak! Gia merasa ada yang tidak beres di sini. Sevket juga besar kekuasaannya, kenapa mereka selamban ini menangani kita?" Gia baru tersadar.


"Sevket sudah mulai dekat dengan Tuhan, itulah alasan kenapa Papa berani mendekati keluarga mereka. Dia sudah menghindari kekerasan. Anak-anaknya yang masih muda, mudah dipermainkan emosinya. Dan kebetulan sekali mereka memperebutkan perempuan yang sama. Laki-laki yang sedang jatuh cinta, sanggup kehilangan dan mendapatkan kekuatan disaat bersamaan," tekan papa Gia.


Mendengar jawaban papanya, Gia mengepalkan tangan. 'Masa bodoh dengan urusan Jia, jika aku tidak bisa mendapatkan Eser, maka kamu pun tidak boleh. Kamu harus hancur,' batinnya.


"Lupakan urusan dengan keluarga Sevket, kita fokus mencari penolong Jia. Siapapun dia, pasti bisa kita dekati dan manfaatkan segalanya. Ingat, Gia! Kita tidak mungkin bisa bersembunyi lama-lama di sini. Semua yang terjadi sudah di luar kendali dan rencana kita. Berantakan." Papa Gia nampak masih sangat kecewa. Dia terus memgucapkan hal yang sama pada Gia berulang-ulang. Dia harus memastikan, anaknya itu tidak senekat biasanya.


Gia tidak menjawab apapun. Dia tidak akan menyerah semudah ini. Tidak akan. Jika papanya berhenti, dia akan terus maju.

__ADS_1


Di tempat lain, Jia sedang bersama Arya. Keduanya duduk bersebrangan saling pandang dengan tatapan datar dan dingin.


"Tega atau tidak, kamu tetap harus melakukannya, Jia. Ini satu-satunya cara kamu bersatu dengan Ozge. Kalian bisa hidup bersama membesarkan anak kalian. Tidak ada kebahagiaan tanpa pengorbanan. Mengorbankan orang lain bukan berarti kita kejam. Lakukan saja perintahku. Sisanya serahkan padaku." Arya dengan tatapan dan suara yang sama datarnya.


Jia membalas tatapan Arya dengan tatapan menerawang. "Kapan?" tanyanya.


"Besok. Biarkan hari ini mereka melakukan pengambilan sampel untuk tes DNA. Semua serahkan padaku. Jika harus ada yang hancur, cukup Eser orangnya." Arya mengucapkan dengan penuh dendam.


Jia menelan ludahnya kasar. Rasanya sulit sekali menjadi orang baik. Ketika sudah benar-benar ingin berubah baik, tetap ada hal yang membuatnya harus kembali berbuat jahat.


'Maafkan aku ya, Ndis.' ucap Jia dalam hati.


Arya berdiri, menengadahkan kepala. Menatap langit-langit apartemen. Pikirannya menerawang jauh ke belakang. Masa kanak-kanaknya bersama Bayu, Damar dan Gendis. Sama-sama terlahir di tengah keluarga penuh konflik.


.


.


Gendis belum beranjak dari ranjang. Padahal Eser sudah selesai menjalani sesi terapi. Badannya terasa lemas, kepalanya pusing, matanya seperti enggan untuk diajak terjaga.


"Mhiu...." Eser menepuk bahu Gendis sedikit pelan.


Gendis bergeming, sama sekali tidak bergerak atau pun bersuara meski dia masih mendengar suara suaminya dengan jelas.

__ADS_1


Eser memajukan kursi rodanya sampai ujung kakinya membentur tepian ranjang. Tangannya terulur memeriksa kening sang istri. Tidak panas, suhu badannya normal seperti biasa.


"Aku panggilkan dokter saja, ya?" tanya Eser, suaranya terdengar lembut.


Gendis menggeleng lemah. "Aku pengen pijat."


"Kita panggil tukang pijit saja kemari. Mau dipanggilkan sekarang?" Eser memberanikan diri, menyibak rambut Gendis yang menutup sebagian wajah istrinya itu.


"Enggak usah. Phiu saja yang memijat," ucap Gendis sedikit membuka matanya.


Eser mengernyitkan dahinya, mencari keanehan sang istri yang mendadak begitu malas.


"Phiu, cepatlah! Kapan lagi aku minta dipijat. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku. Jarang-jarang aku minta di sentuh sama kamu," ketus Gendis dengan mata kembali terpejam.


Eser bingung harus bagaimana, geraknya terbatas. menggeser bokongnya saja dia tidak sanggup, bagaimana mungkin dia bisa memijat Gendis dengan nyaman.


"Kamu makan dulu saja, Mhiu." Eser mencoba mengalihkan keinginan Gendis.


"Aku malas makan, membayangkan nasi kepalaku semakin pusing."


Eser memijat pangkal hidung untuk meredakan kebingungannya. Sungguh, dia ingin cepat sembuh kalau seperti ini. Melihat Gendis semanja dan menggemaskan seperti ini naluri kelelakiannya bangkit. Tapi sayang hanya naluri, tidak dengan naganya yang masih tidak bereaksi apapun.


Terlalu lama menunggu jawaban sang suami. Gendis langsung meletakkan kakinya dipangkuan Eser. Pria itu pun mulai memijat sebisa yang dia bisa. Bukannya pijatan yang dirasakan, malah seperti usapan nina bobo. Terlalu pelan tanpa tekanan.

__ADS_1


Tiba-tiba Gendis menarik kakinya dan beringsut turun dari ranjang. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


__ADS_2