Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Salah menyuarakan isi hati


__ADS_3

Sebelum masuk ke dalam rumah sakit, ponsel Gendis terus berdering. Nama Arya tertera di layar benda pipih warna silver itu.


"Siapa sih?" tanya Eser dengan ketus.


"Arya," jawab Gendis dengan entengnya.


"Mau apa sih dia?" Eser mulai terpancing emosi.


"Tenang, Mhiu. Aku kemarin lupa membalas pesan video yang dia kirim. Sepertinya dia mempunyai sesuatu lagi yang membuatnya percaya diri. Apapun itu kita tidak boleh terpengaruh. Sementara, kita seolah-olah menuruti dia. Hanya itu yang akan kita lakukan. Aku tidak mau lagi ada acara kekerasan," tegas Gendis.


"Terserah kamu. Tapi jangan manis-manis sama Arya. Ingat, sama suami saja kamu masih suka ketus."


"Wajar, karena suaminya juga tidak pernah bermanis-manis," balas Gendis, tidak mau kalah.


Eser langsung menjalankan kursi rodanya tanpa menunggu Gendis. Ingin menjadi lembut, mesra dan hangat layaknya pasangan normal, nyatanya hanya wacana masing-masing.


Gendis membalas pesan Arya dengan rekam suara. Tidak terlalu ramah dan tidak terlalu ketus. Untuk menghindari kecurigaan pria licik itu tentunya. Karena selama ini, Gendis memang kadang ketus dan kadang agak baik saat berkomunikasi dengan Arya.


Sampai di kamar rawat inap Darto. Pria itu sudah teebangun dengan wajah berlipat-lipat lebih segar dari sebelumnya. Damar dengan telaten menyuapi bapaknya itu.


"Mar, setelah ini kamu pulang sama Mas Eser. Kamu harus home schooling dan dia juga aka terapi," ucap Gendis.


"Iya, Mbak." Damar menjawab singkat sembari meletakkan piring di meja. Dia sudah selesai untuk memberikan makanan pada bapaknya.


"Sebenatnya aku tidak tega, meninggalkan kamu di sini sendirian, tapi aku harus cepat sembuh. Jadi aku harua tetap pulang." Pamit Eser dengan berat hati.

__ADS_1


"Aku akan baik-baik saja. Semangat ya terapinya." Gendis mengelus lengan Eses tanpa sadar.


Setelah itu, Eser dan Damar pun benar-benar kembali ke apartemen. Tinggallah Gendis berdua saja dengan babaknya.


"Terimakasih, masih peduli sama, Bapak," ucap Darto dengan tatapan sendu.


"Tidak masalah, Pak. Sudah tanggung jawab Gendis dan juga Damar."


"Bapak dan Jubaedah sudah cerai. Dia minta ditalak setelah mendapatkan laki-laki yang katanya lebih baik dari Bapak," jelas Darto tanpa diminta.


"Baguslah! Bapak tidak perlu khawatir, nanti Damar dan Gendis yang akan merawat Bapak. Tapi kami hanya meminta satu hal. Jangan berbuat aneh-aneh. Bapak akan tinggal bersama kami, tapi jangan buat kami malu dengan kelakuan, Bapak." Tanpa basa basi Gendis menyampaikannya pada Darto.


"Bapak akan berusaha untuk tobat. Tapi Bapak tidak janji akan pulih secepatnya. Mungkin, Bapak butuh waktu," janjinya.


"Bapak akan dibantu psikolog, agar bisa mengalihkan pikiran dari mabuk dan juga judi. Meski nantinya kita tinggal serumah, tapi kami mempunyai urusan masing-masing, yang harus tetap diselesaikan. Jadi kami tidak selalu bisa mendampingi, Bapak."


Keduanya lalu saling terdiam, beberapa saat kemudian, Darto diambil darah lagi dan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis dokter.


Gendis menunggui bapaknya sampai sore, ketika Damar kembali datang dan menyuruhnya untuk pulang, dia pun beranjak dari sana.


Sampai di apartemen, Gendis melihat Eser masih istirahat, pria itu tidur dengan pulas. Dia pun tidak mengganggu suaminya itu.


Beberapa jam menjelang petang, Eser terbangun karena menyadari dia memiliki janji akan mengajak Gendis ke suatu tempat. Setelah sama-sama bersiap, keduanya pun berangkat dengan menggunakan kendaraan Eser yang dikendarai oleh driver.


Tampilan keduanya sedikit berbeda. Gendis mengenakan gaun malam dengan potongan one shoulder off. Dia sedikit memamerkan kulit bahunya malam ini. Gaun yang dipakai adalah gaun merah press body sejengkal dari lutut. Jelas sekali kalau apa yang dikenakannya adalah pilihan Eser.

__ADS_1


Khusus malam ini, Eser menginginkan Gendis tampil seksi. Karena dia sudah menyewa salah satu room presiden suite sebuah hotel mewah untuk melakukan candle light dinner spesial.


"Ngapain kita ke hotel, Phiu?" awalnya Gendis terlihat heran begitu sampai di hotel.


"Ingin suasana yang beda,Mhi." Eser nenjawab dengan lembut. Sejak berangkat tadi, gaya bicara Eser sungguh memang berubah, tapi dia terlihat grogi dan banyak diam dibanding biasanya.


Sampai di room yang di maksud, sebuah meja bundar tidak terlalu besar menghadap ke jendela luar menyambut Eser dan Gendis. Alunan musik romantis di putar menggunakan tape recorder. Sebelumnya Eser ingin musik itu ditampilkan live, tapi dia membatalkan karena tidak ingin terganggu dengan kehadiran orang lain.


Suasana lampu yang disetel temaram membangun suasana romantis, hamparan bunga mawar putih di lantai yang diinjaknya membuat Gendis sedikit ngeri sekaligus geli. Ini pertama kalinya dia merasakan hal yang sangat intens. Seumur hidup, baru kali ini, ada seseorang yang memperlakukannya seperti ini.


"Sayangnya, aku tidak bisa mengajakmu berdansa. Tapi tidak mengapa. Bukan dansa intinya, aku hanya ingin malam ini, kamu mengetahui satu hal." Eser meminta Gendis untuk duduk.


Eser dan Gendis lalu memutuskan untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan terlebih dahulu, tanpa banyak kata yang keluar, hanya tatapan mata yang berbicara. Untuk sesaat, Gendis merasa Eser seperti menatapnya dengan cinta, tapi dia buru-buru menepisnya. Dalam hati terus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu gede rasa terlebih dahulu.


Setelah selesai makan, Eser meminta Gendis berdiri di depannya, dia menggenggam kedua tangan istrinya itu dengan erat.


Jantung Eser mulai kembali berdetak tidak beraturan. Sungguh apa yang tadinya sudah dipelajari dan dihapal untuk diucapkan mendadak buyar. lidah pria itu mendadak kelu. Tercekat tidak bisa mengucap.


"Phiu, kamu mau ngomong apa? Berapa jam lagi kamu menyuruhku berdiri seperti ini. Kakiku bisa pegal kalau lebih dari sepuluh menit lagi." Suasana yang tadinya terbangun romantis pun mulai berubah mood. Gendis yang tidak sabar dan tidak peka, berhadapan dengan Eser yang kini malah tidak sanggup berkata apa-apa.


"Mhiu, maukah kamu menjadi istriku?" kata-kata konyol keluar dari mulut Eser.


Gendis menarik napas perlahan namun mengembuskan dengan kasar. "Jadi aku, kamu suruh berdiri selama ini, hanya untuk mendengar sebuah pertanyaan yang tidak perlu aku jawab? Astaga, Phi. Kamu menyebalkan. Aku sudah menjadi istrimu, bahkan aku sudah hamil, dan kamu menanyakan pertanyaan yang tidak berguna itu. Benar-benar membuang waktu."


Perempuan itu menarik tangannya dengan paksa, lalu membalik badannya dan berjalan sedikit menjauh dengan menghentakkan kakinya. Untung saja dia sedari tadi memang tidak ingin mengharapkan yang lebih tinggi. Meski akhirnya tetap saja kecewa.

__ADS_1


Eser meraup wajahnya kasar, menyadari kesalahan kata yang keluar dari mulutnya. Dia kemudian kembali mengumpulkan keberanian. Kali ini dia harus sukses dan benar saat mengucapkannya.


__ADS_2