Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Rencana Ozge


__ADS_3

Ozge mengedarkan pandang pada ballroom yang akan digunakan sebagai tempat berlangsungnya acara pemberkatan pernikahan besok. Sejauh yang terlihat, persiapan sudah hampir rampung 100 persen.


Tatapan mata Ozge tidak seperti tatapan calon pengantin pada umumnya. Tidak ada binar kebahagiaan di sana. Matanya sendu dan raut wajahnya pun tidak bersemangat.


"Apa kamu yakin, Oz?" tanya Eser. Tiba-tiba sudah berada di samping Ozge.


Pria yang ditanya hanya menoleh sekilas, lalu dia tersenyum sinis. "Tidak seyakin hatiku saat mencintai Gendis."


Eser menepuk bahu Ozge. "Ada beberapa kesalahan yang memang harus dibayar mahal, Oz."


"Aku menantikan pernikahan seperti ini, Es. Bukan soal waktu pertemuanku dengan Gendis yang masih terlalu singkat, tapi keyakinan hati bahwa dia adalah jodohku, itu yang aku nantikan. Begitu banyak perempuan yang datang, hanya Gendis yang mampu membuat aku berani memutuskan menikah secepat ini."


Eser tidak ingin menanggapi, karena dia juga mengalami hal yang sama.


'Maafkan aku, Oz. Bukan karena aku membencimu seperti yang sering aku tunjukkan padamu. Tapi aku juga ingin mendapatkan apa yang aku inginkan. Maaf, aku memang jahat kali ini. Tapi ini demi Gendis,' batin Eser sembari berjalan meninggalkan Ozge.


.


.


Di dalam kamar hotel yang sama dengan ballroom acara pernikahannya, Gendis menyisir rambut hitamnya di depan cermin.


Dalam benaknya hanya ada rasa antara percaya dan tidak percaya. Keluar dari rumah, bekerja di tempat pijat mewah hanya beberapa hari, bertemu Ozge, dan kini dia akan menikah dengan pria itu.


Kehidupannya berubah drastis dalam kurun waktu relatif singkat. Bahkan tidak sampai hitungan satu bulan. Kata-kata kalau jodoh pasti dimudahkan, mungkin memang benar adanya.


"Mbak, apa mbak yakin tidak mau minta restu sama bapak?" tanya Damar yang berada di kamar yang sama dengan Gendis.


"Yakin, Mar. Nanti saja, kalau ada gelagat bapak bisa berubah. Mbak tidak mau, bapak malah memanfaatkan keadaan. Biarlah Mbak dinilai durhaka. Kalau bapak kelaparan mbak diam itu baru namanya mbak salah."


"Apa Mbak tidak ingin didampingi orangtua di hari pernikahan? minimal bapak, Mbak. Bukankah ini sekali seumur hidup? Damar hanya tidak ingin Mbak menyesal nantinya." Damar kembali mengingatkan.


"Mbak ini inginnya cuma satu. Kamu bisa menjadi Dokter. Sudah itu saja. Selebihnya, Mbak hanya menjalani dan mensyukuri. Tidak ada bayangan di pikiran Mbak, pernikahan harus seperti apa. Ingat, Mar. Kita tidak punya kenangan manis bersama bapak untuk dikenang. Dari kecil kita sudah dihadapkan dengan jenis orangtua yang tidak bertanggung jawab. Tidak perlu ada bapak yang mengantar Mbak sampai di depan Altar. Langkah kaki Mbak, lebih tidak ada tanpa beban saat sendiri," tegas Gendis.


Damar tidak lagi mau mendebat kakaknya. Beban hidup Gendis selama ini memang berat. Damar bahkan bisa hidup sampai sekarang dengan layak, jelas karena kerja keras dan perjuangan kakaknya itu. Bukan menghilangkan peran Darto, tapi memang tidak ada.


"Mbak ini tidak sebaik kamu, Mar. Yang bisa mendoakan mereka baik-baik saat kesedihan,sakit dan masalah, mereka berikan bertubi-tubi dan sesuka hati," ketus Gendis.

__ADS_1


"Tapi membenci berlebihan akan membuat hati kita sendiri yang sakit, Mbak." Damar tidak mau kalah.


"Siapa bilang, Mbak membenci Bapak? ada bedanya membenci dan sudah tidak peduli. Mbak termasuk yang sudah tidak peduli. Sekali lagi, kalau bapak masih kuat main dan minum, berarti dia masih baik-baik saja. Sudah jangan dipikirkan, Mbak mau menikah. Pengennya pikiran senang. Bukan lempeng begini. Ngomongin bapak, membuat rasa deg-degan mau menjadi pengantin baru malah hilang." Gendis menghampiri Damar yang duduk di tepian ranjang.


"Ya sudah, Damar balik ke kamar Damar. Mau telepon Mbak Surti, mau nitip dibawakan tempe penyet." Damar langsung berdiri dan melangkah menuju pintu tanpa melihat respon dari Gendis.


Saat Damar membuka pintu, tepat bersamaan dengan Ozge yang ingin mengetuk pintu tersebut.


"Ah, kebetulan sekali. Gendis ada kan?" tanya Ozge berusaha seceria biasanya.


"Ada, silahkan!" Damar membuka pintu lebih lebar, lalu langsung pergi begitu saja.


Ozge masuk dan langsung mengunci pintu rapat-rapat.


"Beg ...." sapa Gendis sembari membetulkan duduknya.


"Sudah siap jadi istriku?" Ozge berjalan mendekati Gendis.


Gadis itu tersenyum sembari mengangguk malu-malu. "Kenapa ke sini?" tanyanya dengan pelan.


"Aku kangen, Beg ... Aku tidak sabar menunggu besok." Ozge duduk di samping Gendis. memutar sedikit bahu gadis itu, hingga membuat posisi mereka saling berhadapan.


"Tapi hanya sebentar, aku ingin yang lama. Malam ini aku ingin tidur di sini." bisik Ozge, tepat di daun telinga Gendis. Membuat gadis itu meremang pelan karena geli.


Ozge mengangkat sedikit dagu Gendis. "Aku mencintaimu, Beg. Jangan pernah khianati cinta kita, jika itu terjadi. Aku bisa gila kalau sampai itu terjadi."


"Tidak akan, Beg." Gendis menjawab dengan lembut.


Ozge menelan ludahnya kasar, ingin sekali menahan diri pada godaan yang ada di depannya. Tapi saat melihat Gendis menggigit bibir bawahnya sendiri dengan pelan. Ozge sungguh tidak kuasa menolak.


Seolah mengerti tatapan berkabut milik Ozge, Gendis mengalungkan satu tangannya ke leher calon suaminya itu. Satu tangan lain mengusap dada Ozge naik turun. Merasakan detak jantung laki-laki itu.


Ozge meraup bibir Gendis dengan lembut, saling berbalas, bahkan Gendis berani dengan sengaja membuka mulutnya. Memberikan kesempatan pada Ozge untuk memainkan lidah di dalam mulutnya sana.


Ozge memindahkan tubuh Gendis ke atas pangkuannya tanpa melepas tautan bibir mereka. Ciuman itu semakin panas, tubuh Gendis mengeliat merasakan desiran hebat yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Tangan Ozge mencari tepian dress yang dikenakan oleh Gendis. Menyusupkan tangannya di sana. Hingga dress itu kini terangkat hingga ke bagian dada.

__ADS_1


Gendis melepaskan tautan bibir mereka, nafasnya begitu memburu. Ozge mengalihkan kecupannya pada leher Gendis, mengitarinya dengan lidah. Mata Gendis terpejam, merasakan sensasi yang benar-benar belum pernah mereka rasakan. Nafasnya mulai tidak teratur, membuat Ozge semakin bersemangat.


Dress itu semakin tinggi terangkat, melewati kepala Gendis dan terlepaslah dari badannya. Gendis begitu terbuai, hingga lupa seharusnya mereka baru memulainya besok.


Ozge kembali meraub bibir Gendis, satu tangannya mulai bermain di benda kenyal milik Gendis. Tubuh gadis itu semakin mengeliat liar. Dia melepas tautan bibirnya. Satu d35ahan lolos begitu saja dari mulut Gendis.


Kini Ozge semakin rakus, menyesap kuat pucuk ranum di dada Gendis. Tangannya semakin liar menjelajah ke inti tubuh gadis itu.


Merasa milik Gendis sudah mulai basah, Ozge membaringkan gadis itu di ranjang.


Kini keduanya sudah sama-sama polos, entah bagaimana caranya. Tubuh Ozge sudah berada di atas Gendis.


"Sekarang ya?" bisik Ozge, begitu sensual di telinga Gendis membuat gadis itu mengangguk pelan.


Ozge membiarkan naganya mencari jalan sendiri, tapi lubang sempit menjepit yang memang sama sekali belum pernah terjamah, membuatnya kesulitan.


Dengan sedikit tidak sabar, Ozge terpaksa menggunakan bantuan tangannya untuk mengarahkan. Sekali hentakan, tidak berhasil, Dua kali masih belum juga.


Gendis mencengkram lengan Ozge begitu kuat, rasa melayang dan desiran yang tadi sempat dia rasakan. Entah menghilang kemana. Sekarang yang dia rasakan hanyalah rasa nyeri dan ngilu yang luar biasa. Milik Ozge begitu menyesakkan. Beberapa kali Gendis seolah ingin menarik dan melepaskan diri dari naga itu dengan menekankan bokongnya ke kasur. Hal yang tidak diketahui Gendis, bahwa gerakannya itu justru membuat miliknya semakin menggigit naga Ozge.


Racauan dan lenguhan Ozge semakin sering terdengar. Tapi tidak dengan Gendis yang hanya meringis dan menggigit bibir bawahnya sendiri karena nyeri luar biasa.


Cengkraman Gendis di lengan Ozge malah membuat pria itu semakin bersemangat. Hentakannya kini semakin kuat dan cepat, hingga akhirnya dia memuntahkan cairan putih di dalam milik Gendis. Terlalu banyak, hingga cairan itu pun tumpah.


"Aku mencintaimu, Beg ... sangat mencintaimu," Ozge menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Gendis tanpa melepas kepemilikannya.


"Beg, sakit ...." rintih Gendis.


"Nanti kamu akan terbiasa, milikmu enak sekali, Beg. Aku bisa melakukannya sekali lagi. Aku akan memberimu obat setelahnya. Percayalah, nanti tidak akan terlalu nyeri."


Keduanya pun melakukan sekali lagi. Kali ini lebih lama. Membuat Gendis merasakan nyeri yang semakin luar biasa. Lagi-lagi semburan putih kental membasahi milik Gendis.


Tapi kali ini Ozge langsung berdiri turun dari ranjang, mengambil sesuatu di dalam kantong celananya, menyambar botol air mineral kecil di nakas, membuka tutup botolnya, lalu memberikan pada Gendis. "Minumlah."


Gendis pun meminum pil kecil berwarna putih itu. Lalu dia memberikan botolnya kembali pada Ozge. Gendis menarik selimut, menutup badannya yang polos. Ingin membersihkan diri ke kamar mandi, tapi badannya sungguh masih remuk.


Ozge duduk di tepian ranjang, dia tidak risih sedikitpun dengan keadaannya yang sedang tidak berbaju. Dia memandangi Gendis yang sedang salah tingkah.

__ADS_1


Keduanya kini saling terdiam. Gendis sedikit malu dan tidak tahu harus mengucap apa. Matanya pun terasa berat dan tidak kuat lagi untuk terbuka. Dia pun akhirnya terlelap dengan begitu cepat.


"Maafkan Aku, Beg ... Aku terpaksa melakukan ini," Ozge segera memakai bajunya kembali, mengecup kening Gendis sedikit lama, lalu meninggalkan gadis itu sendirian di kamar begitu saja.


__ADS_2