
Gendis menambahkan lagi secentong nasi ke dalam piringnya. Entah karena lapar, atau karena napsu makannya yang meningkat karena rasa optimis akan segera bertemu dengan Eser. Penemuan bukti kekejaman Julles, membuat Gendis bertekad akan mencari dan membantu Eser lepas dari tekanan Julles. Sangat wajar perempuan itu masih memiliki pemikiran seperti itu, karena sampai detik ini, Gendis memang belum tahu mengenai kematian Julles.
Suara langkah kaki yang khas, membuat Gendis menghentikan sementara kegiatan makannya. Dia mendongakkan kepala untuk memastikan siapa yang datang. Benar dugaan Gendis, memang Ozge lah yang datang.
"Mau makan sekalian, Oz?" Gendis begitu santai. Tidak ada niatan sedikit pun untuk buru-buru memulai pembicaraan.
"Enggak, aku sudah kenyang," tolak Ozge sembari mendudukkan bokongnya di kursi tepat di samping Gendis.
"Aku selesaikan makanku sebentar. Setelah itu, kita bicara di ruang kerjamu atau di ruang kerja papi. Terserah kamu. Oh ... ya, Oz, Jia sama Bu Mutia kemana?" Gendis menyuapkan sesendok makanan begitu kalimat tanya selesai dia lontarkan.
"Sekalian nanti saja, aku jelasin." Ozge kembali berdiri, mendekati dan membuka lemari pendingin untuk mengambil minuman soda kesukaannya.
Gendis menghabiskan makanan dipirangnya dengan cepat. Lalu meneguk satu gelas air putih sampai tandas.
"Ayo, Oz," ajak Gendis sembari berjalan menuju ruang kerja Sevket di lantai satu.
"Beg, bisa tidak memanggilku Abang, Kakak, atau apalah yang membuat hubungan persaudaraan kita terasa lebih pantas. Kamu memanggilku seolah aku malah adikmu," protes Ozge.
"Baik, kita buat kesepakatan dulu. Aku memanggilmu 'kakak' tapi jangan memanggilku bebeg. Panggil saja namaku." Gendis memberikan penawaran yang adil.
Ozge tidak menjawab, dia memilih meneguk kembali minuman soda kaleng yang dibawanya sembari terus berjalan menyamai langkah Gendis.
Sesampainya di dalam ruangan. Gendis langsung merogoh saku depan dasternya, saku yang fungsinya hampir menyerupai kantong Doraemon karena lebar dan dalamnya bisa memuat banyak barang.
"Aku menemukan ini, secepat mungkin kita harus mencari Eser." Gendis mengulurkan disket pada Ozge.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu menerima benda tersebut. Dengan gerakan cepat, Ozge menyalakan pc dan layar laptop yang ada di meja kerja Sevket. Begitu keduanya menyala, disket itu pun dimasukkan. Gendis seketika menutup telinganya agar tidak mendengar peristiwa yang menurutnya sangat kejam dan mengerikan itu.
Ozge melihat berkali-kali video tersebut. Menjeda sebentar tampilannya, melakukan capture, dan kemudian mencoba memperbesar hasil tangkapan layar tadi.
"Tidak! Ini gila! Jadi ini alasan papi tidak memberikan bukti penting itu pada kita. Dia sedang melindungi seseorang, Beg. Diam-diam, papi budak cinta juga." Ozge mengatakannya dengan sinis.
Mengabaikan Gendis yang ingin bertanya-tanya, Ozge menghubungi Jimmy untuk kembali melakukan sesuatu dengan keahlian IT anak buahnya itu.
"Maksud kamu apa, Oz? Siapa yang sedang dilindungi papi?" Gendis terlihat tidak sabar.
"Bukankah kamu sudah melihat videonya? Kenapa kamu bisa tidak tahu? Meski itu terjadi puluhan tahun lalu, wajahnya jelas tidak berubah." Ozge malah bertanya balik.
"Aku tidak terlalu mendalami atau melihat video itu. Perutku mual, Oz. Mendengar jeritan anak-anak itu saja membuatku ngeri."
"Cerita saja, Oz. Aku benar-benar tidak tega." Gendis berpindah duduk di kursi depan meja kerja Sevket. Semakin mendekati Ozge yang tengah duduk di belakang meja tersebut.
"Sepertinya, Dah---," Ozge tidak melanjutkan kalimatnya. Karena ponsel miliknya berdering dari nomor kantor kepolisian yang menahan Mutia.
Ozge nampak serius mendengarkan informasi yang diterimanya melalui saluran telepon. Sesekali dia melirik ke arah Gendis. Sungguh membuat istri Eser itu semakin dilanda penasaran akut.
Kurang lebih hampir lima menit, akhirnya panggilan telepon Ozge dan lawan bicaranya pun berakhir. Pria itu memilih untuk berdiri. Ekspresi wajahnya sulit untuk diartikan.
"Oz, siapa yang menghubungimu? Ada apa lagi?" Gendis benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi.
Ozge menarik napas dalam, mengembuskan perlahan, lalu menatap Gendis begitu penuh kasih.
__ADS_1
"Dulu aku berpikir untuk menghancurkan hubunganmu dengan Eser. Sekarang? Aku berharap, ada seseorang dari keluarga kita yang bisa menjalani kehidupan dengan benar," ucap Ozge, masih menatap Gendis dengan tatapan yang sama seperti tadi.
"Maksudnya apa sih, Oz. Bisa nggak langsung ke masalahnya saja," dengus Gendis. Terlihat jelas kekesalannya.
"Kita bertiga terlahir dari keluarga yang sangat breengsek, Beg. Hubungan yang dijalani semua orangtua kita kotor, kejam, dan kelam. Kamu terlahir dari hubungan antara Papi dan Dahlia. Entah siapa Dahlia sebenarnya. Kita hanya pernah bertemu dengannya, tapi tidak tahu bagaimana dia yang sebenarnya. sifat Dahlia yang sok keibuan, ternyata digunakan untuk menutupi masa lalu. Entah bagaimana ceritanya, Dahlia bisa ada di video kekejaman Julles tadi."
Ozge menghentikan sejenak ucapannya, dia menunggu reaksi Gendis yang sepertinya sangat kaget dengan apa yang didengar.
"Dahlia bukan sebagai korban, Beg. Tapi dia ada di sana. Bisa jadi, dia adalah salah satu pemeran perempuan. Miris, bukan? Papi melindungi Dahlia sampai akhir hidupnya. Sangat konyol. Dan barusan pihak kepolisian menghubungiku, mengabarkan bahwa sosok yang bekerja sama dengan mami sudah ditahan. Kamu tahu siapa dia?"
Gendis menggeleng kuat. "Tidak. Aku capek terus bermain teka-teki."
"Dahlia ... perempuan yang juga ada di kehidupan Sevket. Miris ... papi meninggal, di tangan dua orang perempuan yang melahirkan anak-anaknya. Keluarga macam apa kita?" Mata Ozge nampak semakin berkaca-kaca. Hatinya hancur menyadari betapa remuknya keluarga yang dielu-elukan media sebagai keluarga ideal.
"Jadi Bu Mutia juga sudah ditahan karena terbukti membunuh papi?" Gendis meyakinkan diri dari kesimpulan yang dapat dia ambil dari keseluruhan cerita Ozge yang tidak menegaskan secara gamblang tentang hal tersebut. Dan Ozge pun menjawab dengan mengangguk mantap.
Gendis berdiri, menghampiri dan mengusap lebnan Ozge dengan lembut. "Kita tidak bisa mengubah apa pun di masa lalu, Kak. Kita bisa apa sekarang? Banyak ... banyak hal yang bisa kita lakukan. Yang pasti, kita perbaiki rumah tangga kita masing-masing. Dan kita harus menjadi orangtua yang benar-benar bisa menjadi panutan. Cukup kisah buruk kita bersama papi dan siapa pun yang terlibat. Biar usai sampai di sini saja. Anak-anak kita, tidak perlu tahu serentetan kisah nenek dan kakek mereka yang busuk," putus Gendis.
"Kamu benar, kita mulai semua dari nol. Kita lepaskan semua harta Sevket dan semua hal tentang Sevket. Kita pasti bisa memulai semua bersama. Andalkan aku, Ndis. Aku kakakmu." Ozge merengkuh pundak Gendis dan membawanya ke dalam pelukan.
"Aku punya, Eser, Kak. Kita cari Eser dulu. Ada damar, dan ada si kembar. Kita akan sangat kuat jika bersama. Tuhan pasti juga beserta kita."
Keduanya semakin mengeratkan pelukan. Saling memberikan semangat dan kekuatan. Kehidupan keduanya memang begitu rumit dan kejam. Tidak layak dikenang, namun juga sulit dilupakan.
Di sisi lain, Eser sudah berada di dalam pesawat untuk melakukan perjalanan ke tempat di mana ada seseorang yang sangat dia rindukan.
__ADS_1