Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Kerjasama dengan Ozge


__ADS_3

Eser sengaja menukar ponselnya dengan ponsel Gendis. Hari ini dia harus tahu siapa sosok Arya sebenarnya. Dia tidak mau Gendis mengetahui ponsel dan namanya dimanfaatkan Eser sebagai jalan menemui rivalnya.


Dengan pelan dan sedikit mengendap-endap. Suami Gendis itu, keluar dari apartemennya. Eser sengaja berangkat lebih awal dari biasanya. untuk menghindari Istrinya. Dia tidak mau luluh kembali seperti kemarahan yang sudah-sudah.


Sejak kejadian semalam, dia memang sengaja mendiamkan Gendis. Eser sampai mengunci pintu kamar, berharap istrinya itu sedikit menyadari kesalahannya dan bisa lebih menghargai Eser saat berbicara. Dia juga ingin Gendis belajar mencintainya.


Tanpa disadari oleh Eser sendiri, caranya yang seperti itu justru membuat Gendis berpikir jika dia menikah dengan pria yang sangat egois. Menuntut pasangan lebih, tapi dirinya sendiri bersikap seenaknya.


Hingga detik ini, Gendis memang tidak mengerti, kenapa Eser menikahinya selain untuk mengalahkan Ozge. Kalau pun ada cinta di hati Eser, jelas perasaan itu tidak nampak di mata Gendis. Karena sikap Eser yang naik turun. Kadang lembut dan kadang sangat menyebalkan.


Kini, Eser sudah berada di kafe tempat Arya mengajak istrinya bertemu. Karena dia belum tahu yang mana sosok pria itu, dia mengirim pesan atas nama Gendis, menyuruh Arya untuk masuk terlebih dahulu ke ruangan VVIP yang dipesan atas nama Gendis.


Setelah memastikan sudah ada yang memasuki ruangan itu, Eser pun segera menyusul ke sana. Setelah suami Gendis itu membuka pintu dan memasuki ruangan, baik Eser dan Arya sama-sama terkejut.


Arya tidak menduga yang menemuinya adalah Eser, sedangkan Eser sama sekali tidak menyadari kalau sosok yang ada di depannya saat ini, yang dikenal istrinya sebagai Arya, adalah Bima.


Ya, Bima adalah pria yang dihancurkan masa depannya oleh Eser Sevket. Akibat kekejaman seorang Eser, Bima yang gagah dan tampan di luar, tidak akan merasakan lagi kedutan atau reaksi naganya saat berhadapan dengan lawan jenis.


Karena kesalahan yang dilakukan Arya beberapa tahun lalu, tepatnya saat menjadi asisten pribadi Eser, dia dikeb1ri oleh Dokter suruhan Sevket. Sejak itulah organ vitalnya tidak dapat berfungsi secara normal.


Hal itu terjadi karena Arya menjual beberapa data penting perusahaan pada rival bebuyutan keluarga Sevket. Tentu saja tidak ada ampun lagi baginya.


Tapi nasib baik berpihak pada Arya. Dia bertemu dengan seseorang yang menolongnya hingga sesukses sekarang. Obsesi Arya setelah itu hanya satu, menjadi kaya raya dan membalas dendam pada Eser Sevket.


"Kamu terkejut bukan? Aku juga? Tapi ini lebih baik. Kita bertemu lebih cepat dari waktu yang sudah aku atur. Rupanya, teman kecilku mempunyai suami yang tidak hanya kejam dan posesif, tapi juga pencemburu," sambut Arya, dengan sinis.


"Urusanmu hanya denganku, jangan bawa-bawa Gendis di sini. Sekali kamu menyentuhnya, aku akan melenyapkan nyawamu dengan tanganku sendiri." Eser membalas tatapan Arya dengan tatapan yang tajam.

__ADS_1


Arya tersenyum licik. "Aku tidak ingin teman kecilku itu menjadi boneka 5ex-mu, aku akan menyelamatkan dia dari pria kejam dan tidak bermoral seperti kamu."


"Aku tidak bermoral? Bagaimana dengan kamu? Berkaca dulu sebelum berbicara," tanya Eser, semakin mendekatkan diri pada Arya.


"Kita laki-laki, Es, Tidak perlu banyak bicara. Mari kita selesaikan masalah kita ini dengan jantan." Arya menepuk bahu Eser dengan kuat.


"Masih punya kejantanan?" Eser sengaja memainkan emosi Arya.


"Jangan banyak omong, Es! Simpan baik-baik energimu untuk menghadapiku!" Bentak Arya.


"Apa maumu?" Eser menahan lengan Arya dan mencengkramnya dengan kuat.


"Mauku? Jelas aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, apalagi bahagia. Mengetahui istrimu adalah teman kecilku, membuatku semakin bersemangat untuk menghancurkanmu. Lebih baik dia bersamaku, ketimbang menjadi sasaran dari musuh-musuhmu." Arya menghempaskan tangan Eser dari lengannya.


"Harusnya kamu sadar diri, kenapa sampai diperlakukan seperti itu. Jangan bermain-main dengan Eser Sevket. Apa pun yang sudah sah menjadi milikku. Seekor lalat pun tidak boleh mengusiknya," tegas Eser.


Arya tersenyum sinis. "Nanti malam, BCG Circuit. Aku tunggu kamu di sana. Siapa pun yang memenangkan pertandingan, akan mendapatkan keinginannya."


Arya pun tertawa begitu lepas, hingga suaranya menggema memenuhi ruangan. "Mulai kapan seorang Eser terikat dengan satu perempuan. Hebat juga teman kecilku itu ternyata. Bisa membuat seorang Eser Sevket, si petualang wanita ini mulai jatuh cinta."


"Apa maumu?" Eser ingin meladeni Arya, karena ini jelas murni masalahnya. Cepat selesai jauh lebih baik.


"Hal yang sama seperti yang kamu lakukan padaku. Nyawa harus dibayar nyawa, bukan?'


Eser tidak langsung mengiyakan. Jika Arya menantangnya terlebih dahulu, jelas pria itu mempunyai kelebihan di sana. Dalam hal balap mobil, sebenarnya yang lebih piawai adalah Ozge. Tapi menolak sekarang, jelas harga dirinya akan jatuh.


"Baiklah!" jawab Eser, akhirnya.

__ADS_1


"Apa kesepakatanmu? Memintaku meninggalkan kehidupanmu sekarang?" tebak Arya.


Eser langsung menggeleng kuat. "Beri tahu aku, apa pun yang kamu tahu tentang Jia dan Gia. Termasuk tentang keberadaan anak-anak Jia."


Arya berdecak dengan mulutnya. "Rupanya mengetahui keberadaan anak-anak Jia lebih penting daripada istri sendiri. Semoga beruntung!" Pria itu kembali menepuk pundak Eser sebelum meninggalkan mantan atasannya itu begitu saja.


Eser menendang kursi kafe dan meraup wajahnya dengan kasar. Dulu dia banyak menanam benih kekejaman pada orang yang dinilainya pengkhianat. Eser tidak mengenal rasa kemanusiaan saat memberikan hukuman. Kini, saatnya dia menuai kekejaman yang dia tebar sendiri.


Hal yang sangat biasa, di saat hati mulai berniat untuk menjadi pribadi lebih baik, maka masa lalu datang menguji kita, agar ragu dan goyah dalam menjalani kebaikan.


Eser melangkahkan kaki dengan lebar menuju mobilnya. Dia segera masuk dan mengendarai mobil sport yang memiliki fungsi autopilot itu menuju gedung perusahaan SVK.


Tidak ada pilihan lain, selain melibatkan Ozge. Sangat tidak lucu, kalau dia sampai kalah dan harus dikeb1ri. Bukan hanya masa depannya saja yang runyam, Gendis pun bisa jadi akan meninggalkannya.


Sampai di gedung kantornya, Eser langsung menuju lantai 24, di mana ruangan Ozge berada. Tanpa mengetuk ruangan dia langsung masuk ke dalam sana.


Ozge terlihat sedang sibuk di depan laptopnya. Dia hanya melihat kakak tirinya itu sekilas. Keluar masuk tanpa permisi, sudah hal yang biasa bagi keduanya. Bukan karepna terlalu akrab, tapi lebih karena terlalu membenci.


"Aku butuh bantuanmu, Oz. Aku janji tidak gratis. Aku akan menukar informasi tentang Jia." Eser langsung memulai pembicaraannya tanpa basa basi.


Ozge langsung menutup laptopnya. Dia penasaran. Sebelumnya, dia pernah menawarkan kerjasama, dan malah berakhir dengan kelicikan Eser yang menikahi Gendis.


Kini, kakak tirinya itu yang menawarkan kerjasama dengan dirinya. Melihat dari wajah Eser, jelas ini bukan masalah perusahaan.


"Aku harus membantumu apa, Es? Aku harap imbalanku sepadan. Jika sulit dan berat, informasi tentang Jia saja tidak akan cukup. Kamu boleh memberikan istrimu padaku. Aku sama sekali tidak keberatan." Ozge berjalan mendekati Eser yang duduk tidak tenang di sofa.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


numpang promo punya teman author, yang menyukai genre teen, boleh diintip.



__ADS_2