
Dugaan Ozge ternyata salah. Langkah perempuan itu berhenti tepat di belakang mobilnya sendiri. Dia nampak menundukkan badan sembari meneliti bumper belakang mobilnya yang ternyata tidak hanya sedikit pesok, tetapi juga tergores dan ada cat yang mengelupas di sana.
Mau tidak mau Ozge pun mendekat ke arah perempuan itu. "Soo, apa maumu sekarang?" Tanyanya.
Perempuan itu menatap Ozge dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dalam hati dia mengatakan, 'Ganteng iya, tajir pasti, tapi sayang gak punya attitude.'
"Hei ... saya tidak mau membuang waktu. Jika yang kamu butuhkan bukan uang ganti rugi. Lalu apa? Dan kamu, jangan diam-diam mengagumiku sampai menatapku seperti itu!" Ozge melambaikan tangannya di depan mata perempuan itu dengan cepat.
"Namaku Vivian, memang aku tidak butuh uangmu. Jika permintaan maaf itu mahal, dan susah keluar dari mulutmu, cukup temani aku datang ke acara reuni bersama teman-teman kuliahku tiga hari lagi."
Ozge tersenyum sinis. "Dasar perempuan, Yang pura-pura pun tetap dijalani demi mempertahankan gengsi. Kamu pikir aku akan mau?"
"Tentu saja. Aku cantik, berkelas, dan aku tidak mungkin mengincar kekayaanmu." Vivian mengatakan dengan penuh percaya diri.
"Aku sudah menikah." Ozge menunjukkan cincin yang bertuliskan nama Gendis di jari manisnya.
"Dan aku hanya memintamu menemaniku, bukan untuk menikahiku. Deal?" Vivian mengulurkan tangannya pada Ozge.
Adik tiri Eser itu tidak langsung menjawab. Kini, dia yang memperhatikan Vivian dari atas hingga ke bawah. 'Tidak buruk, tapi tidak semenantang Gendis. Dia tidak bisa membuatku kebanggaanku mengeliat,' batinnya.
"Deal." Ozge buru-buru membalas uluran tangan itu dengan sekilas. Dia tidak mau Vivian merasa diperhatikan olehnya.
"Oke, beri aku nomer ponselmu. Tolong agak cepat sedikit, karena ada mamaku menunggu di dalam." Vivian melirik ke dalam mobilnya. Merasa tidak melihat mamanya, perempuan itu segera berlari ke dalam mobilnya.
Vivian menjerit memanggil mamanya yang sudah tersungkur tidak sadarkan diri dengan kening membentur dashboard.
Ozge mendekati Vivian yang tampak panik. "Kita bawa ke rumah sakit. Biar aku yang mengemudi. Mobilku, biar saja di situ. Aku akan menghubungi bengkel biar mereka yang mengambil dan sekalian diperbaiki."
Vivian mengangguk setuju. Dia membetulkan posisi ibunya dan melandaikan sandaran jok yang diduduki sang mama. Lalu dia duduk di jok belakang sembari terus memegangi tangan mamanya yang sangat dingin.
Ozge langsung melajukan mobil Vivian dengan kecepatan yang sangat tinggi.
__ADS_1
"Ma, maafkan Vivian. Harusnya Vivian tidak berhenti mengurusi orang ini," sesal Vivian di tengah tangisnya.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit terdekat. Mama dari Vivian pun segera ditangani oleh dokter.
Setelah beberapa saat menunggu, perempuan itu pun siuman. Vivian buru-buru menghampiri dan memeluk mamanya. Ozge sendiri tidak berniat untuk ikut apalagi menunggu. Dia langsung keluar, tapi sebelumnya dia menitipkan nomer teleponnya pada perawat terlebih dahulu agar diberikan pada Vivian. Ozge pun meninggalkan rumah sakit dengan menggunakan taxi yang berderet di depan pagar rumah sakit.
Dokter yang tadi sempat memeriksa kondisi mamanya Vivian menyarankan agar perempuan itu menjalani rawat inap. Dengan sedikit pembicaraan dengan Vivian mengenai riwayat gagal ginjal yang di derita. Dokter semakin yakin, kalau memang sudah waktunya dilakukan transpanlantasi ginjal.
"Ma, ayolah! Kasih tahu Vivi, siapa anak kandung Mama? Biar Vivi berlutut padanya, kita tidak bisa menundanya, Ma. Vivian rela berbagi harta asalkan dia mau mendonorkan ginjalnya untuk Mama," pinta Vivian.
Perempuan itu menggeleng lemah. "Tidak Vi, kita tunggu sampai semua hasil tes keluar."
Vivian tidak menyahuti lagi. Dia memilih tidak mengajak mamanya berdebat. Dalam hati, dia akan mencari tahu sendiri jika keadaan sudah kondusif.
Sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap, seorang perawat memberikan titipan Ozge pada Vivian. 'Dia menepati janji juga rupanya.'
Sementara itu, Gendis kembali berulah. Dia kembali kesal karena teringat anting-anting yang terlepas dan hanyut gara-gara Eser. Perempuan itu kini sedang merajuk ingin membelinya lagi dengan cara yang sama seperti dulu.
Gendis menghentakkan kakinya dengan gemas seperti anak kecil yang sedang merajuk ingin dibelikan mainan. "Tidak sama, Phi. Sensasi mengamen dan memijat itu berbeda. Kalau mengamen kita lantang keluar suara dan bergoyang. Kalau memijat hanya tangan yang bekerja."
"Mhi, jangan bertingkah aneh. Mau jadi apa Esju kalau keinginanmu aneh dan sangat tidak masuk akal seperti ini."
Gendis memunggungi tubuh Eser dengan kesal. Lalu memajukan tubuhnya dua langkah dari tempat suaminya berdiri.
"Mhi, siapa bilang kalau memijat itu tidak bisa bersuara lantang dan bergoyang. Sangat bisa. Mau aku ajari?" Eser memeluk tubuh Gendis dari belakang.
"Phi, aku sedang marah."
"Benarkah? Kalau begitu ini biar jadi urusan Teser saja. Dia sedang ingin melihat Esju." Tangan Eser mulai menggulung ke atas daster sejengkal dari lutut yang di kenakan Gendis.
"Phi ...." Gendis ingin menolak, tapi jempol kanan Eser berhasil menyumpal mulutnya untuk berhenti protes.
__ADS_1
Bukannya melepaskan jempol sang suami, Gendis malah menikmati layaknya permen lolipop. Membuat Teser semakin meronta di dalam segitiga biru yang dikenakan sang empunya.
"Mau keluar suara lantang sambil bergoyang kan? Tapi lepas dulu dong jempolnya. Katanya lagi marah, tapi doyan amat sama jempol."
Gendis seketika menarik tangan sang suami itu menjauh dari mulutnya. Kini, bibirnya pun kembali manyun.
Eser menuntun Gendis ke atas ranjang mereka, karena sedang berusaha lebih konsisten dengan mode marahnya, Gendis berusaha untuk menjaga reaksinya kali ini.
Eser mulai menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhnya. Segala surga dunia yang didamba wanita, seketika nampak di mata Gendis. Perempuan itu memejamkan mata, berkomat-kamit seperti sedang membaca mantra perlindungan diri dari godaan syetan yang memberi kenikmatan.
"Mhiu, pasrah ya?" Eser merangkak naik ke atas ranjang, Sengaja menempelkan Teser di paha Gendis yang sudah tersingkap.
Perempuan itu menarik napas dalam. Dilema antara mempertahankan gengsi atau menyalurkan hasrat biirahi yang kini juga menghampirinya. Gendis mengajak otaknya berpikir cepat, apapun keputusannya, dia tidak boleh terlihat kalah.
Dengan gerakan cepat, bersamaan dengan membuka matanya, Gendis mendorong tubuh Eser dan langsung menindihnya. Sembari membuka daster dan segitiga berenda yang dikenakannya, perempuan itu berkata, "Suara lantang dan bergoyang, sembari memijat. Tapi tidak murah, Phi. Aku mau semua saham milikmu jadi atas namaku."
Bukannya menolak seperti yang diharapkan Gendis, Eser malah mengangguk tanpa beban. "Atas nama siapa pun, kelak itu untuk Esju satu sampai Esju tujuh."
Gendis pun menggila, dia mulai memijat Eser di titik-titik sensitif dengan gestur tubuh yang sungguh membuat Teser ingin segera saja memasuki celahnya.
Suara lenguhaan Eser masih mendominasi ruangan. Hingga pada akhirnya Teser sudah menyatu bersama pasangannya. Suara Gendis yang menyanyikan makhluk Tuhan paling sekksi yang dipopulerkan oleh Mulan Ahmad, menggantikan dominasi suara Eser. Suara yang sama sekali tidak lantang, karena nadanya sudah bercampur dengan desaah kenikmatan dari goyangan yang dibuat Gendis sendiri di atas tubuh sang suami.
"Luar biasa, Mhi." Eser mengacak rambut Gendis sembari mengecup kening sang istri ketika keduanya sudah menyelesaikan penyatuan halal mereka.
Gendis hanya tersenyum. Eser mengusap dadanya. Kata cinta memang tidak penting diucapkan, tapi rasanya tidak salah dan tidak berlebihan kalau ingin sekali saja, dia mendengar sang istri mengucapkan kata itu kepadanya.
"Mhi ...."
"Hmmm, jangan minta lagi. Aku tidak mau."
"Bukan itu, Mhi. Aku ingin mengajakmu datang ke reuni teman-teman kuliahku dulu, mau kan?"
__ADS_1