Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Eksekusi awal


__ADS_3

Eser dan ketujuh orang lain pun segera menyebar ke segala arah. Tidak mengenakan seragam institusi, membuat gerak ketujuh orang itu lebih leluasa dan tidak mengundang perhatian orang sekitar. Langkah mereka juga tidak terburu-buru. Semua memang orang-orang profesional yang sudah terbiasa menangani kasus serupa. Meskipun tidak dipungkiri, misi yang dijalankan kali ini, memiliki resiko yang lebih tinggi daripada sebelumnya.


Julles adalah salah satu penjahat berkedok pengusaha. Dua perusahaan legal yang dia miliki, hanyalah kedok untuk menutupi sumber kekayaan lain yang bertentangan dengan norma sosial dan hukum. Julles sulit disentuh, meski kejahatannya termasuk kejahatan tingkat tinggi. Orang-orang pemerintahan di balik aksi Julles, melindungi gerak gerik pria itu dengan sempurna. Limpahan materi yang digelontorkan untuk menutup mata, telinga, dan mulut mereka, benar-benar membuat mereka terbuai dan bungkam dengan apa pun sepak terjang Julles.


Saat ini adalah saat yang terbaik untuk menghentikan tindak kejahatan yang dilakukan oleh Julles. Pergantian orang-orang di dalam pemerintahan, dijadikan celah bagi Eser dan Giano untuk menghancurkan Julles.


Suara dentuman keras peti kemas satu dengan peti kemas yang lain, saling berbenturan saat ditumpuk, menegaskan, betapa dunia tidak pernah tidur. Waktu menunjukkan sudah tengah malam, namun pergerakan manusia di sana seolah tidak berhenti, tak kenal lelah demi mengais dollar.


Hilir mudik awak kapal, dan pekerja kasar pengangkut barang, menjadi pemandangan rutin di pelabuhan tersebut. Malam hari, nyatanya menjadi puncak kesibukan di sana. Terang dari lampu-lampu dan cahaya bulan, memperlihatkan peluh beberapa orang yang naik turun mengatur Gantry crane atau heavy forklift yang akan menaik turunkan atau menggeser kontainer dengan menggunakan Di antara mereka, Eser berjalan dengan kewaspadaan penuh melewati celah-celah lebar di antara kontainer.


Tidak ada sedikit pun keraguan dan ketakutan yang nampak dari raut wajah maupun bahasa tubuh Eser. Kerinduan akan kehidupan damai bersama Gendis dan Esju, membulatkan tekad pria tersebut untuk mengambil resiko. Lebih baik mati dalam keadaan berusaha, ketimbang harus hidup di bawah tekanan dan ketakutan.


Setelah berjalan lebih dalam ke area tumpukan peti kemas yang datang. Jam di pergelangan tangan Eser bergetar dan berkedip-kedip menunjuk pada arah pukul dua. Rupanya tiga orang yang lain, juga menuju arah yang sama. Tanpa kata, mereka memberi kode dengan sebuah gerakan tangan yang tak biasa.


Eser memperlambat langkahnya sesuai dengan arahan dua orang yang lain. Sementara satu orang bergerak lebih cepat mendekati salah satu kontainer berukuran empat kali dua meter. Mendadak tidak ada lagi orang lain yang memasuki area tersebut. Mungkin sudah disterilkan dan dilakukan penjagaan di segala sisi agar kegiatan di arah tersebut, sejenak dihentikan.

__ADS_1


Suami Gendis itu menyandarkan badannya pada salah satu kontainer yang berjarak selebar jalan dengan kontainer yang di tuju. Di sisi ini, tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Selain karena disinilah pusat pemberhentian kontainer sebelum di ambil muatannya oleh pihak ekspedisi, mungkin Julles dan anak buahnya sudah mensetting kondisi tersebut.


Beberapa lampu yang menerangi area di mana Eser dan yang lain berada, mulai diredupkan, dua unit yang lain pun merangkak berdatangan. Dengan sebuah anggukan kepala, lima orang mendekat ke arah kontainer yang sudah ditandai.


Sebuah alat di tempelkan pada gembok kontainer. Tanpa menimbulkan suara atau kegaduhan sedikit pun, gembok yang terbuat dari besi itu pun meleleh. Kapten unit menjentikkan jemarinya agar empat orang berpindah tempat ke belakangnya. Dan satu orang diminta untuk menarik besi pengunci kontainer. Sementara yang lain, masih siaga di tempat masing-masing yang sudah ditentukan.


Dengan hitungan dan aba-aba yang diberikan oleh kapten unit, pintu kontainer terbuka secara perlahan. Seketika, dua orang berperawakan tinggi besar yang ada di dalam kontainer dengan gesit melepaskan sebuah tembakan ke arah luar. Selain kedua orang tersebut, hampir separuh bagian kontainer diisi anak-anak di bawah umur. Wajah-wajah polos dengan ekspresi ketakutan, duduk dilantai kontainer memeluk lutut, mematung, tak ada satu pun yang berani menengadahkan kepalanya.


Teriakan komando kapten unit yang memerintahkan anggotanya untuk mendesak masuk ke dalam kontainer, membuat dua orang dewasa yang melepaskan tembakan tadi semakin panik. Suasana mendadak ricuh. Apalagi saat satuan dari dua unit yang lain langsung beringsut masuk mengevakuasi anak-anak keluar kontainer.


Kedatangan para penegak hukum itu, sepertinya benar-benar tidak diperhitungkan sama sekali oleh pihak Julles. Perlawanan yang diberikan dua orang tadi, sedikit pun tidak menyulitkan. Beberapa menit kemudian, keduanya malah berhasil diringkus, dan dibawa ke markas oleh empat orang anggota unit lain. Sementara anak-anak langsung dievakuasi menuju tempat perlindungan dan pemulihan korban trafficking.


"Sky One, atur posisi! Target terkunci!" Kapten kembali berbicara melalui mini intercom wireless yang baru saja dipasang di telinga.


Eser dan sisa anggota unit yang ada, masuk ke dalam kontainer yang tadinya berisi anak-anak yang akan diperjual belikan oleh Julles.

__ADS_1


Anak-anak yang didatangkan secara khusus dari salah satu negara dengan tingkat pendapatan rendah tersebut, sebelumnya diiming-iming akan mendapatkan pendidikan yang layak. Nyatanya, Mereka dijual dengan harga yang cukup tinggi pada sebuah rumah produksi yang memproduksi film dewasa dengan pemeran orang dewasa dan anak-anak.


"Oke, clear!" Salah satu anggota melaporkan melalui alat yang sama pada kapten unit yang ada di luar kontainer.


"Operasi berikutnya, siap dilakukan. Tetap waspada, penjagaan berlapis dengan senjata lengkap!" ucap salah seorang di dalam kontainer.


"Siap!" Eser dan yang lain, lagi-lagi kompak menjawab.


Sesaat kemudian, kontainer pun kembali tertutup rapat. Setelah itu Gantry Crane, menaikkan benda berat berisi manusia-manusia tersebut ke atas kendaraan berat khusus untuk mengangkut kontainer. Di sinilah kewaspadaan harus ditingkatkan. Karena operasi selanjutnya penuh dengan tantangan dan juga bahaya.


Dari informasi yang baru saja di dapat, Julles memilih melakukan transaksi di atas kapal di perairan lepas. Untung saja, unit-unit sudah dibekali dengan berbagai strategi untuk rencana cadangan.


"Mudahkan jalan kami, Tuhan. Aku serahkan hidup dan matiku padaMu. Jaga istri dan calon anakku. Aku percayakan mereka dalam perlindunganMu. Aku pasrahkan hidupku padaMu." Eser mengambil sikap berdoa.


Seseorang menepuk pundak Eser sembari tersenyum. "Tidak ada kemenangan yang diraih dengan mudah. Semua butuh perjuangan dan pengorbanan. Satu hal yang harus kamu ingat, jangan pernah melakukan negoisasi dengan orang-orang seperti Julles. Dan jangan menaruh belas kasih sedikit pun. Mereka tidak punya hati, sekali pun kamu darah dagingnya, dia tidak akan segan menelanmu hidup-hidup."

__ADS_1


__ADS_2