
Ketika sedang bersama orang terkasih, serasa waktu berlalu begitu cepatnya. Apalagi jika waktu itu diisi dengan kehangatan dan kemesraan. Begitulah yang terjadi pada Eser dan Gendis. Setelah seharian bersama, keduanya kini enggan melepas pelukan. Padahal Eser harus segera kembali ke rumah tahanan.
Gendis semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang Eser. Perempuan itu memanyunkan bibir sembari memainkan jemarinya di sekitar bagian pucuk kecoklatan sang suami.
"Mhi, aku harus pergi. Kalau Oz tahu kita bertemu, dia pasti akan marah dan mempersulit kita ke depannya. Kamu selesaikan bagianmu, dan aku selesaikan bagianku. Jangan sampai Julles tau aku menemuimu. Aku janji tidak akan berubah pikiran lagi. Apa pun yang terjadi, aku akan mempertahankanmu dan Esju." Eser mengecup kening Gendis bertubi-tubi.
Gendis merenggangkan pelukannya pada Eser dengan terpaksa. "Jaga diri baik-baik. Jangan lupa doa. Kendalikan emosimu."
Eser membelai pipi Gendis sembari menyunggingkan senyuman manis dan tatapan hangat penuh kasih. "Jaga Esju baik-baik. Kamu pulang besok pagi saja. Akan ada seorang biarawati yang akan membantumu melewati lorong tadi."
Anggukan lemah kepala Gendis dan tatapan mata yang berembun, membuat Eser kembali membawa istrinya itu ke dalam pelukannya. "Aku sayang kamu, Mhi. Aku pun berat banget ninggalin kamu. Rasanya belum puas bersama. Badai pasti berlalu. Seperti yang selalu kamu yakini. Allah pasti akan menukar cobaan dengan kegembiraan jika kita bisa melaluinya dengan baik."
"Iya, Phi. Pergilah! Tapi jangan ingkari janjimu. Jika kamu tidak segera kembali, aku akan pergi menjauh dan menghilang selamanya. Jangan harap kamu bisa menemukan kami." Gendis mengancam sang suami seraya kembali merenggangkan pelukan mereka. Lalu dia memundurkan langkah kakinya selangkah.
Eser membalik badannya, lalu bergegas meninggalkan Gendis di dalam rumah panggung itu sendirian. Pria itu terus berjalan maju dan tidak berani lagi menoleh ke belakang. Pintu bangunan di mana Gendis berada masih terbuka lebar, dengan leluasa Gendis bisa melihat Eser semakin menjauh darinya.
Gendis perlahan menjatuhkan badannya ke kasur lantai empuk yang ada di sana. Tangannya terulur meraih bantal yang tadi digunakan oleh Eser. Lalu memeluk benda itu begitu erat. Wangi Eser menempel lekat di sana, berhasil membuai Gendis hingga tertidur tanpa menutup pintu terlebih dahulu.
***
__ADS_1
Di sisi lain, Ozge sengaja menemui Jia untuk mengajak istrinya itu berbicara. Satu hal yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan, namun semua demi permintaan Gendis.
"Aku akan melepaskanmu dari pernikahan yang penuh siksa ini, Ji. Aku akan memberimu uang untuk memulai hidup yang layak. Biarkan anak-anak hidup bersamaku. Jika kamu ingin menemui mereka, aku tidak akan keberatan." Ozge memulai pembicaraan mereka dengan serius.
Entah apa yang harus Jia katakan. Lega, pada akhirnya dia akan terlepas dari siksa hati dan juga siksa fisik yang kerap kali dirasakan. Namun ada pula sedikit rasa sedih dan pedih, melepas Ozge dan si kembar, sama sekali tidak ada dipikirannya sebelumnya.
"Aku harus berkata apa, Oz. Saat kamu sudah memutuskan, aku menolak pun akan percuma bukan? Meskipun pernikahan kita memang terpaksa, tapi janji kita di depan Altar atas nama Tuhan tidak bisa dianggap pura-pura. Dulunya aku berharap ada keajaiban di dalam kehidupan pernikahan kita. Sesuatu yang kita mulai dengan tidak benar, akhirnya tidak dapat kita pertahankan. Aku pasrah, Oz." Jia menatap suaminya dengan tatapan kosong.
"Lebih baik kita mengingkari janji kita dihadapan Tuhan, daripada hidup dalam kepura-puraan dan penuh siksaan. Kita sama-sama belum pernah mati, jalan dosa kita sudah jelas. Namun kebaikan mana yang Tuhan terima, tidak ada yang tahu," tegas Ozge.
Jia mengalihkan pandangan ke arah tembok. Jika boleh jujur, sungguh yang terberat adalah berpisah dengan si kembar. Selama dia diabaikan, anak-anak adalah penghiburan yang nyata. Apa daya, membawa mereka bersamanya adalah sebuah ketidak mungkinan. Jalan hidup Jia tidak layak untuk dijejaki Agam dan Agler. Sekejam-kejamnya Ozge kepada Jia, pria itu nyatanya adalah seorang ayah yang sangat baik dan bertanggung jawab. Sekali pun si kembar terlahir istimewa, tidak sedikit pun Ozge malu dan memperlakukan anak-anaknya dengan buruk.
"Tapi ini tidak gratis, Ji. Untuk terakhir kalinya, kamu harus melakukan sesuatu untukku."
"Apa maumu, Oz?" Tanya Jia, suara dan ekspresi wajahnya sama-sama dingin.
"Bantu aku mengungkap apa yang disembunyikan mami, bawa mami keluar dari rumah ini selama beberapa hari. Terserah kamu bagaimana pun caranya. Nanti aku akan berpamitan pada mami untuk mengurus pekerjaanku di luar kota terlebih dahulu." Ozge bergegas meninggalkan Jia, karena dia mendapatkan panggilan telepon dari orang suruhannya.
Jia pun ikut beranjak, langkahnya gontai menuju kamar tidur Agam dan Aglair. Segala tentang Mutia, dia sudah tahu. Bukan hal yang sulit untuk menekan wanita tersebut. Mungkin memang kelicikan, ketamakan, dan kejahatan Mutia pun juga harus selesai.
__ADS_1
***
Di sisi lain, Gendis yang baru saja terbangun dari tidurnya terperanjat kaget. Dia kembali memastikan penglihatannya dengan mengedarkan pandang pada sekeliling. Seketika dia meraba-raba tubuhnya. Mendapati pakaian yang dia kenakan masih sama dan menempel dengan baik di tubuhnya, hati perempuan itu sedikit lega.
Semakin menyadari keberadaannya tidak lagi di tempat yang sama dengan saat bersama Eser tadi, ketakutan dan kecemasan seketika menyeruak. Dengan langkah ragu, dia mendekati jendela yang ada di sisi kanan ruangan di mana Gendis berada sekarang. Namun sayang, jendela itu tidak bisa dibuka. Berlari ke arah pintu, hal yang sama berlaku seperti jendelanya. Terkunci rapat dari luar.
"Aku di mana? Siapa yang membawaku ke sini?" Kepala Gendis bergerak lincah, sesekali diikuti gerakan memutar tubuhnya. Sungguh dia merasa asing dengan kamar yang ditempatinya sekarang.
Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul empat dini hari. Gendis mencoba mengingat-ingat dan mengajak otaknya untuk berpikir keras. Tidak sedikit pun bayangan yang terlintas di kepalanya.
"Tadi malam aku tidak tidur di sini. Aku yakin! Lalu di mana aku sekarang?" Gendis benar-benar tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Raut cemas, bingung, dan ketakutan nampak jelas di wajah Gendis. Perempuan itu menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Sedikit mencoba menenangkan diri agar pikirannya bisa berpikir jernih. Namun sia-sia. Gendis benar-benar tidak ada gambaran tentang siapa, mengapa, dan bagaimana bisa dia berada di tempat tersebut.
Gendis seketika memundurkan badannya begitu mendengar langkah kaki nendekati pintu kamarnya. Perlahan gagang pintu tersebut terlihat bergerak karena adanya tekanan. Gendis semakin memundurkan badannya, malah hingga menempel ke tembok. Dalam hitungan detik pintu kamar pun terbuka lebar.
****
Dear readers jangan lupa comment dan like. Stay tune karena kisah Gendis dan Eser hanya tersisa di bawah 10 bab lagi. Terimakasih yang sudah setia mendukung dan membaca cerita yang bertubi-tubi sekali rumitnya.
__ADS_1
Salam hangat.
DeviDevaDwiDarren