Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Cemburu selalu meresahkan


__ADS_3

Gendis yang kebetulan bertemu dengan Gilbas, sama sekali tidak menyadari masalah yang sedang mengintainya. Perempuan itu dengan santai berbincang akrab dan sesekali tertawa renyah dengan mantan atasannya itu. Gendis mengabaikan Ayumi yang masih setia mengawasi dengan tatapan cemas.


"Pak, kalau nanti suami saya mengijinkan, saya boleh 'kan kerja lagi di tempat Bapak?"


Pertanyaan Gendis seketika menghentikan gerakan tangan Gilbas yang ingin memasukkan makanan ke mulutnya. 


"Ndis, buat apa kamu bekerja? Kamu sudah punya segalanya. Perusahaanku masih sangat kecil jika dibandingkan dengan perusahaan suamimu. Bahkan Eser sanggup membuka usaha untukmu dalam sekejap mata. Buat apa kamu repot-repot bekerja dengan orang lain?" 


"Saya biasa bekerja, Pak. Sangat tidak enak kalau hanya berdiam diri menunggu suami pulang. Tapi saya tidak ingin kerja bareng sama suami. Perasaan kami harus dijaga sampai di rumah. Saya tidak mau, hubungan kami nantinya akan berantakan kalau bercampur dengan urusan pekerjaan. Jika kesenangan dan ketenangan hanya sebatas uang, apa yang kami miliki, jelas sudah sangat berlebihan."


Gilbas memberanikan diri menatap Gendis. Baru sebentar merasakan jatuh cinta lagi, tapi harapan dan angannya harus sudah pupus. Dia tidak ingin merusak hubungan baiknya bersama Eser hanya karena seorang perempuan.


"Kamu sedang hamil, Ndis. Fokus sama kehamilanmu saja. Aku yakin, Eser tidak akan mengijinkanmu bekerja. Kalau kamu bosen, lakukan saja sesuatu yang menyenangkan hatimu."


Disaat bersamaan, Eser datang dengan wajah yang tidak bisa menutupi kemarahannya. Mengetahui Gendis sedang bersama Gilbas, membuatnya semakin kesal.


"Oh, jadi kamu pamit keluar hanya ingin bertemu dengan dia." Suara Eser membuat Gendis dan Gilbas kompak meletakkan sendok mereka dan menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Es.... " Gilbas menyapa dengan sedikit canggung.


"Pulang." Tanpa menjawab Gilbas, Eser langsung menarik pergelangan tangan Gendis, hingga membuat perempuan itu terpaksa berdiri dan mengikuti langkah Eser yang terburu-buru. Ayumi hanya bisa diam, perempuan itu tidak beranjak dari tempatnya duduk. Eser sudah memberinya kode jika tugasnya selesai untuk hari ini.


Gilbas meneguk minuman yang dipesannya hingga tandas. Sedikit ada kecemasan tentang apa yang akan terjadi pada Gendis. Sejauh dia mengenal Eser, yang paling tidak terlupakan dari seorang Eser adalah sikap kasar dan rasa tega yang dimiliki pria itu tidak main-main. Kini Gilbas mulai menduga-duga adanya kemungkinan Gendis diperlakukan dengan kasar oleh Eser.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam mobil, Eser dan Gendis hanya diam. Eser mengendarai kendaraannya dengan hati-hati. Dia takut Esju akan stres jika dia bersikap berlebihan.


"Katakan apa kurangku sebagai suami?" Tanya Eser, tiba-tiba tanpa menoleh sedikit pun ke arah Gendis.


Gendis bukannya menjawab, malah memalingkan wajahnya ke luar kaca mobil. memperhatikan sepeda motor yang mendahului kendaraan yang ditumpanginya dari sisi kiri. Baru saja hubungannya dengan sang suami membaik dan ada kejelasan, namun bukannya bertambah romantis, tapi malah menjadi kaku seperti sekarang.


"Mhi, jangan menguji kesabaranku. Apa kurangnya aku sebagai suami? Kenapa kamu bahagia sekali jika bersama Gilbas? Kamu tertawa dan tersenyum begitu lepas saat bersama dia." Eser semakin tidak sabar. Dia kembali mengulang pertanyaan yang tadi sudah dilontarkan. Tangan dan matanya masih tetap fokus pada jalan.


"Kepercayaan, Phi. Kamu tidak pernah memberikan aku kepercayaan. Aku merasa terkekang." Gendis menjawab tanpa menoleh.


Memasuki gerbang utama rumah mereka, Gendis merasa lega. Dia ingin segera kabur dari laki-laki yang saat ini terkesan sangat egois. Begitu mobil berhenti, Gendis langsung turun dari sana. Berjalan dengan cepat mendekati pintu, Eser buru-buru menyusul sang istri.


"Mhi...." Eser berhasil menyamai langkah Gendis.


Setelah lift terbuka, Gendis bergegas masuk ke dalam diikuti Eser. Gendis menekan angka lima, sedangkan Eser menekan angka dua.


"Buat apa ke lantai lima. Kita ke kamar utama kita." Eser sedikit merendahkan nada bicaranya.


"Aku lebih nyaman di sana. Buat apa sekamar dengan orang yang selalu mencurigai kita. Gerak sedikit, serasa sedang diselidiki." Gendis menjawab dengan ketus.


Eser menarik tangan Gendis hingga tubuh keduanya tidak berjarak. "Katakan kalau kamu mencintaiku, Mhi. Katakan kalau kamu tidak akan mengkhianati aku."


Gendis dengan berani membalas tatapan Eser. "Aku tidak akan mengingkari janji pernikahan kita."

__ADS_1


Pintu lift terbuka, karena sudah sampai di lantai dua. Bukannya keluar, Eser segera menekan tombol close. "Jangan harap bisa keluar kalau kamu tidak mengucapkan apa yang aku minta."


"Silahkan mengancamku, Phi. Aku tidak sama sekali."


Eser menyunggingkan senyuman licik. "Benarkah tidak takut? Kita lihat setelah ini, aku tidak akan melepaskanmu sampai telingaku mendengar kamu mengucapkan permintaanku."


Dengan gerakan yang tidak kasar, Eser membawa Gendis mendekati dinding di dalam ruangan lift yang dingin. Dia mengunci tubuh sang istri di sana. Dengan santai, Eser mulai mengecup bibir Gendis yang sudah terkunci rapat dengan tubuh tegapnya. Satu tangan eser mulai mereemas bokong sintal sang istri.


"Jangan membuat aku cemburu, Mhi. Aku sudah lama tidak menggila. Sekarang jangan salahkan aku kalau kamu harus menanggung akibatnya." Eser melepaskan kecupannya. Dan dengan gerakan cepat, Eser kembali menekan tombol close. Sesungguhnya, mereka sudah sampai di lantai lima.


Gendis menelan ludahnya dengan kasar, dia pernah dihukum hingga lemas. Entah kali ini dia harus pasrah atau melawan. Namun, ketika otaknya sedang berpikir, tubuh Gendis malah sudah menentukan pilihan dengan menerima atas semua perlakuan Eser tanpa bantahan.


Begitu bibir keduanya kembali beradu, tanpa sadar tangan Gendis mengalung di leher Eser. Kembali tersenyum licik, pria itu semakin menggencarkan serangan. Tidak sedikit pun dia memberikan celah pada lidah Gendis bermain di dalam mulutnya. Eser terus memberikan serangan dengan lilitan lidah atau pun dengan tangan yang sudah berhasil menyusup di dalam atasan Gendis.


Ketika pintu lift terbuka. Dengan tidak sabar Eser menggendong tubuh Gendis ala bridal style. Napas Gendis masih terengeh-engah karena ciuman membabi buta yang dilakukan Eser. Hal itu membuat suaminya itu semakin bersemangat.


"Kita lihat, Mhi. Akan sampai berapa lama kamu bertahan untuk tidak mengucapkan rasa cinta. Aku akan membuatmu mengatakannya berulang-ulang." Eser membuka pintu kamar, lalu menutupnya kembali dengan satu kaki. Pria itu perlahan membaringkan Gendis ke ranjang yang benar-benar sempit. Hanya 120 kali 200 senti meter.


"Aku menyiapkan mainan untukmu, pasti kamu akan menyukainya. Bergeraklah bebas, ini tidak akan menyakiti pergelangan tanganmu." Eser memberikan borgol di kedua tangan Gendis. dan menghubungkannya di kepala ranjang. Seperti yang Eser katakan, borgol itu lentur dan empuk karena terbuat dari silikon halus.


"Ingat, Mhi. Aku tidak akan memulai apalagi berhenti sebelum apa yang aku harapkan terdengar." Eser menanggalkan baju yang yang dia kenakan dengan gerakan cepat. Bergantian kemudian menanggalkan helaian kain yang menempel di tubuh Gendis. Melihat segala keindahan yang sangat dirindukan. Tubuh perempuan itu mengeliat, menahan haasrat dan menunggu sentuhan Eser dengan tidak sabar. Kakinya yang bebas tanpa ikatan digerakkan perlahan hingga pahanya menyenggol Teser yang malah sudah berdiri dengan sempurna.


"Aku tidak akan mengucapkannya, Phi." Gendis sengaja menantang Eser, agar suaminya itu semakin tidak sabar dan segera beraksi.

__ADS_1


"Kamu akan menyesal, Mhi. Aku tidak akan memberimu ampun." Eser berseringai licik sembari menenggelamkan wajahnya di salah satu bagian dada menonjol sang istri.


__ADS_2