Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Mengetahui rencana


__ADS_3

Di hari pertama Gendis tinggal seatap bersama Sevket, tidak ada hal istimewa yang terjadi. Baik Ozge maupun Mutia, sama-sama tidak gegabah untuk berbuat sesuatu yang berlebihan. Keduanya berusaha keras menekan perasaan masing-masing. Mutia jelas takut akan ancaman Sevket. Suaminya itu tidak akan segan menyuruhnya angkat kaki dari rumah jika berani membuat Gendis tidak nyaman. Lalu Ozge yang sudah puas bisa bersama dan melihat wajah Gendis lebih lama. Pria itu berlaku seolah dia menerima Gendis sebagai saudara, hangat tetapi tentu saja sesekali mencuri-curi pandang dengan tatapan yang tidak biasa.


Hanya Eser yang merasa tidak nyaman dengan kondisi saat ini. Ketenangan Mutia dan Ozge membuatnya khawatir dan berpikir keras. Dalam diam, kedua orang itu pasti sedang mencari celah untuk menyerang.


Jangan ditanya lagi bagaimana tersiksanya Eser saat ini. Sevket seolah mendominasi waktu Gendis. Pria itu tidak membiarkan Ozge atau pun Eser memiliki kesempatan untuk berdua saja bersama Gendis. Kecuali sedang berada di kamarnya, Sevket selalu berada di sekitar Gendis. Bahkan saat Gendis mengajak si kembar Agam dan Aglair bermain, Sevket terus saja mengawasi.


Sampai hari kedua, tanda tanya semakin memenuhi isi kepala Gendis. Sejak kemarin dia datang, tidak sekali pun, perempuan itu bertemu dengan Jia. Ingin bertanya, tetapi jelas itu bukan urusannya.


"Pi, besok sepertinya Gendis dan Eser akan pulang. Kami akan menempati rumah baru kami." Eser menyudahi makan paginya dengan mendorong piring kosong yang ada tepat di depannya.


Ucapan Eser membuat Sevket yang sedang meneguk segelas air putih seketika tersedak, hingga membuat Gendis langsung bereaksi dengan mengusap punggung papinya itu. Mutia tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Ozge langsung berdiri dan meninggalkan meja makan dengan sedikit kesal.


"Boleh papi memohon sekali lagi?" Pinta Sevket. Pria itu baru akan menjalankan rencana keduanya besok malam. Jika sampai, Gendis pulang bersama Eser, gagallah apa yang sudah dia atur dengan baik.


"Apa, Pi?" Tanya Eser seraya melirik Gendis yang masih menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.


"Tinggallah satu dua hari lagi. Belum tentu dalam waktu dekat, Gendis akan tinggal di sini lagi. Minggu depan, Papi juga mau pulang ke negara Papi."


Gendis menoleh ke arah Eser dan menganggukkan kepala pelan. Namun Eser membalasnya dengan gelengan kepala kuat. Gendis memanyunkan bibir sembari melengos ketus. Barulah Eser mengiyakan kemauan Sevket.


"Hanya sampai besok ya, Pi. Kasihan Damar di apartemen sendirian, lagi pula rumah kami sudah jadi," kilah Eser.


Mutia menatap Eser dan Gendis bergantian. "Tidak seharusnya kalian tinggal seatap, siapa yang menjamin kalian tidak akan melakukan dosa. Perempuan hamil, hasratnya tidak besar kalah dengan tiga belas casanova sekaligus."


"Tidak perlu ada jaminan. Kita punya kuasa sepenuhnya akan pikiran kita. Sekali pun tinggal di sini, jika memang Eser dan Gendis mau, kami tetap bisa melakukannya. Kami masih punya hati dan iman. Kami bukan seekor kucing, yang bisa bersetubuh dengan anaknya sendiri." Eser sangat tersinggung dengan kata-kata Mutia. Pria itu berdiri lalu mengajak Gendis untuk meninggalkan ruang makan. Eser menggandeng pergelangan tangan Gendis.

__ADS_1


Ozge yang baru akan berangkat ke kantor, tersenyum sinis melihat pemandangan itu. "Bukankah aku juga kakakmu, Ndis. Sebagai kakak, aku juga boleh menyayangimu bukan? Sepertinya pelukan hangat seorang adik perempuan yang sangat cantik akan membuatku bekerja lebih bersemangat," ucapnya dengan santai.


"Jaga bicaramu, Oz!" Bentak Eser.


"Cukup! Di sini tidak ada siapa pun yang lebih berhak dari Gendis, selain Gendis sendiri. Termasuk kamu, Es. Kamu dan Ozge, sama-sama harus memperlakukan Gendis sebagai adik kalian. Jangan pernah menyentuh apalagi memeluk Gendis, jika di pikiran kalian masih ada rasa yang lain." Sevket muncul langsung menengahi keributan yang bisa saja terjadi jika dibiarkan. Tangan Sevket melepaskan tangan Eser dari Gendis dengan paksa.


Pria itu menatap anaknya satu per satu. Raut wajahnya memerah menahan kesal dan amarah. Semua memang terjadi begitu cepat. Tentu butuh waktu untuk mengubah perasaan. Kini, Sevket hanya berharap, rencananya besok bisa berjalan dengan lancar. Setidaknya, jika Eser dan Ozge masih bersikeras dengan hati mereka, Sevket bisa mengandalkan Gendis yang menurutnya lebih bisa diajak bicara dan rela melakukan sesuatu untuk kebaikan bersama.


"Bukankah kalian harus berangkat kerja?" Sevket mengingatkan Eser dan Ozge yang masih beradu pandang dengan sinis. Sedangkan Gendis berdiri menundukkan kepala di belakang punggung Sevket.


Eser mendekati Gendis, seperti biasa sebelum berangkat bekerja, dia selalu mencium kening Gendis. Namun kali ini Sevket menghalangi langkahnya.


"Sudah Papi katakan, jika belum bisa memandang Gendis sebagai adik. Jangan coba-coba menyentuhnya. Ini tidak kejam, tapi agar kalian terbiasa. Kamu ingat, Ndis. Jangan biarkan mereka mendekatimu, kalau kamu tidak yakin." Sevket menatap anaknya satu per satu bergantian, dan terakhir tertuju pada Gendis.


Eser terpaksa menahan diri, jika dia memaksa, tentu Ozge akan ikut nekat melakukam hal yang sama. Dia tidak mau orang lain menyentuh Gendis. Sekali pun orang itu adalah Ozge.


Saat hendak masuk ke dalam kamarnya, Gendis dikejutkan dengan suara pintu terbuka diikuti suara perempuan yang sedang terbatuk. Begitu dia menoleh ke arah sumber suara, dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan sosok yang dia lihat saat ini. Jia tampak sangat kurus dan pucat.


"Jia," gumam Gendis. Sosok yang disebut Gendis itu tampak sangat berantakan. Perempuan itu tampak kesulitan berjalan. Gendis buru-buru menghampiri dan membantu Jia berjalan.


"Kamu mau ke mana?" Gendis memapah Jia dengan telaten.


Sevket yang sebenarnya hanya ingin memastikan apakah Gendis sudah di dalam kamarnya atau belum, sedikit tidak senang, karena anaknya itu malah membantu Jia.


"Ndis, dia biasa diurusi pembantu. Kamu tidak perlu repot-repot membantunya," ketus Sevket sembari berjalan menuju ke ruang kerjanya di lantai dua.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Ji?" Tanya Gendis sekali lagi setelah melihat Sevket tidak ada di sana.


"Aku bosen di kamar, Ndis. Bisakah kamu membawaku ke taman belakang atau ke rooftop?" Jia seperti sedang mengiba pada Gendis.


"Boleh, tapi sakitmu tidak mengapa?"


"Tidak mengapa. Aku sudah mulai bersahabat dengan sakitku. Lagian ini mungkin sudah resiko sekaligus karma yang aku tanggung." Jia menjawab dengan suara yang agak lirih.


Gendis mengamit pinggul Jia agar perempuan itu lebih nyaman saat berjalan. "Apa kamu tidak ada kursi roda?"


Pertanyaan Gendis membuat Jia tersenyum getir. "Jangankan untuk membeli kursi roda, untuk membeli obat saja aku harus minta dulu pada Mami. Dan aku malas terus meminta. Akhir-akhir ini, aku sudah lelah berdebat."


Meski berjalan perlahan, akhirnya, Gendis dan Jia sudah sampai di taman. Senyum tipis mengembang di wajah Jia. Dia sangat senang bisa menikmati udara taman yang akhir-akhir ini tidak dia rasakan. Hal itu tentu disebabkan oleh kondisi Jia sudah tidak menentu.


"Maaf, Ji. Apakah Ozge tidak memperlakukanmu dengan baik?" Tanya Gendis dengan hati-hati.


Senyuman miris menyungging dari bibir Jia, "Siapa aku, sampai harus seorang Ozge bersikap baik? Pernikahan itu hanya status. Pada kenyataannya, aku hanya dianggapnya sampah, parasit, dan jalaang yang terbuang." Jia membagi keresahan kehidupan rumah tangganya nersama Ozge.


Gendis tidak menanggapi ucapan Jia. Dia. membantu Jia duduk dibangku kayu panjang terlebih dahulu. Mereka kini berada di bawah pohon mangga yang terlihat belum berbuah namun sangat rindang.


"Terimakasih, Ndis. Aku minta maaf, karena aku banyak melakukan salah padamu. Semoga aku bisa memperbaiki kesalahan itu secara bertahap," ucap Jia sembari mendongakkan kepala menatap Gendis yang masih betah berdiri.


"Aku malas kalau harus mengingat kejadian yang sudah berlalu. Biarlah semua berlalu tanpa memberatkan langkah kita ke depan. Kamu fokus saja pada kesembuhanmu."


Jia memperhatikan Gendis. Rasa iri di hatinya masih cukup besar, hanya saja rasa itu hampir tertutup oleh ketidak berdayaan. Kehidupan Gendis terlalu mudah di matanya. Apa yang diimpikan setiap perempuan, semua didapatkan oleh Gendis. Sungguh terlalu sempurna dan tidak adil baginya.

__ADS_1


"Kalau aku jadi kamu, aku akan memilih kembali ke rumahku sendiri malam ini. Apa kamu tidak tahu kalau besok akan ada ta--." Jia tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Karena dia melihat Sevket yang tiba-tiba muncul entah dari mana, mata pria itu seperti sedang mentimidasi dirinya.


__ADS_2