Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Tiga kekasih


__ADS_3

"Tidak perlu minta maaf. Aku tidak butuh maafmu," sahut Gendis dengan ketus.


"Aku tidak sedang ingin minta maaf," timpal Eser, masih dengan wajah serba salah.


"Owh, tidak merasa bersalah. Ya sudah, mandi sana! Aku siapkan makan malamnya. Terimakasih meringankan satu tugasku. Sudah ada kekasih baru yang memuaskan nafsoemu. Jadi aku bebas tugas seumur hidup melayanimu di ranjang." Dengan santai Gendis keluar dari kamar.


Eser melepas kemeja yang dikenakannya dengan kasar. Belum juga dia menjelaskan, Gendis sudah menyimpulkan sendiri.


Di dapur, Gendis membuat tumis sayur dan membuat ayam lada hitam dengan bumbu siap saji. Dia sungguh tidak ingin terlalu merepotkan diri, Eser pun sejauh ini tidak pernah rewel. Apapun yang disajikannya selalu dilahap habis meski kadang dengan raut wajah yang aneh.


Selesai memasak dan menyiapkan makanan di meja makan, Gendis memanggil Eser untuk makan malam bersama.


Pria yang baru saja selesai mandi itu, semakin heran dengan sikap Gendis. Tidak ada kecemburuan dan kemarahan yang meledak. Padahal, tadinya Eser sudah membayangkan istrinya itu berteriak dan mencakar tubuhnya dengan bar-bar.


Tapi, justru sikap Gendis yang seperti sekarang inilah, yang membuatnya sangat tidak nyaman. Bukan karena rasa bersalah, tapi bingung harus mulai menjelaskan dari mana.


"Makan dulu, Mhiu. Punya banyak perempuan itu, butuh tenaga," sindir Gendis dengan santai.


Eser mengabaikan ucapan istrinya, lalu dia menarik kursi dan duduk di samping Gendis seperti biasa. Dengan wajah datar dan dingin. istrinya itu mengambilkan nasi lengkap dengan lauk untuknya. Keduanya makan tanpa obrolan apapun. Tidak seperti biasanya yang masih ada sedikit pembicaraan.


"Biar aku saja, Mhiu." Eser mengangkat piring kotor miliknya dan juga milik Gendis.


Pria itu mencuci piring kotor sendiri. Gendis ingin tertawa, tapi hatinya juga sedang kesal. Seorang anak pemilik SVK, mencuci piring setelah makan. Sungguh hal yang sangat langka.


"Mhiu, aku mau ngomong sebentar." Eser mengambil pisau dapur dan menggenggamnya di tangan kanan sembari mendekati Gendis. Matanya menatap tajam pada sang istri.


"Jangan aneh-aneh, Phiu. Aku masih ingin hidup. Kalau pun mati, aku ingin dengan cara yang baik. Kalau kamu mau menikah lagi silahkan, mau pacaran aku juga tidak melarang, biar aku yang mundur. Tapi jangan bunuh aku." Gendis memundurkan langkah perlahan, pikirannya sudah sangat negatif.

__ADS_1


"Aku mau ngomong, jangan disela dan jangan dibantah dulu sebelum selesai." Eser pun terus berjalan maju mendekati Gendis yang sudah tidak bisa lagi melangkah mundur, karena punggungnya sudah menempel tembok.


"Stop! Bicara saja di situ. Aku bisa mendengarkan. Aku diam selama kamu berbicara." Gendis melakukan gerakan tangan mengunci mulut.


"Perempuan tadi namanya Clara, kami baru jadian seminggu. Aku masih ada dua kekasih lagi, semua hanya selisih satu hari saja jadiannya. Namanya Dela sama Almira." Eser menghentikan ceritanya, memperhatikan Gendis yang ternganga karena kaget.


'Ya, Tuhan! Dia bangga sekali mengakui mempunyai selingkuhan. Mana tiga sekaligus. Kenapa aku seumur hidup harus bersama orang seperti ini.' Gendis hanya berani berkata dalam hati.


"Tapi sungguh, Mhiu. Ketiganya cuma pacar mainan dan bohongan. Aku janji, hanya sampai kita bisa mengungkap tentang Jia dan Gia. Aku lakukan ini karena aku ingin melindungimu dari Gia. Dia akan kesulitan memilih fokus menghancurkan perempuan yang dekat denganku." Eser terlihat sangat sungguh-sungguh saat mengatakannya.


Gendis mengernyitkan keningnya, menelaah apa yang diucapkan oleh Eser barusan. Suaminya itu mungkin keceplosan. Dari apa yang didengarnya barusan, Gendis bisa menyimpulkan, kalau Gia dan Eser pasti ada hubungan sebelumnya. Kemungkinan, Gia belum puas dengan kisah cinta mereka.


"Sungguh... Demi Tuhan... Demi injil... aku tidak pernah melakukan apa pun dengan mereka. Niatanku memang hanya satu, Gia tidak menjadikanmu target satu-satunya. Aku memberikan mereka mobil, supaya meyakinkan Gia agar aku tidak sekedar main-main. Tapi aku tidak pernah menyentuh mereka. Aku tidak akan mencium apalagi berhubungan badan dengan mereka." Eser menatap Gendis, menanti reaksi lain selain menganga. Tapi ternyata tidak ada.


'Ish... dasar laki-laki. Tidak akan ngapa-ngapain, tapi digelayutin kayak monyet, dia diam saja. Jadian seminggu dapat mobil, enak sekali mereka. Lebih enak jadi pacar jadi-jadian ketimbang jadi istri kalau begitu caranya,' umpat Gendis dalam hati.


"Dasar aneh," Gendis mengabaikan Eser dan langsung masuk ke dalam kamar.


Eser buru-buru menyusul istrinya itu dan meletakkan pisau di meja dengan sembarangan. "Mhiu, percaya kan? Kalau tidak percaya, biar besok, aku bicara dengan mereka bertiga sekaligus."


"Tidak perlu! Terserah kamu. Suka-suka kamu. Tapi jangan sentuh aku, selama mereka masih jadi pacarmu," tegas Gendis.


"Bukannya memang tidak pernah menyentuh ya? Kan kamu yang selalu bekerja," protes Eser dengan sangat hati-hati.


"Ralat! Jangan pernah berharap disentuh lagi maksudnya," ucap Gendis buru-buru.


Eser meregangkan kepala dengan menggunakan tangannya sembari terus berpikir bagaimana cara untuk meyakinkan sang istri. Sekarang, Eser tidak bisa tidur tenang sebelum mendapatkan sentuhan cinta dari Gendis. Sangat tidak lucu kalau sampai istrinya itu sampai melakukan apa yang diucapkan.

__ADS_1


"Ya sudah, maumu bagaimana?" tanya Eser.


Nada merendah, wajah memelas, dan tatapan Sendu, berharap Gendis memberikan reaksi yang lebih pantas. Layaknya seorang istri pada umumnya, saat mendengar suaminya selingkuh.


Gendis menatap Eser sedikit menelisik. Seperti sedang menjadi cenayang yang ingin meramal pikiran orang yang ada di depannya.


"Putuskan semua pacar-pacarmu, maka akan aku beri kamu satu permintaan," ucap Gendis, sangat tegas dan lugas.


Eser sedikit dilema, sebuah permintaan jelas langsung terlintas di kepalanya. Tapi memutuskan kekasih, itu berat. Bukan karena cinta atau perasaan sejenisnya, lebih karena takut niat Gia untuk menyakiti Gendis akan semakin menjadi-jadi.


Seolah tahu apa yang ada dipikiran Eser, Gendis pun menjawab dengan cepat, " Soal Gia, kita hadapi bersama. Aku lebih suka menghadapi masalah tanpa melibatkan orang yang tidak berdosa. Apa kamu pikir? Satu unit mobil saja cukup untuk mereka? Kalau sampai Gia juga menyakiti satu per satu dari mereka bagaimana? Makin banyak saja orang yang kamu korbankan."


Eser terdiam, Gendis memang benar. Tapi, mana dia peduli. Eser bahkan rela mengorbankan 100 perempuan lain, asal Gendis tidak tersentuh oleh Gia.


"Kelamaan mikir, aku mau tidur dulu, ngantuk." Gendis naik ke atas ranjang, menarik selimut dan menutup tubuhnya hingga bagian dada.


Eser masih menimbang-nimbang sebentar. "Baiklah, aku akan memutuskan mereka besok," putus Eser, akhirnya.


"Baguslah! Setidaknya aku menyelamatkanmu dari dua dosa sekaligus. Pertama, dosa perselingkuhan dan yang kedua adalah memanfaatkan orang lain untuk tujuan yang tidak benar."


Eser menarik napas lega, diikuti senyuman licik. "Kalau begitu, sekarang aku boleh menyebut permintaanku, bukan?" tanyanya dengan licik.


"Silahkan." Gendis menjawab dengan mata terpejam.


Eser mendekati istrinya, membungkukkan badan, lalu membisikkan sebuah kalimat panjang di daun telinga sang istri. Membuat Gendis seketika membuka matanya lebar-lebar.


"Bagaimana?" tanya Eser sembari tersenyum nakal dan menggoda.

__ADS_1


__ADS_2