
Eser tertegun, tubuhnya gemetaran. Pistol yang tadinya ada di genggaman dan dengan brutal memuntahkan timah panasnya pada Julles, kini luruh ke lantai. Seumur hidup, Eser baru sekali ini membunuh seseorang. Pria itu mengangkat dan melihat telapak tangannya.
"Apa aku seorang pembunuh?" tanya Eser. Lirih dan tidak jelas ditujukan untuk siapa.
"Tidak! Anda bukan pembunuh, Pak. Dalam pertempuran semacam tadi, hanya ada dua kemungkinan. Jika bukan Julles yang mati, maka nyawa Andalah yang melayang." Kapten menepuk pundak Eser dan menjawab tanya yang tertangkap oleh indra pendengarannya yang tajam.
Kapten mengajak Eser ke dek bawah untuk menenangkan diri. Tiga orang anggota unit, nampak mengurus jenazah Julles yang kehilangan nyawa di tangan anak kandungnya sendiri. Sedangkan beberapa yang lain, segera bergabung dengan anggota lain untuk menjaga anak buah Julles dan pembelinya yang sudah diborgol dengan aman berkumpul di dek terbawah. Tepatnya mereka diletakkan di dalam kontainer yang menjadi salah bukti, betapa kejamnya Julles dalam menjalankan bisnis penjualan anak usia di bawah umur.
Kapten menyodorkan sebotol air mineral pada Eser. "Tenangkan diri Anda, Pak. Nahkoda sudah kembali memutar haluan. Setelah Anda menyelesaikan beberapa berkas keterangan. Anda boleh kembali ke negara Anda."
Eser menerima botol tersebut, langsung membuka dan meneguk isinya hingga tandas. "Terimakasih, Kapt. Semoga urusan saya benar-benar selesai."
Pandangan Eser menerawang, selesai sudah kisah dirinya dan Julles. Namun kekhawatiran baru muncul dibenaknya. Mengingat perjanjiannya dengan Giano, membuat pikiran Eser gamang. Ketakutan terbesar pada dirinya kini adalah kehilangan istri dan calon anaknya. Apa kira-kira tanggapan Gendis jika tiba-tiba Giano dan Salsa mencecar istrinya itu dengan keinginan mereka yang sebenarnya sangat memaksa.
Di sisi lain, Gendis memegang keping disket dengan binar harapan. Penuh percaya diri, perempuan itu keluar dari ruangan nawah tanah bersama Jumi dan juga Ayumi.
"Aku ingin istirahat sebentar di kamar suamiku. Tolong kamu hubungi Ozge. Katakan padanya, aku ingin segera bertemu dan berbicara dengannya. Secepat mungkin!" Gendis mengucapkannya dengan tegas pada Ayumi.
"Baik, Bu. Akan saya laksanakan segera. Bu Jum, tolong antar Bu Gendis ke kamar Pak Eser. Kemarin sampai hari ini begitu melelahkan baginya," pinta Ayumi pada Jumi.
Wanita itu mengangguk. Sebenarnya Gendis sudah tahu di mana letak kamar Eser, tapi dia membiatkan saja Jumi yang mengantar. Sekalian Gendis akan mengucapkan terimakasih. Berkat Jumi, dia memiliki senjata untuk melepaskan suaminya dari jeratan Julles.
"Bu Jum, Jia dan Bu Mutia ada di rumah, kan?" Gendis mendadak teringat akan keberadaan dua perempuan tersebut. Dia sedikit heran, kenapa semua bertindak seolah tidak takut sedang diawasi seperri biasa."
"Tuan Ozge yang akan menjelaskan semua, Non. Sekarang Non Gendis istirahat saja. Non sedang hamil, jangan terlalu capek, apalagi sampai stres." Lagi-lagi Jumi menolak untuk menjawab.
__ADS_1
Gendis mengangguk tanpa ragu. "Baiklah, saya istirahat dulu. Bangunkan saya kalau Ozge dateng."
"Baik, Non. Selamat beristirahat."
"Terimakasih atas semuanya, Bu Jum," ucap Gendis sebelum Jumi benar-benar meninggalkan dirinya di kamar Eser.
"Sama-sama, Non. Ini tidak seberapa." Wanita itu terasenyum begitu hangat.
Gendis menarik napas lega. Merebahkan dirinya di kasur empuk sang suami nyatanya tidak meredam galau dan rindunya. Bahkan rasa itu semakin menjadi. Begitu banyak kata andai yang terlintas di pikirannya. Andai san andai yang pada intinya hanya ingin Eser segera kembali ke sisinya.
***
Beberapa jam berlalu, Eser yang belum memejamkan matanya sama sekali, sudah terlihat agak segar. Dia sudah berada di apartemen bersama Rose. Untuk melengkapi berkas perkara, dia akan datang ke markas besar kepolisian, nanti setelah makan siang.
"Tidak." Eser menjawab singkat.
Sebuah kata yang sebenarnya sangat bertentangan dengan isi hatinya saat ini. Eser tidak hanya ingin sekedar menghubungi, dia ingin bertemu, lalu memeluk istrinya itu dengan erat. Tidak akan lagi dia berpisah selama ini. Tidak hanya berat, tapi menjalani waktu tanpa Gendis dengan terpaksa, semakin membuatnya tersiksa. Lebih baik mendengar ocehan istrinya, nyatanya lebih meenenangkan daripada harus berada disituasi seperti sekarang.
"Maaf, Ibu bukannya lancang. Menurut Ibu, lebih baik, istrimu tahu lebih dulu perihal Giano dan salsa dari mulutmu sendiri. Setidaknya dia paham kondisi, kenapa kamu sampai bisa mengiyakan syarat mereka. Perempuan itu gengsinya tinggi, Es. Jika sedang cemburu. Logika jauh dari pikiran mereka. Bagaimana kalau istrimu malah menyetujui kemauan Salsa? Apa kamu nggak rugi sendiri?" Rose menghela napas panjang. Dia sekedar mengingatkan, agar tidak ada penyesalan di belakang hari.
"Gendis sangat pintar. Dia tidak akan bertindak emosional," sahut Eser dengan tegas.
"Jika itu memang yang kamu yakini, Ibu bisa apa. Ibu hanya mencoba memposisikan diri sebagai istrimu. Kalian sudah lama tidak berkabar, lalu tiba-tiba Giano datang bersama Salsa menemuinya untuk memintamu. Apa kira-kira yang ada dipikiran istrimu? Sementra kalian tidak bertemu, kamu mendekati dan sering ke club malam bersama Salsa. Jika itu terdengar oleh istrimu, apakah kepintaran mampu membuat cemburunya teredam? Kita selalu berharap yang terbaik, tapi tidak ada salahnya kita juga memikirkan kemungkinan terburuk."
Rose masuk ke dalam kamarnya, membiarkan Eser sendirian agar bisa berpikir dan meresapi apa yang dia ucapkan.
__ADS_1
***
Setelah menerima kabar dari Ayumi, Ozge segera melakukan perjalanan kembali ke kediaman Sevket dengan menggunakan helikopter. Sebelumnya, dia memang sedang ingin mengecoh Julles maupun Giano tentang keberadaan Gendis. Karena itu dia juga menyuruh Damar dan Jimmy untuk melakukan hal yang sama dengan tujuan yang berbeda.
Ozge benar-benar tidak tahu perkembangan yang baru saja terjadi. Baik yang dialami Eser, maupun yang dialami Gendis. Itulah mengapa , dia masih sangat berhati-hati dalam melangkah.
🌼🌼🌼🌼🌼
Dear readers...
Mohon dukungan di karya otor yang baru dipublish. Insya Allah karya ini akan diikutkan lomba YAAW di Noveltoon, jadi mohon dukungan dengan fav, like dan koment.
Judul baru ini, dipersiapkan untuk mengganti Gendis yang tersisa hanya 4 episode lagi.
***
Blurb
Deva dan Dave mengakhiri ikatan cinta sebagai sepasang kekasih karena bakti pada orangtua. Namun tidak lama dari itu, mereka malah mengeratkan hubungan dengan bersembunyi dibalik kata "persahabatan." Keduanya seolah tidak peduli, ada sosok lain yang ingin setia dan menetap di hati masing-masing. Ketika logika mengatakan harus berpisah, namun perasaan bersikeras menahan diri untuk tidak pergi.
"Berhenti merendahkan dirimu, Dev! Jangan bertahan pada cinta yang cacat logika. Hubungan yang dibangun dari sebuah pengkhianatan, tidak layak memiliki masa depan. Kamu hanyalah secuil sisa rasa, suatu saat, cuilan itu pasti terbuang."
Sederat kata itu diucapkan oleh sosok pria yang mengagumi dan mencintai Deva dengan cara yang berbeda. Siapakah dia?
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Sisa Rasa, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=2097482&\_language\=id&\_app\_id\=2
__ADS_1