Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Berakhir indah


__ADS_3

"Sini, Phi! Kenapa diam? Yang disentuh banyak?" Gendis kembali bertanya. Tatapannya sungguh membuat Eser benar-benar ingin mengajaknya segera ke atas ranjang.


Eser memberanikan diri mendekati Gendis. "Enggak banyak, cuman pundak, sama pinggul."


"Yakin? Yang lain aman?" Gendis menahan Eser selangkah di depannya.


"Yakin, Mhi. Meski pernah mabuk, aku yakin masih tersadar. Aku tidak segila dulu. Jangan marah, Mhi. Kita bisa bertemu sekarang, itu karena pengorbananku juga," pinta Eser dengan nada memelas.


"Tidak semua pengorbanan itu pahit dan tidak enak ternyata. Kalau pengorbanannya berdekatan dengan Salsa, tentu saja kamu mau melakukan." Gendis mencebikkan bibirnya.


Eser serba salah. Ingin membantah lagi, dia takut malah akan semakin panjang perdebatan. Diam, pasti disangka Gendis, dia sedang mengiyakan ucapan istrinya tersebut.


Gendis mengulurkan tangannya. Memainkan jemarinya di pundak Eser dengan gerakan gemulai. Mengusapnya sembari memejamkan mata seolah ingin merasakan apa yang dilakukannya sendiri.


"Buka kaosnya, Phi. Aku tidak mau ada jejak Salsa di tubuhmu. Hanya boleh aku, yang menyentuhmu. Pastikan memang benar hanya pundak dan pinggul yang dia sentuh."


Eser dengan ragu membuka kaosnya, antara takut, namun juga tidak sabar menunggu perlakuan dari sang istri.


"Celananya sekalian?" tanya Eser dengan konyolnya.


"Bukannya hanya pundak dan pinggul? Kenapa harus celana juga?" Nada bertanya Gendis begitu ketus.


"Selain menghapus jejak, harusnya kamu juga meninggalkan jejak, Mhi. Aku tidak keberatan untuk itu. Berkali-kali pun aku tidak menolak." Eser menanggalkan semua kain yang melekat ditubuhnya.


Gendis pun memulai aksinya, tangan, bibir dan tubuh perempuan itu begitu aktif memberikan sentuhan-sentuhan pada sang suami. Tubuh Eser semakin menegang, tangannya mengepal menahan eraangan, dan Teser pun sudah mencapai ukuran maksimal. Namun Gendis belum juga berhenti menjajah sendiri. Disentuh tanpa menyentuh, nikmat---tapi juga tersiksa. Disaat ada yang sudah begitu meronta, namun tak kuasa untuk mulai bercinta.


"Tanganmu megang dia juga tidak?" Gendis menuntun tangan Eser menuju bagian tubuhnya yang merupakan titik kelemahannya sendiri.


"Tentu saja tidak." Suara Eser benar-benar parau karena menahan hasrat yang sudah membuncah.


Setelah jemari Eser menggapai celah sepit menjepit, Gendis segera melepaskan kain yang melekat ditubuhnya. Dari situ, Eser mulai menggila, seolah lupa dia sedang dihukum. Dia buru-buru menggendong Gendis ala bridal style ke atas ranjang. Tanpa basa basi, dengan gerakan yang cepat namun tidak kasar, Teser pun masuk ke dalam sarangnya. Tarikan dan kedutan memabukkan seketika dia rasakan.


Eser membalik posisi sang istri agar berada di atasnya. Membiarkan Gendis yang berkuasa dan memainkan tubuhnya sesuka hati. Berharap, puncak kenikmatan tidak datang terlalu cepat. Namun harapan tinggal harapan, suara dessah disertai dengan hentakan dan liukan pinggul Gendis yang semakin intens, berhasil membuat Teser susah menahan lahar benih-benih unggulnya. Keduanya pun mengeerang nikmat bersamaan.

__ADS_1


Gendis langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Eser. "Jangan jauh-jauh lagi, Phi. Apa pun yang terjadi, berjanjilah kita akan menghadapinya bersama. Jangan seperti kemarin-kemarin."


"Tidak akan, Mhi. Aku tidak mampu kalau harus mengulangnya sampai dua kali. Kecuali yang ini, aku sangat mampu."


Eser kembali memberikan serangan lembut pada Gendis, padahal belum sampai lima menit berlalu. Kerinduan, cinta yang luar biasa, dan hasrat yang masih menggebu, memang tiga perpaduan sempurna untuk bertukar peluh memadu kasih.


****


Hampir satu jam menunggu di ruang keluarga. Sejak dari terakhir kali Ozge memerintahkan salah satu asisten rumah tangga untuk memanggil Eser dan Gendis. Namun kedua orang yang dinantinya tidak kunjung menampakkan diri.


Ozge berdecih beberapa kali karena kekesalan yang hakiki. bahkan dia mulai mengumpat dalam hati. Sebagai orang yang sama-sama dewasa, jelas dia tahu pasti apa yang menyibukkan Eser dan juga Gendis mengabaikan sarapan pagi mereka.


Karena sudah tidak sabar menunggu, Ozge pun beranjak berdiri. Dia berniat untuk menghampiri Eser dan Gendis ke kamar mereka. Sesampai di sana, pria tersebut mengetuk pintu dengan tidak sabar. Sampai empat kali, tidak ada sahutan terdengar. Dengan gerakan sedikit memaksa, Ozge menekan gagang pintu ke bawah. Di luar dugaan, ternyata pintu terbuka dengan mudahnya.


Jauh dari prasangka buruk Ozge, tidak ada adegan panas yang menyambutnya. Bahkan ranjang di sana juga nampak sangat rapi. Dua orang yang sempat menumbuhkan rasa kesal di hati Ozge, kini tengah menghadap set Altar atau meja berdoa. Berdiri dengan lutut mereka, memejamkan mata, dengan sikap berdoa yang sangat khidmat. Sekedar mengucap syukur, dan berterimakasih, atas penyertaan yang senantiasa menguatkan.


Menyadari ada seseorang yang mengawasi, Eser dan Gendis mengakhiri doa mereka. Seperti ada yang memberikan aba-aba, keduanya kompak menoleh ke arah yang sama.


"Sudah lama, Kak?" Gendis berdiri dibantu Eser, lalu keduanya menghampiri Ozge.


Eser menyunggingkan senyuman penuh arti, lalu mengamit pinggul Gendis dengan begitu mesra. "Tidak selalu lama. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa terburu-buru saat kami melakukannya ." Pria itu mengerlingkan satu matanya dengan nakal pada Gendis.


"Aku hanya ingin memberitahu, berkas Mami dan juga Bu Dahlia sudah lengkap. Akan segera diajukan ke pengadilan. Jadi, bersiaplah meluangkan waktu dan tenaga saat dibutuhkan untuk menjadi saksi." Ozge langsung memulai pembicaraan.


"Dengan senang hati. Siapa pun yang menabur, sudah seharusnya juga menuai," ucap Gendis. Tatapan dan ucapannya sama-sama menggambarkan ketegasan.


"Dan bagi orang lain, mungkin kita adalah anak-anak yang kejam, Ndis. Kita sama-sama memenjarakan ibu kandung kita sendiri." Ozge menatap Gendis dengan pandangan tidak fokus. Tatapannya seperti orang yang sedang melamun.


Gendis menyingkirkan tangan Eser dari pinggulnya. Lalu melangkah menghampiri Ozge. Menyunggingkan sebuah senyuman yang membuat wajahnya semakin teduh dipandang.


"Biarlah orang lain menilai kita semau mereka. Kita tidak mungkin bisa mengengendalikan pemikiran orang lain. Kita tidak akan pernah baik, di mata orang yang terlanjur membenci kita."


Ozge membalas senyuman Gendis. "Kamu benar. Ndis, Es, aku akan pergi dari rumah ini. Aku rasa, rumah ini terlalu besar untukku dan anak-anak. Lagi pula, di sini terlalu banyak kenangan yang tidak menyenanngkan. Aku ingin menjalani kehidupan yang berbeda. Menjadi peternak atau petani, mungkin bisa menjadi pilihan bagiku. Damar mungkin juga akan ikut denganku."

__ADS_1


Eser ikut bergabung mendekat pada Gendis dan Ozge. "Jika kamu pergi, siapa yang akan mengurus SVK Corp. Aku tidak mau, Oz. Aku sudah nyaman dengan perusahaanku sendiri."


"Kita berikan pada Jimmy, Es. Biar dia yang mengelola. Dia bisa dipercaya, kita bisa menggunakan semua laba untuk membuat yayasan amal. Harta itu, bagaimana pun adalah peninggalan papi. Membuatnya menjadi bermanfaat, tentu akan lebih baik. Siapa tahu Tuhan akan memberikan pengampunan atas dosa-dosa papi," sahut Ozge.


"Jika pengampunan dengan mudah di dapat dengan adanya kebaikan, alangkah beruntungnya orang kaya. Mereka membunuh sepuluh orang---memberi makan seribu orang yang lain---lalu semua menjadi impas. Benarkah begitu? Tidak, Kak! Tuhan mempunyai perhitungannya sendiri. Tidak semua kebaikan kita, bernilai baik di mata Allah. Begitu pun sebaliknya," timpal Gendis.


"Istriku benar, Oz. Jika niatan kita baik, cukupkan niat itu dalam jalan kebaikan. Tidak perlu mengharap imbalan apa pun, walau sekedar mengharap pahala. Tuhan tidak menciptakan surga agar kita berlomba-lomba masuk ke dalamnya. Bukan masalah siapa yang cepat akan dapat. Surga tidak diperebutkan, Sebanyak Tuhan menciptakan manusia, seluas itulah isi surga. Setiap manusia memiliki kesempatan yang sama," tegas Eser.


Ozge pun mengangguk. "Es, aku titip Gendis. Jaga dia dan calon ponakanku dengan baik-baik. Jika mereka sampai bersedih, kecewa atau terluka lagi, aku akan menghabisimu. Di darahku cukup kental mengalir darah kejahatan, sepertinya, membunuhmu bukan suatu hal yang sulit," ancam Ozge.


"Jangan, Kak! Kita memang tidak bisa mengeluarkan darah yang sudah terlanjur mengalir ke seluruh tubuh kita. Tapi kita masih bisa memilih jalan hidup yang tidak sama dengan mereka. Jika Eser melakukan seperti yang kakak sebutkan, tidak perlu sampai kakak yang turun tangan. Aku sendiri yang akan membuatnya menyesal." Gendis menatap Eser dengan tatapan dalam yang sulit diartikan.


Ozge memeluk Gendis dengan erat, meski belum sepenuhnya bisa, dia terus akan mencoba mencintai perempuan dalam dekapannya itu sebagai sodara.


Eser menarik napas lega. Badai kali ini sudah berlalu. Tidak ada yang berani menjamin hidupnya setelah ini akan mulus-mulus saja. Setidaknya kini dia paham dan mengerti. Dari segala hal yang sudah terjadi dalam hidupnya, berpegang teguh pada iman, senantiasa percaya akan kekuatan Doa dan adanya campur tangan Allah dalam setiap perkara adalah kunci terlepas dalam segala masalah dengan selamat.


Tuhan tidak memberikan cobaan untuk meninggalkan luka pada umatnya, melainkan untuk meningkatkan keimanan, kesabaran, dan kebahagiaan yang lebih bermakna.


"Selama manusia masih bernapas, dia tidak akan terlepas dari coba. Mengeluh tidak membuat masalahmu usai. Tapi jika mengeluh bisa membuatmu lega dan menemukan jalan keluar, maka lakukanlah. Jangan terlalu kuat. Ada satu pundak, yang memang diciptakan Allah untukmu bersandar ,menumpahkan tangis dan berkeluh kesah." Ozge mengecup kening Gendis dengan lembut, lalu melepaskan pelukannya perlahan. Pria itu lalu beralih memeluk Eser.


"Semua perjalanan panjang yang kita lalui, membuatku sadar. Setiap kejadian dan orang yang dipertemukan dengan kita, masing-masing pastilah membawa sebuah tujuan. Tidak peduli bagaimana hubungan kita sebelumnya, nyatanya, kitalah yang benar-benar masih saling peduli dan menjaga sampai akhir. Terimakasih atas persaudaraan ini, Es."


Eser membalas pelukan Ozge tak kalah erat. "Jaga dirimu baik-baik, Oz. Kami akan selalu ada untukmu. Terimakasih selama ini sudah menjaga Gendis dengan baik."


Gendis menatap keduanya dengan bangga. Manusia memang tidak akan pernah tahu, mereka yang dulunya saling membenci, pada saatnya, bisa jadi akan saling mengasihi lebih dari orang yang dikasihi sebelumnya. Perempuan itu mengusap perutnya dengan lembut. Dalam hati berdoa dan juga berjanji, Gendis akan memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Menjaga baik-baik keluarganya. Cukup sudah dirinya dan Eser yang merasakan betapa berantakannya kisah orangtua mereka.


...Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (Pengkhotbah 3:11)...


****End*****


Terimakasih yang sudah mengikuti perjalanan kerumitan Gendis dan Eser. Mohon maaf karena tentu banyak kekurangannya.


Tetap dukung katya author ya.kak. Mampir ke karya author terbaru.

__ADS_1


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Sisa Rasa, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=2097482&\_language\=id&\_app\_id\=2


__ADS_2