
Gendis berjongkok di depan si kembar persis. Lalu perlahan melambaikan tangan di depan wajah Agam dan Agler bergantian. Keduanya seketika langsung menatapnya.
"Kita pergi. Kalian berdua ikut, Tante." Gendis mencoba sedikit melambatkan gerak bibir dan melafalkan kalimat dengan bibir lebih terbuka dan wajah lebih ekspresif.
Kedua anak itu memperhatikan mulut Gendis dengan seksama. Setelah Gendis mencoba mengulang ucapannya sekali lagi. Agam dan Agler pun masing-mading langsung menggandeng jemari Gendis.
Masih banyak tanya yang terlintas di kepala Gendis, tentang Arya yang dengan mudahnya membantu menemukan dan membawa anak Ozge tanpa kesulitan berarti. Juga tentang si kembar yang sepertinya menyandang bisu dan tuli. Tapi Gendis harus membawa mereka terlebih dahulu.
Dengan sabar Gendis mengikuti langkah kaki Agam dan Agler yang pendek menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Tanpa Gendis ketahui, bodyguard Eser terus mengikutinya. Mulai Gendis keluar apartemen, bertemu Ozge sebentar, lalu memindahkan driver Eser ke hotel, dan hingga sampai saat ini.
Kini, Gendis mulai kebingungan. Dia tidak mungkin membawa kedua anak itu ke apartemennya, karena dia belum bercerita apa pun dengan Eser. Jika dia memberikan pada Ozge, akan sangat berbahaya. Gia bisa keluar masuk ke sana dengan seenaknya.
Satu-satunya yang terpikirkan olehnya adalah Sevket. Dengan kekuasaan, uang dan kemampuan mertuanya itu, tentu keselamatan dan kesejahteraan kedua anak itu bisa terjamin.
Gendis mengendarai mobilnya dengan kecepatan di bawah rata-rata. Karena dia membawa dua orang anak dengan umur yang masih batita. Untung saja Agam dan Agler termasuk anak yang tenang dan tidak aktif sama sekali.
Kini, Gendis sudah berada didepan gerbang utama rumah mertuanya. Dia masih menunggu konfirmasi diijinkan masuk atau tidak.
Setelah menunggu hampir lima menit, Gendis pun akhirnya diperkenankan untuk masuk. Sevket bahkan memarahi security yang berjaga. Karena membiarkan Gendis menunggu di luar gerbang terlalu lama. Seharusnya, security tidak perlu bertanya lagi, ketika Gendis sudah memperkenalkan diri sebagai istri Eser.
Sevket sangat Terkejut, ketika melihat Gendis datang bersama dua orang batita yang mengingatkannya pada Ozge diwaktu kecil.
"Ndis, siapa mereka? Kenapa kamu membawa mereka ke rumah ini?" tanya Sevket dengan raut wajah heran. Sebenarnya, dia sedang menduga-duga. Tapi kalau sampai dugaannya benar, berarti memang tidak salah kalau sampai Eser dan Ozge memperebutkan Gendis.
"Pi, Gendis tidak bisa berlama-lama di sini. Karena Gendis, sudah meninggalkan Eser terlalu lama. Masalah kedua anak ini bisa sampai bertemu dan bersama Gendis, biar Ozge yang menceritakan. Yang jelas, kedua anak ini kemungkinan besar adalah anak Ozge. Di sini adalah tempat teraman bagi mereka," ucap Gendis, dengan sopan tapi tidak kehilangan ketegasannya.
__ADS_1
Kedua anak itu masih saja anteng. Mereka diminta untuk duduk, mereka pun duduk. Membuat Gendis semakin penasaran, anak seusia mereka, tidaklah penurut dan sedang aktif-aktifnya.
"Papi akan memastikan kebenaran tentang mereka. Terimakasih, karena sudah melibatkan Papi dalam masalah ini. Kamu hati-hati." Sevket berjalan mendekati anak yang kemungkinan besar adalah cucunya.
"Sama-sama, Pi. Nama mereka Agam dan Agler. Seperinya mereka tuna wicara dan tuna rungu, Pi. Selain itu, sepertinya, mereka terlalu anteng untuk anak seusianya. Meminta bantuan Dokter anak mungkin akan sangat membantu,Pi."
Sevket meraup wajahnya sembari berjongkok di depan anak kembar itu. Dalam hati, Sevket merasa tertampar. Dosa kekejaman masa lalunya perlahan menemukan jalan sendiri untuk memberinya hukuman kontan di dunia. Hukum tabur tuai, diakui atau tidak. Kini sedang dia alami.
Setelah merasa si kembar sudah aman dan terjamin segalanya di kediaman Sevket, Gendis memutuskan untuk pamit.
Yang pertama dia lakukan adalah menjemput driver kepercayaan Eser di hotel. Menurut perhitungan Gendis, dalam hitungan 30 menit ke depan, driver itu harusnya sudah terbangun.
Di sela-sela perjalanan, Gendis menghubungi Ozge untuk memberi tahu kalau tugasnya sudah selesai. Gendis meminta mantan kekasih sekaligus adik iparnya itu bertemu anak-anaknya di rumah Sevket.
Sama seperti Gendis, Ozge pun curiga kenapa urusan yang dulunya rumit dan sulit dipecahkan, kini terlalu mudah dan singkat penyelesaiannya. Ozge yakin, ada sesuatu yang tidak beres.
Pria itu adalah Eser Sevket. Merasa dibohongi dan dipermainkan oleh istri sendiri. Laporan dari pengintai membuatnya tidak bisa menahan diri.
Jangan ditanya lagi kondisi kamar Gendis, layaknya kamar pecah. Peralatan make up berserakan, beberapa kaca di walk in closet pecah.
Damar yang mendengar amukan kakak iparnya, tidak berbuat banyak. Sama seperti si perawat, keduanya memilih untuk tidak mendekati Eser terlebih dahulu.
Gendis yang sudah kembali bersama driver Eser segera kembali ke apartemennya.
Si driver rupanya tidak ingat dengan apa yang terjadi. Dia hanya merasa ada sesuatu yang aneh. Badannya terasa letih, tapi dia tidak ingat apa yang baru dikerjakan hingga membuat dirinya kelelahan dan tertidur di hotel.
__ADS_1
Sampai di lobby, Gendis memelankan langkah kakinya. Dia harus mencari alasan yang tepat agar Eser percaya dan tidak marah. Kuliah normal sekali pun, tidak semestinya dia pulang sampai menjelang malam begini.
Di depan pintu apartemen, Gendis menata hatinya dulu. Dia harus siap-siap jika Eser memarahi dan menceramahinya.
Mengetahui kakaknya datang, Damar segera menghampiri. "Kakak dari mana saja? Pak Eser, mengamuk dari tadi, entah jadi apa kamar kakak sekarang. Perawat tidak berani masuk. Dari tadi siang, Pak Eser tidak mau makan," ucapnya.
Mendengar perkataan Damar, jantung Gendis semakin berdebar-debar. Kini jelas, Eser akan memarahinya tanpa ampun.
Gendis tidak tahu kalau kemarahan Eser bukan karena kedatangannya yang terlambat, tapi tentang semua hal yang dilakukannya sejak keluar dari apartemen tadi.
Dengan keberanian yang tersisa, Gendis membuka pintu kamarnya, lalu menguncinya kembali rapat-rapat. Tidak ada Eser di sana. Tapi connecting door menuju balkon terbuka lebar.
Dia merapikan ranjang terlebih dahulu, melirik meja nakas dengan makanan dan obat untuk hari ini yang tidak disentuh sama sekali.
Gendis memilih membersihkan serpihan pecahan kaca terlebih dahulu karena takut mengenainya atau mengenai Eser sendiri. Dia kembali ke luar untuk mengambil pengki dan Sapu.
Eser yang menyadari istrinya sudah datang, seperti sedang menahan amarahnya. Berkali-kali dia mengatur napas sembari menyebut nama Tuhan.
Selesai membersihkan serpihan kaca, Gendis pun memberanikan diri menyusul ke balkon.
"Phiu ....," sapanya, hati-hati dengan suara tertahan karena sedikit takut.
Eser tidak menoleh dan tetap bergeming di atas kursi rodanya. Tangannya mengepal sempurna menahan amarah.
"Aku minta maaf, aku terlambat karena aku harus mengantar Mega." Gendis mulai mencari alasan.
__ADS_1
Eser menoleh pada istrinya dengan tatapan tajam. "Jangan ucapkan apa pun, jika hanya kebohongan yang sanggup kamu berikan."
Gendis melangkah maju mendekati Eser. "Phiu, Aku--," lirihnya, tertahan. Wajah Gendis menyiratkan ragu dan takut bersamaan.