
Bukti yang diharapkan bisa menekan Julles benar-benar tidak ditemukan. Waktu tiga hari yang dijanjikan Ozge pada Gendis tidak menghasilkan apa pun. Mau tidak mau, Ozge harus tetap menyembunyikan Gendis di tempat yang sama. Demi keselamatan Gendis, keduanya benar-benar menjalankan komunikasi hanya melalui ponsel selular.
Detik demi detik pun berlalu, meski terasa lambat, kini keadaan yang tidak normal itu sudah mereka jalani hingga kandungan gendis berusia enam bulan.
Entah sudah terbiasa, atau memang Gendis pandai menyembunyikan perasaan. Perempuan itu tidak sekali pun mengeluarkan keluhan. Hari-hari dilaluinya dengan berdoa dan berdoa. Di sela-sela itu, Gendis menyempatkan diri untuk berolah raga. Sekedar berjalan kaki mengelilingi taman yang hanya seluas lima belas meter, berenang, atau yoga ringan. Bagaimana rupa dunia sekarang? Gendis sama sekali tidak tahu. Bukan gerbang tinggi dengan penjagaan ketat yang berhasil mengukungnya, melainkan rasa takut jika sampai semua orang terluka. Menuruti perintah Ozge tanpa bantahan adalah pilihannya.
"Mbak, sepertinya Mbak Gendis harus mengurangi karbo dan gula. Berat janin Mbak Gendis di atas normal dari berat janin seharusnya diusia kandungan yang sama." Dokter Kandungan bernama Medina, yang dikirim Ozge dua minggu sekali menjelaskan pada Gendis.
Baik Medina maupun Gendis, kini fokus melihat pergerakan layar monitor USG yang sengaja disiapkan Ozge setelah tahu Gendis akan lama tidak bisa muncul di area publik.
"Akan saya perhatikan, Dok." Gendis menjawab serambi tersenyum hangat. Tangannya mengusap lembut perut yang sudah sangat membuncit.
Gendis hanya berusaha tegar. Dalam hati, ada kekhawatiran, rasa bosan, dan kerinduan yang sebenarnya sudah membuncah. Jika sampai hari ini Gendis masih bertahan dengan ketegaran dan keikhlasan, itu semata-mata hanya karena kekuatan doa. Lantunan pujian dan doa-doa penguat, membuat Gendis seolah tidak sendirian. Meski sebagai manusia normal kadang terlintas ingin menyerah, namun Tuhan selalu mengingatkan dan menguatkan, melalui kasih dan bisikan positif yang merasuki jiwanya dengan cara yang tak terduga.
***
Di tempat yang berbeda, Ozge mengadakan meeting mendadak dengan Jimmy dan dua orang lainnya. Kabar yang baru saja dia terima, mengharuskan dia juga ikut kembali bergerak. Meski Ozge bisa hidup senormal biasanya, namun dia tidak tega terus membuat hidup Gendis terkungkung jika terus tidak berbuat apa-apa.
"Jadi bagaimana, Pak? Apa Anda yakin?" Jimmy bertanya dan menatap Ozge begitu serius.
"Tega tidak tega, setiap kesalahan, apalagi fatal dan membuat nyawa seseorang melayang, harus tetap diproses secara hukum, Jim. Mungkin sudah saatnya mereka menuai apa yang sudah mereka tabur. Tidak peduli siapa pun mereka," tegas Ozge. Kilatan kekecewaan dan kemarahan jelas terpancar dari matanya.
__ADS_1
"Hari ini juga, atau kita harus menunggu kabar lanjutan dari Pak Eser?" Tanya Jimmy lagi.
Ozge berpikir sejenak. Kembali menimbang-nimbang apa yang harus diputuskan. Jangan sampai dia salah langkah dan menyesal kemudian. Sekali melangkah, jelas dia tidak akan bisa mundur lagi.
"Lakukan sekarang! Pastikan keadilan kali ini benar-benar ditegakkan. Jangan libatkan atau usik Jia lagi. Biarkan dia hidup tenang," putus Ozge, akhirnya.
Jimmy mengangguk dengan mantap. Dia mulai menyalin beberapa file yang ada pada laptop di depannya ke dalam sebuah flashdisk. Setelah beberapa bulan bekerja hanya mengolah data, dan melakukan penyadapan ilegal ke sana ke mari, akhirnya dia dihadapkan pada pekerjaan yang nyata juga. Tidak sabar rasanya menyelesaikan semua. Jimmy juga ingin hidup normal. Masalah Ozge, membuat rencana pernikahannya menjadi tertunda.
***
Di belahan bumi yang lain, waktu negara setempat, Eser sudah bersiap bersama Mutia untuk menghadiri sebuah undangan makan malam dengan rival dari Julles. Sama sekali tidak mudah untuk mendekati orang ini. Dibutuhkan waktu yang lama untuk mendekati secara alami.
Benar-benar perjuangan yang tidak singkat, dan butuh pengorbanan perasaan. Beberapa kali Eser terpaksa kembali meneguk minuman beealkhohol dan memasuki hingar bingar club malam demi bisa bersenggolan dengan seseorang yang memuluskan jalannya untuk menemui rival Julles yang bernama Giano.
Mutia tersenyum miris. Dia tidak seburuk dugaan Eser. Niatnya memang benar hanya ingin membuat Julles berhenti mengejar Gendis. Mutia ingin Julles gagal mengamankan dan merebut bayi yang bahkan belum lahir.
Julles sepertinya juga sedang melancarkan cara santai. Pria licik itu paham betul berapa usia kandungan Gendis sekarang. Waktu kelahiran yang masih cukup lama, membuat pria itu tidak terlalu menggencarkan pencarian. Dia lebih fokus mengawasi pergerakan Ozge dan juga Damar. meski dari kedua orang dekat Gendis itu, juga masih belum menghasilkan informasi berarti.
"Kita berangkat!" Ajak Rose, membuyarkan lamunan Eser yang panjang.
****
__ADS_1
Sampai di sebuah mansion yang sangat megah dan mewah, Rose dan Eser disambut dengan begitu ramah. Sepertinya kedatangan keduanya memang sudah dinantikan. Wajah tampan Eser yang terkesan gahar dan dingin, justru semakin meninggikan pesonanya.
"Tidak buruk! Eser memang sesuai dengan kriteria Daddy." Bisik Giano pada Salsa, yang tidak lain tidak bukan adalah anaknya.
Itulah mengapa Eser mendekati Salsa, dengan cara seperti ini, dia akan dengan mudah masuk ke dalam lingkaran Giano. Di tambah lagi, Rose pun lumayan mengenal pria tersebut. Sebagai mantan istri sah Julles, keberadaan dan kesaksian Rose kadang begitu menguntungkan bagi Giano.
Giano mengajak Rose dan Eser masuk ke dalam ruangan pribadinya, bersama Salsa juga tentunya. Mereka berempat menempati sofa bergaya timur tengah yang sangat kental.
Eser mencoba bersikap biasa, meski sebenarnya dia sangat risih dengan tatapan mata lapar dari Salsa. Jiwanya yang petualang dan sangat menyukai tantangan, tentu saja kurang menyukai jika mendapati perempuan terlalu agresif padanya. Ditambah lagi, sejak berkomitmen dengan Gendis, hilang sudah rasa ingin berbuat yang aneh-aneh.
"Es, saya sudah mendengar semua dari mamimu. Sepertinya sangat menarik kalau Julles hancur di tangan anak kandung satu-satunya. Tidak bisa dibayangkan betapa sakit dan memalukannya. Aku tidak sabar untuk menunggu saat itu tiba." Giano berseringai licik.
"Secepatnya, Mister," jawab Eser dengan cepat.
"Kamu tidak bisa sendiri, Es. Kekuatanmu belum sebesar itu. Kamu butuh aku. Sayangnya, aku tidak bisa membantumu dengan cuma-cuma. Kita ini pebisnis bukan? Tidak bisa satu hal pun yang kita lakukan tanpa sebuah kesepakatan."
Eser menarik satu ujung bibirnya ke atas. Sudah dia duga sebelumnya. Rose pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Eser.
"Silahkan, Mister. Kesepakatan apa yang ingin anda tawarkan. Saya akan mempertimbangkan," ucap Eser.
Giano menaik turunkan alisnya satu kali sembari menatap Salsa yang terlihat sudah sangat tidak sabar.
__ADS_1
"Sederhana saja. Kesepakatan ini tidak akan membuatmu rugi. Bahkan sangat menguntungkan. Nikahi Salsa." Giano mengucapkannya dengan begitu santai.