
"Mhi, kita tahu rasanya sakit karena harus memaksakan diri untuk pura-pura lupa. Tidak bisakah kita menghadapi bersama? Tuhan tidak sedang menyuruh kita berkompetisi. Kita tidak perlu adu cepat siapa yang bisa melupakan perasaan masing-masing lebih dulu. Mungkin Iman dan keikhlasan kita selama ini tidak seberapa. Saat kita diuji, kita mengabaikan kasih lain yang sudah diberikan. Ada Esju, Mhi. Esju adalah pemberian Tuhan yang harus kita jaga dengan baik." Eser memberanikan diri meraih tangan Gendis, lalu menggenggamnya erat.
Tanpa di duga oleh Eser sebelumya, Gendis malah menuntun tangannya untuk mengusap perut Gendis. Hati pria itu bergetar tidak seperti biasa. Naluri kebapakannya muncul begitu saja.
"Aku tidak mau pulang sekarang, badan dan pikiranku lelah. Kamu terlalu sempurna mempermainkan perasaanku. Kamu berhasil membuatku ketakutan, Esju pasti juga merasakannya. Sekarang kamu harus tenangkan dia dulu." Gendis sebenarnya hanya ingin merasakan sentuhan Eser. Namun karena gengsi, dia terpaksa memanfaatkan Esju.
Pria itu langsung berdiri dengan lututnya di depan Gendis. Dia mengusap-usap perut perempuan itu dengan lembut. Matanya berbinar bahagia meski bulir bening yang menggenang di sana membuat sorotnya berkaca-kaca. "Bolehkah aku menciumnya, Mhi? Hanya mencium, aku tidak akan menjenguknya lagi."
Gendis menimpuk pundak Eser. Sesaat keduanya bisa tersenyum. "Coba kalau kakak berani,"
Eser seketika mendongakkan kepalanya. "Kakak laki-laki selalu melindungi dan menyayangi adik perempuannya. Dia akan melakukan apa pun untuk memastikan adiknya bahagia." Eser mengecup perut Gendis, lalu berdiri tegak untuk mengecup kening perempuan itu.
Sesaat kemudian, Eser mengambil ponsel di saku kantong celananya, dan mengirim pesan pada Damar agar membuka satu kamar hotel lagi untuk adiknya itu beristirahat.
"Menghubungi siapa?" Selidik Gendis, tiba-tiba merasa agak posesif.
"Oh ... selama kamu meninggalkan aku, ada perempuan yang mendekatiku. Tahu sendirilah, laki-laki kalau lagi galau dan tidak ada pegangan bagaimana," goda Eser. Sekedar ingin tahu reaksi Gendis.
Perempuan itu memanyunkan bibirnya. "Dasar belut jumbo, siapa tadi yang bilang merana. Eh, sekarang ternyata malah asik cari pegangan baru. Sekali belut, tetap saja belut. Berleendir dan licin."
Eser tertawa begitu lepas. Meski di dalam hati masih menumpuk begitu banyak kekhawatiran. Tapi semua tertutupi jika bersama Gendis. Meski semua kini terbatas, sepertinya lebih baik daripada harus tidak tahu kabar dan tidak melihat setiap hari.
__ADS_1
"Kamu tahu siapa pelayan yang mengantarku tadi?" Eser melingkarkan tangannya ke pinggang Gendis.
Perempuan itu tidak menjawab. Dia malah menatap wajah Eser dan tangan pria yang kini mengusap-usap perutnya itu bergantian. "Tidak tahu. Tidak sempat kenalin. Tapi haruskah posisinya begini? Mana ada kakak memperlakukan adiknya seperti ini."
Eser malah memeluk tubuh Gendis dari samping. Dia menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Pria itu semakin hanyut pada suasana. Napasnya mulai tidak teratur. Eser merasakan celananya semakin sesak, duduknya menjadi tidak nyaman. Namun dia tidak peduli, perlahan Eser menenggelamkan wajahnya di pundak Gendis.
Perempuan itu kini tidak lagi protes. Dia terbuai dengan wangi tubuh Eser yang maskulin. Gendis membiarkan pria yang dicintainya itu mengecup pundaknya bertubi-tubi, bahkan dia sendiri begitu menikmati.
"Apakah Tuhan akan memaafkan dosa seorang kakak yang menyetubuhi adiknya sendiri? Bukankah kita sudah terikat dalam ikatan suci pernikahan?" Eser menegakkan duduknya, menatap Gendis dengan tatapan yang sendu namun berselimut napsu. Suaranya parau karena harus menahan hasrat luar biasa yang tidak kunjung redam.
Gendis mengulurkan tangannya mendekati wajah Eser, lalu membelai paras tampan itu dengan tatapan hangat yang membuat teser benar-benar mencapai ukuran maksimalnya tanpa disentuh. Jakun Eser makin naik turun, seiring air ludah yang harus di telan karena sesuatu yang meronta betul-betul ingin mendapatkan perlawanan.
"Jika kita sudah tahu sebuah perkara itu salah tapi kita masih tetap melakukannya, apa bedanya kita sama binatang, Phi? Kita mempunyai kuasa penuh untuk mengendalikan pikiran dan tindakan kita. Tuhan memberikan kita akal agar kita bisa berpikir. Jika ada hal yang tidak bisa kita kendalikan, itu pastilah hati kita."
"Phi, kenapa kamu bertanya soal pelayan tadi?" Gendis yang bisa menebak kegelisahan Eser, mencoba mengembalikan pada topik pembicaraan.
"Pelayan tadi Damar, Mhi." Eser menjawab dengan lirih.
"Apa? Damar? Kenapa bisa begitu tampilannya? Terus kenapa juga kamu ajak-ajak ikut rencana beginian? Apa kamu tidak bisa membayar orang lain?" Gendis begitu kesal saat tahu Damar terlibat. Dia langsung berdiri dan ingin melangkah keluar kamar.
"Damar sudah pamit tidur, Mhi. Dia bilang capek. Biarkan dia tidur. Besok saja kalau mau ketemu dia. Lagian, Damar itu sudah dewasa. Dia berhak untuk melakukan sesuatu. Selama tidak berbahaya, kenapa tidak." Eser sedikit berkilah, padahal dia yang mengajak Damar.
__ADS_1
Gendis hanya diam, dia enggan untuk beradu argumen. Yang penting, Damar aman, itu sudah cukup baginya. Sekarang, dia hanya ingin berbaring meluruskan kaki yang terasa pegal. Namun tidak mungkin dia pulang ke kos, Eser pasti tidak akan mengijinkan. Tetapi, dia tidak ada baju ganti untuk tidur.
"Phi, aku lelah," lirih Gendis akhirnya.
"Tidurlah! Aku tidak akan mengganggumu. Tapi maaf, aku harus tetap di sini. Karena aku tidak mau kamu kabur lagi. Jangan minta untuk kembali ke tempat kosmu. Malam ini, kita di sini. Anggap saja ini perintah dari suamimu. Eh ... maksudku kakakmu. Terserahlah kamu menganggap aku apa. Yang penting harus begitu." Eser salah tingkah sendiri.
Gendis benar-benar lelah, dia enggan berdebat. Dia pun membaringkan dirinya ke atas ranjang, Eser sendiri langsung duduk bersandar di sofa dan memijat keningnya dengan tekanan lumayan kuat. Kepalanya sudah mulai bereaksi atas sesuatu yang tidak tersalurkan. Sebenarnya, dia ingin sekali segera lari ke kamar mandi.
Merasa tidak nyaman, Gendis tidak bisa tidur. Gaun yang melekat ditubuhnya sungguh membuatnya sesak napas. Dia sudah terbiasa dengan daster jika sedang tidur.
Eser melirik Gendis yang terus saja berpindah posisi. Dia pun memutuskan untuk pura-pura memejamkan mata. Namun sedikit mengubah posisi agar bisa melihat polah selanjutnya dari perempuan yang sedang hamil anaknya itu.
Melihat Eser tertidur pulas, Gendis segera membuka gaunnya, lalu buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Benar saja, sesaat kemudian, Gendis pun sudah memasuki alam mimpinya.
Mendengar dengkuran halus yang sangat dirindukan, Eser pelan-pelan mendekati sumber suara itu. Dia mengambil bangku kecil dan meletakkan persis di pinggir ranjang untuk tempatnya duduk.
"Mhi, sampai detik ini, aku masih berharap akan ada keajaiban untuk kita. Kasih Tuhan itu nyata, pastilah dia akan menuntun kita pada terang kebahagiaan. Beri aku waktu dan ketenangan, maka aku akan mengurus semuanya menjadi adil bagi kita."
Eser meraih tangan Gendis. Terlalu pulas, perempuan itu sudah tidak merasa dan mendengarkan apa pun lagi. Tiba-tiba ponsel Eser berbunyi, orang kepercayaan Eser menghubungi. Mengingat waktu telepon yang sudah larut, jelaslah itu adalah suatu hal yang penting.
Setelah menerima panggilan tersebut. Eser lebih banyak diam ketimbang berbicara. Matanya terus menatap wajah Gendis dengan pandangan yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Kamu akan membayar mahal untuk semuanya, Vivian. Kamu lihat saja nanti." Eser mengepalkan tangannya penuh kebencian setelah meletakkan ponselnya di atas nakas.