Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Acara Sevket 2


__ADS_3

Gendis masih betah memperhatikan penampilannya di depan cermin. Terlihat alami tanpa sentuhan make up apa pun. Perempuan itu hanya menguncir tinggi rambutnya seperti ekor kuda. Memperlihatkan leher Gendis yang jenjang dan mulus. Kalung berlian dengan liontin salib pemberian Sevket tadi siang, menlingkar cantik di lehernya. Dres brokat putih sederhana, namun sangat elegan, begitu pas di badan dan kulit Gendis.


Saat hendak duduk di meja rias, ponsel Gendis bergetar dan mengeluarkan suara pendek dua kali, pertanda ada pesan masuk di sana. Gendis buru-buru melihat layar ponselnya. Benar saja, sebuah pesan masuk langsung nampak. Tanpa perlu di buka, tulisan itu sudah bisa dibaca dengan jelas oleh Gendis.


Perempuan itu segera melangkahkan kaki untuk membuka pintu kamarnya. Tentu saja yang datang adalah pria yang sudah berhasil menanam benih di rahim Gendis.


Eser bergegas masuk ke kamar, lalu dia kembali mengunci pintunya rapat-rapat. Kini Eser baru bisa memperhatikan penampilan Gendis dari ujung rambut hingga ujung kaki. Secantik dan semempesona biasa, namun bagi Eser, itu terlalu berlebihan jika diperlihatkan pada Ozge.


"Ada apa, Phi?" Pertanyaan Gendis mengingatkan Eser pada tujuannya datang ke kamar itu.


"Apa kamu baik-baik saja, Mhi?" Eser menepuk keningnya sendiri. Bukan itu yang seharusnya ditanyakan, mendadak dia merasa grogi. Eser


seperti perjaka yang sedang menyelinap diam-diam ke dalam kamar seorang gadis.


"Aku? Tentu saja baik, Phi." Gendis menjawab dengan sedikit rasa heran.


"Syukurlah. Tapi kenapa kamu terlihat lebih jelek dari biasanya. Biasanya, kamu masih lumayan." Pembicaraan Eser semakin aneh. Gengsi kembali dikedepankan untuk menutupi rasa grogi dan salah tingkah.


Gendis mendekati kaca yang ada di pintu almari, dia kembali mengamati wajahnya dengan teliti. Tidak ada yang berubah, bahkan dia sendiri merasa kalau dirinya lebih cantik dan segar karena berat badannya yang makin berisi.


Eser menggigit bibir bawahnya sendiri, melihat tingkah Gendis yang menggemaskan, membuatnya semakin tidak rela kalau harus menganggap Gendis hanya sebagai adik.


"Turun yuk, Phi. Papi pasti sudah menunggu." Gendis tanpa sadar menggenggam jemari Eser.


"Mhi, apa Papi cerita sesuatu sama kamu?" Tanya Eser, mencoba memfokuskan pada tujuan. Karena tanganya yang digenggam, malah si Teser yang memberikan reaksi.

__ADS_1


"Cerita apa, Phi? Kami seharian ini bersama, tapi papi tidak membicarakan apa pun yang aneh," jawab Gendis.


"Tentang acara malam ini?"


Gendis menautkan dua alisnya sembari berkata, "Tidak, Phi. Hanya mengatakan makan malam kali ini ingin agak berbeda. Mungkin itulah kenapa kita disuruh memakai baju agak rapi."


"Oh ... perasaanku tidak enak, Mhi. Entah kenapa aku seperti tidak tenang." Eser menyampaikan apa yang dia rasakan dengan jujur.


Gendis mengusap punggung tangan Eser dengan lembut, melemparkan senyuman terbaik dengan tatapan mata yang dalam dan hangat. "Berdoa, Phi. Jangan biarkan hatimu terus beradu dengan kegelisahan. Kuasakan Tuhan untuk mendesak gelisah itu keluar, dan biarkan kasih-Nya yang menggantikan. Doa, terdengar sederhana memang, namun dia bekerja luar biasa mendamaikan hati kita."


Eser membalas tatapan hangat Gendis dengan tatapan cinta yang begitu dalam. Sesulit ini kenyataan yang harus dihadapi. Saat berjauhan, dia merasakan rindu yang luar biasa. Tadinya Eser berpikir, rindu akan selesai begitu mereka sudah bertemu dan bersama lagi, namun kenyataan tidak demikian. Rindu memang bukan tentang jarak. Bukan tentang mata yang tidak lagi saling beradu, dan bukan pula tentang tangan yang tidak kuasa bergenggaman. Rindu adalah ruang di mana hati saling terikat, namun tindakan tidak kuasa untuk menerjemahkannya.


"Aku selalu berdoa, Mhi. Aku berdoa, kita tidak akan terpisahkan. Selamanya kita akan bersama, membesarkan Esju dan--" Kalimat Eser terputus, karena terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Gendis menyuruh Eser agar sembunyi di belakang pintu. Setelah memastikan semua aman, Gendis buru-buru membuka daun pintu hanya selepar lingkar kepalanya.


"Iya, Bi. Terimakasih ya, saya turun setelah ini." Gendis menjawab dengan sopan.


Setelah Asisten rumah tangga itu berjalan menjauh, Gendis buru-buru menutup pintunya kembali. "Aku ke bawah duluan, Phi. Apa kita bersama saja turunnya?"


"Kamu duluan saja, Mhi. Sebentar lagi aku akan menyusul." Eser menarik ikatan rambut Gendis, hingga membuat rambut itu tergerai dan kembali menutupi leher Gendis yang menggoda untuk di selusuri dengan indera perasa.


"Begitu lebih cantik," ucap Eser dengan nakal.


Anehnya, Gendis tidak marah sedikit pun. Perempuan itu malah membalas dengan kerlingan mata yang sanggup membuat Teser bergerak semakin mendekati posisi tegaknya. Tidak peduli akan reaksi Teser, Gendis pun segera turun ke lantai satu untuk menemui Sevket.

__ADS_1


Mendekati ruang tamu, langkah kaki Gendis semakin pelan. Sama seperti Eser, kini jantungnya yang mendadak berdebar tidak karuan.


Ozge belum terlihat hadir. Tetapi Sevket tidak sendiri. Selain Dahlia, di sana masih ada dua orang lagi, seorang laki-laki sebaya Sevket dan satu laki-laki seumuran dengan Eser.


Gendis juga baru menyadari, kalau ada backdrop di salah satu sisi dinding. Inisial huruf 'E dan G' di bagian tengah backdrop menyita perhatian Gendis, hingga membuat perasaan perempuan itu semakin tidak tenang.


"Sayang, kemarilah." Sevket langsung berdiri menghampiri dan menuntun Gendis mendekati tamunya yang juga langsung berdiri dari duduknya.


"Kenalkan, ini Om Alshad, ini teman kecil Papi." Sevket memperkenalkan temannya dengan senyuman yang sangat sumringah. Gendis menjabat tangan pria yang barusan disebut namanya oleh Sevket itu dengan ramah dan hangat.


"Dan ini Emran. Anak tunggal dari Om Alshad," ucap Sevket, beralih pada pria muda yang seumuran Eser tadi.


Gendis hanya tersenyum, dia tidak mengulurkan tangan sebagai tanda awal perkenalan pada pria bernama Emran itu.


Sevket lalu mengajak Gendis duduk di sampingnya. Perasaannya semakin tidak menentu. Berkali-kali Gendis menoleh ke area ruangan yang terhubung dengan ruang tamu, berharap Eser segera muncul dari dalam sana. Mutia hanya tersenyum sinis. Kehadirannya tidak lebih hanya sebagai pelengkap.


"Jadi begini, Ndis. Papi dan Om Alshad sepakat akan menjodohkan kalian. Kami tidak memaksa kalian untuk langsung tertarik. Tidak perlu secepat itu. Masing-masing dari kalian mempunyai kisah yang rumit. Namun, sebagai simbolis perjodohan ini, kami ingin kalian memakai cincin yang sama. Ini bukan pertunangan, hanya simbolis untuk perjodohan kalian."


"Apa maksud Papi? Rencana macam apa ini, Pi? Gendis masih istri sah Eser dan dia sedang mengandung anak Eser. Hal konyol apa lagi ini? Papi benar-benar sudah tidak waras." Eser yang datang di waktu yang tepat, seketika menarik tangan Gendis untuk berdiri. Pria itu menggenggam pergelangan tangan kanan Gendis dengan posesif.


Ozge yang juga baru datang, langsung menghampiri dan merusak backdrop dengan brutal. Dia menarik paksa semua bunga dan hiasan lain yang menempel di sana.


"Berhenti melakukan hal gila, Pi." Ozge mengatakan dengan tajam penuh kemerahan. Mutia yang awalnya hanya diam, mau tidak mau turun tangan untuk meredam emosi Ozge.


Alshad dan Emran hanya mengamati apa yang sedang terjadi. Keduanya tidak terkejut sama sekali. Sevket sudah menjelaskan semua pada Alshad dan Emran.

__ADS_1


"Kita pulang, Mhi! Cukup kita ikuti drama di sini," ajak Eser.


Sevket buru-buru menahan tangan kiri Gendis. "Kamu boleh pergi, Ndis, tapi beri Papi waktu untuk berbicara empat mata denganmu. Sepuluh menit saja."


__ADS_2