Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Sop dan Tempe


__ADS_3

Pagi sekali, Gendis sudah bangun untuk menyiapkan makanan untuk sarapan. Berkat bantuan aplikasi resep yang baru saja diunduhnya, Gendis berhasil membuat sayur sop dan tempe goreng tepung lengkap dengan sambal kecapnya.


Semua bahan itu, Eser yang membelikan kemarin. Bahan-bahan yang kebanyakan aneh dan belum sekali Eser tahu bagaimana bentuk juga rasanya.


Selesai menyiapkan makanan, Gendis pun bersiap untuk mandi. Berkat salep yang diberikan suami terpaksanya, bagian intinya sudah jauh membaik. Dia sudah kembali nyaman untuk berjalan. Hanya saat buang air kecil saja masih belum seperti sedia kala.


Eser membelalakkan matanya, ketika melihat Gendis sudah cantik dan rapi dengan celana jeans denim dan kemeja polos merah lengan sesiku yang dipakainya.


"Mau kemana?" tanya Eser sembari beringsut turun dari ranjang.


"Ke kampus. Judul skripsi sudah beres, mau ada bimbingan dari dosen." Gendis menjawab sembari memasukkan ponsel ke dalam tas baru pemberian Eser.


Penampilan Gendis sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia yang biasanya cantik dengan kesederhanaannya, mendadak cantik dengan kemewahan berkat barang-barang branded.


"Siapa Dosen yang membimbingmu? kenapa tidak memilih aku saja?" Eser terlihat kesal.


"Aku sudah memilih lama, kalau pun memilih sekarang. Tentu bukan kamu, Phiu. Aku tidak mau mendapatkan nilai bagus hanya karena aku sudah memuaskan Dosenku di atas ranjang," sahut Gendis, ceplas ceplos dan asal bicara.


"Siapa Dosen pembimbingmu?" selidik Eser.


"Pak Alex, Dosen paling baik, ramah, dan ganteng," puji Gendis dengan sengaja.


"Setua itu kamu bilang ganteng. Dasar, selera rendahan," cebik Eser.


Gendis hanya tersenyum sinis melihat Eser kesal.


"Cepat mandi, setelah itu kita sarapan dan aku langsung berangkat."


"Aku antar ke kampus. Aku sedang cuti. Ingat, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Jangan terlalu dekat dengan temanmu laki-laki. Aku sama sekali tidak cemburu, tapi jangan memuat nama Sevket tercoreng karena ulahmu." Eser menyambar baju yang disiapkan Gendis dan langsung ke kamar mandi.


Kini, keduanya sudah berada di meja makan. Piring yang ada di depan Eser masih kosong. Dia bingung dengan menu yang ada di depannya. Selama ini, dia selalu disuguhkan dengan hidangan khas Turki dan Timur tengah yang kaya akan rempah.

__ADS_1


"Mau diambilkan?" Gendis bertanya, tapi belum ada jawaban, dia langsung saja mengambilkan nasi putih lengkap dengan sayurnya.


Eser dan Gendis sama-sama mengambil sikap berdoa sebelum makan. Setelah itu, Gendis langsung menyantap makanan yang ada di depannya dengan lahap. Sementara Eser, masih ragu untuk menyuapkan makanan itu ke mulutnya.


"Makanlah, aku tidak mungkin meracuni suamiku sendiri sekalipun aku tidak cinta. Pikiranku masih waras. Makanan seperti ini sudah harus kita syukuri, di luar sana banyak yang hanya makan dengan nasi," tutur Gendis.


Eser pun mulai memasukkan makanan ke mulutnya. Bukan tidak enak atau tidak bisa dimakan, tapi lidahnya sungguh belum terbiasa dan asing dengan makanan yang disajikan Gendis.


"Kalau kamu tidak menghabiskan, lain kali aku tidak akan memasak lagi. Aku memang belum bisa memasak, aku akan belajar pelan-pelan. Itu pun kalau kamu menghargai usahaku, kalau tidak, kita cari pembantu atau koki saja. Uangmu kan banyak."


Ucapan Gendis membuat Eser mengusap wajahnya kasar. Rencananya selalu buyar. Ingin menguasai tapi kini seolah dia yang dibawah kuasa Gendis.


"Mhiu, sesekali masakkan makanan kesukaanku juga. Kalau kamu belanja seperti itu terus. Menikah denganku dua bulan, kamu bisa beli rumah," sindir Eser.


"Tenang saja, Phiu. Bukan membeli rumah tujuanku, aku ingin membeli dirimu. Aku juga ingin tahu rasanya jadi kamu, yang bisa membeli perempuan-perempuan dengan begitu mudah."


Eser meletakkan sendok ke atas piring dengan kasar. "Kamu boleh menikmati uang pemberianku untuk apa saja, tapi jika kamu berselingkuh dengan uangku. Aku tidak segan-segan untuk membunuhmu," ancam Eser, langsung berdiri dengan kasar.


"Pagi yang sangat menyenangkan, Phiu. Kata-katamu sungguh manis." Gendis membalas dengan sarkas.


.


.


"Aku tidak akan menjemputmu, kamu pulanglah sendiri. Aku akan bersenang-senang sebentar di luar," pamit Eser dengan jujur.


"Ingat, Phiu. Belilah perempuan untuk mrnciummu. Karena aku tidak akan melakukan itu denganmu. Tapi jika aku melihatmu melakukannya dengan mata kepalaku sendiri. Sampai ke vatikan pun akan ku kejar agar aku bisa cerai denganmu." Gendis turun dari mobil dan langsung berjalan masuk ke kampus tanpa menoleh.


Gendis melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri. Tapi tiba-tiba dari arah depan, seseorang menabraknya. Hingga membuat buku dipegangan orang itu jatuh berserakan.


"Maaf," ucap perempuan itu dengan lembut sembari berjongkok mengambil bukunya.

__ADS_1


Gendis buru-buru membantu perempuan itu. "Tidak mengapa."


"Terimakasih, kenalkan aku Jia." perempuan itu mengulurkan tangannya dengan ramah.


"Gendis," jawab Gendis, ramah sembari membalas uluran tangan Jia.


Iya, perempuan itu memanglah Gia. Sosok yang sama dengan yang bersama Ozge dan Eser.


"Aku mahasiswi pindahan, bisakah kamu menunjukkan ruangan administrasi? Aku belum hafal kampus ini." Gia terlihat memelas. Dia begitu epic memerankan karakternya yang lain.


Gendis pun mengangguk dan mengantarkan Jia.


"Bisakah kita berteman?" tanya Gia disela-sela langkah kaki mereka.


"Sejauh ini, tidak ada seorang pun yang bisa melarangku untuk berteman dengan siapapun," jawab Gendis tidak terlalu ramah, juga tidak terlalu ketus.


'Ih, sombong sekali,' batin Gia.


Keduanya kembali terdiam hingga sampai ke tempat yang dimaksud Gia.


"Ini ruangan yang kamu cari. Aku duluan," pamit Gendis tanpa basa basi.


Begitu Gendis agak menjauh dari dirinya, Gia menghentakkan kaki dengan keras. "Awas saja kau, baru saja menjadi istri Eser. Gayanya sudah sok. Aku akan membuat Eser meninggalkanmu segera."


Tanpa masuk dulu ke ruang administrasi, Gia langsung buru-buru berjalan ke arah lain. Dia tidak sadar, kalau Gendis yang kebetulan menoleh seketika langsung mengikuti Gia pelan-pelan.


Rupanya Gia bertemu dengan Alex di ruangan dokter pembimbingnya itu. Gendis mengendap-endap mendekati pintu dan menempelkan satu telinganya di sana.


Saat mendengar namanya disebut, Gendis semakin memaksimalkan pendengarannya. Matanya membulat sempurna, begitu mendengar lebih jelas lagi apa yang akan mereka lakukan.


'Siapa Gia? kenapa dia begitu menginginkan hubunganku dan Eser berantakan. Aku akan mencari tahu,' tanya Gendis pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Gendis masih menenpelkan daun telinganya, ingin mengetahui setiap detail pembicaraan agar bisa membalas dengan cara yang pintar. Tapi buru-buru dia menjauh dan berlari keluar ruangan ketika yang terdengar dari dalam hanya suara ******* dan racauan perempuan.


"Apa yang harus aku lakukan. Kenapa semua menjadi semakin rumit begini? Ayo, Ndis! mikir. Kamu harus tahu apa pun permainan orang yang akan mempermainkanmu lebih dulu." Gendis menyemangati dirinya sendiri.


__ADS_2