
"Kalau kamu sudah bosan mengurusku sendiri. Ngomong, Mhi. Jangan menyuruh perawat menyuapiku," ketus Eser.
Gendis menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Kamu yang melarangku masuk kan, Phi."
"Dan kamu malah keenakan kan? Bisa ngobrol berdua saja dengan Ozge. Ngobrolin apa? Mengenang masa lalu? Merindukan ciuman Ozge?" Eser semakin meninggikan nada bicaranya.
Gendis mengabaikan ucapan suaminya, semakin dijawab kata-kata yang keluar dari mulut Eser akan semakin panjang dan hanya akan menambah sakit hati.
Perempuan itu berdiri, mengambil sapu dan pengki untuk membersihkan serpihan kaca. Eser hanya diam mematung di atas ranjang. Meski hati tidak terima dibentak seenaknya, Gendis diam. Bukan lemah apalagi mengalah, dia hanya ingin menjaga lisannya sendiri.
Gendis meminta perawat kembali keluar dengan membawa Pengki berisi puingan kaca. Sudah dua kali ini, Eser membuat meja riasnya hancur.
"Aku sudah selesai. Sekarang, kamu mau aku bagaimana ?" tanya Gendis, setelah melihat sudah tidak ada serpihan kaca lagi di kamarnya.
"Aku mau makan." Suara Eser sedikit melembut.
Gendis hanya mengangguk, lalu mengambilkan makanan untuk suaminya di dapur. Sesaat kemudian kembali ke kamar dan menyuapi Eser dengan telaten. Meskipun sebenarnya, tangan suaminya itu masih bisa makan sendiri, tapi selama lumpuh, Eser enggan melakukan apa-apa sendiri, dan malah memilih mengandalkan Gendis.
Pria itu belum pernah mengucapkan terimakasih, cacian lebih sering terdengar. Apa yang Gendis lakukan di matanya selalu kurang. Menguji kesabaran atau ingin sekedar memancing suara Gendis yang biasanya ketus. Istrinya itu, kini memang banyak memilih diam dan menahan diri. Tidak sefrontal biasanya, dan itu membuat Eser tidak suka.
"Minumlah! Aku mau makan juga, perutku tidak kenyang hanya dengan mendengar ocehan dan amukanmu. Jagalah sikapmu! Setidaknya saat ada Damar di sini jangan terlalu menunjukkan kekasaranmu." Gendis memberikan segelas air putih, lalu meninggalkan Eser begitu saja.
Gendis mengajak Damar makan malam bersama. Keduanya menjadi teringat akan hari-hari mereka saat masih di rumah neraka.
"Mbak Gendis, baik-baik saja kan?" tanya Damar.
"Mbak baik-baik saja, Mar. Kalau kamu dengar Pak Eser marah-marah, abaikan saja. Wajar kalau dia menjadi sangat emosional sekarang," tutur Gendis.
"Iya, Mbak. Damar mengerti. Pak Eser, sebenarnya orang yang sangat baik," ucap adik Gendis.
Damar memang selalu menurut dengan kata-kata Gendis. Dia percaya, kakaknya sekuat biasanya.
Gendis tersenyum lega, dalam hati dia sangat bersyukur. Damar anak yang tidak banyak menuntut dan selalu mengerti apa pun kondisi yang sedang dihadapi tanpa banyak bertanya.
Setelah selesai makan malam. Gendis dan Damar kembali ke kamar masing-masing.
__ADS_1
"Minum obat dulu, Phiu."
Eser hanya mengangguk. Gendis tersenyum lembut membantu memasukkan obat ke dalam mulut suaminya. Pria itu menahan pergelangan tangannya di sana, "Apa aku harus terus sakit agar aku terus selembut ini?"
"Tidak, Phiu. Aku ingin kamu sembuh. Kita bisa memulai dengan baik. Kita tidak mungkin berpisah. Tidak ada pilihan selain membuat perasaan kita terbiasa menerima kehadiran satu sama lain. Aku berusaha menjadi istrimu yang sesungguhnya. Tapi aku janji, tidak akan menuntut apapun darimu. Jika Tuhan menghadirkan kasih di antara kita, maka aku tidak akan mengingkarinya."
Raut wajah Eser terlihat biasa, padahal hatinya sedikit berbunga-bunga. "Boleh aku menciummu, Mhiu."
"Boleh. Tapi maaf, hanya di kening saja." Gendis menundukkan badan dan mendekatkan kepalanya pada Eser. Sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya. Bibir Eser yang lembut dan hangat membuat hatinya terasa damai.
Sesaat, keduanya seperti sama-sama tertegun. Remasan tangan Eser, terasa di pergelangan tangan Gendis
"Aku, ngantuk, Phiu." Istri Eser itu menarik tubuhnya.
"Tidurlah, di sampingku. Jangan takut, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa." Eser menepuk sisi ranjang yang kosong.
"Aku malah berharap kamu bisa berbuat nakal lagi, Mhiu. Aku lebih suka melihatmu seperti itu, ketimbang harus melihatmu tidak berdaya seperti ini."
"Benarkah?" Mata Eser seketika terlihat berbinar-binar.
"Aku akan sembuh, Mhiu. Aku akan lebih bersemangat."
Pasangan suami istri itu kini di atas ranjang yang sama. Gendis memunggungi Eser, matanya sulit terpejam. Begitu pula dengan Eser. Jantung keduanya berdetak lebih kencang. Padahal mereka sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar berbaring bersama. Tapi entah kenapa, malam ini ada yang berbeda di hati masing-masing.
.
.
Gendis sudah bersiap untuk berangkat, mendadak Eser merasa tidak senang begitu melihat istrinya sudah terlihat rapi dan cantik.
"Kamu boleh pergi, tapi driver yang akan mengantarmu," ucap Eser tiba-tiba.
Gendis seketika menghentikan langkahnya. Kalau sampai driver kepercayaan Eser yang mengantar, maka dia tidak akan bisa berkutik.
"Aku tidak enak sama teman-teman, Phiu. Sudahlah! Aku bawa mobil sendiri saja." Gendis berusaha tetap memaksa.
__ADS_1
"Pergi dengan driver atau jangan melangkah satu langkah pun dari sini."
Gendis memutar otak, berpikir keras dan mencari cara agar bisa tetap pergi ke tempat kemungkinan anak Ozge berada.
"Baiklah!" Gendis akhirnya mengiyakan ucapan Eser.
Sesaat kemudian dia menghubungi Ozge, menjelaskan kalau dia mengalami sedikit hambatan. Dengan bantuan Ozge, akhirnya Gendis bisa membuat driver tertidur pulas.
Setelah menempuh perjalan dipandu aplikasi maps, Gendis akhirnya sampai di sebuah perkampungan padat penduduk pinggiran kota. Dia menanyakan sebuah alamat pada seseorang yang ditemuinya pertama kali.
Beberapa menit berjalan kaki, akhirnya Gendis sampai juga di sebuah rumah yang kondisinya mengingatkan pada rumah neraka miliknya.
Dua anak kecil kira-kira berusia dua tahunan menyambutnya dengan wajah datar dan dingin tanpa ekspresi. rambutnya panjang ikal di bawah telinga meski kedua anak itu laki-laki. Wajah keduanya sangat identik. Kulit putih bersih, bola mata kecoklatan, hidung mancung dan bibir kemerahan. Sangat tampan.
'Sebenarnya tidak butuh tes DNA, karena anak ini memang mirip dengan Ozge,' batinnya.
Seorang perempuan tua, kira-kira berusia hampir 70an menghampiri Gendis.
"Apa kamu akan menjemput anak-anak ini?" tanya perempuan tua itu.
Gendis bingung, dia sama sekali tidak tahu. Mau menjawab 'iya', takut disebut penculik. Mau menjawab 'tidak', takut dia akan kehilangan kedua jejak anak ini.
"Nama kamu Gendis bukan? Pak Arya, memberi foto ini. Katanya, yang akan menjemput kedua anak ini kamu." Ibu itu memberikan selembar kertas di mana menunjukkan foto Gendis di sana.
Istri Eser itu pun semakin kebingungan dengan makdud dan tujuan Arya yang sebenarnya. Kenapa Arya mempermudah jalannya untuk menemukan dan membawa anak kembar di depannya ini.
"Iya, Bu. Saya yang akan membawa mereka," jawab Gendis, akhirnya.
"Cepat! Jangan berlama-lama di sini. Itu baju-baju mereka. Namanya Agam dan Agler." Ibu itu memberikan sebuah tas, lalu dengan cepat mendorong tubuh Gendis dan menutup pintunya dari dalam rapat-rapat.
"Kalian ikut sama, tante, ya?" Gendis berjongkok di depan kedua anak yang tampak biasa saja. Keduanya malah asik dengan robot di tangan masing-masing. Tidak ada raut kebingungan di wajah mereka saat melihatnya. Tentu saja hal itu semakin membuat Gendis menjadi bingung. Normalnya, anak kecil akan takut jika dihadapkan pada orang yang masih asing.
"Agam... Agler...," panggil Gendis dengan lembut.
Kedua anak itu tetap bergeming. Gendis mulai menduga-duga.
__ADS_1
"Tidak mungkin," gumamnya lirih.