
Keesokan harinya, sesuai rencana, Gendis keluar dari rumah sakit. Tidak ada yang menjemputnya. Bukan karena tidak ada yang peduli, tapi dia memang tidak mau dijemput oleh Damar. Sengaja ingin memberi kejutan untuk Eser.
Sebelum sampai di apartemennya, Gendis sengaja membeli test pack di sebuah apotik. Dia sangat bersemangat kali ini. Ancaman Arya, tidak dijadikannya beban. Seorang pengecut seperti Arya, tidak layak ditakuti.
Menginjakkan kaki di lobby, Gendis merasakan jantungnya berdebar hebat. Dia sampai beberapa kali mengatur napasnya agar lebih tenang.
Sampai di depan pintu room apartemennya, perasaan Gendis semakin tidak menentu. Rasa antusias yang tadinya ada, mendadak berubah menjadi grogi. Layaknya seorang kekasih yang baru akan berjumpa lagi dengan kekasihnya.
Gendis menekan bel pintu. Tidak menunggu lama, wajah Damar yang sumringah langsung menyambut. Keduanya langsung berpelukan meski masih berada di ambang pintu.
Eser yang baru keluar kamar seketika ternganga melihat siapa yang datang. Matanya berbinar-binar. Reflek, dia menggerakkan kursi rodanya ke arah Gendis.
Damar melepaskan pelukannya begitu menyadari kehadiran Eser. Dia membawakan koper Gendis masuk ke dalam terlebih dahulu.
"Hai...." Gendis menyapa dengan canggung. Sungguh jantungnya berdetak luar biasa kencang.
"Hai...," balas Eser, tidak kalah canggung. Pria itu menggigit bibir bawahnya.
Gendis menutup pintu, lalu berjalan mendekati Eser, berusaha setenang mungkin. "Apa kabar?"
"Baik. Mhiu, apa kabar?"
Gendis menelan ludahnya kasar. 'Beginikah pertemuan suami istri setelah lama tidak berjumpa? Kenapa aneh begini? Tidak bisakah sedikit romantis?' tanyanya dalam hati.
"Aku baik, Phi. Bagaimana terapimu?" Gendis mendorong kursi roda Eser ke dalam kamarnya.
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu, Mhiu." Dengan semangat Eser mengatakannya, tanpa sadar dia menggenggam tangan Gendis yang ada di pegangan kursi rodanya.
Eser meminta Gendis menepikan kursi rodanya di samping tepian ranjang persis. Setelah mengunci roda, Eser menurunkan pegangan tangan di samping kirinya.
"Lihat, Mhiu." Eser perlahan menggeser sendiri bokongnya ke atas ranjang sendiri.
Gendis tercengang melihat kemajuan Eser. "Puji Tuhan. Kamu bisa bergeser sendiri, Phiu."
__ADS_1
Eser mengangguk senang. "Tapi kakiku belum bisa mengangkat terlalu tinggi. Aku akan berusaha lebih keras lagi."
"Puji Tuhan, Phiu... Tuhan baik, teramat baik pada kita. Jalan menuju gunung itu memang tidak mudah. Terjal, berkelok, penuh bebatuan kadang juga berlumpur, tapi ketika sampai di atas, apa yang kita lihat dari sana hanyalah keindahan dan kebesaran Tuhan." Gendis memberanikan diri duduk di samping Eser.
Tangan Gendis yang tidak sengaja menyentuh tangannya, membuat Eser gemetar. Seorang Eser, casanova penakhluk wanita, kini, panas dingin disamping istrinya sendiri.
'Tuhan, tolong jangan hatiku saja yang bergetar. Buat sesuatu dalam tubuhku juga bereaksi.' Eser memejamkan matanya sejenak untuk berdoa dalam hati.
"Phi, aku juga punya kabar buat kamu. Tunggu sebentar." Gendis langsung ke kamar mandi. mengambil alat tes kehamilan yang ada di dalam tas selempang yang sedari tadi belum dilepasnya.
Eser sudah tidak sabar menunggu Gendis. Matanya tidak lepas memandangi daun pintu kamar mandi yang masih terkunci rapat.
Setelah hampir sepuluh menit, barulah Gendis keluar dari kamar mandi. Dia menyembunyikan tangannya di balik punggung.
"Aku tidak tahu apakah apa yang akan aku perlihatkan ini, akan membuatmu bahagia atau tidak. Tapi apapun itu, kamu berhak tahu, Phiu." Gendis memberikan dua hasil test pack sekaligus pada suaminya.
Eser menerima alat itu, karena dia tidak mengerti. Maka Eser hanya membolak balik benda itu dengan kening mengernyit. "Tanda plus ini maksudnya apa, Mhiu? Ini apaan sih?"
Gendis menepuk keningnya sendiri dengan keras, tidak menduga sama sekali kalau Eser tidak paham ada benda bernama test pack di muka bumi ini.
Eser bergeming, mulutnya menganga, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Matanya kembali menatap alat yang ada di genggaman tangannya.
"Aku tidak mimpikan?" Eser menepuk pipinya sendiri dengan keras. "Sakit," gumamnya.
"Kamu tidak sedang bermimpi, Phiu. Aku memang hamil," tegas Gendis sembari duduk kembali di samping Eser.
Eser menatap Gendis dengan mata berkaca-kaca. "Aku akan menjadi seorang ayah?" tanyanya.
Gendis mengangguk sembari mengedipkan matanya. "Iya."
"Mhiu, aku senang sekali. Kamu benar, Mhiu. Tuhan baik, teramat baik pada kita. Boleh aku memelukmu?" Eser bertanya dengan hati-hati sembari meletakkan alat tes kehamilan tadi di sampingnya.
"Boleh, tapi sepertinya aku yang akan memelukmu, Phiu." Gendis menghambur ke dalam dada bidang eser. Kedua tangannya melingkari bahu kekar sang suami dengan erat.
__ADS_1
"Terimakasih, Mhiu. Terimakasih, karena kamu sudah memberikanku kebahagiaan ini. Aku akan jadi Ayah. Astaga! Dia akan setampan aku? Atau secantik kamu ya, Mhiu?" Eser mengusap rambut Gendis dengan lembut. Suaranya jelas terdengar sangat bersemangat.
Gendis menengadahkan wajahnya, tidak disangka, Eser pun sedang menatapnya dalam penuh cinta. Pandangan mata keduanya beradu. Ada cinta dan rindu yang tersirat pada tatapan itu. Gendis dan Eser kompak menelan ludah mereka sendiri dengan kasar.
Seperti ada dorongan yang tidak bisa lagi ditahan, Eser mendekatkan wajahnya pada Gendis yang spontan juga menutup kedua matanya. Seolah berharap sesuatu menyentuh bibirnya. Gendis mengalungkan tangannya pada leher Esee lebih erat.
Dengan nekat, Eser mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Gendis untuk pertama kalinya. Dia mengecup bibir lembut dan manis di depannya itu beberapa kali. Menunggu celah hingga sang pemilik bibir merah merekah itu memberinya celah untuk berpetualang lebih jauh di dalam sana.
Gendis membalas kecupan Eser dengan penuh perasaan. Di luar dugaan, kini sang suami lah yang kewalahan dengan serangan sang istri. Begitu mulut Eser sedikit terbuka, lidah Gendis begitu lincah langsung menyusup ke dalamnya. Melilit dan menjelajah liar di dalam mulut Eser dengan luar biasa.
Mereka menjeda sejenak tautan bibirnya, Eser merasakan sesuatu dalam dirinya perlahan bergerak, meskipun tidak tegak sepenuhnya.
"Mhiu, Sepertinya kita harus mencoba lagi. Ada sesuatu yang bereaksi." Eser menuntun tangan Gendis mendekati kepemilikannya.
Setelah menyentuh dan merasakan bagian inti tubuh Eser, tanpa berucap apapun. Gendis memulai lagi tautan bibir mereka. Kali ini Gendis lebih agresif berlipat-lipat. Entah karena hormon kehamilan atau apa? Hingga membuat Gendis menjadi seliar itu.
Bahkan dengan beraninya, Gendis menuntun tangan Eser menyusup ke dalam kemeja yang dikenakannya dan memainkan dua benda kenyal miliknya.
Tubuh Gendis yang mengeliat manja, de5ah yang lolos begitu saja ketika sejenak bibir terlepas untuk sekedar mengambil napas, membuat kelelakian Eser perlahan bergerak.
"Belum sempurna, Mhiu. Tapi setidaknya sudah ada reaksi. Kamu harus memberiku terapi seperti ini setiap hari, pasti dalam jangka waktu kurang dari seminggu. Aku akan sembuh, Mhiu." Eser berbisik mesra di belakang daun telinga Gendis.
Mata perempuan itu masih terpejam, merasakan kelincahan jemari Eser dibagian intinya.
"Berbaringlah! Aku akan membantumu merasa lega."
Gendis menurut saja apa kata Eser, dia sudah terlanjur di awang-awang, jatuh tanpa merasakan apapun, sungguh akan membuatnya tersiksa.
Eser membuka kemeja Gendis dan kacamata berenda milik sang istri. Lalu dengan lembut, Eser menyesap pucuk kecoklatan di satu sisi gundukan kenyal. Jemarinya terus bermain lincah di antara dua paha Gendis.
Semakin lama, des4han Gendis semakin nyata dan jelas. Hingga Eser merasakan jari telunjuknya basah.
"Sudah?" tanya Eser dengan suara parau.
__ADS_1
Gendis membuka matanya, dia menatap Eser dengan Sayu. "Phiu, aku mau lagi."