
"silahkan, Tuan." Gendis meletakkan semangkok mie tepat di depan Ozge.
"Terimakasih, Beg."
Gendis hanya menjawab dengan senyuman tipis, lalu menuangkan segelas air putih untuk Ozge.
"Saya ke kamar dulu, Tuan." Gendis mengucapkannya sembari meletakkan gelas di atas meja.
Ozge menahan pergelangan tangan Gendis dengan erat.
"Maaf, Tuan. Tolong, lepaskan! Bagaimana pun, saya adalah kakak ipar Anda sekarang," tegas Gendis.
"Apa kamu bahagia? Apa kamu secepat ini melupakan aku? Apa kamu mencintai Es?" Ozge menatap tajam pada Gendis. Menyelidiki tatapan Gendis kembali padanya. Mencari pancaran cinta dari bola mata kecoklatan milik mantan kekasihnya itu.
"Saya bahagia, Eser suami saya, sudah sepantasnya kami saling mencintai." Gendis menarik pergelangan tangannya dengan cepat, lalu berjalan menuju kamar. Bertepatan dengan Itu, Eser pun kembali muncul.
"Aku tidur dulu, Phiu," pamit Gendis dibuat sebiasa mungkin saat berpapasan dengan Eser.
"Iya, Mhiu." Jawaban Eser terdengar sangat lembut.
Ozge menghabiskan makanannya dengan cepat. Dia sengaja tidak menoleh ke belakang karena mengira Eser pasti akan memberikan kecupan sebelum tidur pada Gendis.
Nyatanya, setelah jawaban Eser tadi, Gendias langsung masuk ke dalam kamar begitu saja.
"Sudah kenyang bukan? Pertanyaanmu juga sudah ku jawab. Kenapa tidak pulang-pulang?" tanya Eser tanpa basa-basi.
"Aku mau menginap di sini, aku malas ke apartemen. Jia pasti akan datang, meskipun aku sudah mengatakan kalau kita ada acara keluarga. Dia pasti tetap datang. Dia atidak akan pernah mengira keberadaanku di sini." Ozge meletakkan mangkok dan gelas kosong di wastafel begitu saja.
"Terserah kamu, tapi jangan mengeluh kalau pagi-pagi nanti, kamu terganggu dengan suaraku dan istriku. Permainannya hebat sekali, sering kali membuat aku kewalahan." Eser sengaja memanas-manasi Ozge.
Ozge hanya diam. Dia pernah merasakan. Tanpa Eser memberitahunya, dia tahu, Gendis berbeda dengan siapapun yang pernah ditidurinya.
"Tidurlah di kamar sebelah. Terserah kamar yang mana, asal jangan kamar itu." Eser menunjuk pintu kamar berwarna soft pink.
Ozge mengangguk. "Terimakasih, Es."
Eser tidak menjawab, dia langsung berbalik badan dan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
'Sepertinya bersikap menjadi adik yang manis akan menguntungkanku ke depan,' batin Ozge sembari tersenyum licik.
.
.
Gendis sudah membersihkan diri seperti biasa. Sebelum Eser bangun, dia memasak dulu untuk sarapan pagi. Dia sama sekali tidak tahu kalau Ozge tidur di apartemennya.
Dengan santai dia berjalan menuju dapur. Tapi alangkah terkejutnya saat dia melihat Ozge sedang mengambil air putih di dispenser yang ada ada di sebelah lemari pendingin.
"Selamat pagi, kakak ipar." sapanya. Senyum dan matanya sangat menggoda.
Gendis hanya tersenyum tipis sekilas, lalu mengabaikan Ozge. Dia membuka isi kulkas dan melihat bahan apa yang dia miliki untuk dimakan tiga orang.
Ozge berjalan ke ruang tengah, tidak ingin mengganggu Gendis dan memang sengaja ingin memainkan peran dengan sangat cantik.
'Aku harus membuat Eser percaya, kalau aku bukan ancaman untuk hubungannya dengan Gendis. Dia harus tahu, aku pun bisa berbuat selicik dirinya,' Ozge berbicara dalam hati.
Lama berkutat di dapur hampir satu jam, akhirnya makanan pun selesai disiapkan. Ozge masih betah di ruang tamu, sembari melihat keadaan apartemennya dari layar ponsel. Benar dugaannya, di kamar, terlihat Jia masih tertidur pulas.
Gendis hanya menjawab singkat, "Iya."
Masuk ke kamar, Eser seperti biasa masih tertidur pulas. Gendis biasanya harus membangunkan suaminya itu dengan tepukan di pipi yang lumayan keras.
Dia memilih untuk mandi terlebih dahulu, setelah segar dan rapi, Gendis baru membangunkan Eser.
"Hmmmm...." Dengan malas, Eser menjawab tepukan tangan istrinya.
"Bangun, aku ke kampus pagi ini. Ada janji dengan pak Alex."
Mendengar nama Alex disebut, Eser pun segera beranjak bangun dengan wajah yang tidak senang. "Jadi kamu bertemu dengannya hari ini?"
"Iya. Phiu, aku ingin sedikit berimprovisasi sedikit nanti. Menurutku ketimbang aku meminum obat dari mereka sengaja atau tidak, aku lebih baik langsung menyerahkan diri. Setidaknya aku masih sadar dan pikiranku sangat jernih untuk menggali informasi darinya."
"Tidak-tidak! Jangan konyol! Cukup improvisasinya denganku saja. Tanpa kamu goda, dia sudah pasti tergoda. Jangan macam-macam. Tanganmu itu hanya untuk menyentuhku." Eser berdiri dan menolak keras ide dari Gendis.
"Aku akan menjagamu. Akan ada orang yang mengintaimu. Kita lakukan sesuai rencana awal. Jadilah kamu yang polos seperti yang mereka pikirkan," ketus Eser.
__ADS_1
"Phiu, coba pikirkan lagi. Kita tidak bisa mengandalkan orang lain jika kita berdua saja di dalam ruangan seseorang. Pilihannya adalah berani melawan dengan kemampuan sendiri. Justru gila, kalau aku menunggu kamu datang dengan kondisi yang sudah terpengaruh obat." Gendis mencoba memberi alasan logis.
"Jangan merusak rencana awal kita. Membuat lawan berpikir kita bodoh itu lebih baik, di sanalah mereka akan lengah." Eser mengakhiri perdebatannya dengan langsung masuk ke kamar mandi.
Gendis baru teringat kalau ada Ozge di luar dan sedang menunggu pakaian ganti. Sambil menunggu Eser keluar, dia pun memilihkan pakaian yang kira-kira belum pernah dipakai oleh suaminya. Gendis mengambilkan satu set lengkap dengan celana d4lamnya.
"Phiu, Oz ingin meminjam pakaianmu. Di apartemennya ada Jia, ini sudah aku siapkan. Mau aku yang memberikan? Atau kamu?" tanya Gendis begitu melihat Eser keluar dari kamar mandi.
"Aku saja."
"Ya sudah, ajak Oz sekalian sarapan. Aku mau ganti baju dulu."
Eser menatap istrinya heran, sepenglihatannya, Gendis sudah sangat rapi menggunakan celana jeans dan kemeja pres body seperti biasanya saat ke kampus.
"Jangan aneh-aneh, Mhiu. Apa yang kamu pakai sudah cukup. Jangan membuat Alex melihat kulitmu lebih banyak," tekan Eser.
Akhirnya Gendis menurut saja kata Eser. Keduanya keluar kamar bersama. Suami Gendis memberikan pakaiannya pada Ozge. Setelah itu mereka bertiga pun sarapan pagi bersama.
Selesai sarapan pagi, ketiganya langsung berangkat ke tempat tujuan masing-masing dengan menggunakan mobil sendiri-sendiri.
Kini, Eser memasang ear phone yang terhubung dengan penyadap suara yang ada di tangan Gendis. Pengintai pun sudah dia tekankan untuk tidak lengah sedikit pun. Jika Jia dan Alex kenal sudah lama seperti kata Ozge, berarti Alex pun sangat berbahaya. Di luar dugaaan Eser sebelumnya, yang menyangka Alex hanya termakan tubuh molek Jia untuk membantu menghancurkan Gendis.
Di tengah perjalanan ke kampus. Alex mengirimkan pesan ke Gendis. Kalau dia tidak bisa datang ke kampus, dan menyuruh mahasiswinya itu untuk datang ke alamat rumah yang dia berikan.
Dengan pertimbangan masalah yang ingin cepat selesai dan terungkap, Gendis pun menuju alamat yang diberikan dengan di pandu aplikasi maps di ponsel pintarnya.
Sampai di rumah itu, Gendis tidak sedikit pun ragu. Karena rumah itu berada di antara perumahan yang kanan kirinya juga berpenghuni. Bangunannya pun standart layaknya bangunan di perumahan elite lain.
Tapi hal itu, tidak sedikit pun mengurangi kewaspadaan Gendis. Bisa jadi, ini adalah kamuflase yang sengaja dilakukan oleh Alex.
Gendis turun dari mobilnya dan berjalan mendekati pintu utama rumah tidak berpagar luar itu. Belum sampai dia menekan bel, pintu sudah terbuka lebar.
"Tidak sulit kan mencari alamat ini?" Alex langsung menyapa dengan ramah, berbeda jauh saat sedang berada di kampus.
"Tidak, Pak." Gendis mencoba bersikap wajar.
"Silahkan masuk. Kamu duduk dulu, Ndis. Aku akan mengambilkanmu minuman."Alex menunjuk sofa empuk berwarna beige yang langsung terlihat begitu pintu di buka.
__ADS_1