
Waktu terasa berjalan lamban. Satu ruangan dengan Eser berdua saja, sungguh menyiksa. Bukan karena apa-apa. Tapi sikap Eser yang tidak menentu, membuat Gendis merasa kaku dan canggung.
Sesekali atasannya itu mengajak bicara dengan memberikan pertanyaan. Tapi setelah dijawab, bukannya ditanggapi, malah diam dan diabaikan begitu saja.
"Apa kamu membawa pakaian ganti?" tanya Eser, tanpa menoleh sedikitpun. Matanya tetap fokus pada layar laptop di depannya.
"Pakaian ganti?" Gendis mengembalikan pertanyaan pada Eser karena memang tidak mengerti.
"Astaga! buka ponselmu, Ndis?!" Eser sampai terlihat geregetan saat mengucapkannya.
Mulut Gendis seketika bergerak lincah tanpa suara. Komat kamit layaknya sedang membaca mantra kutukan untuk Eser.
"Apa? nyumpahin Aku? Jangan sampai kamu berpikir bisa membuat aku jatuh cinta sama kamu. Cinta ceo dan sekretaris itu hanya ada di novel-novel. Jangan harap itu terjadi pada kita. Kalau sampai terjadi, pasti kamu yang tergila-gila sama Aku." ucap Eser, selalu angkuh seperti biasa.
Gendis mencebikkan bibir, sembari mengambil ponsel dari dalam tasnya. "Tidak akan." ketusnya.
Padahal memang benar dugaan Eser, dia sedang menyumpahi atasannya itu agar bisa tergila-gila padanya. Kalau perlu sampai tidur terganggu dan makan pun tidak mau.
Dengan santai, Gendis mengetuk layar ponselnya dua kali. Seketika layar itu menyala terang. Saat dia menggeser tombol panah ke atas, mulutnya menganga lebar.
Tanpa suara Gendis langsung membuka setting tampilan layar, mencoba mengganti wallpaper yang sangat tidak layak itu dengan gambar yang lain. Tapi sungguh sial, kode untuk mengganti bukan kode yang sama dengan kode saat mengaktifkan ponsel itu.
"Berapa kode untuk mengganti walpaper dan menghapus file?" tanya Gendis dengan kesal.
Seolah dia tidak sedang berbicara dengan atasannya. Gendis, kini tengah membuka galeri yang ternyata juga tersimpan video dan foto hasil kelicikan Eser.
"Itu ponsel dinas, bukan ponsel pribadimu. Jadi kamu tidak berhak merubah apapun yang ada di sana. Cukup gunakan untuk membalas pesan dan menerima telepon dariku. Itu saja," jawab Eser, sangat santai.
__ADS_1
Dengan sangat kesal, Gendis langsung membuka pesan yang terkirim di sana. Jelas saja dia tidak membawa pakaian, karena pesan itu masuk saat dia sudah berada di dalam mobil. Tepatnya saat Ozge memaksa untuk melihat wallpaper di ponselnya tadi. Untung saja Ozge tidak melanjutkan masalah itu. Kalau sampai itu tahu, entah reaksi apa yang akan dia dapatkan.
"Nanti saya pulang dulu saja, atau saya bisa ambil pakaian sebentar setelah ke perancang busana. Tapi sampai sini, bisa telat kalau begitu." Gendis nampak bingung.
"Ya sudah, tidak usah ganti baju. Tapi pastikan saja kamu segar dan wangi. Aku tidak mau relasiku menyangka kamu sekretaris gembel."
Gendis kini mengelus dadanya, sejak pertama kali bertemu hingga sekarang. Entah saat menjadi Dosen, pelanggan pijat ataupun atasannya, mulut Eser begitu pedas.
Ozge tiba-tiba masuk tanpa permisi, meredakan ketegangan antara Gendis dan Eser.
"Aku mau mengajak Gendis keluar sekarang. Aku pastikan dia akan kembali pukul tiga. Posisi kita sama, yang menggaji Gendis masih perusahaan kan? kalaupun kamu ingin memecatnya, silahkan saja. Aku yang akan melunasi hutangnya." Ozge langsung mendekati meja Eser dengan seenaknya.
"Silahkan. Aku hanya butuh Gendis nanti malam. Karena ada meeting penting. Persiapkan pernikahan sematang mungkin, siapa tahu pernikahan itu akan gagal dan menjadi pernikahan orang lain," Eser begitu santai menanggapi.
Gendis hanya diam. Dia tidak ingin terlibat perdebatan yang selalu terjadi di antara Eser dan Ozge.
"Aku tungu kamu di lobby, Beg!" ucap Ozge sembari menatap Gendis dengan tatapan cemburu.
"Saya, keluar dulu, Pak. Saya usahakan bisa mengambil pakaian, agar nanti malam Bapak tidak malu mempunyai sekretaris seperti saya," pamit Gendi.
"Hmmm...." Eser menjawab sekenanya dan pura-pura sibuk mengetik.
Melihat Gendis sudah menghilang dari pandangannya, Eser segera menghubungi seseorang melalui ponselnya. Entah apa yang dibicarakan, raut wajahnya terlihat sangat serius.
******
Ozge dan Gendis kini sudah berada di tempat perancang busana ternama. Karena acara sangat mendadak, Ozge meminta si perancang untuk mengeluarkan koleksi gaun yang sudah ada saja untuk dipilih Gendis.
__ADS_1
Setelah mencoba beberapa gaun, akhirnya pilihan Gendis dan Ozge jatuh pada gaun berwarna putih salju. Bahu putih mulus Gendis tereksplore sempurna saat mengenakannya. Designnya saat elegant dan mewah, taburan batu swaroski akan membuat wajah Gendis semakin bersinar nantinya.
"Kita makan dulu yuk!" ajak Ozge begitu mereka selesai di tempat perancang busana.
Gendis tidak menolak, karena dia memang sebenarnya hobi makan. Hanya saja, keterbatasan uang amembuatnya terpaksa menahan diri.
Saat baru memasuki mobil, tiba-tiba sebuah mobil, menabrak mobil Ozge dengan keras. membuat mobil yang masih diam itu, terseret maju ke depan hingga beberapa meter. Driver sampai berteriak kesakitan, karena dadanya terbentur setir. Sedangkan Gendis dan juga Ozge, mengusap kepala masing-masing yang terbentur sandaran jok di depannya.
Bersamaan dengan itu ponsel Ozge berbunyi. Dia mengabaikan panggilan itu begitu saja. Tapi sesaat kemudian ponsel itu berdering lagi dan lagi.
Setelah memastikan Drivernya tidak mengalami keluhan yang serius, Ozge memerintahkan driver untuk melanjutkan perjalanan.
Ponsel Ozge kembali berdering. Dia ingin mengabaikan. Tapi notice pesan yang dari tadi sengaja tidak dibuka, memaksanya untuk menerima panggilan itu.
Dengan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh Gendis, Ozge terlihat bicara dengan sangat serius. Sesekali dia melirik Gendis, yang begitu serius memperhatikan gerak mulutnya.
Ozge berusaha menampilkan wajah setenang mungkin setelah mengakhiri panggilan teleponnya itu. "Klien dari Turki," ucapnya.
Gendis mengangguk percaya. Ozge mengunci rapat mulutnya sepanjang perjalanan. Dia bahkan tidak menoleh lagi ke arah Gendis. Pikirannya mendadak buntu. Andai sekarang dia sedang sendirian, mungkin dia akan melarikan mobilnya secepat mungkin agar bisa lari sejauh mungkin dari kenyataan yang mengejarnya.
Sampai di restauran yang dituju, Ozge begitu posesif menggandeng tangan Gendis. Bola matanya dengan lincah bergerak melirik ke sana ke mari untuk memastikan semua aman.
Ozge sengaja memilih meja private di dalam ruangan agar dia bisa sedikit tenang. Lagi-lagi ponsel Ozge berdering, dengan buru-buru dia menerima panggilan itu. Kali ini, Ozge hanya diam dan mendengarkan suara di seberang. Dia sama sekali tidak mengucapkan apapun.
Seusai memutus sambungan telepon, Ozge menatap Gendis dengan sendu. "Tunggu di sini sebentar," ucapnya.
Ozge langsung ke luar dari ruangan private menuju toilet. Langkah kakinya begitu ragu, tidak seyakin biasanya.
__ADS_1
Gendis menangkap perubahan sikap Ozge sejak mobil tertabrak tadi. Tapi dia hanya berani menerka-nerka. Ozge mungkin sedang mengalami masalah dalam bisnisnya.
Di dalam Toilet, Ozge hanya bisa pasrah, ketika seorang perempuan yang berdandan seperti laki-laki, mencumb*unya kasar, dengan satu tangan memegang pistol.