Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Menjalankan rencana


__ADS_3

Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Tapi Ozge sudah bersiap di depan pintu kamarnya untuk meninggalkan rumah. Pria itu tersenyum penuh kemenangan begitu berhasil mendapatkan potongan kuku dan rambut dari Sevket. Dia ingin segera melakukan tes DNA untuk membuktikan jika informasi dari Vivian tidaklah salah.


Setelah berpamitan dengan kedua anak kembarnya yang juga akan memulai home schooling dengan guru anak berkebutuhan khusus, Ozge pun bergegas menuruni anak tangga. Dia sudah membuat janji dengan dokter akan datang setengah jam lagi.


Di saat bersamaan, Jia keluar dari kamarnya. Dia berjalan tertatih dengan wajah yang sangat pucat. "Oz... ," panggil Jia, suaranya lirih.


Pria itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "Aku sedang buru-buru. Kalau kamu butuh sesuatu bilang sama mami."


Jia mengabaikan ucapan Ozge. Dia bersikeras mendekati suami yang tidak pernah menganggapnya itu dengan langkah kaki yang semakin berat.


"Oz, temani aku ke dokter. Sungguh aku tidak sanggup jika sendiri." Jia begitu mengiba, tangannya mengulur lemah ingin menggapai lengan Ozge. Tapi pria itu keburu kembali berjalan menuruni anak tangga.


"Ajak salah satu pembantu, aku akan transfer uangnya. Jangan berharap lebih, nikmati neraka yang kamu ciptakan sendiri." Ozge mempercepat langkah kakinya.


Jia menyerah mengejar Ozge. Dia menjatuhkan bokongnya di anak tangga. Sakitnya badan, tidak seberapa dibanding dengan sakit hati yang dia rasakan. Pernikahan mewah, tidak menjamin kehidupan rumah tangga yang bahagia. Kehadiran si kembar tidak sedikit pun membuat Ozge peduli pada Jia.


Nyatanya, si kembar lebih sering diasuh Ozge dan Mutia. Akhir-akhir ini sakit yang diderita Jia semakin parah. Dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbaring di atas ranjang.


Berbeda jauh dengan kondisi Jia yang sedang terpuruk dalam kesedihan dan kesakitan, Vivian tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya mendapatkan undangan dari Bastian. Apalagi saat temannya itu mengatakan bahwa Eser akan hadir di sana. Sederet rencana licil mulai tersusun.


Kehadiran Eser yang pastinya sendiri, akan membuat Vivian leluasa untuk mendekati. Kali ini, dia akan memanfaatkan situasi dengan sebaik mungkin. Jika dengan cara baik-baik tidak bisa menarik perhatian Eser, maka cara klasik akan dia lakukan. Cara yang biasa dilakukan sejuta orang untuk memberi umpan perempuan pada pria yang kehilangan kesadaran.


Di sisi lain, Eser dan Damar sedang menempuh perjalanan ke tempat di mana sebuah rencana besar akan dilakukan. Eser terus memberikan arahan pada Damar tentang hal-hal yang harus dikerjakan.


"Mengerti kan, Mar?" Eser bertanya dengan tegas.


"Iya, Mas. Semoga tidak ada yang meleset. Tapi...." Damar tidak jadi melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Tapi apa, Mar?"


"Ehmm ... maaf, mas, kalau Mbak Gendis, akhirnya kembali bersama kita, berarti kalian bukan suami istri lagi 'kan? Jadi kita semua hanya sebagai kakak adik saja?" Damar bertanya dengan polosnya.


Eser memalingkan wajahnya, hatinya yang sudah terluka, rasanya semakin sakit ketika diingatkan kembali kalau antara dirinya dan Gendis adalah saudara.


"Tolong jangan bicarakan itu sekarang, Mar. Yang terpenting, mbakmu bersama kita." Eser memijat pelipisnya yang sama sekali tidak pusing.


Damar tidak ada pilihan selain diam. Dia tidak berani lagi untuk memulai pembicaraan. Dalam hati, kini dia berharap, Gendis tidak akan memarahinya karena keberadaannya sudah diketahui oleh Eser.


Di kantor, Gilbas mendatangi ruangan Gendis sambil menenteng paper bag berwarna putih. Pria itu membuat Gendis menghentikan kegiatan mengetiknya sesaat.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"


Gilbas memberikan senyuman terbaik pada Gendis. Walau dia tahu itu percuma. Tetapi tetap saja dilakukan. Meski sadar dirinya tampan dan mempesona, tetapi apalah artinya itu semua bagi seorang perempuan yang sudah bersuami.


"Nanti malam, kita ada undangan makan malam, ada klien besar yang mengundang kita menghadiri acara ulang tahunnya. Kamu pakai ini, ya. Semoga cocok. Kepala bagian marketing yang membelikan." Gilbas memberikan tas itu pada Gendis. Sebenarnya gaun yang akan dipakai Gendis nanti malam adalah gaun pilihan Eser dari lemari Gendis sendiri. Banyak gaun yang masih belum pernah terpakai.


"Terimakasih, Pak. Nanti pulang ke kos dulu kan?"


"Iya, kita pulang lebih awal. Nanti kamu bareng sama saya saja berangkatnya."


"Tapi pulang kerja ini, saya sendiri saja, Pak. Saya bawa mobil."


Gilbas hanya mengangguk, lalu keluar dari ruangan tanpa permisi. Sejak tahu Gendis adalah istri Eser, dia menjadi bingung harus bersikap bagaimana.


***

__ADS_1


Di sebuah kamar hotel tempat akan diadakan acara, seorang make up artis yang sudah disiapkan orang kepercayaan Eser, mendandani Damar sebagai seorang pelayan. Tatanan rambut dan wajah diubah sedemikian rupa agar tidak dapat dikenali oleh Gendis.


Setelah menunggu dengan tidak sabar, akhirnya waktu yang dinanti pun tiba. Damar sudah berada di ruangan yang di sewa Eser, ruangan berukuran sedang, dan sudah disulap seperti layaknya mini bar.


Bastian dan beberapa orang yang sebenarnya teman dari Bastian dan Gilbas sudah hadir. Mereka mengikuti saja apa kemauan Eser, meskipun dalam hati, baik Bastian dan Gilbas sama-sama tidak tulus membantu. Karena diakhir, mereka berharap mendapat jawaban mengapa Gendis sampai berpisah dengan Eser. Dan di saat itu terjadi, mereka siap mengambil strategi untuk mendekati Gendis.


Vivian melenggang santai dengan gaun hitam panjang yang cukup terbuka. Bagian punggung belakangnya tereksplore sempurna hingga sampai ke pinggul. Dengan detail bagian depan terdapat lubang berbentuk elips tepat di tengah-tengah bagian dada yang menonjol.


Eser akhirnya menampakkan batang hidungnya. Dengan penuh percaya diri, Vivian memulai aksinya. Sepasang mata milik Damar, tidak lengah memperhatikan setiap gerak gerik yang dilakukan Vivian. Bukan tanpa tujuan Eser melibatkan perempuan yang ternyata licik itu. Setiap detail sudah dia pikirkan baik-baik. Eser ingin membuat semuannya tampak alami.


Seperti sekarang, walaupun terpaksa, Eser tetap bersikap agak manis pada Vivian. Bersama Bastian, ketiganya duduk di depan mini bar menikmati minuman mereka masing-masing. Hentakan electronic dance music semakin menyempurnakan keadaan layaknya pesta sebenarnya. Apalagi, teman-teman yang di bawa Bastian sangat larut dalam acara. Beberapa pasangan menikmati musik dengan menggoyangkan badan mereka.


Hingga saatnya ada sebuah pesan masuk dari Gilbas untuk Eser. Pria itu memberikan informasi bahwa beberapa menit lagi, dirinya dan Gendis akan memasuki ruangan.


Vivian benar-benar berada di atas angin. Dia sedang dimabuk cinta dan juga minuman secara bersamaan. Eser membuat perempuan itu tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Sehingga dia tidak menyadari kehadiran Gendis. Sepertinya, mata Vivian juga mulai tidak fokus.


Berbeda dengan Gendis yang langsung menghentikan langkahnya di tengah ruangan, begitu menyadari keberadaan Eser. Gilbas memang sengaja mengajak Gendis datang lebih dari waktu yang ditentukan. "Pak, bolehkah saya tidak ikut saja. Sepertinya, acara juga sudah mulai dari tadi."


Gilbas tidak menjawab, karena Bastian tiba-tiba muncul di depan mereka dan langsung berkata, "Vivian memang gila, Eser sudah dibuat mabuk, dan perempuan gila itu memasukkan sesuatu ke dalam minuman Eser. Sebentar lagi, mereka pasti akan lanjut ke kamar," ucapnya dengan setengah berteriak karena suara musik yang cukup keras.


"Bagaimana bisa?" Gilbas melirik Gendis yang menampilkan wajah panik sembari terus menatap punggung Eser. Sorot kecemburuan jelas terpancar dari wajahnya. Apalagi saat melihat tangan Eser memegani kedua lengan Vivian. Pikirannya sudah kemana-mana.


"Bisalah, memang ini yang dinantikan Vivian. Kamu tahulah perempuan itu licik. Mendengar Eser berpisah dengan istrinya, jelas itu adalah kesempatan yang bagus." Bastian semakin memanasi pikiran Gendis.


"Kenapa kalian tidak menolong teman kalian itu? Bukankah kasihan kalau sampai dia berbuat salah dalam keadaan tidak sadar?" Gendis mengatakan juga dengan setengah berteriak, dia menatap Gilbas dan Bastian satu per satu. Wajahnya semakin tegang.


Kedua pria itu kompak tersenyum tipis.

__ADS_1


"Buat apa? Mereka kan sudah sama-sama dewasa," ucap Bastian dengan enteng.


"Kamu benar, Bas. Biarkan saja. Kita nikmati acara ini. Kalau kamu mau pulang, kamu bilang driver saja, Ndis. Aku mau menyapa yang ulang tahun dulu." Gilbas sengaja meninggalkan Gendis sendirian. Pria itu berjalan mmerangkul pundak Bastian tanpa memedulikan Gendis yang sangat mencemaskan Eser.


__ADS_2