Sentuhan Cinta Gendis

Sentuhan Cinta Gendis
Penangkapan Gia dan Baron


__ADS_3

"Iya, Nyonya Gendis," tegas Ayumi.


"Dari mana dia tahu Gendis berada di sini?" tanya Eser.


"Perempuan itu sudah lama mencari Nyonya Gendis, Tuan. Sepertinya, mereka ada hubungan masa Lalu. Saya sudah pastikan, kalau akan mempertemukannya dengan Nyonya Gendis. Tapi tidak hari ini. Karena perempuan itu tidak ingin menunda lama, jadi saya menjanjikan besok." Ayumi sedikit ragu dan takut saat mengatakannya.


"Baiklah. Tidak mengapa. Semakin cepat bertemu, semakin baik. Kita jadi tahu untuk apa dia datang," timpal Gendis.


Eser mengangguk setuju. "Ya sudah. Sementara tugasmu di sini selesai. Keluarlah! Tetap waspada dan berjaga," ucapnya.


Setelah Ayumi meninggalkan kamar, Sevket pun melakukan hal yang sama. Tinggallah Gendis dan Eser berdua.


Dengan tidak sabar, Gendis menuntun Eser ke atas ranjang. Merebahkan Eser ke atasnya dengan gerakan yang tidak ada lembutnya. "Waktu resepsi masih tiga jam lagi, aku pengen tidur, Phi. Tapi aku pengen tidur di ketiakmu."


"Tidur saja?" goda Eser.


"Phi! Tidak kah cukup dua kali saja sehari?" Dengus Gendis sembari menyusupkan kepala ke ketiak Eser.


"Obat saja diminum tiga kali sehari, Mhi. Apalagi itu, lebih pun boleh. Tidak menimbulkan efek samping, selain aku semakin tergila-gila padamu." Tangan Eser mulai ingin memegang sesuatu di dada istrinya, tapi dengan cepat Gendis menepis tangan itu untuk menjauh dari sana.


"Phi, simpan energi. Masih banyak yang harus kita hadapi nanti." Mata Gendis langsung terpejam.

__ADS_1


Tidak lama, dia benar-benar sudah pulas. Dengkuran halus itu meyakinkan Eser kalau sang istri memang tidak sedang berpura-pura. Namun, dengan mata tertutup pun, Gendis tetap meresahkan. Satu tangannya dengan santai berada di atas Teser.


Beberapa jam kemudian resepsi pernikahan pun di mulai. Gendis dan Eser, menempati meja yang sama dengan meja yang ditempati Sevket, Gia dan Baron.


Dengan sengaja, Gia duduk tepat di samping Eser persis. Dia berusaha menarik perhatian anak pertama Sevket itu dengan berbagai cara. Bahkan tidak segan menatap menggoda dan menaikkan gaunnya hingga ke atas paha.


Tapi Eser yang sekarang, bukanlah Eser yang dulu. Dia bergeming, jangankan melihat apalagi tersenyum ramah. Melirik pun tidak. Gendis pun menghadapinya dengan santai, dia sama sekali tidak cemburu. Sesekali, bahkan perempuan itu sengaja bersikap manja dengan menyuapkan makanan pada Eser.


Di atas pelaminan, Ozge dan Jia nampak tidak seperti pasangan pengantin pada umumnya. Hanya senyuman Jia yang mengembang. Sementara Ozge wajahnya cenderung datar dan tidak senang.


Tatapan mata Ozge justru jatuh pada Eser dan Gendis yang terus menebar kemesraan. Tidak jarang dia melihat kakak tirinya itu sekilas mengecup bibir Gendis.


Alunan musik lembut yang mengalun dan menggema di seluruh ruangan, nyatanya tidak membangun keromantisan Jia dan Ozge. Keduanya kini malah kompak menatap iri pada Gendis dan Eser.


Wedding dance pun tiba, Ozge berdansa dengan Jia, lampu sorot yang mengarah pada mereka, membuat keduanya kini menjadi pusat perhatian. Meski demikian, tidak sedikit pun Ozge tergoyahkan untuk sedikit menebar senyuman. Gerakan yang dilakukan pun tidak menggunakan perasaan, jelas hanya seperti formalitas saja.


Kini, kecemasan melanda Jia. Acara pemutaran video yang normalnya adalah proses perjalanan cintanya dengan Ozge, akan dimulai. Jia sedikit menjauhkan badannya dengan laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya itu.


Ratusan pasang mata, perhatiannya tertuju pada beberapa layar putih yang disiapkan di berbagai sudut. Bersiap menampilkan sesuatu di sana.


Mata Jia seketika terbelalak, dia memundurkan langkahnya. Semua di luar rencananya. Video yang diputar dan disaksikan seluruh para undangan saat ini, adalah video pemberkatan Eser dan Gendis.

__ADS_1


Jia menggelengkan kepala dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Matanya melirik tajam, pada Gendis yang sedang menatapnya dengan senyuman penuh kemenangan yang terkesan menghinanya.


Tidak sedikit dari tamu undangan yang berbisik-bisik. Mereka terkejut, karena ternyata Eser, putra pertama Sevket juga sudah menikah. Padahal tidak sedikit dari undangan yang hadir, bisa berbesanan dengan seorang Sevket.


Ozge menundukkan wajahnya. Dia enggan melihat ke layar besar yang berada tepat di depannya. Seharusnya dialah yang ada di video itu, bukan Eser


Di antara reaksi orang pada video yang di putar, Sevket dan Eser tengah asyik mengetuk jari di atas meja dengan wajah yang sulit dijelaskan. Keduanya sedang menunggu kejutan selanjutnya. Sebuah pertunjukan yang pastinya membuat suasana dan bisik-bisik undangan semakin menggaduh.


Hingga tidak lama kemudian, beberapa orang berseragam polisi internasional didampingi polisi lokal, memasuki dan menyebar ke seluruh ruangan. Sebagian dari mereka berjalan menuju meja di depan pelaminan persis.


Perhatian tamu undangan seketika beralih. Video berhenti di putar, suasana menjadi hening dan mencekam. Baron dan Gia kompak membelalakkan mata melihat polisi internasional yang sudah separuh jalan dari tempat mereka berada.


Keduanya ingin segera berdiri, lalu berlari dan sembunyi secepat mungkin. Namun sayang, pemikiran Barron dan Gia terbaca oleh salah seorang anggota polisi yang menghampiri mereka.


"Jangan coba-coba melarikan diri!" Gelegar suara itu, membuat beberapa tamu ketakutan. Ada yang memeluk suaminya, dan beberapa anak yang ikut hadir, seketika berpindah duduk di pangkuan Ibu atau ayah mereka.


Namun, Gia dan Baron tidak bisa berpikir jernih. Keduanya tetap berusaha melarikan diri di tengah keheningan yang mencekam. Para tamu enggan beranjak dari duduk, karena ketakutan. Mereka tidak memahami apa yang sedang terjadi, tapi jelas bisa menduga-duga jika ada penjahat kelas internasional yang sedang berada di acara ini bersama mereka.


Anggota kepolisian yang memang sudah menyebar di seluruh ruangan segera mengejar Gia dan Barron. "Diam atau kami terpaksa menembak!" teriak Pemimpin Interpol sambil menembak pistol ke atas dan langsung menambah suasana semakin mencekam. Orang tua semakin mendekap anak-anak yang ada di pangkuan mereka. Langkah Baron dan Gia pun terhenti.


Jika ada yang tidak panik, orang itu tentu saja adalah Sevket, Esee, Gendis, Jia dan Ozge. Karena mereka tahu persis penangkapan ini akan terjadi. Mutia pun ikut ketakutan, karena memang tidak tahu menahu akan hal ini.

__ADS_1


Kedua buronan itu pun akhirnya dipegangi masing-masing oleh seorang anggota kepolisian. Gia yang melihat Gendis di peluk oleh Eser seketika memberontak. Dia menggigit tangan polisi yang memeganginya hingga terluka.


"Dasar jallang sialan! Jika bukan karenamu aku pasti bisa bersama Eser! Kamu tidak boleh bahagia" Gia menjambak rambut Gendis dengan membabi buta, lalu mendorong kursi Gendis dengan kua hingga membuat istri Eser itu jatuh terjerembab dengan keras. Gendis meringis kesakitan sembari memegangi perutnya.


__ADS_2