
Gendis menatap Erick dengan sangat tajam. "Kamu benar-benar ingin bercinta denganku? Sebelum aku mengiyakan, kamu harus tahu siapa aku sebenarnya."
"Memangnya siapa kamu? Jika kamu berhubungan dengan Jia dan Arya, berarti kurang lebih, kamu juga punya cara licik untuk mengalahkan mereka." Erick berjalan mendekati Gendis yang sudah memutar gagang pintu.
"Aku lebih kejam dari mereka. Karena aku adalah menantu Sevket. Aku istri dari putra pertama Sevket." Gendis menjawab dengan tatapan mata angkuh.
Erick tidak menduga sama sekali kalau Gendis adalah istri dari Eser Sevket. Dia tidak mengenal sosok pria itu secara pribadi. Tetapi, dia sering melihat wajah pria itu mengisi beberapa artikel kisah sukses pengusaha di media bisnis terkenal yang di bacanya. Pantas saja dia ditawarkan uang berlipat-lipat, jelas memang kekayaan Sevket lebih dari Arya dan Jia.
"Bagaimana? Masih berani berharap kita akan bercinta? Aku bukannya tidak mau, Ko. Tapi aku takut, Koko tidak akan kuat menanggung akibatnya. Kalau reputasi masih bisa diperbaiki, meskipun perlahan. Bagaimana kalau nyawa yang melayang?" Gendis kembali membalikkan badan. Memutar gagang pintu perlahan.
"Tunggu!" Cegah Erick. Gendis tidak bergerak sama sekali, dia hanya tersenyum tipis.
"Kita kembali pada kesepakatan awal saja. Aku akan berikan flashdisk-nya." jawab Erick, akhirnya.
Kali ini Gendis kembali memutar tubuhnya untuk membelakangi daun pintu, dia bergerak perlahan mendekati Erick. "Untuk memastikan kebenaran isinya, tolong putar dengan cepat di laptopmu, Ko."
Erick mengangguk setuju, dia membuka dan menyalakan laptop miliknya dengan segera. Setelah layar menyala sempurna, dia menancapkan sebuah benda kecil pada salah satu lubang di pinggiran laptop.
Sebuah video berdurasi hampir satu jam, wajah Gendis dan Ozge tampil di sana. Baru beberapa menit, Istri Eser itu sudah bisa menebak isi dari video itu. Gendis buru-buru mencabut benda itu dengan paksa. Dia tidak ingin Erick melihat lebih jauh.
"Berapa nomer rekeningmu?" Gendis langsung membuka aplikasi mobile banking di ponselnya.
Erick menyebut sepuluh digit angka, nama lengkap pemilik rekening dan bank penerimanya. Karena nominal yang cukup fantastis, limit Gendis tidak bisa menjangkau.
Dia pun menghubungi petugas bank yang menangani dirinya sebagai nasabah prioritas. Meminta pemindahan dana sesuai permintaan Erick secepat yang petugas itu bisa.
__ADS_1
"Sebelum uang itu masuk. Kamu tidak boleh keluar dari tempat ini. Oh ya, satu lagi, berikan aku pengganti video yang harus diputar saat puncak acara nanti,"pinta Erick, tatapan matanya yang masih nakal diselimuti napsu, tidak sedikit pun membuat Gendis takut.
"Tenang saja. Aku akan memberikan padamu saat mendekati acara nanti malam. Aku bisa dipercaya. Di atas reputasimu, tentu saja reputasi keluarga Sevket lebih penting."
Erick hanya mengangguk setuju. Dia masuk ke kamar mandi, sesuatu di dalam tubuhnya, sungguh sedang meronta karena perempuan di depannya itu sungguh mempunyai daya tarik seeksual tinggi.
Di tempat yang sama, tapi berbeda lantai. Eser semakin gelisah. Acara pemberkatan selesai, kini acara sudah santai. Para undangan sedang menikmati hidangan. Itu artinya, Gendis sudah meninggalkannya lebih dari satu jam. Eser sendiri memilih untuk sedikit menjauh dari kerumunan. Dia malah berada di dekat backdrop yan disediakan jika ada undangan yang ingin mengabadikan foto di acara hari ini.
Pikiran Eser, sudah semakin buruk. Dia buru-buru merogoh obat penenang dari psikiater yang sengaja dia bawa hari ini di kantong celananya. Dia sudah memperkirakan, hari ini akan bermain dengan emosi. Karena tidak ingin lepas kontrol, eser memilih aman dengan menelan pil pahit itu tanpa bantuan air.
Seorang perempuan memakai gaun hitam terusan tanpa lengan mendekati Eser. Cara berjalannya begitu gemulai dan menggoda. Dia langsung membungkukkan badan dan mendekatkan bibirnya di daun telinga Eser. Beberapa kalimar dia lontarkan. Membuat pria itu langsung meminta perempuan itu mendorongnya.
Rahang Eser tampak mengeras, kedua tangan mengepal sempurna di atas pahanya. Gia yang tanpa sengaja melihat Eser meninggalkan tempat acara dengan perempuan lain, lansung membuntuti dari belakang.
Gia kehilangan jejak begitu Eser dan perempuan tadi memasuki lift. Pikiran Gia, tentu saja menjadi semakin negatif sekaligus senang. Ketidakhadiran Gendis dan kebersamaan Eser dengan perempuan lain, membuat Gia yakin, jika pasangan suami istri itu sedang tidak baik-baik saja.
Setelah hampir lima belas menit akhirnya, Gendis mendapatkan notifikasi juga kalau dana sudah berhasil berpindah ke rekening Erick. Perempuan itu mengetuk pintu kamar mandi, karena dari tadi pria oriental itu, belum juga keluar dari sana.
Erick tampak buru-buru keluar, bagian celana di area sekitaran paha sedikit basah. Kali ini, Erick menundukkan pandangannya. Dia tidak mau tersiksa dan bekerja keras sendiri.
"Lihat saldomu, Ko. Urusan kita selesai sampai di sini. Anggap kita tidak kenal. Flashdisk pengganti, akan aku berikan nanti malam." Gendis langsung berjalan ke arah pintu dan langsung membuka lagi tapi mengucapkan kata-kata lain.
Bersamaan dengan itu, Eser juga baru saja keluar dari lift dan langsung melihat sang istri. Gendis begitu santai melihat suaminya. Dia malah berjalan mendekati Eser dengan ekspresi wajah tanpa beban. Meski sebenarnya dia deg-deg'an juga dengan reaksi Eser saat melihat video di dalam flashdisk.
"Biar aku saja, Mi. Kamu kembalilah ke tempat. Aku butuh ahli IT, dan siapkan video pernikahan terpaksaku dengan bosmu ini." Gendis mengambil alih dorongan kursi roda dari tangan perempuan bernama Ayumi.
__ADS_1
Gendis mengenali perempuan itu, karena Ayumi memang salah satu orang kepercayaan Eser yang selalu diturunkan menjadi mata-mata. Paras yang cantik dan tubuh yang sekksi membuatnya tidak terdeteksi lawan.
Ayumi membungkukkan badan, lalu berbalik badan meninggalkan Gendis dan Eser.
"Ke kamar," perintah Eser.
Gendis memutar kursi roda suaminya. Lalu keduanya menunggu hingga pintu lift terbuka. Erick yang ingin kembali ke acara juga keluar dari kamarnya. Tatapan Eser tajam mengarah pada pria itu. Penuh selidik melihat wajah Erick yang ceria.
"Apa yang baru saja kalian lakukan?" Eser bertanya dengan geram.
"Tidak ada. Sudahlah, Phi. Kita bicara di kamar."
Gendis buru-buru mendorong kursi roda Eser masuk ke dalam lift. Dia tidak ingin ada perdebatan panjang lagi. Cukup urusannya dengan Erick.
Sesampainya di kamar, Gendis melepas sepatunya. Pusing yang dari tadi ditahan saat dikamar Erick, kali ini ingin dia manjakan sakitnya.
"Phi, aku butuh penyegaran. Aku sudah menahan diri sejak bersama Erick tadi." Gendis mengedipkan satu matanya.
"Jangan merayuku, Mhi. Apa yang kamu dapatkan dari Erick selain muntahan keju cairnya?"
Pertanyaan sinis dari Eser, sontak membuat Gendis menggelengkan kepalanya sembari mengambil laptop dari kopernya, menyalakan benda itu di atas nakas.
"Teruslah menganggapku segampang itu tidur dengan orang lain. Berpikirlah sesukamu." Gendis menancapkan flashdisk ke laptop.
Eser memajukan kursi rodanya mendekati ranjang. Video mulai berputar. Dua menit pertama, dia merasa biasa, semakin bertambah waktu berjalan, matanya semakin nanar. Gendis menggigit bibir bawahnya sendiri. Andai tidak dikejar waktu, dia tidak ingin memberitahu tentang hal ini pada Eser sekarang.
__ADS_1