Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 100 : Dasar Kuda


__ADS_3


Mara terlihat begitu gelisah tatkala duduk di depan sebuah jendela khas rumah pohon yang ia tempati bersama suaminya ini. Tubuhnya masih terasa begitu lengket akan peluh yang membanjiri sekujur tubuhnya sejak pergumulan itu ia lakukan. Dan tidak ada yang dapat ia gunakan untuk membersihkan itu semua selain kain pantai yang tadi ia gunakan untuk menutupi tubuh polosnya bersama sang suami.


Mara mengambil sepotong roti tawar dengan selai strawberry kemudian ia masukkan ke dalam mulutnya. Perlahan, ia kunyah roti berselai strawberry itu, pastinya untuk mengisi perutnya yang terasa begitu kosong. Sampai-sampai peliharaannya yang berada di dalam perut mengajukan protes dengan mengeluarkan bunyi 'krucuk-krucuk', seakan berunjuk rasa untuk segera meminta diisi.


Sekilas pandangan mata Mara terpaku pada sosok lelaki yang tengah terlelap dalam buaian mimpinya. Setelah terlihat begitu perkasa saat permainan itu dilakukannya, kini ia seakan menjelma menjadi sosok lelaki yang tiada berdaya. Mara hanya tersenyum simpul. Melihat wajah polos sang suami yang tengah terlelap seperti ini, membuatnya semakin cinta saja.


Mara menggeser tubuhnya untuk bisa lebih dekat dengan Dewa. Wajahnya sedikit menunduk dan ia berikan sebuah kecupan lembut di kening suaminya ini.


"Aku tidak habis pikir mengapa dulu mantan istrimu tega bermain api di belakangmu Mas? Padahal kamu adalah salah seorang lelaki yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Apa yang sebenarnya saat itu membutakan hati mantan istrimu?"


Mara bermonolog lirih sembari menatap lekat wajah Dewa yang terlihat begitu teduh itu.


"Namun sepertinya aku harus berterimakasih kepada mantan istrimu, karena apa yang ia lakukan menjadi jalan pertemuan untuk kita. Jika mantan istrimu tidak bermain api, mungkin sampai saat ini kita tidak akan pernah bisa bertemu.


Mara mengusap pipi Dewa dengan lembut. Ia biarkan lelakinya ini nyenyak dalam tidurnya. Ia tahu betul, untuk mempersiapkan acara jalan-jalan pagi ini, sang suami sampai rela bangun lebih pagi dari biasanya. Lelaki itu nampak begitu bersemangat. Hingga mungkin saat ini rasa kantuk itu benar-benar terasa begitu mendera.


Mara kembali mengedarkan pandangannya ke arah danau yang nampak jelas dari tempatnya terduduk saat ini. Tatkala sorot matanya fokus dengan keadaan sekitar, tetiba ia terperanjat seketika.


"Luki?"


Mara sedikit memekik tatkala kuda putih yang ia tunggangi bersama sang suami terlihat berlarian di tepi danau. Mara baru sadar, ternyata tali pengikat Luki terlepas dari batang pohon yang sebelumnya digunakan untuk mengikatnya.


Kuda itu nampak berlarian ke sana kemari. Seakan begitu girang karena telah terlepas dari sesuatu yang membelenggu tubuhnya.


"Mas, mas, mas Dewa! Bangun Mas, bangun!"


Dengan sedikit mengguncang tubuh Dewa, Mara mencoba membangunkan suaminya ini. Apa yang dilakukan oleh Mara, sukses membuat tubuh lelaki itu menggeliat dan mulai mengerjabkan mata.


Hoaaaammm...

__ADS_1


"Ada apa Sayang? Kok berteriak seperti itu?"


Sembari sesekali menguap dan mengucek-ucek matanya, Dewa berupaya untuk meraih kesadarannya. Setelah kelopak matanya terbuka, yang dapat ia tangkap adalah raut wajah sang istri nampak begitu cemas.


"Luki, Mas. Luki kabur!"


"Apa? Luki kabur?"


Dewa yang sebelumnya masih berada dalam posisi berbaring, terperanjat seketika. Kini ia pun dalam posisi duduk tak jauh dari sisi Mara.


"Lihatlah keluar Mas. Luki kabur!" ucap Mara sembari menunjuk ke arah Luki yang tengah berlarian di tepi danau.


Pandangan mata Dewa mengikuti kemana arah telunjuk sang istri. Benar saja, Luki sudah berlari jauh dari batang pohon yang tadi menjadi tempatnya bersemayam.


"Gawat ini Sayang. Ayo kita segera turun. Bisa-bisa Luki kabur jauh dari tempat ini!"


Dewa yang sebelumnya masih bertelanjang dada, ia raih kaos yang tergeletak di lantai. Buru-buru ia kenakan kaos itu dan kemudian mulai turun dari rumah pohon. Ia begitu khawatir jika Luki sampai kabur jauh. Pasti akan sangat membuatnya kerepotan. Mara pun juga ikut turun dari rumah pohon untuk menyusul sang suami.


"Hei Luki! Mau pergi ke mana kamu?"


"Hei Luk! Jangan berlarian seperti itu. Apa kamu mau jika sampai tercebur ke dalam danau ini?"


Layaknya seorang ayah yang tengah menakut-nakuti sang anak yang sedang asyik berlarian, Dewa juga menggunakan cara seperti itu untuk menghentikan laju kaki kuda putih itu. Sejenak, Luki menghentikan langkah kakinya dan memandang wajah Dewa yang semakin mendekat ke arahnya. Hampir saja Dewa berhasil meraih tali pengikat yang menempel di tubuh Luki, namun tiba-tiba kuda itu kembali berlari-lari.


Suara khas kuda terdengar begitu menggema. Dari raut wajah kuda itu sepertinya ia tengah mempermainkan Dewa.


"Hei! Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu malah berlari lagi? Kamu sedang mempermainkan aku?"


Lagi, tanpa mengenal rasa lelah, Dewa kembali mengejar Luki. Kuda itu justru semakin menambah speed larinya. Mara yang melihat sang suami kesusahan menangkap Luki, juga ikut untuk mengejar kuda putih itu.


"Hei Luki! Hentikan sayang! Jika kamu berlarian seperti ini kamu akan kelelahan!"

__ADS_1


Tak ingin kalah dari teriakan Dewa, Mara juga mencoba meneriakki Luki. Dewa terkesiap tatkala mendengar teriakan sang istri. Lelaki itupun menghentikan langkah kakinya.


"Apa Sayang? Kamu tadi memanggil Luki apa? Sayang?"


Mara menganggukkan kepalanya. "Iya Mas, memang kenapa?"


Dewa menatap netra Mara dengan tatapan yang sulit terbaca. "Aku tidak rela jika posisiku lebih rendah dari kuda itu Sayang. Aku tidak mau!"


Mara terkesiap. "Direndahkan? Maksud kamu apa Mas?"


Dewa sedikit membuang nafas kasar. Lelaki itu bersedekap. "Aku saja tidak pernah kamu panggil sayang, tapi mengapa dengan kuda itu kamu memanggilnya sayang? Bukankah itu artinya posisiku jauh lebih rendah dari kuda?"


Kedua bola mata Mara membulat. Bibirnya terkatup, namun tak selang lama ia pun tergelak. "Ya Tuhan, kamu cemburu sama kuda Mas?"


Dewa mengangguk. "Jelas aku cemburu Sayang. Kamu loh tidak pernah memanggilku dengan sebutan sayang. Tapi kuda itu malah kamu panggil sayang."


Mara mendekat ke arah Dewa. Wanita itu bergelayut manja di lengan sang suami. "Uluhh... Uluuuhhhh... Ternyata suamiku ini cemburu sama kuda?" Mara mengusap lembut pipi Dewa. Dengan sedikit berjinjit, ia mencoba menjangkau bibir Dewa, kemudian mengecupnya. "Jangan cemburu ya Sayang. Lihatlah, Luki menghentikan langkah kakinya!"


Dewa menautkan pandangannya ke arah kuda putih itu. Benar saja, setelah dipanggil sayang oleh sang istri, kuda itu nampak jauh lebih tenang. Ia berhenti di tepi danau.


Mara dan Dewa mendekat ke arah Luki.


"Kuda pintar. Pasti kamu kesepian ya karena sedari tadi ditinggal sendirian oleh temanmu?"


Dengan penuh kelembutan, Mara mengusap kepala Luki. Seakan paham dengan apa yang diucapkan oleh Mara, Luki menganggukkan kepalanya.


"Maafkan temanmu ini ya Luk. Ia kelelahan setelah bermain kuda-kudaan!" ucap Mara sembari terkikik geli. Sedangkan Luki, terlihat begitu manja berada di dekat Mara.


Dewa berdecih. "Dasar kuda genit. Ini pasti modus kamu saja agar bisa dielus-elus sama istriku!"


Luki yang sebelumnya terlihat begitu tenang, seketika mulai berubah aura yang terpancar dari tubuhnya. Kuda itu menatap lekat wajah Dewa dengan sorot mata tajam dan kemudian.....

__ADS_1


"Mas Dewaaaaaaaa...!!!"


Mara berteriak tatkala kuda putih itu mulai melarikan diri lagi.


__ADS_2