
"Pak, tolong berhenti sebentar ya!"
Mara memberikan sebuah instruksi kepada driver taksi online untuk sejenak menepikan mobil yang dikemudikannya di tepi jalan. Kawasan ini nampak begitu ramai oleh para penjual beraneka rupa jajanan. Mulai dari siomay, batagor, cilok, cireng, asinan, es oyen, jus buah, dawet, lotis, dan lain sebagainya. Namun ada dua gerobak dari para penjual itu yang begitu menarik perhatiannya, hingga ia memutuskan untuk sejenak turun di tempat ini.
"Mas, beli lotisnya satu porsi ya. Cabainya delapan, dan tidak perlu pakai kacang," ucap Mara di hadapan sang penjual lotis.
"Baik Neng, ditunggu sebentar ya!"
Penjual lotis itu pun mulai menyiapkan pesanan Mara, sedangkan wanita itu duduk di salah satu kursi yang terbuat dari plastik yang memang disediakan khusus untuk para pelanggan.
Mara mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Melihat banyak sekali jenis jajanan yang ada di tempat ini seakan menimbulkan hasrat ingin mencicipi semuanya jajanan itu dengan segera. Ia bangkit dari posisi duduknya dan mulai menyambangi satu persatu para penjual jajanan yang ada di tempat ini.
Wajah istri seorang pimpinan PT WUW itu nampak berbinar dan berseri-seri tatkala semua jajanan yang ada di sini satu persatu sudah ada di dalam genggaman tangannya. Setelahnya, ia kembali ke tempat penjual lotis di mana pertama kali penjual itulah yang menjadi tujuannya.
"Astaga, Neng ini memborong semua jajanan yang ada di sini?"
Penjual lotis itu memekik heran tatkala melihat di tangan Mara telah tertenteng beberapa kantong plastik berwarna putih.
Mara mengangguk girang. "Iya Mang. Sepertinya jajanan di sini enak-enak semua. Karena bingung memilih yang mana, jadinya saya beli semua."
Si penjual lotis seakan kesusahan menelan salivanya. "Jajanan ini mau Neng habiskan semua?"
Lagi-lagi Mara mengangguk. "Iya Mang. Sepertinya saya juga lapar sekali. Jadi mau saya habiskan semua."
Si penjual lotis itu hanya bisa terpaku dan terbengong-bengong. Dalam benaknya masih bertanya-tanya bagaimana cara gadis di hadapan ini menghabiskan semua makanan yang ia beli.
Kini justru Mara yang menatap penuh rasa heran kepada si penjual lotis yang terbengong-bengong ini. Ia melambai-lambaikan tangannya di hadapan si penjual. "Mang, Mang!"
Si penjual lotis terkesiap. Ia sedikit mengerjabkan mata dan mencoba untuk meraih kesadarannya. "Eh, iya Neng?"
"Jadi berapa Mang?"
"Sepuluh ribu saja Neng!" ucap si penjual lotis sembari menyerahkan kantong plastik berwarna putih ke arah Mara.
Satu lembar uang dua puluh ribuan, Mara berikan ke penjual lotis. "Terimakasih ya Mang. Kembaliannya untuk Mamang saja."
"Terimakasih banyak Neng. Semoga Neng cantik selalu bahagia dan sehat ya!"
"Aamiinn. Terimakasih banyak Mang!"
Mara mengayunkan langkah kakinya untuk kembali ke taksi online yang sebelumnya ia naiki. Mood wanita itu benar-benar terlihat baik, sehingga kebahagiaan nampak terpancar jelas di wajahnya.
Aaaaaahhh... Mengapa aku jadi begitu merindukan mas Dewa? Hmmmmm aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan suamiku.... Sepertinya akan sangat menyenangkan jika aku menghabiskan semua jajanan ini bersama mas Dewa.
***
"Apa yang kamu lakukan di sini Ta?"
Dewa berteriak lantang tatkala melihat ada seorang wanita yang tengah berbaring di atas ranjang pribadinya. Bukan sosok wanita itu yang membuatnya terkejut, namun pakaian yang dikenakannya. Wanita yang tak lain adalah Dita itu nyaris telanjang. Hanya ada bra berwarna merah yang menutupi bagian dadanya yang ia sembunyikan di bawah selimut. Dan mungkin di bagian bawah, wanita itu hanya mengenakan ****** ***** saja.
"Aaaaaahhh mas Dewa, kamu sudah pulang? Bagaimana pekerjaan kamu hari ini? Lancar?"
__ADS_1
Dengan suara lembut, Dita mencoba untuk menyambut kedatangan Dewa, layaknya seorang istri yang tengah menyambut kepulangan sang suami. Ia masih anteng berada di posisinya, berbaring di atas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Jangan banyak bicara kamu Ta! Lekas keluar dari ruanganku!"
Emosi Dewa benar-benar memuncak. Melihat mantan istrinya melakukan hal nekat seperti ini. Masuk ke ruang pribadinya dan nyaris telanjang bulat. Dewa berpikir jika sampai Mara melihat hal seperti ini, pastilah akan salah paham.
Dita tersenyum simpul. Ia menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya dan benar saja, hanya ada bra berwarna merah dan g-string yang membungkus bagian bawahnya. Dita beranjak dari posisi berbaringnya dan bermaksud mendekat ke arah Dewa.
"Mas Dewa....."
"Hentikan langkah kakimu Ta! Jangan coba-coba mendekat ke arahku. Kalau kamu sampai berani menyentuhku. Akan aku seret kamu keluar dari ruangan ini dalam keadaan seperti ini. Lekas kenakan kembali pakaianmu!"
Dengan penuh penekanan, Dewa mencoba untuk memberi peringatan kepada mantan istrinya ini. Ia menganggap bahwa mantan istrinya ini benar-benar sudah tidak waras.
Dita menyeringai. Tidak sedikitpun ia merasa takut dengan apa yang diucapkan oleh Dewa. "Mas Dewa, aku dengar fungsi senjatamu sudah kembali normal. Apakah kamu tidak merindukan bercinta denganku? Seperti saat pertama kita menjadi pengantin baru?"
Tanpa merasa malu sedikitpun, Dita mencoba untuk menggoda sang mantan suami. Dengan bra berwarna merah dan g-string warna senada, ia sangat yakin bahwa mantannya ini akan tergoda, terangsang dan pada akhirnya akan berakhir dengan permainan di atas ranjang.
"Cih! Apa kamu bilang? Bercinta denganmu lagi? Melihat wajahmu saja aku sudah sangat jijik, bagaimana mungkin aku mau bercinta denganmu?" Dari jarak tidak terlalu jauh Dewa menatap lekat wajah wanita gila ini. "Jika dunia ini luluh lantak dan hanya menyisakan seorang wanita sepertimu, aku lebih memilih mati daripada harus kembali kepadamu dan menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
Dita semakin merasa tertantang. Melihat sang mantan yang berupaya mati-matian untuk menolaknya justru semakin membuatnya bersemangat untuk menggoda. Dita mengambil langkah kaki lebar untuk dapat segera menjangkau tubuh Dewa dan....
Grep!!!
Dita berhasil memeluk tubuh Dewa. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menahan tubuh Dewa agar tidak terlepas dari pelukannya.
"Jauhkan tubuh kotormu ini Ta! Jangan macam-macam kamu!"
"Tidak semudah itu Mas. Kamu adalah milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku!"
"Jangan gila kamu Ta. Kamu yang sudah menghancurkan pernikahan kita. Jadi jangan pernah bermimpi untuk bisa kembali kepadaku!"
Dita semakin intens melancarkan aksinya. Ia menciumi leher Dewa, mencoba untuk memberikan rangsangan kepada tubuh mantan suaminya ini. Dita meraih tangan Dewa, menuntunnya untuk menyentuh kedua benda sintal miliknya ini. Namun buru-buru ditepis oleh Dewa.
Ceklek.... Brakkkkk!!!
"Mas Dewa!"
Suara seorang wanita yang tetiba terdengar memenuhi langit-langit ruangan ini, sukses membuat Dewa dan Dita terkejut setengah mati. Keduanya bersamaan mengedarkan pandangan mereka ke arah sumber suara dan terlihat Mara sudah berdiri di depan pintu.
"Sayang?"
Merasakan pelukan Dita sudah sedikit mengendur, Dewa gunakan kesempatan itu untuk lepas dari dekapan Dita. Gegas, Dewa mendekat ke arah sang istri.
"Sayang, i-ini tidak seperti yang kamu lihat. Wanita ini tiba-tiba berada di dalam kamar ini Sayang."
Dewa tetiba diliputi oleh perasaan takut yang luar biasa. Dalam keadaan seperti ini pastilah sang istri sudah berpikir yang tidak-tidak terhadapnya.
"Hiks... hiks... hiks... Mengapa kamu mengatakan hal itu Mas? Bukankah kamu yang tadi memintaku untuk datang menemuimu? Kamu mengatakan merindukanku bukan?"
Entah drama apa lagi yang dimainkan oleh Dita. Wanita itu tetiba mengisakkan tangis seperti seorang wanita yang tengah didzolimi. Tidak hanya sampai di sana. Ia pun memutar balikkan fakta yang sesungguhnya.
Kedua mata Dewa terbelalak sempurna. "Omong kosong apa yang kamu bicarakan Ta? Hentikan semua drama murahanmu itu!" Dewa kembali menatap wajah sang istri yang terlihat begitu shock itu. Gegas, ia menggenggam tangan Mara dengan erat. "Sayang, percayalah kepadaku. Aku sama sekali tidak melakukan hal itu. Wanita ini yang tetiba datang kemari. Sayang percayalah padaku. Aku tidak mungkin mengkhianatimu. Dan tidak mungkin mengingkari apa yang pernah aku janjikan kepadamu."
__ADS_1
Mara bergeming. Ia menepis tangan Dewa dan mengayunkan kakinya untuk lebih dekat dengan Dita. Tepat berada di hadapan Dita, dengan lekat ia melihat wajah mantan istri suaminya ini.
"Dasar wanita *******. Berani-beraninya Anda menentang saya dengan menggoda suami saya. Itu artinya Anda benar-benar telah mengibarkan bendera perang di depan saya!"
Mara meletakkan semua jajanan yang ia bawa di atas sofa. Perlahan, ia membuka kantong plastik yang ia bawa tadi dan mengambil beberapa makanan yang dapat ia jadikan untuk memberi pelajaran wanita ja*lang ini.
Byuuurrr....
"Aaaahhhhh....."
Dita memekik tatkala ada satu bungkus es oyen yang membasahi kepalanya.
"Aaaaaahhh.... Apa-apaan ini?"
Lagi, Dita kembali menjerit tatkala satu bungkus es dawet juga membasahi kepalanya.
"Aaaaaaaaahhh...."
Ketiga kalinya Dita menjerit tatkala ada satu porsi siomay juga menghiasi kepalanya. Cilok, cilor, dan juga jus buah naga secara bergantian menghujani kepala Dita.
"Aaaaaahhh sakit!!!"
Dita berteriak kesakitan tatkala Mara berhasil menjambak rambutnya. Mara yang sebelumnya senantiasa menampakkan wajah yang teduh, kini berubah layaknya seekor singa betina yang tengah mengamuk karena diganggu ketenangan hidupnya.
Dewa hanya bisa terperangah melihat apa yang ada di depannya ini. Kali ini, ia baru mengetahui dengan jelas bagaimana sisi lain sang istri. Istrinya sungguh mengerikan jika sudah dalam posisi dipenuhi oleh amarah seperti ini.
"Rasakan wahai wanita *******! Itu semua pantas untuk Anda dapatkan karena telah berani mengganggu dan menggoda suami saya." Mara semakin kuat menjambak rambut Dita. "Apakah Anda benar-benar tidak laku? Sampai berupaya mati-matian untuk menggoda suami saya dan menginginkannya ia kembali ke sisi Anda, hah?"
"Tutup mulut kamu Ra. Mas Dewa adalah milikku. Selamanya akan menjadi milikku!"
"Dasar wanita gila! Segera punguti pakaian Anda dan segera enyah dari tempat ini! Sebelum saya meminta security untuk menyeret tubuh Anda keluar dalam keadaan telanjang seperti ini!"
Mara melepaskan cengkraman tangannya di rambut Dita. Ia berbalik arah, bermaksud untuk kembali menghampiri sang suami. Namun baru dua langkah ia menjauh dari Dita tiba-tiba.....
Dug!!!!!
"Aaaaaahhh... Mas.... Sakit!!"
Dita menarik lengan tangan Mara dan mendorong tubuh wanita itu dengan kuat, hingga akhirnya Mara terjatuh dalam posisi tengkurap. Ia memekik kesakitan tatkala ada rasa sakit yang begitu luar biasa menjalar di area perutnya.
"Sayang!!!!"
Dewa menghampiri sang istri yang masih dalam posisi tengkurap. Perlahan ia mendudukkan tubuh sang istri di atas lantai. Mara masih saja memegangi perutnya yang terasa begitu nyeri.
"Mas Dewa.... Sakit.....!!!" lirih Mara diiringi dengan darah segar yang mengalir di sela-sela betisnya.
.
.
. bersambung...
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca..
__ADS_1