
"Aaaarggghh Sayang.... Kamu sungguh sangat menggemaskan!"
Lelaki itu memuntahkan cairan kehidupan melalui bagian sensitif sang istri disertai dengan tubuh yang menggelinjang hebat. Berkali-kali ia menghujani Mara dengan kecupan-kecupan lembut di bibir sebagai salah satu ucapan rasa terimakasihnya karena telah dilayani dengan baik oleh istrinya ini.
Nafas keduanya masih terdengar memburu dan terdengar terengah-engah. Usai pergumulan yang,, mereka lakukan di atas sofa, Dewa dan juga Mara masih terlihat begitu anteng dalam posisi mereka masing-masing. Dewa masih dalam posisi memangku sang istri. Sedangkan Mara masih bergelayut manja dengan mengalungkan lengan tangannya di leher sang suami dan mendekapnya erat.
"Masih mau lagi Sayang?"
Sembari mengerlingkan sebelah matanya, Dewa menyeringai nakal menggoda istrinya ini. Sedangkan Mara refleks, menggelengkan kepalanya. Meskipun hanya dua rounde, namun sudah cukup membuat wanita itu merasakan lelah tiada terkira.
"Mas... Aku mau mandi. Badanku rasanya begitu gerah."
Itulah ucapan yang terlontar dari bibir Mara untuk memangkas semua ucapan-ucapan nakal nan sensual yang terlontar dari bibir sang suami. Sedangkan Dewa hanya terkikik geli melihat ekspresi wajah istrinya yang sudah terlihat begitu pias itu.
"Baiklah Sayang... Mari aku mandikan. Akan aku bantu engkau untuk menggosok punggungmu."
Mara terperangah. Mendengar ucapan dimandikan, membuatnya bergidik ngeri. Ia membayangkan bahwa suaminya ini akan kembali menghabisinya di dalam kamar mandi. Buru-buru, ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak Mas. Biarkan aku mandi sendiri. Aku bisa melakukannya sendiri Mas."
Dewa tergelak. "Sayang... Kali ini aku benar-benar hanya akan membantumu untuk membersihkan tubuhmu, tidak ada aktivitas lain selain itu."
"T-tapi Mas..."
"Sssstttt... Sudah. Aku tidak menerima sebuah penolakan Sayang. Ayo kita ke kamar mandi!"
Mara menyerah. Tidak ada gunanya ia mendebat perkataan sang suami karena yang ada, ia akan kalah telak menghadapi ucapan Dewa ini. Ia mulai turun dari pangkuan Dewa dan dengan gerak cepat, lelaki itu kembali membopong tubuh sang istri untuk ia bawa ke dalam kamar mandi.
***
Sang surya kembali menampakkan wajahnya. Diiringi dengan lembut buaian angin pagi dan juga burung-burung camar yang mulai menghias langit ini, seakan menambah semangat dalam mengawali aktivitas mereka pagi ini.
"Sayang, sudah siap kembali ke Bogor?"
Setelah memastikan semua barang tidak ada yang tertinggal. Dewa menghampiri sang istri yang masih berkutat dengan koper kecil yang akan ia bawa. Wanita itupun mengangguk. "Sudah Mas. Semua barang-barang sudah masuk ke dalam koper ini."
"Syukurlah kalau begitu Sayang. Ya sudah sekarang kita check out yuk. Biar bisa segera berangkat!"
"Mas...?"
Dewa yang baru saja akan melenggang pergi meninggalkan kamar ini, ia hentikan sejenak langkah kakinya. "Ya Sayang? Ada apa?"
"Sebelum kembali ke Bogor, boleh jika kita mampir terlebih dahulu ke makam ayah dan juga ibu?"
__ADS_1
Dewa mengulum sedikit senyumnya. Ia acak sedikit rambut Mara dengan gemas. "Pasti boleh Sayang. Aku malah berencana ingin ke makam ayah dan ibu dulu sebelum berangkat. Karena bagaimanapun juga, kita harus berpamitan kepada beliau terlebih dahulu."
"Terimakasih banyak Mas. Terimakasih!"
"Sayang... Kamu tidak perlu berterimakasih. Karena ini semua sudah menjadi kewajibanku. Ya sudah, mari kita berangkat."
Dengan menggeret koper di tangan masing-masing, Dewa dan juga Mara mulai meninggalkan kamar ini. Mereka bermaksud untuk ke makam terlebih dahulu sebelum berangkat ke Bogor.
"Bapak!"
Teriakan seseorang yang tetiba terdengar di pelataran resort, membuat Dewa dan juga Mara sontak menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan. Terlihat sang penjual bubur ayam beserta anak dan juga istrinya menghampirinya Dewa yang tengah akan membuka pintu mobil.
"Pak Gunawan?"
Gunawan dengan langkah tergesa mendekat ke arah Dewa. Tanpa banyak berpikir, lelaki itu mulai bersimpuh di telapak kaki Dewa. Dan inilah yang membuat Dewa melonjak seketika. "Pak, jangan seperti ini Pak. Jika ada orang yang melihat kita, saya merasa tidak enak."
"Terimakasih banyak untuk semua yang telah Bapak berikan kepada anak-anak saya. Saya sungguh berutang budi kepada Bapak!'
Dewa mengulas sedikit senyumnya. "Pak, Bapak tidak perlu berlebihan seperti ini. Saya benar-benar ikhlas memberikan sepeda-sepeda itu untuk anak-anak Bapak. Jadi Bapak tidak perlu bersimpuh di kaki saya ini."
Dewa sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia pegang bahu milik Gunawan. Dan setelah itu ia bantu Gunawan untuk mengambil posisi berdiri. "Tapi semua pemberian Bapak terlampau besar. Saya sampai tidak tahu harus mengatakan apa?"
"Pak Gunawan tidak perlu melakukan apapun. Bapak hanya perlu bersemangat untuk menafkahi istri dan anak-anak Bapak. Semoga dengan sepeda yang saya berikan, sedikit mengurangi beban pikiran Bapak sehingga lebih semangat dalam mencari nafkah untuk keluarga Bapak."
Usai Gunawan berbincang-bincang dengan Dewa. Kini giliran tiga anak Gunawan yang mendekati Dewa. Ketiga anak kecil itu bersamaan memeluk tubuh Dewa. Mengingat postur tubuh Dewa yang tegap dan tinggi, sehingga membuat anak-anak Gunawan hanya bisa menjangkau kaki Dewa.
"Paman... Terimakasih banyak untuk sepedanya. Kami sungguh sangat senang!" ucap si sulung mewakili adik-adiknya.
"Iya Paman... Sepeda pemberian Paman bagus sekali. Kami jadi bisa bermain bersama teman-teman kami," timpal anak kedua Gunawan.
Hati Dewa menghangat. Hidup yang ia jalani yang sama sekali tidak pernah tersentuh oleh suasana seperti ini, tetiba membuatnya merasakan keharuan yang begitu menyeruak dalam dada. Ternyata pertemuannya dengan Mara, sukses membuatnya menjadi pribadi yang jauh lebih peka terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya.
Dewa sedikit berjongkok agar bisa menjangkau tubuh anak-anak kecil Gunawan ini. Dewa menciumi ketiga anak itu secara bergantian. "Kembali kasih, Sayang. Semoga apa yang Paman berikan untuk kalian bisa membuat kalian berbahagia ya. Dan ingat, kalian harus lebih semangat dalam belajar, agar kelak bisa membahagiakan Bapak dan juga ibu!"
Anak lelaki yang merupakan si sulung menganggukkan kepalanya. "Iya Paman. Kami pasti akan rajin belajar. Agar nanti kami bisa menjadi seperti Paman, yang pakaiannya bagus-bagus dan bisa menolong orang banyak."
Dewa mengulas sedikit senyumnya. "Aamiinn... Semoga apa yang menjadi cita-cita kalian dapat terwujud ya Sayang." Dewa kembali mengacak rambut anak-anak Gunawan ini dengan gemas. "Ya sudah, kalau begitu Paman pamit untuk kembali ke Bogor ya. Doakan agar Paman dan istri Paman ini selamat sampai tujuan."
Ketiga anak Gunawan mengangguk bersamaan. "Iya Paman. Semoga Paman selalu sehat dan selamat."
Dewa kembali beranjak dari posisi jongkoknya. "Kalau begitu saya pamit ya Pak. Terimakasih banyak atas bubur ayam yang pak Gunawan berikan untuk saya. Sungguh, karena bubur ayam dari Bapak lah yang membuat istri saya bisa langsung sehat seperti sedia kala."
Gunawan hanya bisa mengangguk pelan sembari menyeka air matanya. "Bubur ayam yang saya berikan tidak sebanding dengan apa yang sudah Bapak berikan untuk anak-anak saya. Terimakasih banyak Pak, terimakasih. Semoga Tuhan senantiasa memberikan keberkahan untuk kehidupan Bapak dan juga keluarga."
__ADS_1
"Aamiin..." ucap Dewa dan Mara mengaminkan doa dari penjual bubur ayam ini. "Kalau begitu saya pamit ya Pak. Jika ada kesempatan ke Jogja lagi, pasti saya akan kembali mampir ke tempat Bapak."
"Pintu rumah saya akan senantiasa terbuka untuk Pak....."
Gunawan menjeda ucapannya. Karena sampai saat ini ia tidak tahu siapa nama orang baik yang telah membelikan sepeda untuk anak-anaknya ini.
"Saya Dewa, Pak. Dan ini istri saya, Mara!" ucap Dewa memperkenalkan dirinya dan juga sang istri.
"Pak Dewa dan juga bu Mara... Selamat menempuh perjalanan, semoga selamat sampai kota tujuan. Dan suatu saat nanti bisa kembali ke kota ini!"
"Aamiin.... Semoga ya Pak!"
Setelah dirasa cukup dalam berbincang-bincang dengan Gunawan, pada akhirnya Dewa dan juga Mara mulai masuk ke dalam mobil. Mereka bersiap untuk kembali ke kota Bogor untuk menjalani hari-hari baru mereka sebagai sepasang suami istri.
Dewa menyalakan mesin mobilnya. Ia injak pedal gas dan mobil yang ia kemudikan pun mulai melaju perlahan meninggalkan area pelataran resort ini. Tak lupa lambaian tangan dari Gunawan dan keluarganya menjadi akhir cerita bulan madu yang ia ukir di kota ini bersama sang istri.
***
"Ibu... Ayah.... Mara pamit. Mulai hari ini Mara sudah bergelar sebagai seorang istri. Itu artinya Mara harus mengikuti ke mana suami Mara tinggal."
Berjongkok di antara pusara ayah dan juga ibunya, Mara berpamitan kepada dua orang yang merupakan orang yang paling ia cintai dalam hidupnya. Dua orang yang sejak dulu selalu memberikan limpahan kasih sayang untuknya yang kini raga keduanya sudah tidak mampu untuk ia sentuh dengan kedua telapak tangannya.
Mara sesenggukan si depan pusara Baskara dan Paramitha. Rupa-rupanya dengan seperti ini ingatannya langsung terpusat pada masa-masa di mana ia masih bisa hidup bahagia bersama kedua orang tuanya.
"Sssstttt... Sayang... Sudah ya jangan menangis dan bersedih lagi. Jika kamu seperti ini, ayah dan juga ibu pasti akan semakin sedih. Kamu yang kuat ya Sayang. Jangan khawatir ada aku yang akan menggantikan posisi ayah dan juga ibu," ucap Dewa sembari menarik tubuh sang istri untuk ia bawa ke dalam pelukannya dan ia usap rambut sang istri dengan lembut.
Mara masih bergeming. Hatinya terlampau rapuh untuk menerima kata kehilangan dalam kamus hidupnya. Terlebih kehilangan kedua orang tua yang paling ia cintai.
Dewa menatap nanar pusara milik kedua mertuanya ini. "Ayah, Ibu... Mulai saat ini putri ayah dan juga ibu menjadi tanggung jawab Dewa. Ayah dan Ibu tidak perlu risau karena Dewa akan memberikan seluruh cinta dan kasih sayang yang Dewa miliki untuk putri ayah dan juga ibu. Dewa berjanji, akan mencintai putri ayah dan ibu seumur hidup Dewa. Dan Dewa pun berjanji akan melindungi putri Ayah dan juga ibu, semampu Dewa. Ayah dan ibu yang tenang di alam sana ya..."
Dewa menyeka air matanya. "Terimakasih banyak sudah menghadirkan sosok wanita cantik dan begitu istimewa seperti istri Dewa ini, Yah, Bu... Mara merupakan wanita paling istimewa yang pernah Dewa temui. Maka dari itu Dewa akan memperlakukan Mara dengan istimewa pula."
Angin tetiba berhembus kencang. Membuat kelopak-kelopak bunga kamboja yang memayungi pusara Baskara dan Paramitha berjatuhan. Dan angin itu seakan menerpa wajah Dewa dan juga Mara dengan kuat. Dewa dan Mara yang sebelumnya menundukkan wajahnya, kini sama-sama mendongak. Pandangan mata keduanya langsung tertuju di bagian sudut makam dan.....
"Ayah.... Ibu...."
Dua sosok tak kasat mata itu hanya tersenyum sembari mengangguk ke arah Dewa dan juga Mara. Mungkin sebagai isyarat bahwa keduanya percaya kepada Dewa, bahwa Dewa bisa menjadi sayap pelindung untuk putri semata wayang mereka.
.
.
. bersambung...
__ADS_1