Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 84 : Nyaman


__ADS_3


"Kira-kira siapa ya Mas, orang baik yang telah membelikan sepeda untuk anak-anak kita ini?"


Sambil mengamati anak-anak yang tengah mencoba sepeda baru mereka, istri Gunawan masih begitu keheranan akan rezeki yang tiba-tiba datang untuk keluarganya. Wanita itu nampaknya masih sangat penasaran siapa pengirim sepeda ini.


"Aku juga tidak tahu Dek. Padahal tidak ada seorang pun yang tahu bahwa anak-anak kita ini menginginkannya sepeda baru kecuali...."


Ucapan Gunawan tetiba terpangkas saat tetiba ingatannya tertuju pada lelaki berpakaian piyama yang tadi pagi bertandang ke rumahnya.


Dahi istri Gunawan mengerut. "Kecuali apa Mas?"


"Kecuali Bapak tampan yang tadi membeli bubur kita Dek. Tadi Bapak itu mendengar saat anak-anak kita membicarakan tentang sepeda baru."


"Jangan-jangan memang Bapak itu Mas? Tapi di mana kita bisa menemui Bapak itu Mas? Apakah Mas tahu di mana tempat tinggal Bapak itu?"


Gunawan terlihat sedikit berpikir. "Sepertinya beliau menginap di resort yang berada tidak jauh dari rumah kita ini Dek."


"Tapi bagaimana bisa kita menemukan Bapak itu Mas? Bahkan kita tidak tahu nama beliau."


"Coba besok setelah aku keliling, aku mampir ke resort itu Dek. Barangkali aku bisa bertemu dengan Bapak itu."


"Itu jauh lebih baik Mas. Karena bagaimanapun juga kita harus berterimakasih kepada beliau. Karena kebaikan dari beliau lah yang membuat anak-anak kita bahagia seperti itu Mas," ucap sang istri sembari menunjuk ke arah anak-anak yang terlihat begitu bahagia saat mencoba sepeda baru mereka.


Gunawan mengangguk. "Iya Dek, besok akan aku coba untuk ke resort itu."


***


"Aaaarggghh... Ini semua gara-gara kalian. Aku sungguh menyesal telah menguping aktivitas kalian di dalam kamar itu!"

__ADS_1


Krisna berteriak frustrasi di bawah guyuran air shower. Ia sengaja membasahi tubuhnya untuk mendinginkan segala rasa panas akibat kobaran hasrat yang merajai otak dan tubuhnya. Suara desahan yang sempat ia dengar dari kamar milik sang bos sukses membuat miliknya ikut menegang. Jika sudah seperti ini mau tidak mau harus ia tuntaskan.


"Aaaarggghh... Jika aku tidak memiliki niat baik untuk memperbaiki akhlakku, pasti aku sudah mencari wanita-wanita cantik untuk bisa aku jadikan pelampiasan. Namun aku sudah berjanji pada oma Widuri untuk menghilangkan semua akhlak burukku itu dan hanya dengan cara seperti inilah aku bisa menuntaskan semuanya. Aargggghh apa kata dunia? Seorang Krisna bermain solo menggunakan sabun? Astaga... Sungguh memalukan!"


Lelaki itu terlihat uring-uringan sendiri sembari memegang benda pusakanya. Sedari tadi ia berupaya untuk konsentrasi penuh dengan apa yang ia kerjakan. Sungguh, bermain solo seperti ini jauh lebih banyak menguras waktu, tenaga dan pikiran. Hampir setengah jam lebih lelaki itu berfantasi sembari memijit-mijit miliknya namun sia-sia, karena selama itu pula ia tetap tidak bisa mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya.


Namun bukan Krisna namanya jika ia menyerah dalam keadaan yang telah berhasil mengombang-ambingkannya. Setelah hampir satu jam berada di bawah guyuran air shower, dengan mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya akhirnya ia sampai pada pelepasan itu.


"Haaaaahhh..... Akhirnya....!" Krisna sedikit menjambak rambutnya kasar. "Ya Tuhan, ada saja godaan yang datang tatkala aku berniat untuk memperbaiki akhlakku."


Krisna membilas sekali lagi tubuhnya. Setelah dirasa bersih, ia pun mengambil bathrobe dan kemudian ia kenakan. Setelahnya, lelaki itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tertidur pulas karena kelelahan.


***


Malam mulai datang menjelang. Raja siang yang telah lelah berjaga seharian, kini mulai turun dari singgasananya. Sinarnya yang terasa terik di waktu siang kini tergantikan oleh cahaya lembut sang dewi malam. Cahaya lembutnya terpantul sempurna di jendela kamar yang ditempati oleh Dewa dan Mara seakan semakin menambah suasana romantis kian terasa.


Mara sudah memejamkan mata. Menyulam mimpi-mimpi di alam bawah sadarnya. Seharian istri dari Rangga Danabrata Dewandaru itu hanya bisa tergolek lemas di atas pembaringan. Tubuhnya seakan kian melemah. Dan tidak ada yang dapat ia lakukan selain hanya bermalas-malasan di atas tempat tidur.


Sembari menyenderkan punggungnya di head board ranjang, lelaki itu sesekali nampak menguap. Sebagai pertanda bahwa ia juga telah didera oleh rasa kantuk yang teramat sangat. Perlahan tangan Dewa meraih jemari Mara, kemudian ia kecup buku-buku jemari sang istri dengan intens.


"Sayang, maafkan aku atas semua perlakuanku yang membuatmu menderita seperti ini. Cepatlah sembuh. Aku benar-benar risau akan keadaanmu ini Sayang."


Mata Dewa terasa semakin berat. Nampaknya ia sudah tidak bisa untuk menahan rasa kantuknya. Hingga pada akhirnya, lelaki itu ikut terlelap dalam posisi masih bersandar di head board ranjang.


Hembusan angin khas pantai tetiba masuk melalui jendela kamar yang ternyata belum sempat ditutup oleh Dewa. Angin itu membelai tubuh Mara yang dan seketika membuat wanita itu menggeliat. Kelopak matanya terbuka dan terlihat jemarinya digenggam erat oleh suaminya ini. Ia dongakkan sedikit kepalanya, dan senyum manis pun terbit di bibirnya.


"Kamu pasti kelelahan dalam mengurusku ya Mas? Sampai-sampai kamu tertidur dalam posisi seperti ini?"


Mara mengulurkan tangannya. Dengan lembut, ia menepuk-nepuk pipi suaminya ini. "Mas Dewa. Bangun Mas!"

__ADS_1


Merasakan ada sesuatu yang menepuk-nepuk pipinya, sontak membuat kelopak mata Dewa terbuka. "Sayang, kamu bangun? Kamu mau apa Sayang? Biar aku ambilkan."


Mara tersenyum simpul. "Aku tidak mau apa-apa Mas. Tidurlah dalam posisi yang benar. Jika seperti itu punggung kamu akan terasa sakit."


"Tapi bagaimana dengan kamu Sayang? Aku harus mengompres pelipismu. Aku takut demammu semakin tinggi."


"Tidak Mas, aku pasti akan segera sembuh. Sekarang kamu juga beristirahat ya Mas. Istirahatkan tubuhmu sehingga kamu tidak ikut sakit."


"Baiklah Sayang, aku akan tidur."


"Tapi sebelumnya, bisakah kamu menutup jendela Mas? Rasanya dingin sekali udara malam ini."


"Astaga, aku benar-benar lupa kalau belum menutup jendela Sayang."


Dewa turun dari ranjang. Ia arahkan kakinya untuk menuju jendela kamar. Setelah ia pastikan tertutup dengan sempurna, gegas ia kembali naik di atas ranjang.


"Bisa peluk aku Mas? Aku ingin tidur sembari dipeluk oleh kamu!" ucap Mara menyampaikan maksud dan tujuannya.


Dewa tergelak melihat wajah sang istri yang semakin terlihat begitu menggemaskan tatkala bersikap manja seperti ini. "Tentu bisa Sayang. Aku akan memelukmu sampai pagi."


"Terimakasih banyak Mas!"


Pada akhirnya sepasang suami istri itu mulai memejamkan mata sambil berpelukan. Pelukan keduanya yang begitu erat seperti mempertegas bahwa mereka tidak ingin saling berjauhan. Dekapan sang suami seolah menjadi tempat paling nyaman untuk Mara. Nyatanya, wanita itu kembali larut dalam buaian mimpi-mimpinya.


.


.


. bersambung....

__ADS_1


Selamat hari raya idul Adha bagi para pembaca yang sedang merayakan... 😘😘😘


__ADS_2