
"Aaaarggghh... Sayang...... Eempphhhhh....."
"Mas Dewa..... Aaaaaaahhhhh....."
Dengan posisi do*ggy style, tubuh Dewa menggelinjang dan bergetar hebat tatkala orgas*me itu berhasil ia raih. Dengan posisi seperti ini, lelaki itu dapat merasakan sensasi penetrasi maksimal di dalam tubuh Mara untuk meledakkan benih-benih kehidupan ke rahim istrinya ini.
Rupa-rupanya kenikmatan yang ia raih bersamaan dengan kenikmatan yang diraih oleh Mara. Yang semakin membuat miliknya serasa dijepit habis-habisan oleh otot-otot yang berada di dalam milik sang istri. Hal itulah yang membuat Dewa merasakan sebuah sensasi kenikmatan yang tidak ingin ia akhiri sama sekali.
Setelah singkong bakar miliknya sedikit melemas, gegas Dewa sedikit menarik tubuhnya, hingga kini posisi keduanya tidak saling menempel lagi. Ia balik tubuh Mara dan bertatap netra secara langsung dengan istrinya ini. Dengan lembut, ia mengecup bibir tipis Mara. Dengan sebuah senyum manis yang terlukis di bibirnya. "Terimakasih Sayang. A-Aku sungguh bahagia mendapatkan ini semua!"
Hanya dijawab dengan seutas senyum pula, Mara juga membelai pipi Dewa dengan penuh kelembutan. "Sama-sama Mas. Aku juga...."
Krucuk... Krucuk.... Krucuk....
Ucapan Mara terpangkas tatkala. cacing-cacing diperutnya mulai menabuhkan genderang perang. Wanita itu hanya tergelak. Malu karena ketahuan sedari tadi menahan rasa laparnya.
"Aku lapar Mas!"
Sudah tidak dapat menahan lapar di dalam perutnya, pada akhirnya Mara memilih untuk mengutarakannya kepada sang suami. Ia tidak ingin kejadian tempo hari terjadi lagi, dimana ia memaksakan diri untuk menahan lapar namun pada akhirnya justru sakit yang menimpanya.
Dewa terkekeh geli. Buru-buru ia memeluk tubuh Mara yang masih polos itu dengan erat. Ia hujani pucuk kepala Mara dengan kecupan-kecupan lembut dan penuh cinta. "Kita lanjutkan acara memasak kita ya Sayang. Sebelumnya kamu bersih-bersih dahulu. Setelah itu, kamu membuat tumis kangkungnya dan aku menggoreng ayamnya."
Mara hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak mau Mas!"
Dewa sedikit mengurai pelukannya. "Loh, kok tidak mau? Kamu tidak mau mandi dulu Sayang? Lengket semua loh tubuh kamu!"
"Gendong!"
Dengan memasang wajah manja, Mara mulai mengutarakan maksud dan tujuannya. Rupa-rupanya wanita itu ingin digendong sampai ke kamar mandi.
Dewa kembali tergelak. "Uluh....Uluhh... Manja sekali istriku ini!" Dewa mengambil posisi jongkok dan memunggungi tubuh Mara. "Naiklah ke punggungku Sayang. Aku gendong kamu sampai kamar mandi!"
Gegas, Mara mulai naik ke punggung Dewa. Perlahan, Dewa mulai melangkahkan kakinya untuk menuju kamar mandi dengan menggendong tubuh sang istri. Seakan tidak ingin jatuh dari gendongan Dewa, Mara mengalungkan lengan tangannya di leher Dewa sembari ia letakkan kepalanya di ceruk leher suaminya ini.
"Sayang... "
__ADS_1
"Ya Mas?"
"Jangan salahkan aku lho ya!"
"Salahkan perihal apa Mas?"
"Kedua bukit kembar milikmu rasa-rasanya menekan punggungku. Aku jadi ingin lagi! Kita lanjutkan lagi di kamar mandi ya Sayang!"
"Aaaaaaaa Mas Dewaaaaaaaa... Aku lapar!!!!"
"Hahahaha haahaahaa!"
***
"Mas... Sudah dong... Jangan melihatku seperti itu!"
Mara yang tengah berkutat dengan tumis kangkung yang berada di wajan, sesekali terlihat tersipu malu. Pasalnya, Dewa masih saja menatapnya dengan lekat bak anak panah yang melesat dari busurnya. Menancap lekat di jantung hatinya dan hanya menyisakan debaran yang begitu menggelora. Meskipun Mara sudah terbiasa ditatap intens seperti ini oleh sang suami, namun tetap saja ia merasa kikuk yang luar biasa.
Dewa menyeringai sembari tersenyum simpul. Ia masukkan ayam potong yang telah dilumuri oleh bumbu ke dalam penggorengan. Membuat wajah sang istri yang malu-malu seperti ini sungguh membuatnya merasakan gemas yang luar biasa.
"Sayang..."
Mara menyendok sedikit tumis kangkung yang baru saja ia masak menggunakan sendok kecil untuk ia cicipi. Sesekali ia terlihat mengangguk-anggukkan kepala sebagai pertanda bahwa apa yang menjadi masakannya sudah pas di lidah. "Ya Mas? Ada apa?"
"Baru beberapa hari kita menjalani kehidupan sebagai suami istri, namun mengapa kamu semakin terlihat pandai dalam melayaniku?"
"Pandai bagaimana Mas? Yang menjadi ukuran pandai menurut kamu itu yang seperti apa?"
"Ya, kamu semakin lihai dalam memanjakanku Sayang."
Mara menggeser tubuhnya hingga kini dalam posisi berhadapan langsung dengan Dewa. Ia cubit kecil hidung mancung milik Dewa dengan gemas. "Aku hanya mengikuti naluri yang ada. Jadi aku rasa tidak perlu belajar dari manapun."
Dahi Dewa sedikit mengerut. "Sungguh?"
"Ya, menang seperti itu kenyataannya Mas. Lagipula aku belajar dengan siapa tentang hal itu? Kamu tidak pernah melihatku berinteraksi dengan siapapun bukan selain denganmu?"
Dewa mengulas sedikit senyumnya. Ia dekatkan wajahnya ke wajah Mara. Ia tempelkan keningnya di kening sang istri. "Tidak pernah aku sangka jika akan seindah ini Sayang. Aku kira, aku harus berupaya keras untuk mengajarimu, tapi ternyata kamu jauh lebih sensual dari apa yang aku bayangkan. Kamu benar-benar pandai dalam menyenangkan batinku Sayang. Terimakasih!"
__ADS_1
Mara tergelak lirih. "Sudah, tidak perlu dibahas Mas. Ingat ayam yang sedang kamu goreng. Nanti gosong!"
Dewa kembali fokus dengan ayam gorengnya. Sedangkan tumis kangkung yang dibuat oleh Mara telah matang dan ia hidangkan di sebuah piring ceper. Setelahnya ia bawa ke meja makan. Tak selang lama, ayam goreng yang dibuat oleh Dewa juga telah matang. Lelaki itupun menyusul sang istri yang sudah duduk anteng di kursi makan.
"Stop Sayang!"
Mara yang bermaksud mengambil nasi, sayur dan juga lauk untuk Dewa tetiba menghentikan aktivitasnya. "Ada apa lagi sih Mas? Aku loh, ingin mengambilkannya untukmu!"
"Biarkan aku yang mengambilkannya untukmu Sayang. Aku suapi kamu!"
Dewa mengambil piring yang sebelumnya berada di genggaman tangan Mara. Ia mengisi piring itu dengan hidangan yang ada di hadapannya dan mulai melakukan ritualnya untuk menyuapi sang istri.
"Hmmmmm.... Ayam goreng buatan kamu enak sekali Mas!" ucap Mara tatkala ayam goreng buatan sang suami mulai memanjakan indera pengecapnya.
"Itu tidak diragukan lagi, Sayang. Hanya memasak seperti ini, aku salah satu jagonya. Jadi kamu harus banyak-banyak bersyukur karena memiliki seorang suami dengan porsi lengkap seperti aku ini!"
Mara berdecak lirih. "Menyesal aku memujimu Mas, jika hanya akan memunculkan jiwa narsismu!"
Dewa tergelak sembari ikut memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Hahahaha bercanda Sayang. Oh iya Sayang, kalau boleh tahu apa yang menjadi mimpi-mimpimu selama ini?"
Pandangan mata Mara sedikit menerawang. Ia kembali memutar memory otaknya saat-saat masih berada di bangku SMK. "Aku ingin memiliki toko kue Mas!"
"Toko kue?"
Mara mengangguk. "Iya, aku ingin memiliki toko kue. Aku ingin mewujudkan apa yang menjadi keinginan ibu. Karena dulu beliau ingin sekali memiliki toko kue."
"Kamu menguasai bidang itu Sayang?"
"Sewaktu SMK, aku mengambil jurusan tata boga, Mas. Jadi sedikit banyak aku tahu ilmunya. Dan keinginan ibu itu pulalah yang membuatku mengambil jurusan itu."
Dewa hanya tersenyum simpul.
Ternyata sesederhana itu apa yang menjadi mimpi-mimpimu Sayang. Aku berjanji, akan mendukung apapun yang menjadi keinginanmu dan juga ibu. Semoga melalui kehadiranku, mimpi-mimpi itu dapat kamu raih.
.
.
__ADS_1
. bersambung...