
"Selamat ya Bapak, Ibu, calon anak Anda berjenis kelamin laki-laki, dan kondisinya juga sangat sehat."
Di poli kandungan sebuah rumah sakit yang berada di kota ini, Mara nampak berbaring di atas ranjang khas rumah sakit untuk kembali menjalani pemeriksaan rutin setiap bulan. Kali ini usia kandungan Mara genap memasuki usia delapan bulan dan di usia itu mereka sudah bisa melihat jenis kelamin buah cinta mereka.
Dengan bantuan alat USG, calon papa mama itu menatap takjub sebuah monitor yang berada di hadapan mereka. Dari monitor itu mereka bisa melihat dengan jelas sosok malaikat kecil yang sedang bertumbuh di dalam rahim Mara.
"Sayang, lihatlah! Ini anak kita!"
Senyum bahagia tiada henti terbit di bibir Dewa tatkala melihat sosok malaikat kecil itu bergerak-gerak di dalam rahim sang istri. Sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan di mana di dalam rahim seorang wanita bisa menjadi tempat bertumbuh sosok manusia kecil yang kelak akan menjadi generasi penerus manusia di bumi.
"Mas, dia mirip sekali denganmu. Lihatlah, mata, hidung dan juga bibirnya persis dengan milikmu!"
USG 4D, merupakan salah satu alat yang dimiliki oleh rumah sakit di mana dengan alat itu, calon orang tua bisa dengan jelas melihat dengan detail apa yang ada di dalam rahim seorang wanita. Dari bentuk wajah dan yang lainnya, seakan nampak begitu jelas. Dan melalui alat inilah Mara bisa menyimpulkan bahwa wajah anak lelakinya ini mirip sekali dengan sang suami.
"Aaaahhh... Maafkan aku Sayang, selama sembilan bulan kamu yang kesusahan membawa putra kita di dalam perutmu, malah wajah anak kita justru mirip sekali denganku. Aku merasa teramat bersalah Sayang. Karena kamu tidak memiliki bagian di dalam tubuh putra kita. Bahkan jenis kelaminnya pun sama denganku."
Mara berdecak lirih. Ucapan suaminya ini sungguh sangat membuatnya geli. "Kamu bicara apa sih Mas. Mau mirip aku atau kamu tahu tidak masalah bagiku. Yang penting bukan mirip tetangga."
Dewa tergelak. Buru-buru ia kecup kening Mara dengan intens di depan dokter Sastri yang merupakan dokter kandungan yang sudah sejak pertama memantau perkembangan janin yang berada di dalam rahim Mara dan ikut menemani Mara dalam menjaga kesehatan kandungannya.
"Tapi tenang saja Sayang, setelah putra kita ini lahir, kita langsung program kehamilan yang kedua saja ya. Siapa tahu anak kita yang kedua berjenis kelamin perempuan dan pastinya wajah yang ia miliki akan mirip denganmu."
"Mas...!"
Kedua netra Mara membulat sempurna, tidak menyangka jika sang suami sudah membahas perihal kehamilan kedua di saat anak pertamanya ini masih berada di dalam rahimnya.
__ADS_1
Dokter Sastri juga ikut tergelak. Sungguh sebuah potret kebahagiaan calon orang tua yang nampak jelas di depan matanya yang membuat siapapun berbahagia. "Nah bu Mara, apakah aktivitas jalan pagi masih rutin dilakukan?"
"Iya Dok, setiap pagi suami saya ini selalu menemani saya jalan pagi."
"Syukurlah kalau begitu. Saya harap pak Dewa juga bisa menjadi suami siaga yang selalu siap siaga dengan penyambutan kelahiran putra Bapak, dan Ibu."
"Itu sudah pasti Dok, saya ini sosok seorang suami yang sempurna jadi saya akan selalu siaga untuk menyambut kelahiran putra saya."
"Mas, kok malah jadi narsis seperti itu?" Mara mencubit lengan Dewa karena ke narsisannya muncul seketika. Ia pun menautkan pandangannya ke arah dokter Sastri dengan raut wajah yang tidak enak hati. "Maaf atas kenarsisan suami saya ini ya Dok."
Dokter Sastri hanya mengulum senyum simpul di bibirnya sembari mengangguk pelan. "Tidak mengapa Bu. Yang terpenting mulai saat ini ibu Mara harus menjalani masa-masa kehamilan ini dengan bahagia dan hindari stres. Karena dengan rasa bahagia itulah yang bisa membuat perkembangan putra Ibu dengan baik."
"Iya Dok. Sejauh ini saya melewati masa-masa kehamilan ini dengan bahagia dan tidak stress sama sekali." Mara menoleh ke arah sang suami dan menggenggam tangannya. "Itu semua juga tidak lepas dari peran suami saya yang selalu membuat saya bahagia."
***
Surabaya...
"Apa-apaan ini Mas? Mengapa kamu bisa tertipu oleh investasi bodong seperti ini?"
Dengan raut wajah memerah yang dipenuhi oleh amarah, terlihat seorang wanita berkali-kali meneriakki sang suami yang tengah duduk di atas sofa dengan menyenderkan punggungnya di bahu sofa itu sembari memijit-mijit pelipisnya.
"Aku juga tidak tahu jika akan seperti ini kejadiannya Dir! Herman adalah salah satu teman terbaikku dan tidak aku sangka jika ia akan membawa lari uang kita!"
"Kamu benar-benar bo*doh Mas. Semudah itu kamu bisa ditipu oleh teman kamu sendiri!"
__ADS_1
Wisnu sedikit mendongakkan kepalanya dan menatap lekat wajah istrinya ini. "Jaga ucapanmu Dir, ini semua juga karena kesalahanmu. Kalau saja kamu tidak mati-matian memaksaku untuk berinvestasi ke perusahaan Frozen food milik Herman pasti kita tidak akan kehilangan uang kita."
"Bisa-bisanya kamu menyalahkan aku Mas. Jika kita tidak memutar otak untuk berinvestasi lalu bagaimana caranya kita bertahan hidup? Lihatlah usaha properti milikmu juga sudah satu tahun belakangan ini tidak menghasilkan apa-apa."
Wisnu membuang nafas sedikit kasar. Benar-benar sebuah ujian hidup yang begitu berat karena ia hampir kehilangan semua yang menjadi miliknya. "Sudahlah, jangan terus menerus kamu menyalahkan aku. Saat ini kita harus berpikir bagaimana caranya kita untuk bisa membuat keadaan kita kembali seperti semula."
Kekalutan juga nampak jelas di wajah Dira. Hidup dalam kekurangan sungguh sebuah mimpi buruk. Ia tidak bisa jika harus hidup dalam kemiskinan.
"Bagaimana jika kita kembali ke Bogor? Kamu kembali ke perusahaan milik oma. Dan mengelola perusahaannya?"
Sebuah ide cemerlang tiba-tiba muncul di otak Dira. Ia yakin jika kembali ke Bogor kehidupannya pasti akan jauh lebih terjamin.
"Omong kosong macam apa itu Dir? Jika kita kembali ke Bogor, itu sama saja menjadikanku sebagai lelaki tak tahu malu. Kamu ingat bukan jika dulu kamu yang menentangku untuk mengurus perusahaan Oma ketika sedang pailit dan memaksaku untuk pindah ke Surabaya? Dan kini setelah perusahaan oma kembali berjaya dibawah pimpinan Dewa, kamu memintaku untuk kembali masuk ke dalam perusahaan itu? Sungguh tidak tahu malu. Itu sama artinya aku hanya mau enaknya saja."
"Aaaarggghh lupakan rasa malumu itu Mas. Yang harus kamu ingat, kamu masih cucu oma dan kamu juga memiliki bagian dari perusahaan milik oma itu."
"Bagian apa yang kamu maksud? Perusahaan oma sepenuhnya akan jatuh kepada Dewa karena dari Dewa lah oma akan mendapatkan cucu yang akan menjadi pewaris semua aset miliknya."
"Aku tidak mau tahu Mas. Aku minta, hari ini kita berkemas-kemas dan besok kita akan kembali ke Bogor. Aku tidak mau hidup miskin. Titik!"
.
.
. bersambung....
__ADS_1