Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 44 : Tertipu?


__ADS_3


Lelaki tampan dengan setelan jas formal berwarna gold itu terlihat sedang duduk di sebuah kursi yang sudah secara khusus disiapkan oleh pihak resort untuk dinner romantis yang sudah ia rencanakan bersama gadis belia yang telah berhasil mencuri perhatiannya. Hampir satu jam lelaki itu menunggu kehadiran sang gadis, namun hingga detik ini gadis itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Sampai membuat lelaki itu dibunuh oleh rasa bosan karena terlalu lama menunggu.


"Apa yang sebenarnya dilakukan oleh gadis itu di dalam kamar? Mengapa sampai saat ini ia masih juga belum tiba di sini."


Dewa bermonolog lirih sembari melirik sebuah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Berapa kali pun pandangan matanya terpaut pada arloji di tangannya itu, tetap saja tidak membuat sang gadis segera tiba. Pada saat seperti ini, keputusannya untuk mengusir Krisna agar menjauh dari tempatnya berencana untuk dinner malah ia sesali. Jika tahu akan selama ini Mara menghampirinya, ia pasti sudah meminta Krisna untuk duduk di sini, menemaninya.


"Apakah acara dinner ini sudah selesai?"


Panjang umur sekali asisten pribadi Dewa itu. Baru saja kedatangannya diharapkan oleh sang bos, kini tiba-tiba ia datang menghampiri Dewa. Dahi Krisna sedikit mengerut karena meja yang rencananya akan dipakai dinner sang bos, masih terlihat sangat rapi.


"Kris, coba kamu susul Mara di kamar! Sedari tadi gadis itu belum juga tiba di sini."


Suara Dewa terdengar sedikit parau. Seakan di dalam dadanya menahan sebuah rasa yang sulit untuk ia ungkapkan. Rasa khawatir ataupun cemas karena gadis yang sejak tadi ia tunggu belum juga muncul. Dan sedikit prasangka buruk, jika gadis itu berniat mempermainkannya.


"Belum tiba? Ini aneh sekali Wa. Apa yang dilakukan oleh gadis itu di dalam kamar sampai membuat ia belum juga tiba di sini?"


Dewa mengendikkan bahu. "Entahlah. Maka dari itu, susul lah ia di kamar!"


"Kamu tidak ikut Wa? Apakah kamu tidak ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Mara?"


Dewa menggelengkan kepalanya. "Kamu sajalah yang menyusul gadis itu. Jika dia masih ada di kamar, segeralah bawa kemari."


Krisna dibuat heran dengan sikap Dewa yang tiba-tiba berubah dingin seperti ini. Ia yang sebelumnya begitu bersemangat untuk acara dinner malam ini, berubah kurang bersemangat. Ia seperti acuh dengan apa yang terjadi terhadap wanita yang katanya sudah berhasil mencuri perhatiannya itu.


"Wa, ada apa denganmu? Apakah sedikit pun kamu tidak mengkhawatirkan Mara?" Krisna berupaya untuk menyelami apa yang tengah dirasakan oleh duda di depannya ini.


Sembari membuang nafas sedikit kasar, Dewa mencoba menanggapi pertanyaan dari asistennya ini. "Entahlah Kris, aku rasa gadis itu hanya mempermainkan aku."


"Maksud kamu? Mempermainkan bagaimana?"


"Entahlah. Maka dari itu, susul lah gadis itu sekarang."

__ADS_1


Krisna tidak paham lagi harus berbuat apa untuk menghadapi duda ini. Ia merasa jika Dewa sedang menahan rasa kecewa dalam dadanya. Namun ia sendiri belum paham, apa yang sesungguhnya membuat Dewa kecewa.


"Baiklah, aku akan menyusul Mara."


Krisna melenggang pergi meninggalkan Dewa sendirian untuk menyusul ke kamar gadis belia itu. Sedangkan Dewa, perlahan membuka jas yang ia pakai. Membuka kancing kemejanya dan menggulung lengan kemeja yang ia pakai hingga ke siku.


Ia melepas sepatu yang ia pakai. Sapuan ombak pantai membuat telapak kakinya basah, dan membiarkan telapak kakinya bertelanjang untuk menapaki hamparan pasir pantai yang ia pijak ini. Ia berjalan perlahan menyusuri bibir pantai sembari menunggu kabar apa yang akan dibawa oleh Krisna.


***


"Tapi Tuan, nona Mara sudah keluar dari kamar sejak satu jam yang lalu. Dan sampai saat ini nona Mara belum juga kembali ke kamar."


Salah satu pegawai resort yang sempat mendandani Mara mencoba memberikan penjelasan kepada Krisna, saat lelaki itu terlihat kebingungan mencari keberadaan Mara.


"Benarkah sudah sejak satu jam yang lalu Mara keluar dari kamar?"


"Iya Tuan. Saya bisa memastikan hal itu."


"Emmmmm Mbak, bolehkah saya melihat rekaman CCTV yang ada di resort ini? Saya ingin tahu, apa yang terjadi kepada saudara saya. Karena memang sedari tadi dia belum bertemu dengan Dewa."


Pegawai resort itu terlihat sejenak berpikir. Pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Tuan akan saya antar ke ruang manajer karena perihal rekaman CCTV di resort ini sepenuhnya wewenang manajer."


"Baik Mbak. Terimakasih."


***


"Mara hilang Wa. Gadis itu hilang."


Setelah melihat rekaman CCTV yang ia peroleh dari manajer resort, Krisna bergegas kembali menghampiri Dewa. Sahabat sekaligus asisten pribadi Dewa itu ingin segera menyampaikan informasi apa yang telah dapatkan.


Di dalam rekaman CCTV itu, Krisna melihat saat Mara keluar dari kamar dan mulai meninggalkan resort. Setelah itu tidak nampak lagi karena jangkauan CCTV hanya sampai area depan resort ini. Sedangkan area bibir pantai sama sekali tidak dapat dilacak.


Dewa yang tengah duduk di tepi pantai hanya tersenyum tipis. "Gadis itu tidak hilang Kris. Tapi memang sengaja menghilang."

__ADS_1


Dahi Krisna sedikit mengerut. "Maksud kamu apa Wa? Apa kamu berpikir jika Mara sedang mempermainkan perasaanmu?"


Dewa tersenyum miring. "Itu bisa saja terjadi. Dia adalah gadis asing yang baru beberapa hari bertemu denganku. Dan bisa saja kedekatannya denganku beberapa hari ini, merupakan salah satu cara dia untuk mengambil banyak keuntungan dariku."


Krisna terperangah. Meskipun ia tidak begitu tahu tentang wanita selain hanya bermain-main dengannya, namun ia bisa menilai wanita seperti apa Mara ini. "Kamu berpikiran seperti itu Wa?"


"Bisa jadi memang seperti itu bukan?"


"Wa, Mara itu gadis polos. Mana mungkin ia memiliki niat untuk mencari keuntungan darimu."


Senyum getir tetiba terbit di bibir Dewa. Keadaannya saat ini mengingatkan ia kepada Dita, yang hanya memanfaatkan kekayaan yang ia miliki untuk memenuhi semua kebutuhan sosialitanya. Dan ia berpikir jika Mara juga melakukan hal yang sama terhadapnya. Mendekatinya, untuk mencari keuntungan.


"Barangkali dia berpura-pura polos di depanku untuk menarik simpati dan perhatianku. Namun pada kenyataannya dia tidak jauh berbeda dengan Dita."


Krisna semakin terperangah mendengarkan ucapan Dewa. Ia merasa jika Dewa sudah sangat berpikir jauh tentang Mara. Yang belum tentu itu semua merupakan hal yang benar.


"Wa, jaga bicara kamu. Aku yang baru dua hari bertemu secara langsung dengan Mara bisa menyimpulkan bahwa Mara adalah gadis baik-baik. Namun mengapa kamu justru berpikiran buruk terhadapnya?"


"Pada awalnya aku menganggap dia berbeda, namun dengan kejadian malam ini aku semakin paham bahwa dia sama dengan Dita. Yang hanya berniat mengambil keuntungan dariku."


Krisna berdecih. "Hati-hati dengan apa yang kamu ucapkan Wa. Jangan sampai kamu menyesal jika kenyataannya Mara bukanlah gadis seperti apa yang kamu pikirkan. Aku rasa Mara tidak seperti itu."


Dewa yang sebelumnya menautkan pandangannya ke arah laut lepas di hadapannya, kini ia geser ke arah Krisna yang duduk di sampingnya. "Ternyata kita sama. Sama-sama tertipu oleh kepolosan gadis itu."


.


.


. bersambung...


Hayooloohhhhh ayo hujat si Dewa. Ternyata bang Duda sudah berpikiran negatif tentang Mara. Hihihihihi Sepertinya memang tidak ada yang menolong Mara nih.. 😅😅😅 Lalu, apakah Mara akan benar-benar menikah dengan juragan Karta? Ataukah ada keajaiban yang lain??? Tunggu episode berikutnya ya kak ❤️❤️


Ujian pertama dari penulis untuk Mara dan Dewa, apakah mereka sanggup melaluinya???

__ADS_1


__ADS_2