Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 62 : Calon Cucu Menantu


__ADS_3


Dewa terbaring lemas di atas hospital bed salah satu ruang perawatan rumah sakit yang letaknya tidak begitu jauh dari kontrakan Mara. Setelah membawa duda itu ke seorang mantri, mantri itu memberi rujukan untuk langsung membawa Dewa ke rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan yang lebih baik.


Mara menatap nanar wajah Dewa yang sudah dipenuhi oleh sengatan-sengatan tawon yang menyerangnya. Membuat wajahnya dipenuhi oleh bercak-bercak merah yang siapapun melihatnya pastilah akan ikut merasakan sakit itu. Dokter memang sengaja memberikan obat tidur untuk lelaki ini, dengan harapan lelaki ini tidak terlalu frustrasi dengan rasa panas, nyeri, gatal, perih yang menyerangnya secara bersamaan.


Mara meneteskan air matanya. Ada sebuah rasa yang sangat sulit untuk ia ungkapkan tatkala melihat keadaan Dewa yang seperti ini. Seperti ada sesuatu yang seakan menusuk jantungnya, ya gadis itu terlihat begitu mencemaskan keadaan lelaki yang tengah tidur lelap ini.


Seorang laki-laki yang benar-benar telah berhasil mencuri ciuman pertamanya, seorang laki-laki pertama yang memeluknya dengan erat, dan seorang laki-laki yang berhasil membuatnya merasakan apa itu cinta untuk kali pertama.


"M-Mara... Jangan pergi lagi... A-Aku mencintaimu!"


Samar terdengar suara lelaki yang tengah terlelap itu di indera pendengaran Mara. Meskipun samar, namun Mara dapat dengan jelas mendengar apa yang diucapkannya itu. Karena memang di ruangan ini terasa begitu hening, tidak ada suara sama sekali, selain hanya suara detak jarum jam yang menempel di salah satu sudut dinding ruang rawat ini.


Mara melengkungkan senyum manis di bibirnya. Hingga terbentuk bulan sabit di bibir tipisnya itu. Tangan gadis itu terulur untuk meraih jemari tangan Dewa. Ia raih jemari itu, dan ia letakkan di pipinya.


"Apakah yang Anda ucapkan ini benar-benar keluar dari hati? Kata orang banyak, ucapan seseorang yang sedang mengigau merupakan ucapan yang paling jujur. Benarkah seperti itu Tuan?"


Mara sibuk berdialog dengan lelaki yang bahkan sama sekali tidak dapat merespon ucapannya. Setelah meletakkan jemari tangan Dewa di pipinya, gadis itu perlahan mulai mengecupnya dengan intens.


"Saya juga mencintai Anda, Tuan."


Dewa yang merasakan ada sesuatu yang menyentuh tangannya, tiba-tiba membuat tidurnya sedikit terusik. Benar saja, sebuah kecupan yang Mara berikan di telapak tangan Dewa membuat lelaki itu membuka matanya.


Sorot mata Dewa menatap lekat apa yang dilakukan oleh gadis ini. Hatinya berdegup kencang tatkala merasakan lembutnya bibir Mara saat menyentuh permukaan kulitnya.


Ya Tuhan... Gadis ini mengecup telapak tanganku? Baru dikecup telapak tanganku saja aku sudah sebahagia ini. Bagaimana jika nanti jika mengecup yang lain? Namun sepertinya aku memiliki saingan yang cukup berat. Ahhhhh.. Aku tidak perduli. Selama janur kuning belum melengkung aku masih bisa untuk menikung. Dan katapun janur itu sudah melengkung, akan aku rusak hingga mereka gagal menikah. Hahaha jahatnya aku, Tuhan...


Dewa sibuk bermonolog dalam hati. Rasa perih, panas, nyeri, yang diberikan oleh koloni tawon-tawon yang menyerangnya seakan menguap seketika dan tergantikan oleh sensasi rasa bahagia yang tiada terkira.


Mata Mara terbelalak tatkala menyadari jika Dewa telah bangun dari tidurnya. Gegas, ia meletakkan kembali tangan Dewa di posisi semula.

__ADS_1


"T-Tuan....?" ucap Mara gugup.


Dewa hanya tersenyum tipis. "Aduuduuuuhduhhh.. Sakit..."


Mara terkesiap mendengarkan rintihan Dewa. "Apa yang sakit Tuan?"


"Ra... Wajahku sakit sekali. Tolong di elus-elus Ra. Biar rasa sakitnya menghilang."


Dewa tetaplah Dewa. Ia selalu memanfaatkan kepolosan dan kebaikan hati Mara untuk bisa mendapatkan apa yang ia mau. Mara yang memang memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesama, tanpa pikir panjang mulai melakukan apa yang diinginkan oleh Dewa.


"Seperti ini Tuan?" tanya Mara sembari mengusap-usap pipi Dewa dengan lembut.


Dewa mengangguk. "Iya Ra, seperti itu. Aaahhhh.. rasanya enak sekali Ra."


Mara masih intens mengusap-usap pipi Dewa. Dan duda itu terlihat keenakan diperlakukan lembut oleh gadis yang dicintainya ini.


"Ra... Bisakah kamu melihat bekas sengatan tawon yang ini? Luka di sini sepertinya lebih parah dari yang lainnya," ucap Dewa lirih sembari menunjuk ke arah bawah bibirnya.


Tanpa mencurigai apapun, Mara mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Dewa. Dengan seksama, Mara mulai melihat luka yang ditunjuk oleh lelaki itu. Namun tiba-tiba..


Setelah menarik tengkuk Mara, Dewa mulai mendaratkan bibirnya di atas bibir tipis Mara. Rupa-rupanya duda itu sudah teramat merindukan sensasi bibir Mara yang seakan selalu menjadi candu untuknya. Mara mulai terhanyut oleh suasana intim yang tiba-tiba menyelimuti atmosfer ruangan ini. Gadis itupun membalas setiap pagutan yang diberikan oleh Dewa.


Ceklek....


"Dudaaaaa!!!! Aku begitu mengkhawatirkan keadaanmu, kamu malah asyik-asyik berciuman di sini? Dasar tidak tahu tempat kamu!"


Dewa dan Mara seketika menghentikan aktivitas mereka dan gegas menoleh ke arah pintu.


"Oma, Krisna...?"


"Nyonya, Tuan Krisna?"

__ADS_1


Oma Widuri hanya berdecak. Ia berjalan mendekat ranjang yang ditempati oleh sang cucu. Dengan lekat, oma Widuri melihat luka-luka akibat sengatan tawon itu.


"Woooaaahhh... Lihatlah apa yang dilakukan oleh cucu Oma ini. Dia memperdayai gadis ini untuk bisa dia cium, Oma. Ckkkccckkk sungguh sangat licik caranya," seloroh Krisna asal.


Mata Dewa terbelalak. "Diam kamu Kris!"


"Lihatlah Oma, cucu Oma ini selalu menggunakan cara-cara seperti ini untuk memikat hati gadis ini. Sungguh sangat licik, bukan?" sambung Dewa seakan memprovokasi.


"Stop Kris! Kamu dan Dewa sama saja. Tidak ada bedanya sama sekali." Oma Widuri menghela nafas dalam dan menautkan pandangannya ke arah sang cucu. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan sampai terkena sengatan tawon seperti ini? Apakah kamu mencoba untuk mengusik ketentraman tawon-tawon itu?"


"Bukan Oma. Dewa hanya sedang mengintai gadis cantik yang sedang menyiram tanaman di teras. Tapi malah seperti ini yang terjadi."


Pletakk!!


"Addudduduhhhh sakit Oma. Mengapa Oma menjitak kepala Dewa?"


"Umur kamu sudah berapa, Duda? Masih saja hobi mengintip layaknya abg-abg labil? Memang siapa gadis cantik yang kamu intip itu?"


Dewa hanya tersenyum simpul. Ia tautkan pandangannya ke arah Mara. "Inilah gadis cantik yang Dewa intip, Oma."


Oma Widuri menoleh ke arah Mara, sedangkan gadis itu hanya bisa menundukkan wajahnya karena malu. Dihinggapi oleh rasa penasaran yang menggebu, oma Widuri mulai melangkahkan kakinya untuk bisa lebih dekat dengan Mara.


Oma Widuri menatap intens gadis cantik yang ada di hadapannya ini dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Melihat gadis ini masih menundukkan wajahnya, gegas oma Widuri meraih dagu Mara untuk bisa melihat dengan jelas wajah gadis ini. Oma Widuri tersenyum lebar dan ....


"Calon cucu menantuku? Kapan kamu siap untuk menikah dengan cucuku, Cantik?" ucap oma Widuri sambil memeluk erat tubuh Mara.


Mara, Dewa, dan Krisna terkesiap.


"M-menikah?"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2