Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 97 : Danau Cinta dan Rumah Pohon


__ADS_3


Warning : Part ini mengandung beberapa adegan 21++. Mohon bijak dalam memilih bacaan 🤗🤗


_____________________


"Nah Luk, kamu diam di sini terlebih dahulu. Biarkan aku dan istriku bermesra-mesraan sembari menikmati suasana di sekitar sini!"


Dewa mengikat tali di badan Luki di sebuah batang pohon yang terletak tidak jauh dari rumah pohon. Seperti paham dengan apa yang dikatakan oleh Dewa, kuda putih bernama Luki itu hanya menurut saja. Sesekali ia nampak menganggukkan kepalanya sembari mengeluarkan suara khas kuda. Sedangkan Dewa, ia hanya tersenyum simpul sembari mengusap kepala Luki.


"Kuda pintar! Tapi sayang masih jomblo, hahahaha...!"


Dug....


"Aaaaawwwhhh....!"


Dewa memekik kesakitan tatkala kaki Luki mendepak bagian sela pahanya. Rupa-rupanya kuda putih itu tidak rela jika dikatakan jomblo oleh lelaki ini.


Mara yang sayup-sayup mendengar teriakan Dewa, gegas menghampiri suaminya yang tengah sibuk dengan kuda putih itu.


"Mas, ada apa? Mengapa kamu berteriak seperti itu?"


Masih sambil mengelus-elus bagian sela pahanya, Dewa sedikit meringis menahan sensasi rasa ngilu karena telah didepak oleh Luki. "Luki murka setelah aku mengatainya jomblo, Sayang. Pada akhirnya, dia mendepak ini!"


Sembari menunjukkan bagian pisang tanduknya, Dewa mencoba menceritakan apa yang telah terjadi. Sedangkan Mara, wanita itu hanya terkekeh geli melihat sang suami menahan rasa sakit seperti itu.


"Kamu ini ada-ada saja Mas. Memang kamu tahu kalau Luki itu jomblo?"


Dewa mengendikkan bahunya. "Entahlah Sayang, tapi jika dia tidak jomblo, seharusnya dia tidak marah, bukan?"


"Hmmmmm sudahlah Mas. Mengapa malah memikirkan status Luki? Bukankah kita kemari akan...."


"Bermesra-mesraan dan bercinta!"


Kedua bola mata Mara terbelalak sempurna. "Maassss????"


Dewa menggeser tubuhnya untuk dapat lebih dekat dengan Mara. Ia raih tangan Mara kemudian ia kecup buku-buku jemarinya. "Kita bisa bercinta di rumah pohon itu Sayang. Sepertinya akan terasa lebih menyenangkan. Barangkali jauh lebih menyenangkan daripada di dapur!"


Sedangkan Mara, hanya dapat berdecak lirih sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Perihal seperti ini, rasa-rasanya sang suami benar-benar tidak pernah kehabisan energi.

__ADS_1


Setelah berkeliling menaiki kuda, pada akhirnya Dewa berhasil membawa sang istri untuk sampai di sebuah danau buatan yang terkenal dengan sebutan danau cinta. Sepasang netra suami istri itu masih menatap penuh rasa takjub akan apa yang tersaji di hadapan mereka ini. Genangan air yang nampak berkilauan karena sinar matahari mulai terbias sempurna di dalam sana. Dipadu dengan padang rumput yang terlihat menghijau, seakan memanjakan mata bagi siapapun yang memandangnya.


Tempat ini masih begitu sepi. Tidak terlihat sama sekali orang-orang yang berlalu lalang di tempat ini. Mungkin karena hari masih terlalu pagi atau mungkin hari ini bukanlah weekend yang biasanya ramai dikunjungi oleh para pelancong. Di sudut danau juga nampak hamparan ilalang. Seakan semakin menambah kesan suasana dramatis berpadu romantis yang begitu terasa. Mara menghirup udara dalam-dalam sembari memejamkan mata. Mencoba menikmati segala kesejukan alam yang hadir di tempat ini. Sungguh, suasana seperti ini benar-benar dapat merefresh pikiran yang didera oleh kepenatan.


"Ayo Sayang, naiklah terlebih dahulu!" titah Dewa meminta Mara untuk naik ke rumah pohon.


Dengan hati-hati, Mara mulai menginjakkan kakinya ke arah kayu-kayu yang menempel di pohon ini yang membentuk seperti anak tangga. Tidak perlu menunggu waktu lama, Mara sudah sampai di dalam rumah pohon itu. Disusul oleh Dewa, tak selang lama pun lelaki itu juga sudah sampai di dalam rumah pohon ini.


"Bagaimana, apakah kamu menyukai tempat ini Sayang?"


Dewa meletakkan ransel kecil yang ia bawa ke sudut rumah pohon ini. Perlahan, ia mulai membuka ransel yang dibawakan oleh pak Maman. Dan terlihat, ada beberapa makanan ringan, roti dan juga selai strawberry serta air mineral, layaknya bekal piknik yang dibawakan oleh sang ayah kepada anaknya.


Mara yang tengah menikmati keindahan yang berada di sekitar sini sembari duduk di depan sebuah jendela khas rumah pohon, hanya dapat menganggukkan kepalanya. "Iya Mas, aku benar-benar menyukainya. Udara di sini juga terasa begitu sejuk. Sehingga membuatku betah berlama-lama berada di tempat ini."


Dewa menggeser tubuhnya untuk mendekat ke tubuh Mara. Ia ikut duduk di belakang tubuh Mara sembari mengeratkan lingkar lengan tangannya ke pinggang sang istri. Ia letakkan kepalanya di ceruk leher Mara dan mulai mengecupnya dengan kecupan-kecupan sensual.


"Berlama-lama di tempat ini jika tidak melakukan apapun pasti akan rugi Sayang!"


Bulu kuduk Mara tetiba meremang tatkala merasakan lehernya sudah disapu oleh lidah milik suaminya ini. Gelenyar-gelenyar aneh itu kembali ia rasakan, dan tidak ada yang dapat ia lakukan selain hanya menggigit bibir bagian bawahnya sembari memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan bibir yang diberikan oleh suaminya ini.


"Mas..... Ssssshhhhh....."


"Aaaaaaahhhhh... Benda ini selalu saja menjadi candu untukku Sayang. Rasa-rasanya jika sudah menyentuh bagian ini, aku tidak dapat menahan hasrat untuk bercinta bersamamu!"


Suara Dewa sudah terdengar parau. Layaknya mencoba untuk menahan segala kobaran api hasrat yang meletup-letup dalam dadanya. Sedangkan Mara, tidak ada yang dapat ia lakukan selain hanya menikmati dan meresapi semua keintiman yang diberikan oleh Dewa. Tubuh wanita itu sudah bergeliat layaknya cacing kepanasan. Rasa-rasanya ia juga tidak dapat membendung lautan hasrat yang mengaliri aliran syaraf dan juga darahnya.


"Oouuuhh... Mas Dewa....."


"Ya Sayang.... Apa yang tengah terjadi kepadamu? Apa yang kamu inginkan Sayang?"


Sebuah pertanyaan konyol. Sudah jelas Mara mulai terangsang dengan permainan sensual yang dilakukan oleh Dewa, bisa-bisanya ia mempertanyakan hal itu.


"A-Aku...... Ingin.... Aaaaaahhh...."


"Ingin apa Sayang? Coba beri tahu aku. Kamu ingin apa?" ucap Dewa sembari membuka kaos bagian belakang yang dikenakan oleh Mara dan mulai menyapu punggung sang istri dengan lidahnya.


"A-Aku ingin menyatukan raga bersamamu... Aaahhhh...."


Senyum seringai terbit di bibir Dewa. Ia menggeser bibirnya untuk dapat menjangkau bagian telinga Mara. "Kamu menginginkannya?"

__ADS_1


Mara hanya mengangguk pelan.


"Baiklah Sayang... Pagi ini aku akan memanjakanmu!"


Tanpa membuang banyak waktu, Dewa mulai berdiri sembari menarik lengan tangan Mara, hingga keduanya dalam posisi berdiri dan saling berhadapan. Dewa membelai lembut wajah Mara dengan jemarinya dan mulai melu*mat dengan rakus bibir tipis milik istrinya ini.


Keduanya larut dalam ciuman dalam itu. Tidak hanya sebuah ciuman dalam, sentuhan-sentuhan sensual pun juga Dewa berikan di sekujur tubuh istrinya ini. Mencoba merangsang sang istri agar tubuhnya siap untuk bercinta.


Dewa melepaskan pagutan bibirnya. Perlahan, ia merebahkan tubuh sang istri di sudut belakang bagian rumah pohon yang jauh dari jendela. Dan dapat dipastikan, tidak ada yang dapat melihat apa yang akan mereka lakukan. Tanpa basa-basi, Dewa mulai menyibak kaos yang dipakai oleh Mara. Ia lepas tali pengait pembungkus kedua benda itu dan kini hanya terpampang dua buah bukit kembar yang menjulang tinggi dan siap untuk dinikmati.


Dewa mengambil selai strawberry yang berada di dalam ransel kecil yang tadi ia bawa, kemudian ia oleskan selai strawberry itu ke permukaan dada Mara.


"Sssrrrpppp.... Aaaahhhhh... Ini sungguh sangat nikmat Sayang.... Sungguh nikmat!"


Dewa menyesap selai strawberry yang berada di bagian dada Mara itu dengan rakus. Seperti seorang anak kecil yang tengah menjilati es krim yang ia nikmati. Ia menggunakan lidahnya untuk menyapu bagian atas hingga bagian bawah permukaan tubuh Mara.


"Eemmmmphhh.... Mas...."


Tubuh Mara sedikit menggelijang tatkala merasakan lidah sang suami sudah mulai nakal menyentuh bagian pu*ing miliknya. Wanita itu pun hanya bisa meremas-remas rambut milik sang suami.


"Uuhhhhhh Sayang... Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi..."


Dewa mulai membuka celana yang dipakai oleh Mara dan juga ia pun ikut melucuti semua pakaian yang ia kenakan. Hingga kini keduanya dalam keadaan polos. Dewa mengambil kain pantai yang ternyata sudah disiapkan oleh pak Maman di dalam ransel itu untuk menutup tubuh mereka. Tanpa membuang banyak waktu, Dewa mulai menindih tubuh Mara dan memulai bercinta untuk mereguk apa itu surga dunia.


"Ssshhhh.... Mas....."


"Oouuuhh yeaaahhhh Sayang..."


"Eemmmmphhh..... Uuuhhhh...."


"Ssssshhhhh..... Aaahhhhh....."


Lenguhan, desahan yang keluar dari bibir keduanya layaknya nada-nada cinta yang terdengar begitu memabukkan. Keduanya juga saling memandang dengan tatapan penuh cinta dan damba dan seolah tidak ingin sedetik pun terlepas dari sorot mata sayu nan meneduhkan itu. Tubuh keduanya saling berpacu seakan berlomba-lomba untuk segera meraih puncak kenikmatan itu. Peluh-peluh sudah mulai merembes melalui pori-pori kulit mereka. Suasana yang sebelumnya begitu dingin, kini berganti dengan suasana panas akibat hasrat cinta yang berkobar di dalam tubuh keduanya.


Dan biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Kita tinggal menikmatinya saja sembari membayangkan dan menggigit jari telunjuk kita....😅😅😅😅✌️✌️✌️✌️


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2