
"P-Pak Dewa!"
Wibawa, mantan kepala bagian produksi PT WUW sedikit memekik penuh keterkejutan tatkala di depan pintu rumahnya telah berdiri seorang laki-laki yang tak lain adalah cucu dari pemilik perusahaan di mana dulu menjadi tempatnya mengais rezeki.
"Apakah kedatangan saya mengganggu Anda, pak Wibawa?"
Dengan tersenyum simpul, Dewa mencoba untuk berbasa-basi kepada lelaki ini. Sedangkan si pemilik rumah hanya menggelengkan kepalanya.
"Sama sekali tidak Pak. M-mari silakan masuk!"
Dewa berjalan mengekor di belakang tubuh Wibawa. Sesampainya di ruang makan, ia mendaratkan bokongnya di atas sofa ruangan ini.
"Mau minum apa Pak? Biar saya buatkan!" ucap Wibawa menawarkan.
Dewa menggelengkan kepala. "Tidak perlu repot-repot. Saya di sini hanya sebentar. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan langsung kepada Anda!" Dewa menarik nafas dalam dan perlahan ia hembuskan. "Jadi, apa maksud Anda membongkar semua kejahatan yang telah Anda lakukan bersama kak Dira di lima tahun yang lalu, di hadapan asisten pribadi saya?"
Langsung pada pokok persoalan yang ingin ia tanyakan, Dewa mencoba membuka bahan pembicaraan yang langsung pada intinya saja. Ia merasa tidak perlu berlama-lama lagi untuk dapat mengetahui semuanya secara langsung. Sedangkan Wibawa hanya memasang raut wajah yang sulit terbaca.
"Semenjak saya melakukan perbuatan itu, saya benar-benar merasa dikejar oleh perasaan bersalah, Pak. Terlebih rasa bersalah kepada tuan Raharja yang tidak lain adalah kakek pak Dewa sendiri."
"Apakah hanya itu? Apa bukan karena kak Dira yang sudah tidak lagi menopang kehidupan Anda setelah Anda bekerja sama untuk melakukan satu kejahatan bersama kak Dira yang membuat pabrik oma dan opa hampir saja tidak terselamatkan?"
Wibawa hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sebagai pertanda jika hal yang diucapkan oleh Dewa hanya sedikit benarnya. "Sejak saya membantu nyonya Dira untuk melakukan manipulasi, mark-up , bahkan beberapa keuntungan besar dari manipulasi itu masuk ke rekening pribadi nyonya Dira sendiri, kehidupan saya memang ditanggung oleh nyonya Dira. Namun, itu hanya berlangsung beberapa bulan saja."
"Hanya berlangsung beberapa bulan? Lalu setelah itu apa yang dilakukan oleh kak Dira?"
Wibawa menarik napas dalam dan ia hembuskan sedikit kasar. "Nyonya Dira adalah salah satu wanita yang berbahaya. Dia bisa melakukan apa saja yang menjadi kemauannya. Semenjak kejadian itu saya justru menjadi seseorang yang paling ditakuti oleh nyonya karena semua rahasia kejahatannya ada di tangan saya. Maka dari itu...."
"Kak Dira sering meneror Anda dengan hadirnya seorang pembunuh bayaran yang selalu mencoba untuk menghabisi nyawa Anda? Dan, karena Anda merasa keselamatan Anda terancam, maka Anda memilih untuk resign dari perusahaan dan bersembunyi di tempat yang jauh dari keramaian seperti ini?"
Kali ini Wibawa menganggukkan kepalanya. Sebagai pertanda bahwa apa yang diucapkan Dewa memang benar adanya. "Itu benar sekali, Pak. Namun sejatinya yang membuat saya pada akhirnya membuka mulut di hadapan pak Krisna tidak lain rasa bersalah saya terhadap pak Raharja."
Dewa sedikit mengernyitkan keningnya. "Opa? Apa hubungannya dengan almarhum opa?"
Wibawa menatap dinding ruangan yang berada di balik punggung Dewa dengan tatapan sedikit menerawang. Ingatannya kembali tertuju pada sifat pak Raharja yang begitu baik itu. "Pak Raharja dan ibu Widuri merupakan salah satu pemilik perusahaan yang berhati mulia. Beliau merupakan pemilik perusahaan yang begitu peduli dengan para pekerjanya. Selama mengabdi di perusahaan pak Raharja, beliau sering sekali membantu saya ketika saya berada di dalam keterpurukan. Hal yang paling saya ingat ketika beliau mengulurkan bantuannya dalam membiayai seluruh biaya operasi pengangkatan rahim istri saya yang sudah sejak lama digerogoti oleh kanker."
__ADS_1
Dada Wibawa terasa semakin sesak. Menahan sesuatu yang terasa begitu menghimpit dadanya layaknya dihimpit oleh dua batu besar yang semakin membuatnya kesulitan untuk bernapas. "Dosa di hadapan Tuhan dan rasa bersalah saya lah yang selama ini membuat hidup saya tidak tenang, Pak. Saya benar-benar minta maaf. Saya minta maaf."
Dewa masih bergeming, tak dapat berucap apapun. Sedangkan air mata Wibawa mulai jatuh satu persatu.
"Ternyata Tuhan menghukum saya dengan kematian istri saya. Saya ditinggalkan oleh satu-satunya wanita yang sangat saya cintai. Semenjak itulah saya semakin didera oleh rasa bersalah itu." Wibawa menautkan kembali manik matanya untuk menatap wajah Dewa dengan lekat. "Saat ini saya tidak memiliki apa-apa dan siapa-siapa lagi. Jika pak Dewa bermaksud menjebloskan saya ke dalam penjara, akan saya terima. Dengan begitu saya bisa menebus rasa bersalah yang selalu merong-rong hidup saya."
"Saya tidak akan pernah menjebloskan Anda ke dalam penjara. Namun, saya minta Anda melakukan satu hal untuk saya. Pastinya untuk mengakhiri kejahatan yang mungkin saja akan kembali dilakukan oleh kak Dira."
"Apa itu Pak? Saya pasti akan melakukannya."
"Jadilah saksi atas kejahatan kak Dira di depan meja hijau. Mungkin dengan cara seperti itu bisa melepaskan diri Anda dari belenggu rasa bersalah itu."
***
Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Laki-laki itu nampak begitu lelap dalam buaian mimpinya. Sedangkan seorang wanita yang tengah hamil yang berbaring di sisinya nampak begitu gelisah, tidak tenang dalam tidurnya.
Perutnya yang semakin membuncit, membuat wanita itu sedikit tidak nyaman dalam memposisikan tubuhnya. Miring ke kanan, miring ke kiri, bahkan terlentang sudah berkali-kali ia coba, namun tetap saja rasanya sungguh luar biasa. Belum lagi ditambah dengan seringnya ia keluar masuk kamar mandi untuk buang air kecil yang membuat pola istirahatnya sedikit berubah dari sebelum ia menjalani masa-masa hamil seperti ini.
"Sayang... Mengapa bangun? Ayo tidur lagi!"
Dewa sedikit terusik tatkala merasakan wanita yang tidur di sampingnya ini bergonta-ganti posisi. Hingga pada akhirnya ia melihat sang istri menyandarkan tubuhnya di head board ranjang sembari mengusap-usap perutnya.
"Sayang, ini masih malam. Cari anginnya besok saja ya," ucap Dewa masih dengan mode mengantuk yang luar biasa.
Mara hanya tersenyum simpul. Ia tahu jika suaminya ini begitu kelelahan karena baru jam sebelas malam tadi ia tiba di rumah. "Aku sendiri saja di taman belakang tidak mengapa Mas. Kamu lanjutkan istirahatnya."
"Tapi Sayang...."
"Sebentar saja Mas. Aku hanya ingin mencari angin di taman belakang."
"Benar, tidak perlu aku temani Sayang? Aku benar-benar mengantuk. Mataku rasanya seperti terkena lem tikus, tidak bisa melek."
Mara terkekeh geli. Ia pun hanya bisa mengusap lembut pipi suaminya ini. "Tidak mengapa Mas. Sekarang tidurlah kembali. Aku ke taman belakang dulu ya."
"Baiklah, hati-hati ya Sayang. Jangan terlalu lama. Maksimal lima belas menit kamu sudah harus kembali ke kamar!"
__ADS_1
"Baik Mas."
Mara turun dari ranjang. Ia ikat rambutnya asal dan mengenakan cardigan lengan panjang untuk sedikit meredam hawa dingin yang mungkin begitu terasa di taman belakang nanti. Perlahan, ia mulai meninggalkan kamar pribadinya ini.
"Ahhhhh.. Rasanya aku haus sekali."
Sedangkan di dapur yang terlihat temaram, Dira nampak duduk di depan mini bar sembari menyesap secangkir kopi panas yang baru saja ia buat. Samar ia mendengar derap langkah kaki seseorang di lantai atas yang seketika membuat kepalanya mendongak. Terlihat bayangan Mara mulai menuruni anak tangga.
Senyum seringai tiba-tiba muncul di bibir Dira. Bahkan bukan hanya senyum seringai, sebuah rencana jahat pun tiba-tiba muncul di dalam otaknya. "Sepertinya dia akan menuju dapur. Aku akan gunakan kesempatan ini untuk mencelakai wanita itu."
Dira beranjak dari posisi duduknya. Ia mengambil kemasan minyak goreng, kemudian ia tumpahkan isinya di atas lantai dapur ini. Setelah itu ia bergerak perlahan untuk segera meninggalkan dapur ini.
"Sekali tepuk, dua lalat akan musnah. Kamu keguguran dan mungkin kamu juga akan gegar otak!"
Tubuh Mara sudah menjangkau area dapur.
Satu langkah...
Dua langkah....
Tiga langkah.....
.
.
. bersambung...
Apa yang terjadi kepada Mara
a. Terpeleset lalu keguguran?
b. Terpeleset namun tidak sampai keguguran?
c. Selamat dari bahaya yang dibuat oleh Dira?
__ADS_1
Hihihihihi tunggu di episode selanjutnya ya kak..❤️❤️
Yang sudah merasa bosan, tahan sebentar lagi ya.. inshaallah tinggal 10 part, novel ini akan tamat... jadi terimakasih banyak untuk kakak-kakak yang masih setia mengikuti cerita remahan kulit kuaci ini 😘😘😘