
Dewa dan Mara masih terlihat berdiri bersisihan di atas stage kecil yang dikhususkan untuk para musisi yang sering perform di kafe ini. Tidak tanggung-tanggung, sepasang manusia yang baru saja selesai melakukan acara lamaran dadakan, terlihat tengah berduet menyanyikan sebuah lagu. Dipenuhi oleh suasana romantis dan intim yang sukses membuat para pengungsi terkesima.
Air mata Baskara mengalir deras, menyusuri tiap sudut pipinya yang terlihat sudah berkeriput. Anugerah yang diberikan oleh Tuhan untuknya terasa begitu besar. Dia kembali menarik tangannya untuk bisa segera tersadar akan kesalahan yang pernah ia lakukan terhadap putri semata wayangnya, yang mana melalui tangannya sendiri lah , ia sempat merenggut kebahagiaan sang putri. Dan kini ketika ia melihat sang putri tersenyum penuh kebahagiaan bersama lelaki yang akan menjadi pendamping hidupnya, tidak ada yang dapat ia rasakan selain hanya rasa bahagia yang bercampur dengan rasa haru yang begitu membuncah.
"Ayah...." Mara membungkukkan sedikit tubuhnya kemudian memeluk erat sang ayah. "Pak Dewa yang telah Mara pilih untuk menjadi suami Mara. Restui Mara, Ayah."
Dada Baskara terasa begitu sesak. Ia hanya bisa mengangguk perlahan sembari mengusap-usap punggung Mara dengan lembut. "Ayah merestuimu Nak, semoga kamu selalu berbahagia."
Mara melerai pelukannya dari tubuh Baskara. Ia raih jemari sang ayah, ia kecup buku-buku jemarinya dan ia letakkan di pipinya. "Ayah tidak perlu risau. Meskipun status Mara akan berganti menjadi seorang istri, namun Mara tidak akan pernah lupa akan kewajiban Mara sebagai anak. Mara akan selalu merawat Ayah hingga Ayah sembuh."
Baskara mengangguk pelan. "Iya Nak. Ayah percaya akan hal itu."
"Ayah ..."
Selepas Mara bersimpuh di atas pangkuan sang Ayah, kini giliran Dewa yang melakukannya. Lelaki itu memeluk tubuh sang calon mertua dengan erat.
"Saat ini izinkan Dewa yang menggantikan peran Ayah dalam melindungi dan membahagiakan Mara. Dewa berjanji akan membahagiakan Mara seumur hidupnya Yah."
Air mata Baskara tak kunjung berhenti mengalir. Kepingan-kepingan memory tentang apa yang pernah ia lakukan kepada sang putri seakan menari-nari memenuhi otaknya. Pastinya tentang semua hal buruk yang ia berikan kepada Mara. Seorang ayah yang seharusnya dapat selalu menjadi pelindung untuk putrinya namun justru malah menjadi sosok seorang ayah jahat yang telah menjerumuskan sang putri ke dalam jurang kesedihan yang tiada bertepi. Seorang ayah yang seharusnya bisa membahagiakan putri semata wayangnya justru malah membuatnya terperosok ke dalam kesengsaraan yang terasa begitu membebani hati.
Baskara mengangguk pelan. "Meskipun di depanku Mara selalu menjelma menjadi sosok wanita yang tangguh, namun sejatinya ia adalah perempuan rapuh. Ayah titipkan Mara kepadamu, Nak. Tolong bahagiakan dia seumur hidupnya serta lindungi putri Ayah. Dua hal yang hingga saat ini belum bisa Ayah berikan untuknya."
Dewa mengangguk. "Dewa berjanji, Ayah. Dewa berjanji."
"Oma...."
Mara menggeser tubuhnya untuk bersimpuh di pangkuan oma Widuri. Gadis itu menangis di pangkuan oma Widuri. Wanita berusia senja yang memperlakukannya dengan sangat baik sama seperti sang bunda telah tiada.
"Terimakasih banyak sudah memilih Mara sebagai perempuan yang terpilih untuk menjadi pendamping hidup mas Dewa. Mara tidak dapat menjanjikan apapun selain hanya berupaya untuk mendampingi hidup mas Dewa seumur hidup Mara."
__ADS_1
Oma Widuri merengkuh tubuh Mara untuk ia bawa ke dalam pelukannya. Ia peluk erat tubuh gadis itu sembari menghujaninya dengan kecupan-kecupan lembut di pucuk kepalanya.
"Sejak pertama Oma melihatmu, Oma memiliki keyakinan bahwa kamu adalah perempuan yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menjadi pendamping hidup cucu Oma selanjutnya, Sayang. Ketulusan dan cinta kasih yang terpancar jelas melalui sorot matamu, membuat Oma semakin yakin bahwa kamu adalah perempuan yang dapat membalut semua luka yang pernah Dewa rasakan. Oma titip kebahagiaan Dewa kepadamu, Sayang. Cintai Dewa, seperti kamu mencintai ibu dan juga ayahmu."
Gadis itu mengangguk pelan. "Mara berjanji Oma.. Mara berjanji."
"Oma....?"
Selepas Mara bersimpuh di pangkuan oma Widuri, kini giliran Dewa yang bersimpuh di pangkuan sang oma. Wanita berusia senja yang begitu ia cintai yang telah menjadi sosok pengganti sang ibu yang telah kembali ke sisi Tuhan sejak satu minggu setelah ia lahir ke dunia.
"Duda....."
Sama seperti yang dilakukan kepada Mara, oma Widuri juga merengkuh tubuh Dewa untuk ia dekap erat. Ia mengecup pucuk kepala sang cucu dan mengusap-usap punggungnya dengan lembut.
"Terimakasih banyak untuk apa yang telah Oma lakukan untuk Dewa. Terimakasih banyak karena selama tiga puluh tujuh tahun Dewa hidup di dunia ini, limpahan kasih sayang dan cinta yang telah Oma berikan tiada pernah berhenti mengalir untuk Dewa. Doakan Dewa, Oma. Doakan Dewa agar kali ini akan menjadi pernikahan Dewa yang terakhir kalinya. Tentunya dengan wanita yang Dewa rasa jauh-jauh lebih baik dari wanita yang pernah ada sebelumnya."
Oma Widuri mengangguk pelan. "Doa Oma akan selalu menyertaimu Wa. Dan Oma percaya bahwa Mara adalah kebahagiaan hakiki yang selama ini engkau cari."
Oma Widuri mengurai pelukannya. Ia kecup kening Dewa dengan lekat. "Kamu sudah terlalu lama menderita, semoga setelah kehadiran Mara akan menjadi kebahagiaan untukmu, seumur hidupmu."
"Bagaimana pak Baskara? Menurut Bapak, kapan baiknya acara pernikahan putra putri kita ini akan dilaksanakan?"
Oma Widuri berupaya untuk mengajak calon besan untuk berdiskusi perihal acara pernikahan Mara dan Dewa. Tentang hal ini memang harus ada kesepakatan dari kedua belah pihak agar tidak merasa terpaksa ataupun dipaksa.
"Saya terserah Mara dan juga nak Dewa saja, Bu. Karena bagaimanapun juga mereka lah yang akan menjalaninya."
Oma Widuri menautkan pandangannya ke arah Dewa dan juga Mara. "Nah, Wa, Ra, kapan kalian akan siap untuk melangsungkan acara pernikahan kalian? Oma berharap tidak terlalu lama. Karena Oma rasa kalian sudah sangat siap untuk menjalani kehidupan berumah tangga."
"Mara terserah mas Dewa saja Oma. Kapanpun keputusan mas Dewa untuk melangsungkan acara pernikahan kami, Mara ikut saja."
"Nah Wa, kapan kamu akan menikahi Mara? Jangan lama-lama. Oma sudah tidak sabar untuk segera menimang cucu buyut Oma."
__ADS_1
Dewa terlihat tengah berpikir keras. Memilih hari yang menurutnya baik untuk melangsungkan acara pernikahannya. "Emmmmm... Dewa....."
"Satu minggu lagi!"
Suara bariton yang tetiba terdengar, seketika memangkas ucapan Dewa. Sontak orang-orang itu menoleh ke arah sumber suara dan terlihat Krisna dengan wajah sumringahnya mendekat ke meja yang dipakai oleh Dewa dan juga Mara berdiskusi.
"Apa yang kamu katakan Kris? Apa maksud ucapanmu?"
Krisna hanya tersenyum santai. Ia mendaratkan bokongnya di kursi yang berada di samping tempat duduk oma Widuri. "Aku sudah mempersiapkan semuanya. Dan satu minggu lagi, kalian akan menikah."
Dewa dan juga Mara terperangah. "Apa? Satu minggu lagi?"
Krisna mengangguk mantap. "Ya, satu minggu lagi. Bagaimana? Aku sudah bergerak cepat bukan? Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku, Wa. Dengan begitu, kamu akan segera melepas masa dudamu."
"T-tapi..."
"Hahahaha... Bagus Kris. Ternyata kamu memang bisa untuk aku andalkan."
Oma Widuri buru-buru memeluk tubuh Krisna. Ia teramat bahagia memiliki cucu seperti Krisna ini, yang selalu saja tahu apa yang ia inginkan.
"Tentu saja Oma. Oma tidak salah melibatkan Krisna dalam hal ini. Karena Krisna pasti akan bekerja maksimal. Emmmmm rumah yang Oma janjikan masih tetap berlaku bukan?"
"Kamu tenang saja. Sebuah rumah mewah sudah Oma persiapkan untukmu."
"Haha haahaa... Terimakasih banyak Oma. Terimakasih."
Dewa dan Mara semakin terperangah tatkala melihat oma Widuri dan Krisna tertawa terbahak-bahak sembari berbisik. Namun mereka tidak perduli, karena bagaimanapun tidak ada yang Dewa dan Mara rasakan selain rasa bahagia. Ya, satu minggu lagi mereka akan resmi menjadi sepasang suami istri.
.
.
__ADS_1
. bersambung....
Yang ingin hadir di resepsi DeRa silakan membuat list di kolom komentar ya Kak, biar saya siapkan scene nya...😘😘😘😘