Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 168 : Berakhir di Rumah Sakit Jiwa Juga


__ADS_3

"Ya ampun, ini wanita benar-benar tidak becus bekerja. Lihatlah, lantai itu masih kotor!"


Dengan keringat yang bercucuran di dahi, Puspa terlihat kepayahan saat mengepel lantai rumah ini. Ada saja hal-hal yang tidak sesuai di hati mertuanya ini. Hampir dua jam dia mengepel lantai rumah ini, namun selalu saja salah di mata sang mertua.


Puspa menautkan pandangannya ke arah lantai yang ditunjuk oleh Martha. Dahinya sedikit mengerut karena sejatinya tidak ada kotoran pun yang masih tersisa, bahkan lantai yang ditunjuk sang mertua sangatlah bersih.


"Ma, cukup! Aku sudah berusaha untuk bersabar dalam menghadapi sikap mama yang seperti ini. Tapi mengapa Mama selalu begini? Tidak sedikitpun Mama menghargai setiap apa yang aku lakukan, mengapa Ma, mengapa?"


Tidak tahan dengan semua yang di ucapkan oleh Martha, membuat Puspa sedikit naik pitam. Wanita itu berusaha untuk memprotes segala bentuk ketidakadilan yang ia dapatkan di rumah ini.


"Oh... ternyata kamu sudah mulai berani menentangku ya? Dasar menantu tidak mempunyai adab!"


Martha membalikkan badan bermaksud untuk meninggalkan tempat ini. Baru beberapa saat ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba dari arah belakang rambut panjang miliknya yang dibiarkan tergerai ditarik oleh Puspa, dan tanpa basa-basi Puspa mendorong tubuh Martha hingga terjembab di lantai.


Dug... Aaawwwww!!!


Pekikan suara Martha sedikit menggema di ruangan ini. Akibat dorongan yang dilakukan oleh Puspa, sukses membuat tubuh wanita itu terjungkal di lantai dan kepalanya terbentur salah satu sisi dinding yang ada di ruangan ini.


Bak kemasukan setan, Puspa membawa tubuhnya untuk mendekat ke arah Martha yang sudah terkapar dan kembali menarik rambut wanita paruh baya itu.


"Selama ini aku sudah mencoba bersabar dengan semua penindasan yang Mama lakukan, tapi tetap saja Mama memperlakukan aku seperti ini. Aku benar-benar sudah tidak tahan!"


Dug ... dug ... dug....


"Aaahhhh sakit... hentikan!"


"Ini balasan untukmu, Mama. Agar Mama tahu dengan siapa Mama berhadapan saat ini."

__ADS_1


"Aaahhhh... sakit... dasar wanita gila kamu Pus!"


"Aku tidak perduli, Ma! Atau kalau perlu Mama segera enyah dari muka bumi ini. Wanita tua yang sama sekali tidak bermanfaat, yang hanya menambah beban negara untuk memberi penghidupan. Seharusnya bukan di sini tempat Mama berada, tapi di neraka!"


"Psikopat kamu Pus!"


Tanpa ampun, berkali-kali Puspa berbuat kalap dengan menjedot-jedotkan (aduuhhhh ini bahasa apa lagi sih, semoga para pembaca paham maksud saya ya😅🙏) kepala Martha ke dinding itu. Istri dari Ardhi itu seakan tidak memperdulikan rintihan yang keluar dari bibir Martha, hingga....


"Puspa! Apa yang kamu lakukan?"


Suara seorang lelaki yang tiba-tiba memasuki ruangan ini sukses menghentikan kekalapan yang dilakukan oleh Puspa. Tanpa banyak berpikir, Ardhi menarik paksa tangan Puspa untuk bisa menjauh dari tubuh Martha dan lelaki itu pun membantu sang mama yang sudah terlihat tidak berdaya.


Ardhi membawa tubuh sang mama ke sebuah sofa yang beradaada di ruang tengah, ia dudukkan tubuh wanita itu di sana.


"Apa-apaan ini Pus? Apa yang sudah kamu lakukan terhadap ibuku?"


Dengan tatapan membidik bak seekor singa yang kelaparan, lelaki itu gegas menyembur sang istri dengan sebuah pertanyaan yang dipenuhi oleh intonasi tinggi. Pelipis sang mama yang sudah lebam dan mulai sedikit mengeluarkan benjolan itulah yang membuat Ardi semakin tersulut oleh api amarah.


Entah apa yang terjadi pada diri wanita itu. Ia yang sebelumnya terlihat garang dengan berbuat kalap terhadap ibu mertuanya, mendadak menampakkan raut wajah yang dipenuhi oleh ketakutan. Suaranya tertahan di dalam tenggorokan, tidak mampu untuk menjawab pertanyaan sang suami.


"Aku benar-benar tidak menyangka kamu tega menyakiti fisik mamaku seperti ini Pus!"


Enggan untuk menggeser tautan pandangan matanya, Ardi masih lekat menatap Puspa. Seakan mendesak wanita itu untuk memberikan penjelasan tentang apa yang menjadi tujuannya menyakiti sang mama secara fisik seperti ini.


"Hahahaha haahaahaa, itulah yang pantas didapatkan oleh wanita tua ini Mas. Biarkan dia segera menjemput ajalnya."


Perubahan emosi dari dalam diri Puspa tidak dapat ditebak sama sekali. Sebelumnya ia terlihat ketakutan saat Ardi untuk pertama kalinya tiba di ruangan ini, namun saat ini ia terbahak seperti seseorang yang memiliki keberanian yang tinggi.

__ADS_1


"Hiks... hiks... hiks... Wanita itu sudah memperlakukan aku dengan buruk, dia selalu memberikanku beban pekerjaan yang berat di rumah ini dan.... hahaha haahaahaa pada akhirnya aku bisa membalas semua perbuatannya itu!"


Ardi terkesiap. Matanya sedikit menyipit tatkala melihat perubahan emosi dalam diri istrinya ini. Saat ini Puspa benar-benar seperti orang yang terkena gangguan jiwa.


"Benar-benar wanita gila kamu Pus!"


"Hahahaha haahaahaa aku gila? Itu benar Mas. Aku memang sudah gila karena perilaku ibu kamu itu!" Mendadak raut wajah Puspa menjadi sendu, ia sedikit menundukkan kepalanya. "Hiks...hiks...hiks... Dia benar-benar wanita jahat. Aku tersiksa hidup bersamanya. Aku tersiksa!"


Tetiba Puspa meraung menumpahkan semua beban perasaan yang mungkin tertahan selama menjadi menantu Martha. Namun drama itu tidak berlangsung lama. Puspa segera mendekat ke arah Martha dan kembali menjambak rambut mertuanya itu.


"Aku ingin wanita ini mati di tanganku agar tidak ada lagi yang menyiksa batinku. Hahahaha haahaahaa!"


Ardi semakin terkesiap. Gegas ia tarik lengan tangan Puspa agar menghentikan kekalapannya ini. "Kamu benar-benar gila Pus. Kamu wanita gila! Mulai saat ini aku ceraikan kamu dan akan aku masukkan kamu ke rumah sakit jiwa!"


Puspa terperangah. "Apa? Kamu akan menceraikan aku Mas? Hahahaha haahaahaa haaahhaa." Riuh gelak tawa Puspa itu sejenak terhenti dan kemudian... "Hiks...hiks...hiks... aku tidak mau bercerai darimu Mas! Aku tidak mau bercerai!"


"Aku tidak perduli Pus. Kamu telah menyakiti dan melukai fisik ibuku. Dan kamu pantas untuk aku ceraikan!"


"Tapi selama ini hidupku selalu tersiksa Mas. Ibu kamu selalu memperlakukan aku dengan buruk. Aku tersiksa Mas. Tersiksa!"


"Dan sekarang kamu yang justru membahayakan untuk keselamatan ibuku. Aku benar-benar akan memasukkanmu ke rumah sakit jiwa."


Puspa menghentikan tangisnya. Ia tatap lekat wajah Ardi dengan raut wajah yang sulit terbaca. "Rumah sakit jiwa? Apakah di sana aku hanya bisa makan dan juga tidur, tanpa melakukan pekerjaan apapun? Apakah sepanjang hari tidak ada wanita tua yang selalu menyuruhku ini itu yang membuatku tertekan setengah mati? Ahaahaahhaa hahaahaa jika iya, aku rasa tempat itu jauh lebih baik daripada neraka ini."


"Ckckck cckkkk, aku tidak menyangka jika ternyata yang aku nikahi adalah wanita gila. Rasa-rasanya aku tidak perlu berpikir panjang lagi. Akan aku bawa kamu ke rumah sakit jiwa saat ini juga!"


.

__ADS_1


.


. bersambung...


__ADS_2