
"T-Tuan Dewa...."
Dewa terperangah. Bibirnya menganga lebar dengan degup jantung yang kembali bekerja tiada beraturan.
"M-Mara......????"
Dewa mengambil langkah kaki lebar untuk bisa mengikis jarak yang tidak seberapa itu dengan gadis yang akhir-akhir ini telah berhasil mengusik batinnya. Saat langkah kakinya berhenti tepat di depan tubuh gadis belia yang masih tetap terlihat begitu cantik meskipun saat ini hanya memakai seragam cleaning service, gegas duda itu menarik tubuh Mara dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Tuan...."
"Ra... Aku sungguh merindukanmu. Mengapa kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar? Tahukah kamu bahwa aku gila tanpamu?"
"T-Tuan..."
"Ra... Jangan berkata apapun lagi. Aku sungguh sudah tidak bisa menahan ini semua." Dewa mengurai sedikit pelukannya. Ia tatap lekat netra gadis cantik yang ada di hadapannya ini. "Ra... Mari kita menikah. Aku akan membahagiakanmu... seumur hidupku."
Senyum manis terukir jelas di bibir Mara, sungguh saat ini tidak ada yang ia rasakan selain perasaan yang begitu membuncah di dalam dada. Tanpa ragu, gadis itu mengangguk perlahan.
"Iya Tuan. Mari kita menikah!"
Dewa kembali menatap lekat netra Mara. Ia dekatkan wajahnya untuk bisa mengikis jarak bibirnya dengan bibir sang gadis yang terlihat begitu menggoda itu. Dan tanpa basa-basi, Dewa mulai memagut bibir sang gadis yang sudah seperti candu untuknya. Sebentuk bibir yang terasa begitu manis layaknya cotton candy. Dengan penuh hasrat, lelaki dewasa itu me****** bibir Mara, menyesap segala kenikmatan yang ada di dalam sana, tanpa ingin terlewat sama sekali.
Lelaki itu masih saja memagut bibir sang gadis. Sembari memeluknya dengan posesif seakan ia tidak ingin untuk kehilangan lagi. Hingga....
"Dewa! Mara! Mengapa kalian hanya terdiam seperti ini?"
Krisna yang menyusul Dewa ke ruangannya, hanya bisa menatap heran tatkala melihat bos dan seorang gadis cantik berdiri berjauhan dan saling bersitatap dengan lekat. Keduanya terdiam, terpaku, tidak saling berbicara sama sekali. Seakan sama-sama mengumpulkan kepingan ingatan tentang siapa yang ada di hadapan mereka masing-masing.
Narasi di atas ternyata hanya sebuah angan belaka. Karena pada kenyataannya, Dewa dan Mara hanya sama-sama terpaku, tak mampu berucap apapun. Bahkan hanya sekedar menanyakan 'apakah kamu baik-baik saja?' tidak mampu mereka ucapkan.
Krisna berdecak lirih. Tanpa basa-basi, asisten pribadi itu menarik lengan Dewa kemudian memapahnya untuk duduk di sofa. Setelah berhasil mendudukkan Dewa, ia berjalan mendekat ke arah Mara, kemudian ia papah pula gadis itu untuk ia dudukkan di sofa, di samping Dewa.
__ADS_1
"Sudah, ayo kalian berbicaralah! Aku yakin jika kalian saling merindukan satu sama lain!" titah Dewa kepada sang bos dan gadis cantik itu tanpa mau dibantah.
Krik... Krikk... Krikkkk...
Hening, tak ada suara sama sekali. Mungkin hanya terdengar suara jangkrik yang tengah kesasar di ruangan ini.
Krisna semakin berdecak. Namun sebuah seringai, seketika muncul di bibirnya. "Baiklah, aku akan pergi dari sini. Sehingga kalian bisa menggunakan waktu ini untuk saling melepas rindu."
Krisna bangkit dari posisi duduknya. Lelaki itu kemudian melenggang pergi meninggalkan dua orang yang tengah saling merindu namun tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan itu semua.
"Tuan De....."
"Apakah Pramono tiba-tiba mendadak miskin, sampai membiarkanmu berkerja menjadi cleaning service seperti ini?"
Mara terperangah. Gadis itu sama sekali tidak paham apa yang dibicarakan oleh lelaki di depannya ini. "T-Tuan..."
"Atau apakah ketika kalian menuju ke kota ini, kalian menjadi korban perampokan sehingga uang lima milyar yang kalian bawa raib begitu saja?"
"Ah... Atau kamu kembali datang kemari karena ingin mendekatiku kemudian tatkala sudah kamu dapat apa yang kamu inginkan, kamu pergi secara tiba-tiba lagi?"
Lagi, Dewa memberondong Mara dengan beberapa pertanyaan yang bahkan belum sempat satupun Mara jawab. Semua yang ada di dalam kepalanya seolah ingin ia tumpahkan saat ini juga.
Lelaki itu tersenyum sinis ke arah Mara yang masih memasang wajah penuh rasa herannya itu. "Sungguh sempurna permainanmu Ra. Setelah kamu berhasil membuatku terpikat akan kehadiranmu, kamu pergi begitu saja tanpa pernah memikirkan perasaanku. Kamu berhasil Ra. Kamu berhasil membuat hatiku melambung tinggi dan kini kamu jatuhkan begitu saja. Dan.... kini hatiku kembali remuk redam ketika aku mengetahui jika kamu pergi bersama lelaki lain."
Lelaki itu menangis, menumpahkan semua rasa yang bercampur menjadi satu. Namun dari ucapan yang terlontar dari bibirnya, tersirat sebuah rasa kecewa. Entah rasa kecewa karena apa, namun sepertinya kecewa karena ia terjebak dalam pemikirannya sendiri.
"Tuan... Saya benar-benar minta maaf. Tapi sungguh kejadiannya tidak seperti itu. Saat itu...."
"Sudahlah Ra. Aku sudah merelakanmu untuk menjadi pendamping hidup Pramono. Aku tahu, aku hanyalah seorang duda yang bahkan lebih pantas untuk menjadi pamanmu." Dewa mengacak rambutnya sedikit kasar. "Aku menyesal Ra. Aku menyesal karena bertemu denganmu dan aku menyesal karena sudah jatuh hati kepadamu."
Ada sebuah pisau tak kasat mata yang menancap tepat di jantung gadis yang bahkan baru pertama kalinya ia mengenal apa itu jatuh cinta. Tanpa terasa setetes bening kristal jatuh begitu saja dari pelupuk mata gadis itu.
"Anda menyesal bertemu dengan saya?"
__ADS_1
Dewa mengangguk perlahan. "Ya, aku menyesal. Bukankah kamu hanya memanfaatkanku? Setelah kamu mendapatkan barang-barang branded dariku, kamu kemudian meninggalkanku begitu saja?"
Bulir-bulir bening itu kembali mengalir deras dari pelupuk mata Mara. Gadis itu bangkit dari posisi duduknya. "Baiklah, jika memang Anda menyesal bertemu dengan saya. Saya pastikan jika hari ini adalah terakhir kalinya Anda melihat saya. Saya akan mengundurkan diri dari tempat ini."
Mara mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan Dewa. Namun sebelum ia menarik tuas pintu, gadis itu sejenak menghentikan langkah kakinya. "Asal Anda tahu, barang-barang yang Anda belikan untuk saya ketika berada di Jogja, satupun tidak ada yang bisa saya nikmati. Yang bisa saya nikmati hanyalah gaun panjang berwarna gold yang saat itu akan saya gunakan untuk menemui Anda."
Dewa terperangah. "A-apa maksudmu?"
Mara hanya tersenyum getir sembari menahan rasa sakit yang terasa begitu menusuk jantungnya. "Saya tidak akan pernah menjelaskan apapun. Karena percuma saja menjelaskan sesuatu kepada seseorang yang memang sudah merasakan sebuah penyesalan akan sebuah pertemuan yang bahkan tidak bisa kita hindari sama sekali."
Mara menghirup udara dalam-dalam, berusaha mengisi rongga dadanya dengan oksigen yang sepertinya begitu sulit untuk ia dapatkan di tempat ini. "Mungkin saat ini Anda terluka karena beranggapan bahwa saya telah memanfaatkan Anda. Namun Anda juga harus tahu, bahwa saya jauh lebih terluka karena tidak Anda berikan kesempatan sama sekali untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
Dewa semakin terperangah. "M-Mara...."
"Apa yang sudah terlanjur terucap tidak akan pernah bisa ditarik ulang bukan? Saat ini saya paham jika Anda telah menyesal akan pertemuan kita. Dan kini akan saya pastikan, Anda tidak akan pernah lagi melihat keberadaan saya. Saya permisi tuan Dewa."
Mara menarik tuas pintu. Gadis itu keluar dari ruangan Dewa. Sejenak, ia terdiam di depan pintu ruangan Dewa ini. Air matanya kembali mengalir deras seakan menumpahkan rasa sakit yang luar biasa hebat menghujam dadanya.
Tuhan, jika aku tahu sesakit ini rasanya jatuh cinta, maka tidak akan aku biarkan hatiku terpaut oleh makhluk bernama lelaki. Ini kali pertama aku merasakan cinta. Namun mengapa rasanya seperti ini?
Sedangkan di dalam ruangan, lelaki itu terlihat semakin kacau. Ia sepertinya sedikit menyadari jika ada kesalahpahaman yang terjadi diantara dirinya dan juga gadis asing itu. Namun sia-sia, ucapan yang keluar dari bibirnya telah menjadikan sebuah jurang dalam yang menjadi pemisah antara dirinya dengan gadis yang ia cintai itu. Entah apa yang akan ia lakukan agar bisa melewati jurang itu hingga ia dapat merengkuh kembali tubuh Mara ke dalam pelukannya.
.
.
. bersambung....
Yuhuuu....Masuk konflik ya Kakπ π ... Ayo kita sama-sama timpuk Dewa dengan sandal biar pinteran dikit, hihi hiiihii ππ.
Lalu ada kejadian apa lagi setelah ini? Apakah Dewa akan kembali berusaha untuk mendapatkan Mara? Atau membiarkannya pergi dari hidupnya? Hihihihihi.... tetap ikuti kelanjutan ceritanya ya kak...πππ
Mohon maaf atas keterlambatan update nya ya kak.. mohon dimaklumi, akhir bulan seperti ini saya disibukkan oleh beberapa pekerjaan yang memang tidak bisa saya tinggal... Tapi inshaallah akan saya usahakan untuk tetap bisa double up, hehehehehe ya meski.... slow sekaliπππ€π€
__ADS_1