Terjerat Cinta Sang Duda

Terjerat Cinta Sang Duda
TCSD 47 : Kembali


__ADS_3


"Kamu yakin akan kembali ke Bogor, tanpa mencoba untuk mencari Mara terlebih dahulu, Wa?"


Dewa sibuk menata pakaian-pakaiannya masuk ke dalam ransel. Sedari tadi duda itu terlihat hening tidak banyak bicara seperti biasanya. Dan wajahnya nampak sedikit gusar. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Karena memang, ia sama sekali tidak mau berbagi kepada laki-laki yang selalu ada di dekatnya ini.


Hal itulah yang membuat Krisna semakin salah tingkah. Dalam posisi seperti ini, ia khawatir jika keadaan emosi Dewa tidak stabil. Sedikit salah berbicara, bisa-bisa bos nya itu akan naik pitam. Namun, bukan Krisna namanya. Ia teramat tidak bisa membiarkan keadaan yang hening seperti tanah pemakaman ini. Oleh karenanya, ia mencoba untuk mengajak berbicara sang bos.


Dewa meletakkan tas ranselnya di atas sofa setelah selesai mengemasi pakaian-pakaiannya. Ia mengambil secangkir white coffee yang sedari tadi ia biarkan teronggok begitu saja tanpa ia sentuh sama sekali. Dingin. Ya, kopi ini terasa dingin. Layaknya hatinya yang juga terasa begitu dingin. Rasa hangat yang sempat hadir tatkala ia bertemu dengan gadis asing itu, kini hilang, menguap, menyatu dengan partikel-partikel udara yang berada di sekitarnya. Ia mengayunkan kakinya untuk berdiri di dekat jendela kamar.


"Aku pergi ke tempat ini tanpa membawa gadis itu. Dan hari ini jika aku harus kembali, maka aku juga tidak akan membawa gadis itu pula."


Pandangan Dewa mengedar ke laut lepas yang nampak jelas dari tempatnya berdiri saat ini. Sebuah sajian alam yang begitu memesona yang seharusnya dapat ia nikmati bersama dengan gadis itu dengan suasana hati yang penuh dengan kehangatan, namun itu semua hanyalah angan-angan semata.


"Wa, apa yang membuatmu seperti ini? Bukankah baru beberapa hari yang lalu kamu mengatakan jika kamu ingin membawa hubunganmu dengan Mara ke jenjang yang lebih serius? Tapi mengapa saat ini kamu seolah lupa dengan semuanya?"


Dewa membuang nafas kasar. Di sudut hati terdalamnya ia ingin mengingkari segala prasangka buruk yang sempat tertanam untuk Mara. Namun jika teringat apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya yang semalam ia temui, rasa-rasanya itu semua semakin menguatkan prasangkanya itu.


"Sepertinya Mara dan Pramono memang memiliki sebuah hubungan khusus. Mana mungkin ada seorang laki-laki yang mau bersusah payah membawa lelaki paruh baya yang tengah sakit jika memang tidak memiliki hubungan spesial dengan anaknya."


Krisna terperangah. Ia benar-benar tidak menyangka jika pikiran Dewa sedangkal itu. "Tunggu Wa, sepertinya ada sebuah kesalahpahaman di sini. Apa kamu tidak memandang dari sisi kemanusiaan? Bisa saja Pramono memang berniat menolong Mara karena ia kasihan bukan? Sama halnya ketika kamu berlari menggendong Mara menuju gua?"


Perkataan Krisna sedikit menampar lelaki yang saat ini sedang berada di dalam kebimbangan itu. Apa yang ia alami sebelum tiba di kota ini, membuatnya selalu berpikir negatif tentang seorang wanita. Ia menganggap bahwa memang tidak ada wanita yang benar-benar tulus terhadapnya dan hanya berniat memanfaatkannya saja.


Dewa menyeruput sisa tetes terakhir kopi yang ada di tangannya. Dengan membuang nafas berat, ia mencoba untuk memutuskan apa yang memang harus ia putuskan.


"Kita segera pergi dari kota ini, Kris. Sama seperti takdir yang tiba-tiba mempertemukan aku dengan gadis itu, jika memang gadis itu adalah salah satu goresan takdir yang tertulis untukku, suatu saat nanti aku pasti akan kembali bertemu. Meskipun untuk saat ini, hatiku cenderung berbisik bahwa diantara Mara dan Pramono memang ada sebuah hubungan khusus."


Tubuh Krisna melemah mendengarkan keputusan Dewa. Bayang-bayang rumah mewah yang dijanjikan oleh oma Widuri, perlahan menghilang terbawa badai dari angannya.


"Aku ingatkan sekali lagi Wa. Apa benar kamu tidak memiliki keinginan untuk mencari Mara?"

__ADS_1


Sekali lagi, Krisna mencoba membujuk sang bos untuk berpikir ulang akan keputusan yang telah ia ambil. Meski di hati terdalamnya, ia masih sangat berharap rumah mewah yang dijanjikan oleh oma Widuri dapat ia miliki. Namun percuma saja, Dewa tetap menggelengkan kepalanya. Mempertegas bahwa ia akan kembali ke kota asalnya, tanpa Mara.


"Segera kemasi barang-barangmu Kris! Kita kembali ke Bogor pagi ini," titah Dewa tanpa bisa dibantah.


Dewa kembali menatap lekat biru air laut yang nampak di balik jendela kamar. Dengan gulungan ombak yang memecah batu karang dan menghempaskan mereka ke bibir pantai. Dan hanya tinggal menyisakan buih-buih kemudian hilang begitu saja.


Kamu bak ombak di laut lepas itu, nona asing...


Seperti ombak menghempas pantai kemudian kembali ke laut kembali lagi ke tepi menghempas pantai yang sama. Namun, Air yang kembali tidak sama seperti rasa yang muncul dalam diri menghempas pikiran memunculkan emosi namun sebenarnya rasa dan riak yang terjadi tidak pernah sama.


***


Dengan menenteng tas besar, Tanti dan Puspa berdiri di depan resort. Ibu dan anak itu rela satu jam lebih berdiri di depan resort untuk menunggu seorang laki-laki yang mungkin bisa ia mintai tolong.


Raut wajah keduanya nampak berbinar tatkala melihat laki-laki yang sedari tadi ia tunggu, mulai check out dari resort.


"Tuan, bisa kita bicara sebentar?"


Dewa bergeming. Seakan tidak memperdulikan apa yang diucapkan oleh wanita paruh baya di hadapannya ini.


"Maaf, ada keperluan apa ya Bu?"


Melihat sang bos yang terdiam seribu bahasa, membuat Krisna yang berupaya untuk menanggapi perkataan Tanti.


"Begini Tuan. Semalam, saya sudah memberikan sebuah informasi yang sangat berharga untuk Tuan ini tentang siapa sebenarnya Mara. Saat ini saya ingin meminta imbalan dari Tuan."


Tanpa malu-malu, Tanti mengutarakan maksud dan tujuannya untuk meminta timbal balik dari sebuah informasi yang sempat ia berikan kepada Dewa, semalam. Tanti berpikir bahwa saat ini, Dewa lah yang bisa membawanya dan anaknya untuk bisa sampai ke kota Bogor. Kota yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari bersama sang anak. Pastinya dengan sebuah misi untuk mendapatkan lelaki ini.


Dahi Krisna mengernyit. "Imbalan? Jadi Anda memberikan informasi itu dengan tujuan untuk mendapatkan imbalan dari kami? Jangan-jangan semua yang Anda katakan itu hanyalah sebuah rekayasa, demi keuntungan Anda sendiri?"


Tanti terkesiap, ia paham jika telah salah ucap. Gegas, ia meralat perkataannya. "Bukan, bukan begitu Tuan. Yang saya sampaikan memang benar begitu adanya tanpa ada rekayasa sama sekali. Lagipula, saya tidak meminta uang sebagai imbalannya."

__ADS_1


"Lalu, apa yang Anda minta?"


Tanti mengulas sedikit senyumnya. "Berikan saya tumpangan untuk bisa sampai ke kota Bogor, Tuan."


Layaknya manekin, Dewa sama sekali tidak menggubris celotehan wanita paruh baya ini. "Kris, urus wanita ini! Aku tunggu di mobil!"


Dewa mengayunkan kakinya untuk menuju mobil yang sudah terparkir dengan rapi di pelataran resort. Lelaki itu benar-benar tidak mau disibukkan dengan urusan-urusan sepele seperti ini. Kepergian Mara yang tiada terduga, benar-benar telah mengembalikan Dewa menjadi sosok lelaki dingin seolah tidak mengizinkan siapapun menyentuh hatinya. Ya, Dewa merasa hatinya telah dilambungkan sekaligus dijatuhkan di waktu yang sama oleh gadis asing yang ia temui beberapa waktu lalu.


Tatkala tubuh Dewa telah memasuki mobil, Krisna mencoba untuk kembali menanggapi apa yang menjadi kemauan Tanti.


"Maaf, kami tidak bisa memberikan tumpangan untuk Anda. Karena mobil kami bukanlah angkutan umum yang bisa memberikan tumpangan kepada siapa saja."


"Tapi Tuan, bukankah informasi yang saya berikan semalam merupakan informasi berharga karena bisa menjauhkan Tuan tadi dari wanita ular seperti Mara?" ucap Tanti berupaya untuk kembali mengingatkan informasi yang menurutnya sangat berharga.


Krisna tersenyum sinis. "Informasi yang Anda sampaikan itu benar-benar tidak berharga sama sekali. Karena hanya menyisakan sebuah kesedihan untuk teman saya tadi." Krisna menatap lekat wajah Tanti, mencoba membaca raut wajah wanita paruh baya ini. "Dan saya rasa, banyak sekali kebohongan dari informasi yang telah Anda sampaikan."


Tanti sedikit terkejut, namun sebisa mungkin ia menguasai emosi jiwanya agar tidak memunculkan sebuah kecurigaan. "Tidak Tuan. Semua yang saya sampaikan itu benar-benar apa adanya. Mara memang wanita seperti itu."


"Baiklah, saya percaya. Namun, saya tidak akan memberikan tumpangan kepada Anda. Jika Anda ingin ke Bogor, silakan naik bus AKAP. Dari tempat ini, terminal bus tidak terlalu jauh bukan?"


Tanpa basa-basi, Krisna melenggang pergi meninggalkan Tanti. Sedangkan ibu dan anak itu hanya bisa terperangah, ditolak mentah-mentah oleh lelaki yang ia harapkan bisa membawanya sampai ke Bogor.


"Dasar lelaki sombong! Apa kalian tidak tahu, kalau aku ini adalah orang kaya!" lirih Tanti sedikit menahan rasa kesal.


"Ibu, lalu sekarang kita harus bagaimana?" ucap Puspa dengan nada sedikit risau.


Tanti membuang nafas kasar. "Kita ke terminal Pus. Mau tidak mau, kita harus naik bus untuk sampai kota itu."


.


.

__ADS_1


. bersambung...


__ADS_2